
Entah sudah berapa jam Elang menunggu i Mila yang tak kunjung sadar, semua keluarga nya menunggu anaknya yang berada di ruangan khusus bayi.
Langit sudah nampak gelap, ia menatap cemas pada istrinya yang masih saja memejamkan matanya.
"mas"
panggilan itu seolah membuyarkan lamunannya, bagaikan kejutan untuk dirinya. .
suara yang sangat ingin ia dengarkan, begitu juga dengan panggilan itu.
"sayang" Elang mengecup bibir Mila berkali kali, hanya sebuah kecupan saja, seolah menunjukkan betapa ia sangat mencintai istrinya.
"a anak kita?" tanya Mila begitu cemas, karena memang ia tidak ingat apa-apa setelah di ruang operasi.
"dia sehat sayang, kamu juga harus cepat sehat ya".
Mila meringis saat merasakan rasa sakit yang luar biasa pada perutnya bagian bawah.
"mana yang sakit?" tanya Elang begitu khawatir.
"bekas operasi nya . . . baru kerasa sekarang deh kayaknya" meskipun amat sakit namun Mila mencoba tersenyum pada Elang, ia tidak ingin Elang terlalu mencemaskan dirinya.
"aku panggil dokter dulu biar cek keadaan kamu"
"iya mas"
.
.
.
Setelah melakukan pemeriksaan dan hasilnya cukup bagus untuk kondisi tubuh Mila saat ini.
"bayinya biar dibawa kesini saja Bu Mila, saya sudah menyuruh perawat membawa nya kesini".
ucap dokter meli.
Belum sempat Mila menjawab, seorang perawat sudah datang menimang bayi mungil itu juga dengan mamahnya dan mamah mertuanya yang ikut masuk kesana. Sedangkan pak Mawardi dan Erfan pulang setelah melihat Gemilang dan akan berjaga malam nanti.
Mila tak kuasa menahan tangisnya saat menatap bayi kecil yang begitu mungil itu , ia masih saja tertidur.
"udah jadi ibu, kok masih nangis aja sih" ucap mamahnya mengusap rambut Mila.
Mila menatap Elang "anak kita mas" ucapnya.
"iya sayang" balas Elang yang juga tahu betul perasaan istrinya, sama dengan dirinya saat melihat buah hatinya untuk pertama kalinya.
"bangun sayang" ucap dokter Meli mengusap pelan pipi yang mungil itu, ia lalu menggeliat sambil membuka matanya perlahan.
"a aku mau lihat dia" ucap Mila
"iya , pak Elang tolong bantu Bu Mila untuk miring saja"
Elang membantu Mila untuk mengubah posisinya dengan hati-hati. dan ia sempatkan untuk mengecup kening istrinya. . .
Perawat itu meletakkan bayi mungil itu dengan hati-hati disamping ibunya. Mila membelai pipi mungil itu. . . seolah tak percaya ia sudah keluar dari perutnya.
"ganteng banget mas, kaya kamu" ucap Mila menatap Elang. Elang lalu tersenyum dan mengangguk.
"Bu Mila lepas kancing nya ya , dia biar minum ASI dulu" ucap dokter meli, karena Mila telah konsultasi sebelum itu. . . ia memilih menyusui anaknya dari pada memberi nya susu formula. dia sangat ingin yang terbaik untuk sang buah hati, tidak peduli jika nanti badannya akan rusak atau apa yang penting kebutuhan nutrisi anaknya terpenuhi.
Perlahan Mila membuka kancing bajunya dengan ragu, sebenarnya ia malu sekali . . . ini pertama kalinya ia membuka nya di depan banyak orang.
ya mungkin memang hanya Elang saja yang pernah melihatnya, bahkan lebih dari sekedar melihat.
"udah jangan malu" ucap mamahnya yang mengerti perasaan Mila.
"iya mil, nanti juga akan terbiasa kok" sahut mertuanya.
"iya mah"
Setelah Mila berhasil membuka kancing bajunya, lalu menyingkirkan bra nya , Dokter meli menusuk-nusuk pelan pipi Gemilang agar bibirnya terbuka.
dengan bersusah payah akhirnya bayi mungil itu berhasil menyesap perlahan.
"awalnya aja sedikit sakit, nanti lama-lama terbiasa kok" ucap dokter Meli.
"iya dok".
