Elang Dan Emila

Elang Dan Emila
Duka


diperjalanan Mila terus menatap ke jendela mobilnya, karena ia tak ingin Elang tahu air matanya membasahi pipinya..


sesampainya di rumah sakit, Mila mengejar langkah Elang yang juga terburu-buru.


sampai di UGD mereka melihat mamahnya Elang yang sedang menangis tersedu-sedu disana , juga Aris dan Tino yang menemaninya.


Mila langsung memeluk mertuanya itu, "Mila, Elang" ucap mamahnya dengan isakan.


Elang mendekati Aris dan Tino "gimana kejadiannya ris"


Aris menjelaskan panjang lebar bahwa kecelakaan yang dialami papah dan Oma nya tidak ada unsur kesengajaan dan yang mencurigakan.


"tapi pak Elang"


"apa ris?"


"melihat kondisi tadi, bapak harus mempersiapkan kemungkinan terburuknya" kata Aris dengan khawatir karena ia sudah tahu jika papahnya Elang sudah tidak ada waktu ditempat kecelakaan.


Elang terdiam dan hanya menundukkan kepalanya.. Tino yang berada disampingnya berusaha menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu.


sudah lebih dari satu jam , kini dokter baru keluar dari ruangan itu. . tentu saja ini saat mendebarkan bagi semua orang yang berada disana.


mereka semua menghampiri dokter itu, tak lain adalah dokter kepercayaan keluarga Elang Suryo.


"gimana dok" tanya Elang


dokter tersebut menghela nafas "saya sudah coba melakukan yang terbaik, pak Suryo dinyatakan meninggal ditempat, sedangkan Oma pak Elang dinyatakan tidak ada beberapa menit yang lalu"


dada Elang terasa sesak mendengarnya , namun ia segera memeluk mamahnya "tuhan pasti lebih sayang papah mah" isakan mamahnya semakin menjadi-jadi Mila juga tidak bisa menahan air matanya mendengar berita itu.


"mah, mamah" seru Elang yang mendapati mamahnya lemas dan pingsan, segera Elang membopongnya.


"bawa kesini" ucap dokter..


tidak butuh waktu yang lama , mamahnya Elang terbangun meskipun terus menangis.


sedangkan Aris dan Tino mempersiapkan dikediaman bapak Suryo .


Mila memandang Elang, meskipun air matanya tidak terjatuh sekalipun tapi terlihat jelas kesedihan dimatanya.


.


.


.


mereka pulang dengan satu mobil dengan dua ambulan didepannya, dan beberapa mobil dibelakangnya..


Mila terus memeluk mamah Elang yang terus menangis tanpa suara dari tadi. sedangkan Elang memilih duduk didepan dengan tatapan kosongnya.


terlihat didepan rumah keluarga Suryo dipenuhi dengan orang mengenakan jas-jas hitam serta wartawan yang siap meliput kepergian pengusaha terkenal itu.


.


.


.


"Lang, yang sabar ya. . . kita di dunia hanya menunggu saat kematian tiba, semua orang pasti mengalaminya" ucap pak Mawardi sambil menepuk bahu mantunya itu.


"iya Lang, kalo butuh apa-apa hubungi kakak ya" ucap Erfan , Elang merasakan sedikit dorongan untuk menjadi lebih kuat dari keluarga istrinya itu.


"saya pamit dulu ya jeng, yang kuat. . mil jaga mamah kamu sama Elang ya" ucap mamah mila.


.


.


.


malam hari dikediaman keluarga Suryo.


Mila terus menemani mamahnya dikamar sejak pulang dari pemakaman tadi.


"Mila, kamu makan dulu dari tadi belum makan kan" ucap Tante Elang


"nanti saja Tan"


"udah , mamah kamu biar Tante yang suapin, kamu ajak Elang makan gih"


...


Mila mengambil makanan untuk Elang, ia membuka pintu kamarnya dan melihat Elang terus menatap ke jendela yang disana..


"makan dulu mas"


"nanti aja"


"makan, dikit aja mas"


"belum laper"


"mas, kamu dari pagi belum makan loh"


"emang kamu udah makan?"


Mila menggelengkan kepalanya..


"kamu aja yang makan"


"enggak, kalo kamu nggak makan aku juga enggak"


"mil, nanti kamu sakit loh"