
Mila menghampiri sahabat nya, ia memasuki ruangan khusus yang sudah disiapkan untuk merias calon pengantin. . .
terlihat disana ana yang sedang berdiri mengenakan gaun putih yang begitu indah ia sedang berpose sedangkan Tino berada tepat didepannya mengabadikan momen, momen dimana ia akan menjadi laki-laki yang sesungguhnya, bukan hanya bertanggung jawab terhadap ana namun juga buah hatinya yang kini sedang tumbuh dalam perut ana.
senyuman Mila tidak pudar tatkala melihat dua insan yang sedang jatuh cinta itu, "masuk ngapain bengong disitu" ucap ana dan membangun kan lamunan Mila.
"abisnya takut ganggu ah" canda Mila melangkahkan kakinya mendekat.
"Elang mana mil?" tanya Tino.
"nyari temen-temennya katanya" jawab Mila
"berhubung nanti acaranya singkat, gue mau ngajak kalian sama sohib sohib gue kumpul setelah resepsi, kita pesta ronde kedua" ucap Tino bersemangat.
"tin, Lo nggak kasihan ana. . . nanti kalo dia kelelahan gimana?" seru Mila
"nggak mil, justru gue seneng banget kita bisa ngumpul-ngumpul sama temen suami, lagian semenjak gue hamil selalu tidur larut malam kok" sahut ana
"eh baru calon ya, belum suami" Mila tertawa
"iya-iya mentang-mentang situ udah punya suami" sahut Tino
"ya iyalah suami, kan aku udah sah" ucap Mila dengan nada bercanda nya.
"iya-iya yang sekarang udah saling bucin" ledek Tino.
"emang keliatan banget ya" ucap Mila
"gimana nggak keliatan orang kalian mesra-mesraan di depan gue markonahhhh" ucap Tino jengkel.
"ya abisnya mas Elang sih" ucap Mila malu-malu saat menyebut nama suaminya juga hatinya selalu berdebar saat mengingatnya.
"eh lihat deh yang muka Mila malu-malu kucing, kayak bocah sma aja sumpah" ucap ana.
"iya yang satu malu-malu yang satu nggak tau malu kalo lagi di depanku" sahut Tino.
mereka terus menggoda Mila, yang pipinya memerah karena mereka mengungkit hal-hal tentang dirinya dan Elang.
.
.
.
.
Setelahnya, Mila kembali ke pesta yang bertempat di dalam rumah Tino dan di halaman rumah . . .
ia menuju halaman karena tadi Aris sudah memanggilnya dan memberitahukan bahwa ia disuruh menemui orang tuanya juga suaminya.
ia tersenyum saat melihat laki-laki yang begitu tampan dan gagah, membuat ia ingin selalu memeluknya karena itu membuatnya merasa terlindungi. . . Elang saat ini sedang berbicara dengan sopan dengan kedua orangtuanya juga mamahnya Elang dan beberapa orang yang sepertinya adalah rekan bisnis.
"mamah, Mila kangen" ucapnya membalas pelukan mertuanya.
"mamah juga, maaf ya mamah sering liburan akhir-akhir ini" ucap mamah Elang.
Mila tau ia berusaha keras untuk melupakan rasa sakit kehilangan papah mertuanya. . . ia adalah wanita yang kuat, selalu menyembunyikan kesedihannya terhadap Mila dan Elang karena setelah kepergian papahnya Mila sendiri juga tidak melihatnya menangis lagi.
sedangkan laki-laki paruh baya yang sudah berkumpul dengan mereka daritadi akhirnya berbicara "jadi ini anak pak Mawardi?"
dan Mila menjawab dengan anggukan dan senyuman. . .
"cocok, benar-benar serasi dengan pak Elang yang selain parasnya yang rupawan juga sama-sama brilian di bidang bisnis . . . ah rasanya saya iri dengan pak Mawardi" ucap laki paruh baya itu.
"Anda terlalu berlebihan pak"canda Mila
"tidak sebelumnya saya sudah melihat anda saat rapat besar di negara XX benar-benar cerdas" jawabnya.
sebenarnya ini bukan yang pertama kali orang-orang berbicara seperti itu, karena sudah berkali-kali mereka mendapatkan pujian seperti itu setelah menikah, dan setelahnya perusahaan besar Mawardi Utama dan Elang Grup menjadi perusahaan raksasa di kota ini, karena banyak perusahaan yang berinvestasi disana dan juga menaruh kepercayaan pada perusahaan tersebut.
dan ini lah keuntungan dari perjodohan ini. . .
Mila menghela nafasnya setelah mengingat ingat perjodohan itu. . . tapi ia tidak menyesal karena perjalanan nya dengan Elang berujung indah saat ini, entah jika esok akan ada kerikil kecil yang akan menghalangi jalan mereka berdua tapi yang pasti tidak ada penyesalan akan hal ini. . .
.
.
.
Aris menghela nafasnya lega karena saat acara berlangsung Mila dan Elang bergabung bersama keluarga juga rekan bisnisnya di meja paling depan, sedangkan Aris sudah memastikan bahwa Al dan Royan berada di kursi halaman. . .
namun lagi-lagi jantung Aris nyaris copot saat Elang memberi tahu akan ada pesta ronde kedua yang diadakan Tino hanya bersama teman-temannya saja. . .
saat ini suasana rumah sudah lumayan sepi hanya beberapa yang tersisa. . . Tino menyuruh pelayanan menyediakan meja panjang dan juga berbagi makanan dihalaman nya yang dekat dengan kolam renang...
Mila berpamitan ke kamar mandi untuk memperbarui make up nya karena ia tidak mungkin berdandan biasa-biasa saja dihadapan teman suaminya. . .
sedangkan Elang kini menghampiri teman-temannya yang berbincang sambil menunggu meja selesai dibereskan...
sama halnya dengan Aris, kini ana tidak bisa berkata apa-apa setelah melihat seseorang memberi selamat padanya dan Tino, ana tahu betul siapa orang itu. . . orang yang selama ini selalu ditangisi sahabat nya...
.
.
.
**sabar sabar sabar tinggal satu langkah lagi hehe. . .
mohon dukungannya ya semuanya 💋💋💋💋**