
Royan mengikuti langkah kaki Zeze yang sudah lumayan jauh, menarik lengan wanita itu.
"Ayo aku antar, ini bukan waktu yang tepat untuk bertengkar." Tegas Royan yang membuat Zeze pasrah, mengikuti Royan ke parkiran untuk mengambil mobil.
"Masuk," ucap Royan membukakan pintu.
Zeze mengusap air matanya yang berjatuhan, dan segera memasuki mobil.
Hening melingkupi seisi perjalanan, selain ia sedang khawatir dengan mamahnya, ia juga masih merasa kesal pada laki-laki ini.
Kening Zeze mengernyit ketika menerima sebuah tissue dari Royan, padahal air matanya sudah kering sejak tadi.
"Menangis lah disini, jangan menangis dihadapan mamah mu." Royan melirik Zeze dengan ekor matanya.
Zeze mengambil tissue itu dengan sewot. "Aku turun disini saja."
"Iya, biar aku memarkirkan mobil sebentar."
"Jangan menemui mamah dulu," ucap Zeze yang membuat hati Royan begitu ngilu. Mengapa ia tidak boleh melihat keadaan wanita yang melahirkan Zeze, ia kan juga ingin mengambil hati beliau.
.
.
.
Royan mengekori Zeze mencari ruangan mamahnya. Zeze tak banyak bicara dari biasanya, sepertinya wanita itu masih merajuk padanya.
"Ze!" panggilan dari seseorang membuat mereka menoleh.
Mila dan Elang terlihat sedang duduk di kursi tunggu.
"Mbak Mila," Zeze berlari kecil menghampiri mereka, segera memeluk Mila.
"Mamah dimana," lirih Zeze begitu khawatir suaranya sudah tercekat.
Elang berdiri menghampiri mereka, "kamu tenang saja Ze, mamah kamu sudah mendingan. Dokter bilang cuma butuh istirahat."
"Iya Ze, kamu tenang dulu." Tepukan demi tepukan Mila berikan pada punggung Zeze.
"Tapi ini semua pasti karena Zeze, mbak." Isak Zeze merasa bersalah.
"Bukan, Ze." Mila melirik kearah Elang, berharap suaminya paham jika ia butuh ruang berdua dengan Zeze.
Tapi bukan Elang yang paham. "Ayo, kita cari minum dulu buat mereka." Royan melingkarkan tangannya pada pundak Elang.
"Jangan pegang-pegang," tukas Elang setelah sampai pada kantin rumah sakit.
Royan menghela nafas panjangnya, segera duduk di salah satu bangku. Elang mengikuti sahabatnya yang berbeda dari biasanya itu.
"Kenapa?" Tanya Elang menghempaskan tubuhnya pada kursi disana.
"Masalah hidup gue banyak banget," memijit pelipisnya pelan.
"Soal restu pelan-pelan mbing." Entah mengapa baru kali ini Royan merasa omongan Elang ada benarnya.
"Tadi pagi gue nambah satu masalah," ucap Royan begitu ragu.
Kening Elang mengernyit, menunggu jawaban.
"Terry datang ke apartemen, dan Zeze salah paham. Dia ngira gue sama Terry ada hubungan spesial. Padahal lo tau sendiri kan Lang." Royan terlihat frustasi ketika menyampaikan isi hatinya.
"Tapi lo biarin dia disana dan gak usir dia kan. Gue tahu Terry cuma temen lo, tapi kalau lo udah serius sama Zeze, nggak ada lagi yang namanya berteman dengan perempuan lain."
"Gue cuma ngomongin masalah kerjaan, itupun untuk Zeze juga kan kedepannya. Karena melalui Terry gue pasti bisa kerja sama dengan JF Group."
Elang meneguk air mineral dalam kemasan itu. "Gini ya yan, itu sih wajar kalau Zeze cemburu. Nggak usah mikirin JF Group, besok setelah makan siang lo datang ke Elang Group."
Royan menatap bingung pada Elang. "Ngapain," ucapnya malas.
Elang berdehem dan mengalihkan pandangannya, terlalu gengsi untuk mengatakan ini sebenarnya. "Kita tanda tangan kontrak untuk kerjasama kedepannya."
Mata Royan membulat seketika, namun segera mengguncang bahu Elang yang berada dihadapannya karena merasa bahagia.
"Beneran?" tanya Royan masih tak percaya.
"Terserah lo kalau nggak mau." Masih mempertahankan sikap sok cool nya.
"Mau lah, gila aja gue nggak mau." Royan begitu sumringah, karena dengan ini kakeknya pasti akan segera mempercayainya. Elang Group memiliki banyak cabang, dan ia tidak lagi membutuhkan perusahaan lain.
"Makasih Lang," ucap Royan yang hendak memeluk Elang. Namun segera ditepis oleh Elang.
"Diem, kambing!"
.
.
.
"Yang penting kamu pulang dulu, luluhkan hati mamah kamu pelan-pelan, Ze." Mila terus menasehati Zeze yang menyalahkan dirinya sendiri.