Mila tersenyum saat bayi mungil nya menyesap ASI nya, semua rasa sakit yang ia alami sebelumnya seolah terbayar lunas saat melihat putra nya.
"gimana rasanya?" tanya Elang saat melihat pemandangan yang begitu indah di depan matanya.
"geli" jawab Mila yang terus tersenyum.
"kalo anak cowo biasanya ASI nya lebih kenceng Bu" ucap dokter Meli.
"nggak papa dok, saya yakin persediaan ibunya lebih dari banyak" canda Elang.
"masss"
.
.
.
Mila dan Elang terus menatap bayi mungil yang terlelap dalam inkubator di samping ranjang Mila , keduanya merasakan betapa bahagianya memiliki buah hati . .
Elang menggenggam tangan Mila "makasih ya sayang, udah kasih aku anak yang begitu tampan mirip dengan ku".
Mila menoleh lalu tersenyum "aku yang mengandung nya mas, kenapa bisa mirip sekali dengan mu".
"apa kamu lupa?, aku yang membuatnya yang-".
"ssssstttt. . . mulai lagi deh".
"hehe, pokoknya kamu tidur aja . . . biar aku yang jagain dia" ucap Elang.
"nanti mamah sama papah kan kesini mas, aku tahu kamu juga pasti capek. . . istirahat aja".
"nggak yang, nggak ada kata capek buat kalian berdua" ucap Elang bersemangat.
"makasih Papii" ucap Mila dengan malu-malu, sejujurnya ia sudah menantikan lama untuk memanggil Elang dengan sebutan Papii.
Elang tersenyum bahagia mendengarnya "Mamii nya Gemilang cepetan tidur gih".
"dia pules banget mas, gak bangun-bangun abis nyusu" ucap Mila menatap lagi sang buah hati.
"kenyang yang, semoga aja tengah malem nggak bangun".
"iya mas aku juga takut nya gitu, semoga dia nggak rewel".
ceklek. . .
terlihat Erfan dan Sabrina menghampiri mereka.
"selamat ya mil" ucap Sabrina lalu menuju kearah inkubator untuk melihat keponakannya.
"hehe iya kak".
Erfan menghampiri Mila lalu memeluknya tanpa berkata apa-apa. Mila mengusap punggung kakaknya, pasti Erfan sangat khawatir dengannya.
"kamu bikin kakak khawatir dek".
"aku udah baik-baik aja kok kak".
Erfan melepaskan pelukannya "kakak syok banget waktu Elang bilang kamu harus di operasi".
"yang penting dia sehat kak" ucap Mila melihat lagi anaknya, sungguh ia tidak bisa melepaskan pandangannya dari sana.
Erfan lalu beranjak untuk melihat keponakannya yang masih terlelap. "bibirnya persis Elang ya" ucapnya saat memperhatikan bayi mungil itu.
"kan dia ayahnya kak" ucap Mila tertawa.
"iya-iya, aku lagi cari kemiripan nya dengan mu"
ucap Erfan melihat lagi "sebaiknya dia tidak mewarisi sikapmu".
"kenapa" tanya Mila mengerucutkan bibirnya, ia paham betul pasti setelah ini kata-kata yang tidak enak didengar akan keluar dari mulut kakaknya.
"bawel, galak, manja , keras kepala-"
"yang jelek-jelek nya aja disebutin".
"lebih baik dia jadi pendiam seperti Elang".
"pendiam?" tanya Mila seolah tak percaya kakaknya berfikiran seperti itu "Mas ku itu pendiam nya kalo sama kakak aja tau".
"yangggg" tegur Elang yang malu dengan Erfan, meskipun benar ia tidak banyak bicara ketika bersama Erfan.
"udah-udah mas, biar Mila istirahat dulu kok malah diajak berdebat" ucap Sabrina pada suaminya.
Mila tersenyum menang saat dibela oleh kakak iparnya, dan Erfan hanya bisa terdiam menuruti Sabrina.
"Oeeeek. . . oeeeek. . .ooooooeeeeek".
"tuh kan dia bangun, mas kamu bisa ambil dia nggak. . .kalo nggak bisa panggil perawat".
"biar aku aja mil" ucap Sabrina mengahampiri inkubator.
.
.
.
**TERUS VOTE LIKE AND KOMEN YA GAESSS. . .💋💋💋💋💋
SALAM DARI BABY GEMILANG ❤️❤️❤️**