
"Jen" Mila berdiri menghampiri jen, berjongkok lalu memeluknya.
Mila melirik kearah Kiki, "mbak Kiki tinggal kan Jen sama aku aja ya, udah diijin tadi sama ayahnya"
"iya mbak Mila" Kiki.
Elang masih dibuat bingung oleh keduanya. pasalnya mereka lebih mirip ibu dan anak, keduanya terlihat begitu saling menyayangi.
anak siapa?, mengapa begitu dekat dengan Mila?
Mila menuntun Jen untuk duduk dipangkuannya.
"Jen cium tangan dulu sama om" ucap Mila
dan Jen seperti nya malah takut melihat Elang yang terus menatapnya, ia malah memeluk leher Mila semakin erat.
"mas jangan dilihat in kayak gitu , takut dianya" ucap Mila mengusap-usap rambut Jen.
Elang mengerutkan keningnya bingung "anak siapa mil?" tanya nya
Mila menatap Jen yang menatap nya dengan mata yang berbinar, matanya bulat. . . tidak mirip seperti ayahnya yang sipit.
"anak aku" jawab Mila mencium rambut Jen.
"apa!?!?!" Elang ternganga mendengar nya, pikiran buruk nan negatif langsung berkumpul dibenaknya.
"jangan bilang kalo itu anak-"
"ini tidak seperti yang kamu pikirkan mas" ucap Mila yang tersenyum melihat raut wajah Elang.
"iya iya nggak mungkin anak kamu , kamu kan dulu masih peraw-"
"sssttttt, ada anak kecil jangan dilanjutin" Mila menatap Jen sejenak "Jen cium tangan om dulu ya sayang".
Jen mengangguk dengan ragu ia mengulurkan tangan kecilnya kearah Elang lalu mencium tangan Elang.
Elang tersenyum kikuk menerima tangan mungil itu. "adik cantik namanya siapa?" tanya Elang.
Jen melirik kearah Mila lalu Mila menganggukan kepalanya. "nama aku Jen" ucap Jen lirih.
"namanya Jenita Aulia Wang mas" ucap Mila yang terus memandangi Elang karena ingin tahu seperti apa reaksi suaminya saat mengetahui nama itu.
"jadi dia anak Renaldi?" tanya Elang semakin bingung.
Mila mengangguk dan tersenyum. . . .
"pa pantes tadi nggak asing, hey kamu dulu pernah ketemu om Lo waktu kecil" ucap Elang mengusap pipi Jen.
"oh ya" ucap Jen polos
Elang mengangguk dan tersenyum meskipun hatinya tidak, bagaimana jika Mila memilih kembali bersama Renaldi pasalnya ia terlihat begitu menyayangi Jen.
Mila meraih tangan Elang untuk di genggaman nya "mas nggak usah mikir yang enggak-enggak dulu ya".
"iya mil"
"bubu , om ini siapanya bubu?" ucap Jen lirih
"ini om Elang sayang, suaminya bubu"
"suami?" ucapnya kecewa karena ia berharap Mila bisa bersama ayahnya dan menjadi ibunya.
Elang terus menatap Mila dan Jen dengan perasaan tak karuan meskipun Mila menyuruhnya untuk tidak berfikir yang tidak-tidak.
"berarti bubu nggak mau jadi bundanya Jen lagi dong" ucap Jen yang sudah hampir menangis.
"sayang bubu akan selalu jadi ibunya Jen , meskipun bubu nggak bisa nggantiin posisi bundanya Jen . . . oh iya kamu sekarang boleh panggil bubu dengan sebutan Mamii"
Elang membelalakkan matanya tak percaya, bagaimana ia berfikir dengan positif jika melihat Mila seperti itu , apalagi sekarang ia menyuruh Jen untuk memanggil nya mami"
"dan kamu panggil om Elang Papii ya" sambung Mila melirik kearah Elang.
Jen berbinar mendengar nya , selama ini ia ingin sekali memanggil Mila dengan sebutan seperti anak lain memanggil ibunya. "Mamii" ucap Jen memeluk Mila.
Elang sedikit paham sekarang, ibunya telah tiada dan Mila type orang yang akan menyanyangi nya apalagi dulu ia dekat dengan Renaldi.
"Pa Papii" ucap Jen dengan ragu menengok kearah Elang.
Elang tersenyum kemudian merentangkan tangannya "sini ikut Papii ya".
Jen mengangguk dengan ragu, lalu merentangkan kedua tangannya dan direngkuh oleh Elang.
"sekarang kamu anak Papii sama Mamii ya" ucap Elang yang kini merengkuh tubuh mungil itu.
"iya Papii, Jen sekarang punya Mamii, Papii sama Ayah".