Pembicaraan mereka terhenti ketika dua laki-laki datang menghampiri mereka. Royan terlihat lebih semangat, setelah ini ia akan berkerja keras siang dan malam untuk segera memiliki Zeze.
"Yang, ayo pulang. Gem sudah bangun katanya, takutnya kalau nanti haus. Besok saja kita kesini lagi." Elang mengusap lembut rambut Mila.
Mila mengangguk, "kamu nggak papa kan Ze?" Tanya Mila menatap Zeze.
"Iya mbak, kan ada kak Royan." Bohongnya, padahal hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja.
"Yan, jagain Zeze sama Tante gue." Elang menepuk pundak Royan sebelum pergi dari sana.
"Tenang aja, lo percayain semuanya sama gue." Royan menepuk dadanya sendiri dengan bangga.
Ingin sekali Elang menonyor kepala laki-laki itu, jika Mila tidak menghadangnya.
.
.
.
Setelah kepergian Elang dan Mila, mereka masih sama diamnya. Royan sengaja memberikan ruang untuk Zeze, agar Zeze mau ditemani olehnya.
"Pasien sudah bangun, sudah bisa dijenguk." Ucap dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu.
"Zeze masuk dulu, kakak pulang saja." Zeze berucap tanpa menoleh pada Royan.
Royan tidak menjawabnya dan membiarkan Zeze untuk masuk. Mana mungkin ia meninggalkan Zeze sendirian disini. Karena mamah Zeze berada di ruang VVIP, kursi tunggu juga begitu sepi. Lebih baik ia merebahkan tubuhnya sebentar.
"Mah," Zeze mendekati wanita paruh baya yang sedang terbaring lemah di ranjang.
Mamah tidak mau menatap Zeze, hanya termenung menatap luar jendela.
"Mamah makan dulu ya, biar cepat enakan badannya." Zeze mengambilkan makanan yang sudah disiapkan diatas nakas.
"Peduli apa kamu sama mamah." Zeze menelan ludahnya kasar ketika mamahnya berucap begitu dingin.
Namun segera tersenyum, "mamah makan dulu, abis ini Zeze belikan buah yang fresh." Menyuapi sang mamah dengan senyuman meskipun awalnya menolak, namun akhirnya mamahnya luluh.
"Ze, bangun makan dulu gih." Mamah mengguncang pelan pundak Zeze yang tengah terlelap dalam posisi duduk.
Diluar sana langit sudah menggelap, matahari sudah membenamkan tubuhnya.
Zeze mengerjapkan matanya, badannya terasa pegal sekali. "Cari makan dulu," ucap mamah lagi.
Zeze mengangguk, segera menuju ke kamar mandi untuk cuci muka.
"Zeze tinggal dulu nggak papa mah?" Tanya Zeze sembari mengusap wajahnya yang basah dengan handuk kecil.
"Iya, nggak papa kok."
Zeze segera keluar, lalu menutup pintu. Namun matanya membulat sempurna ketika melihat Royan masih di sana dengan posisi berbaring di kursi.
"Kakak," Zeze menepuk pelan pipi Royan. "Kakak bangun."
Royan terduduk seketika, "ada apa? butuh apa?" Tanya nya beruntun.
Zeze menggeleng, "ayo cari makan." Zeze melangkahkan kakinya tanpa menunggu jawaban dari Royan.
.
.
.
"Gimana keadaan mamah kamu?" ucap Royan sembari mengunyah nasi goreng.
"Sudah mendingan, cuma butuh istirahat saja. Kakak lebih baik pulang." Setelah menyuapi dirinya sendiri Zeze menyuapi Royan. Mereka memang hanya memesan satu piring nasi goreng spesial. Karena dipastikan Zeze hanya memakan sedikit saja, daripada tidak habis. Itu kebiasaan mereka sejak tahun-tahun yang lalu.
"Nggak, aku diluar saja. Kalau butuh apa-apa kamu panggil aku." Royan berkata tanpa ingin dibantah.
"Aku yang akan jagain kamu dan mamah kamu." Perkataan Royan membuat Zeze terharu, selama ini ia memang akan mencari sosok yang bisa menjaga dirinya dan mamah, menggantikan almarhum sang papah.
"Maaf ya kak, Zeze tadi terlalu emosi dan cemburu. Mbak Mila sudah memberi penjelasan kalau wanita itu sebenarnya teman kakak. Tapi..."
"Kakak janji tidak akan berteman dengan wanita manapun." Pangkas Royan menatap Zeze dengan serius.
Tersenyum kecil, Zeze segera menyandarkan tubuhnya pada pundak kokoh Royan. "Terimakasih," ucapnya menghirup aroma khas laki-laki itu yang menenangkan seisi jiwanya.
.
.
.
Untuk vote sama hadiahnya di novel aku yang judulnya "Bartender cantik ku" saja ya. Daripada disini sia-sia.
Follow Ig aku ya gais @bkueskyma1 💋