Elang Dan Emila

Elang Dan Emila
Dia hanya teman ~ 6


"siapa tayanggg" ucap Royan merangkul pundak Zeze namun matanya membulat seketika saat melihat siapa yang datang.


"Te-tery" Wajah Royan berubah menjadi pucat seketika melihat wanita itu berdiri disana.


"Yan, boleh ngomong bentar?" ucap Terry tersenyum manis.


"Ngomong apa?" tanya Royan yang merasa sudah tidak ada urusan lagi dengan wanita itu. Hatinya dag dig dug, takut wanita ini akan berkata macam-macam pada Zeze.


Kembali lagi pada Zeze. Siapa wanita yang kuat melihat laki-laki nya berdekatan dengan wanita setengah telanjang seperti ini. Zeze hanya membisu diam meskipun didalam sana beberapa pertanyaan memberontak ingin dikeluarkan.


"Bisakah kita membicarakannya berdua saja" ucap Terry melirik Zeze begitu sungkan.


Zeze melirik Royan sekilas "Selesaikan saja urusanmu" ucap nya begitu dingin dan segera pergi.


Royan mencekal lengan Zeze "Jangan gini dong Ze, aku juga gak tau dia mau ngapain" ucap Royan dengan bodohnya.


Menghela nafasnya kasar Zeze melepaskan dengan kasar tangan Royan "Terserah kakak!".


Wanita ini selalu begitu jika sudah marah, susah sekali di luluhkan lagi, jadi Royan sangat takut jika Zeze akan marah berhari-hari seperti dulu lagi.


Zeze berlari kecil meninggalkan mereka, terlalu sakit jika mengingat bahwa Royan dulunya seorang player atau jangan-jangan itu adalah salah satu mantan teman tidur Royan.


"Yan gue mau ngomong sebentar aja" Kekeh Terry muak mendengarkan pertengkaran mereka yang seperti ABG labil.


"Apa sih" ucap Royan kesal, malas sekali berurusan dengan wanita ini lagi.


"Yan gue-"


"Gue apa, lama amat".


"Sabar dulu, belum juga ngomong" ingin sekali Terry menonyor kepala laki-laki ini.


"Bini gue marah itu" ucap Royan khawatir.


"Sejak kapan selera lo berubah" ucap Terry tersenyum kecil, memang sebelumnya wanita-wanita Royan memang para model kelas atas. Ia juga pernah mendapatkan artis ternama dulunya.


"Diam!" sentak Royan kesal.


Mengusap rambut Royan dengan sensual, matanya mengedip genit "Aku butuh pekerjaan" ucap Terry begitu lembut.


Royan segera menyingkirkan tangan Terry, ia tahu betul wanita ini tidak akan menyerah sebelum mendapatkan apa maunya.


"Open BO sana" cerocosnya.


Dan kali ini Terry benar-benar menonyor kepala laki-laki itu. Selalu tidak bisa serius ketika diajak berbicara.


"Gue masih waras kambing" sentak Terry kesal.


"Waras apanya orang kemarin gue juga boking lo".


Terry tampak bersedekap dada "Mulut itu dijaga, bisa-bisa orang-orang ngira nya gue tidur sama Lo!".


Ya, Royan hanya membooking Terry untuk menemaninya acara tertentu, juga untuk berkumpul dengan teman-temannya saja tidak lebih, mengingat dulu Terry adalah temannya waktu ia kuliah di luar negeri.


"Jadiin gue model di DWD Entertainment" ucap Terry langsung pada intinya. DWD Entertainment, adalah perusahaan di bidang pertelevisian milik kakek Royan. Namun disana jabatan Royan masih dibawah sekali.


Kakeknya memang sengaja melakukan itu, ia ingin Royan merangkak naik ke atas, entah seribu tahun lagi atau kapan itu, ia tak paham. Karena kakeknya pikir Royan belum mampu untuk menjadi pimpinan, dengan sikapnya yang selengekan dan sembrono.


"Nggak sudi, apa untungnya buat gue" ucap Royan malas.


"Denger ya" ucap Terry tersenyum licik "Gue tahu Lo sedang mengajukan kerjasama dengan JF Group".


Royan tampak sedikit tertarik mendengarnya.


Terry tampak menghela nafasnya "Justin adalah Dirut dari JF Group, Lo inget kan. Justin mantan gue yang dulu putus cuma gara-gara dia salah paham ke gue, itu semua karena Lo lagi" ucap nya kesal mengingat kembali hal itu.


"Ta-tapi elo yakin dia mau kerjasama sama gue kalo Lo yang jadi brand ambassador nya" ucap Royan tampak ragu.


"Seratus persen yakin, kita temuin dia di kantornya. Pura-pura nggak tau kalo dia pimpinannya" Senyum kecil tersungging di bibir merah Terry.


"Dengan begitu, dia akan tahu kalo gue sama lo cuma sebatas temen" Terry tampak geli ketika mengucapkan kata-kata itu "Gue bisa punya kesempatan lagi buat Deket sama dia dan Lo juga punya kesempatan untuk mendapatkan kerjasama dengan nya".


