
"dia bobok ya" ucap Mila yang baru saja keluar dari kamar mandi, ia melihat Gemilang terlelap di pelukan Elang.
"iya" ucap Elang yang terus memandangi wajah Gemilang yang terlelap.
Mila menyisir rambutnya di depan kaca riasnya, ia melihat Elang dari pantulan cermin. Mungkin inilah yang dinamakan ikatan darah antara anak dan ayah, Elang bisa merasakan betapa kuatnya hubungan yang ia miliki dengan Gemilang meski tidak mengingat nya.
Tangan Mila terulur untuk mengusap pipinya yang terkena tetesan air bening itu, rasa haru dan bahagia terkumpul menjadi satu. . . ia senang Gemilang bisa merasakan sosok seorang Papii yang mungkin memang tidak akan pernah bisa Mila berikan kepadanya, meskipun rasa sayang nya begitu melimpah namun tetap saja semua memiliki peranan tersendiri.
"kamu capek nggak?, biar Gem bobok di kasur aja" ucap Mila uang sudah berdiri.
"biar gini aja" ucap Elang yang tidak ada bosannya menatap sang anak.
"yaudah aku tinggal dulu , aku mau bantuin mamah masak" ucap Mila yang hendak beranjak.
"tapi nanti kalo dia bangun gimana?" tanya Elang yang membuat Mila menoleh.
"telpon aja , aku ada dilantai satu" ucap Mila lalu pergi dari sana.
.
.
.
"Terimakasih ya sayang" ucap mertuanya, saat ini Mila sedang memasak di dapur bersama mertuanya.
Mila yang sedang memotong sayuran pun menoleh "untuk apa mah?" tanya nya.
"mamah bener-bener nggak tau lagi gimana kalo nggak ada kamu" ucapnya sendu.
"mah, jangan seperti itu. . yang penting kita harus sama-sama berusaha untuk membantu mas Elang agar cepat sembuh".
Mamah mengangguk "Elang beruntung memiliki mu disisinya nak".
"Mila juga beruntung punya mas Elang" ucap Mila tersenyum.
Mamah menyeka air matanya yang hampir terjatuh "mamah seneng banget bisa masak bareng kamu".
"kok bisa mah?"
"Sejak dulu mamah pengen banget masak sama menantu mamah, makanya mamah suruh Elang buat cepet-cepet nikah".
"hehe, Mila juga seneng kok bisa masak sama Mamah".
Pembicaraan mereka teralihkan pada getaran di ponsel Mila.
"*halo"
"dia bangun , cepat kembali ke kamar"
"iya mas, sebentar*"
Tut.
"mah Mila keatas dulu ya, Gem bangun".
"iya udah sana cepat pergi biar mamah yang nerusin".
ceklek. .
Elang terlihat kesusahan menenangkan Gemilang yang terus merengek-rengek itu.
"anak ganteng bangun ya, aduh sini-sini ikut Mamii" ucap Mila yang kemudian mengambil alih Gemilang.
Mila duduk disofa lalu menyusui Gemilang yang sedang menangis. "haus ya. . nenn dulu sayang".
Elang mengalihkan pandangannya begitu saja saat Mila tanpa sungkan membuka kancing dress-nya.
"Kenapa nggak pakek penutup sih" gerutu Elang tanpa memandang Mila.
Mila yang baru menyadari itu malah terkekeh melihat pipi Elang yang bersemu. "orang biasanya juga enggak" ucapnya terkekeh.
"tapi kan beda".
"beda apanya?".
"aku kan nggak inget".
"ya makanya biar inget masku".
Elang hanya mendengus kesal tanpa memperdulikan Mila yang terus menggodanya.
"udah selesai belum?" tanya Elang setelah sekian lama.
"belum" jawab Mila.
"lama banget sih" gerutu Elang.
"anak kamu ASI nya kenceng banget mas, kadang sampe berjam-jam" ucap Mila menoel pipi Gem.
"oh" ucap Elang begitu merasa bersalah karena telah mengeluh tadinya.
.
.
.
Mila masih setia bermain dengan sang buah hati yang sedang aktif-aktifnya. . .
Sedangkan Elang masih termenung di balkon kamarnya, ia terus menatap lampu-lampu yang mulai terpancar itu. . .