"Jen sayang kamu juga punya bunda , bunda tetap harus jadi nomor satu dihati Jen" ucap Mila
Elang yang melihat Jen larut dalam kesedihan itu juga tak tega sebenarnya, seorang anak kecil yang harus kehilangan sosok ibu dan bahkan belum pernah melihatnya, ia paham sekarang betapa Mila menyayangi Jen.
"Jen kita main aja yuk" ucap Elang mengalihkan pembicaraan yang serius ini.
"main apa?" tanya nya polos
"itu" ucap Elang menunjuk perosotan diujung taman.
Jen menggelengkan kepalanya "Jen nggak mau , Jen mau itu"
"ayunan?" tanya mila dan Jen mengangguk.
"ayo" ucap Elang menggendong tubuh Jen dan berdiri lalu ia sempatkan untuk menggenggam tangan mila. mereka berjalan mendekati ayunan yang sudah ada beberapa anak-anak disana.
Jen berlari kecil menuju ayunan itu, sedangkan Elang dan Mila memilih duduk di bangku dekat dengan ayunan itu untuk mengawasi Jen.
"maaf ya mas" ucap Mila melirik Elang
"untuk?" jawab Elang yang tak mengalihkan pandangannya pada Jen.
"hal ini . . . aku belum bilang sama kamu"
"nggak papa mil"
"aku nggak tau harus bilang dari mana, aku sayang sama Jen bukan karena koh Al. . . bukan karena dia ayahnya. tapi aku sayang sama dia karena sejak kecil aku yang mengurus nya". ucap mila begitu pilu.
"kamu dulu tinggal sama Renaldi?" tanya Elang melirik Mila sekilas.
"enggak mas, aku pulang kok kalo sore cuma kalo pagi biasanya aku yang jagain Jen. . . itupun kalo Al lagi sibuk".
"oh" jawab Elang singkat, ia merasa hatinya begitu perih saat mendengar kedekatan mereka.
Mila melingkarkan tangannya pada lengan Elang, lalu bersandar di bahunya. "mas nggak keberatan kan anggap Jen sebagai anak kita".
Elang tersenyum kemudian mengusap rambut Mila "iya sayang"
"dia dari dulu pengen memanggil ku dengan sebutan seperti anak lain memanggil ibunya mas, tapi posisiku serba salah dan aku tidak ingin orang lain salah paham akan hal itu, jadi Al menyuruhnya memanggil ku bubu, sebutan sayangnya".
"iya aku paham mil"
"kalo kamu mau tanya alasan ku pintar memasak, seorang dari keluarga kaya bahkan sibuk mengurus perusahaan dan siapa sangka aku pandai memasak , dan Jen adalah jawabannya"
Elang kini menatap Mila begitu lekat. . .
"dulu aku selalu ingin memasak sendiri untuk nya, aku tidak ingin dia makan sembarang , meskipun ayahnya bisa memasak tapi dia begitu sibuk dan aku yakin ia tidak akan sempat memasak untuk Jen".
Elang sedikit tersenyum mendengar kebaikan hati istrinya..
"jadi bukan Al alasan ku belajar memasak, kamu tenang saja" ucap Mila memeluk erat lengan Elang.
"aku tidak bisa tenang, apalagi untuk menunggu dua hari lagi" ucap Elang
Mila sedikit melupakan hal itu, hampir saja ia mengakui perasaannya pada Elang. . . namun ia juga tak tega melihat Elang bersedih.
"apapun jawaban mu, asalkan kamu bahagia. . . aku melakukan semua permintaan orang yang tidak waras itu hanya untuk mu mil, untuk kebahagiaan mu" ucap Elang begitu serius.
Mila meraih tangan besar suaminya menggenggamnya lalu mengecup punggung tangan nya. "bisakah kita tidak membahas itu, aku hanya ingin fokus kepada mu" ucap Mila.
Elang mengangguk. . . .
"Papii. . . Mamii. . !" teriak Jen dari kejauhan dan tertawa riang bermain dengan anak seusianya disana.
Mila melambaikan tangannya pada Jen. . .
"Jen dulu sangat ingin ditemani di taman bermain bersama orang tuanya. . . dan sekarang aku baru bisa mewujudkan nya" ucap Mila.
"jadi seperti ini rasanya menemani anak yang sedang bermain. . . . aku tidak sabar menantikan kehadiran adiknya Jen" ucap Elang tersenyum jahil pada mila.
Mila tersenyum dan memegangi perutnya yang masih rata, apakah ia harus melakukan tes kehamilan. . . meskipun ia merasakan beberapa tanda-tanda nya tapi ia belum yakin sepenuhnya. . . bagaimana jika yang dikatakan oleh mamah dan kakaknya itu salah...
"berdoa saja mas"
"usaha juga sayang. . . aw" Mila mencubit pelan tangan Elang.
.
.
.
**Maaf agak telat up nya ya. . . tapi udah aku panjangin sekalian kok.
semangat Senin gaess waktu nya vote penaikan ranking. . .
lopeyuall 💋💋💋💋💋**