
"beri aku sedikit kekuatan mil" ucap Elang lirih
"yaudah ayuk. . "
Elang bingung menatap Mila yang sudah berdiri dan meraih tangannya menuju ranjang.
Mila merebahkan dirinya di ranjang , sedangkan Elang masih menatap Mila bingung.
Mila sedikit malu melihat Elang dengan wajah bingungnya itu, Mila melepaskannya kancing baju tidurnya satu persatu.
elang membelalakkan matanya dan menelan salivanya....
"tapi kalo kamu capek , nggak usah deh" Mila mencoba mengancingkan kembali bajunya namun Elang segera menepis tangan Mila dan menjatuhkan dirinya diatas istrinya.
kemudian melakukan hak dan kewajibannya..
malam yang panjang baru saja dimulai. . .
.
.
.
pagi ini seperti biasa Aris sudah menunggu bosnya di sofa sambil sibuk dengan tabletnya.
Mila dan Elang menuruni tangga dengan tangan yang terus menggenggam satu sama lain, dan senyum yang cerah dari keduanya...
"pagi pak ,Bu" ucap Aris lalu berdiri
"pagi mas aris"
"ayo semuanya sarapan dulu.." ucap mamah Elang bersemangat
mereka menuju ke ruang makan . . .
"Mila kamu makan ini ya" ucap mamah Elang
"kok cuma Mila" Mila sedikit bingung
"hehe, biar kamu cepet punya baby"
blush...wajah Mila malu
karena semua orang tersenyum kearahnya.
baiklah mah selama itu bisa membuat mamah tersenyum tidak masalah, ucap Mila dalam hati
setelah selesai makan Mila mengantarkan Elang sampai depan rumahnya,
Elang mengecup lembut kening istrinya "nanti makan siang bareng ya. . biar aku yang ke butik kamu"
"biar aku aja yang ke kantor kamu, kamu pasti sibuk"
"yaudah terserah" Elang berlalu sambil melambaikan tangannya
"hati-hati mas" Mila membalas lambaian tangannya.
.
.
.
"Bu Mila mau makan siang dimana ?" tanya Dimas yang sedari tadi sudah berada di ruangan sampel bersama Mila.
"mau makan siang dikantor suami saya dim?"
"oh yasudah, mau ke parkiran bersama Bu"
"kamu mau kemana?" tanya Mila heran karena setahunya Dimas lebih sering makan siang di butik.
Dimas menggaruk kepalanya "mau makan siang diluar"
Mila tersenyum melihatnya "makan siang sama pacar kamu ya dim"
"hehe ya begitulah Bu" ucap Dimas malu-malu
"wah sekarang sudah punya pacar kok nggak dikenalin sih"
mereka berjalan menuju parkiran..
"mau makan di restoran mana kamu dim" tanya Mila
"i itu Bu deketnya ELANG GROUP"
"oh Deket kantor suami saya, nebeng boleh nggak dim saya nggak bawa mobil"
"iya tentu Bu, silahkan" Dimas membukakan pintu mobilnya
mereka berdua melaju menyusuri kemacetan kota..
"memang suami ibu juga bekerja di Elang Group ya" tanya Dimas sambil fokus mengemudi
Mila menyunggingkan senyumnya "hehe iya dia yang punya perusahaan sebenarnya"
"apa!? emhh jadi pak Elang yang punya Elang Group" Dimas merasa cukup kaget karena selama ini, Mila tidak pernah membicarakan tentang latar belakang suaminya yang kaya raya, karena selama ini pun ia dikenal sebagai orang biasa.
"hehe iya dim, biasa aja dong"
"pacar saya juga kerja disana Bu" kata Dimas
"oh iyaa, wah ternyata dunia sempit ya, kapan-kapan ajak ketemu saya ya dim"
"siap Bu"
Dimas menurunkan Mila didepan lobby perusahaan besar itu . .
Mila memasuki kantor dan disambut beberapa karyawan disana, dan terlihat Aris yang sudah menunggu di lobby..
"mas aris" gumam Mila sambil berjalan mendekatinya
"Bu Mila sudah datang, mari saya antar keruangan pak Elang"
"kenapa mas Aris repot begini sih, kaya sama siapa saja" gerutu Mila
"kan ibu istri bos saya hehe"
"saya tetep teman mas Aris, jadi mas Aris nggak perlu berlebihan apa lagi sampai seperti ini"
"baiklah anggap saja saya sedang menjeput teman" mereka berdua tertawa.