Elang Dan Emila

Elang Dan Emila
Tidak pantas ~ 4


Royan menghela nafasnya ketika melihat sifat santai dari laki-laki itu, berbeda sekali dengan dirinya yang mudah emosi ini.


Royan membusungkan dadanya, lalu menghampiri Reza dengan gagahnya, ia hanya berpura-pura saja sebenarnya.


Jika melihat saingannya seperti ini rasa percaya dirinya menciut, Reza memiliki kharisma yang luar biasa dengan kacamata itu, dan sepertinya ia juga kaya jika dilihat dari merk jam tangan nya.


Ah, siall!


maju terus pantang mundur!


Royan seperti orang bodoh yang menyemangati dirinya sendiri dalam hati.


"Saya baru tahu jika anda adalah laki-laki yang akan dijodohkan dengan Zeze" ucap Royan tersenyum kecil.


"Anda mantan pacarnya Zeze" ucap Reza yang membuat Royan sedikit gelagapan, bagaimana bisa laki-laki ini tahu.


"Saya sudah balikan dengan Zeze, dan berharap anda membatalkan perjodohan itu" ucap Royan langsung pada intinya.


"Maaf pak Royan tidak semudah itu, dan sayangnya saya sudah jatuh cinta pada Zeze sejak pandangan pertama".


Royan mencengkeram erat kerah kemeja Reza "mau lo apa bangsatt!" geram Royan emosi.


"mau saya Zeze" sahut Reza tersenyum kecil lalu melepaskan tangan Royan.


"emang babii! Lo" ucap Royan yang hendak melayangkan pukulannya.


"Eh, apa-apan ini" ucap Tino yang baru saja datang, ia segera menyeret Royan untuk menjauh dari Reza.


"lepasin nyet!" sentak Royan meronta-ronta.


"inget tempat mbing" ucap Tino memperhatikan sekitar karena semua karyawan tampak menoleh pada Royan.


"kak" panggilan wanita itu membuat semuanya menoleh.


"Ze, kamu ngapain ikut kesini" ucap Royan menghampiri Zeze lalu menggenggam tangannya dengan erat, seolah ingin menyombongkan diri pada Reza bahwa dialah pemilik hati wanita itu.


"jangan emosi" ucap Zeze mengusap rahang Royan dengan lembut.


Dan inilah dia kelebihan Zeze menurut Royan, ia benar-benar bisa mendinginkan emosinya dengan sikap lembutnya.


Lalu Zeze beralih menatap Reza "mas Reza bisa bicara sebentar" ucapnya yang membuat Royan mengepalkan tangannya kuat-kuat.


"Ze!".


"sebentar aja kak, ada yang harus Zeze omongin baik-baik sama mas Reza" ucap Zeze dengan lembut.


Oh sial!


Royan paling tidak bisa menolak permintaan wanita ini, tapi mengapa harus berbicara dengan laki-laki sialan itu.


"sama aku ya" ucap Royan penuh harap.


Zeze menggelengkan kepalanya "nanti malah kamu nya emosi terus kak, sebentar saja" ucap Zeze meyakinkan.


Royan dengan terpaksa mengangguk "jangan lama-lama, aku tunggu diruangan Elang".


"sebentar saja kok, hatiku tak akan berpaling semudah itu" bisik Zeze yang membuat Royan memalu.


"ayo mas Reza" ucap Zeze berjalan mendahului Reza.


"awas Lo berani macem-macem!" ucap Royan menatap Reza dengan tajam, namun Reza tak menghiraukan perkataan Royan yang malah seperti anak kecil itu.


.


.


.


"sial, sial, sial" ucap Royan mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi.


"bisa diem nggak sih mbing" ucap Tino yang duduk disebelahnya.


"masih yakin Lo mau bersaing, sama dia" ejek Elang tersenyum.


"temen bangkek Lo ya" ucap Royan kesal "bukannya mendukung malah bikin gue nggak pd" jujur Royan kemudian menyadarkan tubuhnya pada sofa.


"iya sih, kalo lihat wajahnya Reza yang dewasa banget kayak gitu, mendingan dia banget lah kalo jadi Zeze" ucap Tino menimpali.


Royan membungkam mulut Tino dengan bantal "Lo berdua mau gue putusin hubungan persahabatan kita" ancam Royan yang membuat Tino dan Elang tertawa renyah.


Mana bisa Royan tanpa mereka.


"gue sih oke-oke aja hahaha, gimana nyet?" sahut Elang.


"gue yakin nggak ada orang waras yang mau berteman sama Lo" ucap Tino terkekeh.


"berarti kalian nggak waras dong" ucap Royan yang membuat Tino melipat bibirnya.


.


.


.


Di cafe, samping Elang Group.