"mas masuk. . udah malem" teriak Mila dari dalam, Elang yang mendengar itupun segera beranjak dari duduknya lalu memasuki kamarnya.
ia sudah terlalu lama duduk disana.
"jangan diluar, dingin" ucap Mila yang masih sibuk memegangi Gemilang yang sedang belajar duduk.
"iya" ucapnya lalu menghampiri Mila dan Gemilang ia juga ikut duduk dibawah. ia tersenyum saat melihat Gemilang begitu riang menggigit gigit maianannya.
"Gem" panggil Elang yang membuat Mila tercengang seketika, bahkan Elang belum pernah memanggil namanya.
"iya Pap" Mila mengusap kepala Gemilang.
"biar aku gendong dia" ucap Elang pada Mila.
"iya, biar cepet bobo kalo gitu" ucap Mila menyerahkan Gemilang dalam gendongan Elang.
Setelah beberapa saat menimang-nimang Gemilang akhirnya anak itu terlelap lebih cepat, Mila senang melihat ikatan batin mereka memang kuat selain itu. Aroma Elang memang candu untuknya dan Gemilang, pantas saja dulu sewaktu hamil ia senang sekali mengendus-endus aroma suaminya dan ini berefek pada bayi mungil ini sekarang, yang kecanduan aroma Papii nya.
"ka kami juga tidur disini?" tanya Elang karena Mila kembali lagi ke kamar ini setelah menidurkan Gemilang di kamarnya.
"ya iyalah emang mau tidur dimana" ucap Mila cuek , ia memilih mengoleskan skin care malam pada kulitnya.
"terus aku tidur dimana?" tanya Elang dengan polosnya.
"mas kamu lupa, kita suami istri" ucap Mila lalu berbaring di ranjang menghampiri Elang yang duduk mematung disana.
"tapi--".
"sudah ayo tidur" ucap Mila membungkus sebagian tubuhnya dengan selimut lalu menepuk-nepuk bantal yang berada di sampingnya.
Dengan ragu Elang ikut berbaring disamping Mila, lalu menaruh guling ditengah-tengah mereka.
Mila terkekeh geli melihat tingkah Elang yang menggemaskan.
"aku tidak akan memperkosa mu" ucap Mila lalu tertawa terbahak-bahak.
"perempuan gila" ucap Elang lalu membalikkan badannya membelakangi Mila.
"tapi kalo peluk boleh kan" ucap Mila menatap punggung Elang.
"jangan macam-macam!"
"pengen peyuk mas". ucap Mila dengan manja lalu menusuk-nusuk punggung Elang dengan telunjuknya.
"singkirkan tanganmu!" Elang sungguh geram.
"madep sini dong".
"diam!, aku juga laki-laki normal" ucap Elang yang sudah habis kesabaran nya.
Mila malah mendekatkan tubuhnya pada Elang "lakukan sesukamu jika kamu laki-laki normal. . aku istrimu, tidak ada yang salah dengan itu".
"aku akan pergi jika kamu tidak menyingkir" ucap Elang yang hendak beranjak namun Mila menahannya "iya aku akan menjauh" ucap Mila lalu benar-benar menjauh dari Elang, entah mengapa hatinya begitu sakit. . . Elang tidak pernah bersikap seperti ini padanya.
.
.
.
Kicauan burung serta hangatnya sang surya menjadi ketenangan tersendiri untuk mila.
saat ini Mila sedang mengajak Gemilang untuk berjemur di taman yang luas belakang rumah ini.
Rumput nya begitu hijau, pagar belakang pun dikelilingi oleh pohon-pohon rindang dan bermacam-macam bunga.
Sedangkan Elang duduk di kursi sambil mengamati interaksi antara ibu dan anak itu, Gemilang terus tertawa mendengar mila berbicara.
"Papii" teriak anak kecil yang cantik dan manis, ia berlari menghampiri Elang yang sedang duduk, Elang mengernyitkan dahinya melihat anak itu.
apalagi sosok Al berada dibelakangnya.
Jen memeluk kaki Elang lalu matanya menatap Elang penuh kerinduan, ekspresi Elang tetap sama bingung nya.
siapa anak ini?. . .
.
.
.
**Jangan lupa like komen dan banyakin votenya ya gaessπππ
lopeyuall πππ**