Royan tampak mengangguk dahinya mengernyit heran ketika Terry menyodorkan tangannya.


"Apaan?" tanya nya tak paham.


"Deal ya" balas Terry tersenyum dengan uluran tangannya.


"Oke, yang penting gue cepet-cepet dapet warisan" balas Royan terkekeh. Lalu membalas jabat tangan Terry.


"Otak Lo emang nggak jauh-jauh dari itu ya" kesal Terry, padahal dirinya juga iya namun bedanya Terry lebih suka dengan laki-laki tampan dan ber-uang.


"Ralat deh, demi wanita yang di dalam sana" ucap Royan melirik sekilas ke dalam kamarnya.


"Udahlah pulang sana, dia ngambek tuh" ucap Royan mengusir bahkan pintunya sudah hampir ia tutup.


Menonyor kecil kepala wanita sok seksi di depannya Royan berkecak pinggang "Awas aja Lo sampe godain laki orang" omel nya.


Dibalas pukulan kencang dengan tas nya oleh Terry segera pergi darisana meninggalkan Royan.


"Aw!" teriak Royan memegang pelipisnya yang terkena tas itu "cewek sialan" umpatnya segera menutup pintu.


Inilah Royan, seseorang yang bisa melihat orang dari sisi positif nya, ia selalu bisa bergaul dengan siapa saja tanpa memandang siapa dia ataupun seperti apa orangnya.


Tetapi disisi lain inilah hal yang dibenci oleh wanita yang kini tengah mengguyur tubuhnya dengan air dingin itu. Seolah mengguyur otaknya yang baru saja mendidih karena satu kata yang bernama cemburu.


Setelah selesai mandi. Bukan, lebih tepatnya mendinginkan pikiran. Zeze keluar dari kamar mandi dengan kimono juga handuk kecil yang melilit pada rambutnya.


"Baru mandi ya?" tanya Royan yang baru saja memasuki kamar.


Apa matamu buta! .


Zeze menatap tajam tanpa menjawab pertanyaan nya.


"Hari ini mau kemana?" tanya Royan takut-takut ketika tatapan Zeze begitu menghunus.


Bukan urusan mu!.


Sibuk memoleskan krim pada wajahnya tanpa memperdulikan laki-laki itu.


"Aku anterin ya" ucap Royan nyengir.


Nggak Sudi!


Zeze segera berganti pakaian tanpa memperdulikan Royan. Biar saja laki-laki itu tahu rasa, salah siapa masih berurusan dengan jalangg nya.


"Tayangg" rengek Royan dengan manja, ia sudah merentangkan kedua tangannya menuju Zeze.


"Stop!" teriak Zeze menyuruh Royan diam di tempatnya.


"Kenapa?, ada apa lagi?. Ngapain deket-deket aku, kenapa nggak sama cewek tadi aja" ucap Zeze begitu tajam.


"Sayang, dia itu cuma-".


"Cuma temen kan" sela Zeze tersenyum kecil "Iya, teman tidur".


"Bukan Ze, aku tidak pernah tidur dengannya sekalipun" ucap Royan mulai serius.


Zeze berdecak, senyuman licik tersungging pada bibir tipisnya. Jelas-jelas Royan memilih untuk berbicara dengan wanita itu daripada mengejar dirinya.


"Aku bersumpah Ze" ucap Royan.


"Lalu apa?, sekali kamu ingin tidur dengannya".


"Astaga Ze, kami cuma teman tidak lebih" jelas Royan nampak frustasi.


"Sebenarnya kakak masih cinta nggak sih sama Zeze" pelupuk Zeze sudah mulai basah ketika mengatakan nya.


"Atau jangan-jangan kakak sudah mulai terbiasa hidup dengan Zeze ya" Masih mempertahankan kemarahannya padahal air matanya sudah tidak bisa dibendung.


"Ze jangan nangis" ucap Royan mendekat Zeze, hatinya bagaikan dihantam benda tak kasat mata ketika air mata Zeze berjatuhan.


Baru saja Zeze hendak menjawab Royan, namun getaran di ponsel nya membuatnya segera meraih benda itu yang berada di sisi ranjang.


"Halo mbak" ucap Zeze segera menghapus air matanya ketika melihat nama Mila yang tertera disana.


"Apa?!" ucap Zeze begitu terkejut.


"dimana?!"


"I-iya mbak, Zeze kesana" ucap Zeze segera mematikan ponselnya. Tangannya meraih tas dan sepatu yang tadi sudah ia siapkan sejak tadi.


"Ze, ada apa?" tanya Royan mengikuti langkah Zeze yang terburu-buru.


"Mamah masuk rumah sakit" jawab Zeze tanpa memberhentikan langkahnya.


"Apa?!"


.


.


.


Terimakasih sudah setia menunggu, maaf ya . . author masih sibuk dengan novel author lainnya.


Belum bisa menyelesaikan part bonus ini.


LIKE KOMEN AND VOTE GAESSS 💋