Terlihat jelas laki-laki yang berkacamata ini menatap kagum pada wanita yang tengah duduk didepannya.


Gaya duduknya begitu anggun, senyuman terus terulas dibibir manisnya. Meskipun Reza sangat tahu bahwa Zeze tidak menyukainya, tapi Reza akui attitude Zeze diatas rata-rata. Namun bisa-bisanya wanita cantik ini memilih laki-laki tak bermoral tadi.


"minum dulu mas Reza" ucap Zeze mendorong secangkir teh hangat beraroma melati itu pada laki-laki didepannya.


"makasih mbak" ucap Zeze pada pelayan yang baru saja menyerahkan teh hangat pada mereka.


Reza menyesap teh hangat yang masih beruap itu dengan hati-hati. Begitu menghangatkan tubuh nya yang seolah membeku karena senyuman gadis ini.


"Mas Reza nggak kerja?" tanya Zeze berbasa-basi.


"pagi ini lagi kosong jadwalnya, mungkin nanti siang baru kembali ke kantor" jawab Reza seraya meletakkan secangkir teh miliknya.


Zeze tampak mengangguk "Zeze sudah mendengar semua cerita tentang mas Reza" jujurnya.


"oh ya" jawab Reza terperangah, boleh tidak sih ia berharap pada gadis ini.


"iya, dan ternyata mas Reza sangat sempurna" puji Zeze yang membuat Reza tersipu malu.


"jangan memuji ku jika setelah ini kamu akan menjatuhkan ku" ucap Reza tersenyum.


Bagaimana bisa laki-laki ini tahu apa yang ada dipikiranku, batin Zeze.


"mas Reza berhak mendapatkan wanita yang sempurna juga tentunya" ucap Zeze berterus terang.


"Tidak ada manusia sempurna, kita semua hanya sedang berusaha untuk menjadi terbaik meskipun banyak kekurangan" ucap Reza tersenyum.


"tapi mas Reza begitu sempurna menurut ku" ucap Zeze "Sehingga aku benar-benar takut menyakiti hati laki-laki sebaik mas Reza".


"maka dari itu jangan sakiti hatiku" ucap Reza begitu serius.


"Jika kita teruskan ini lebih jauh, mas Reza hanya akan terluka" jawab Zeze.


"katanya cinta butuh perjuangan Ze, maka ijinkan aku memperjuangkan mu" ucap Reza yang membuat Zeze segera menggeleng.


"aku tidak pantas mas" ucapnya lemah.


"Kamu sangat pantas Ze, aku ingin menikahi mu bukan karena perjodohan ini, tapi karena aku sendiri ingin kamu menjadi istriku" ucap Reza yang hendak menyentuh tangan Zeze, namun segera ditepis oleh Zeze.


"Jangan memperjuangkan hal yang sia-sia mas" ucap Zeze yang tetap mengulas senyumnya.


"berjuang saja belum, sudah bilang sia-sia". kekeh Reza pada pendiriannya.


"aku mencintai laki-laki brutal tadi" ucap Zeze tersenyum kecut "tidak perduli seperti apapun dia, yang jelas hatiku sudah benar-benar aku serahkan seutuhnya padanya".


"masih belum terlambat jika janur kuning belum melengkung, kamu hanya belum mengenal ku saja Ze".


Keras kepala juga laki-laki ini.


"Aku percaya mas Reza akan mendapatkan yang terbaik, sebelumnya maaf karena Zeze tidak bisa melanjutkan perjodohan kita" ucap Zeze kemudian berdiri.


Namun tangan besar Reza menahannya "kamu yang terbaik menurutku Ze".


Zeze menghela nafasnya, kemudian kembali duduk dan melepaskan tangan Reza "aku tidak sebaik itu dan tidak sesempurna itu".


"aku akan menerima semuanya" ucap Reza yang semakin tertantang pada gadis didepan nya ini.


Zeze memejamkan matanya sejenak, terlihat begitu frustasi menghadapi laki-laki ini "mas Reza" panggil nya, ia berharap ini menjadi yang terakhir kali.


"iya" jawab Reza.


"aku sudah tidak suci lagi, aku perempuan kotor yang tidak pantas bersanding denganmu" ucap Zeze serius.


"mak-maksudnya?" tanya Reza mengernyitkan dahinya.


"aku sudah tidak perawan, dan sangat tidak pantas untuk mas Reza" ucap Zeze dalam sekali hembusan nafas, karena begitu gugup mengatakan hal itu. dan untungnya kafe ini terlihat sepi.


"aku tidak perduli!" ucap Reza menatap manik lentik itu.


.


.


.


YANG PENGEN ELANG MILA NONGOL, LIKE KOMEN DAN VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA YA GAAESSS 💋💋💋💋💋