
sesampainya di rumah, Elang dan Mila melihat wanita paruh baya yang sedang duduk di sofa dengan raut wajah yang khawatir.
"mamah masih disini" tanya Elang kemudian mencium tangan nya.
mamahnya langsung berdiri seketika melihat Mila berada di belakang punggung Elang . "sayang, maafin Elang ya" ucapnya kemudian memeluk Mila.
"Mila yang salah kok mah" ucap Mila mengusap punggung mertuanya.
"enggak-enggak pokoknya Elang yang salah" mereka melepaskan pelukannya .
"Lang. . . kedepannya kamu harus memperlakukan Mila dengan baik, ba bagaimana jika Mila meninggalkan kamu. . apakah kamu sanggup"
Elang mengerjapkan matanya gugup, memikirkan hal itu. "eng enggak lah mah. . . . Elang janji akan berusaha jadi suami dan ayah yang baik untuk mereka berdua"
mamahnya bernafas lega melihat mereka akur kembali, ia benar-benar takut jika Elang tidak bisa mengontrol emosi nya karena kadang Elang memang memiliki temperamen yang tinggi.
setelah nya mereka berdua berpamitan untuk ke kamar. . dan Elang menyuruh Mila ke atas terlebih dahulu sedangkan Elang dengan senang hati membuatkan susu untuk Mila, ini akan menjadi kebiasaannya selama sembilan bulan ke depan.
"minum dulu sayang" ucap Elang memberikan segelas susu itu.
Mila meneguk nya dan menyisakan sedikit saja. .
"ayo tidur" ucap Elang merebahkan diri di ranjang.
"nggak ngantuk" ucap Mila yang sibuk dengan ponselnya.
"jangan begadang sayang. . sini aku puk . .puk. ."
Mila kemudian beranjak dari sofa lalu duduk dan bersandar pada ranjangnya.
"tidur sayang"
Mila menggelengkan kepalanya "mas. . " ucap Mila yang terlihat ragu, dan Elang menyadari itu.
"ngomong aja" balasnya kemudian menatap Mila.
"aku nggak suka kamu ngerokok kayak kemarin"
Elang tersenyum mendengarnya "maafin aku ya, kemaren pikiran aku bener-bener kalut banget" karena ia sendiri juga tak biasa merokok sebenarnya, hanya saja ia merokok sekedar menenangkan diri karena takut Mila pergi darinya. Elang ikut duduk menghadap ke istri dan menggenggam kedua tangan mungil itu.
"aku janji nggak bakalan ngerokok lagi" ucap Elang kemudian mengangkat dan mengecup punggung tangan Mila.
"aku juga nggak mau kamu mabuk lagi mas, ini demi kesehatan kamu" ucap Mila begitu serius.
Elang langsung merengkuh tubuh istrinya dan membawa dadanya yang kokoh, "iya sayang aku janji"
"aku nggak mau kamu sakit mas" ucap Mila merenggangkan pelukannya dan menatap manik mata yang tajam itu.
CUP. . . Mila mengecup pipi Elang. "besok cukur ya mas" tutur Mila saat merasakan bulu halus yang berada di rahang Elang. dan kecupan Mila yang begitu singkat mampu membangun kan apa yang sedari tadi ia tahan.
"mil boleh ya, aku bakal hati-hati kok" ucap Elang yang sorot matanya berubah menjadi sayu. sungguh menahan hasratnya adalah hal yang sulit ketika sedang berdua bersama istrinya.
Mila berfikir sejenak, tak mungkin ia menyiksa Elang juga "hem. ." ucapnya.
dan Elang memulai nya dengan lembut, ia sangat berhati-hati menyentuh Mila . . .
ia berkali-kali meninggalkan gigitan kecil hingga berbekas pada leher jenjang istrinya.
"mas cukup ini udah banyak banget" seru mila karena Elang terus bermain dengan leher nya.
"kamu juga boleh , tapi disini aja" Elang menepuk dadanya yang sudah telanjang.
Mila terdiam sejenak kemudian dengan ragu melakukan hal yang diinginkan Elang.
malam yang panas baru saja dimulai. . .
.
.
.
"pak Bu ada tamu!" teriak bi Ijah dari luar kamar.
Mila langsung terbangun dan langsung terduduk "siapa bi!" serunya.
"teman bapak"
"iya bi suruh tunggu bentar".
Mila terheran ketika menyadari ia sudah memakai celana training dan braa sportnya
pasti Elang yang memakaikannya, tapi apa maksud nya . . . Elang pikir dirinya akan berolah raga huh. . .
memikirkan hal itu sepagi ini membuat Mila jengkel sendiri sungguh Elang tak pengertian.
"mas bangun , temen-temen kamu dibawah" ucap Mila menggoyang-goyangkan tubuh Elang, namun Elang malah menutup semua badannya dengan selimut.
tok. . tok. . "Bu katanya temen bapak suruh cepetan turun" kata bi Ijah masih ada dibalik pintu.
"iya bi!"
Mila segera turun dari ranjang dan memakai kaos Elang yang tergeletak di sofa karena ia tak melihat pakaian nya semalam.
dengan kaos yang kebesaran Mila menuruni tangga . . ia berjalan dan sibuk mencepol rambutnya.
dilihatnya ketiga laki-laki itu sedang duduk disofa.
"ada apa?!" ucap Mila tak santai lalu duduk di sofa depan mereka.
bukannya menjawab mereka malah terus menatap Mila dengan tatapan yang tak biasa, karena ketiga nya melihat Mila yang mengenakan kaos suaminya yang kebesaran, rambut yang dicepol dan menyisakan anak rambut disana juga dengan bekas gigitan Elang yang masih merah dileher nya yang putih. . .itu membuatnya semakin seksi.
Mila yang menyadari arah pandangan mereka seketika menutupi leher nya dengan kedua tangannya.
bodoh, kenapa bisa lupa sih.
mila hendak berdiri namun lengannya di pegang oleh seseorang yang baru datang.
"mas!. ." Mila membelalakkan matanya seketika.
bisa-bisa nya Elang keluar tanpa memakai pakaiannya, ia bertelanjang dada juga dengan bekas gigitan di dadanya. . .
"baju kamu mana sih!" gerutu Mila yang merasa sangat malu. ia menutupi Elang dengan badannya yang lebih kecil dan otomatis itu semua dilihat oleh ketiga sohibnya.
"nih" jawab Elang enteng dan memegang kaos yang dikenakan Mila.
"kan bisa ngambil di lemari!"
"emang pasangan laknat! kalian berdua"seru Royan yang baru bisa berkata kata.
"pasti kemaren abis berantem langsung tancap gas ya" goda Tino mengedipkan sebelah matanya.
"husstt. . ngomong apa sih" ucap Mila dengan wajah yang memerah menahan malu.
berbeda dengan seseorang yang sedari tadi terus terdiam.
mungkin ia memang akan merelakan, namun tetap saja pemandangan seperti ini membuat hatinya kembali ngilu. . . seolah luka bekas sayatan itu, menganga kembali...
Al tersenyum kecut menatap kedua orang di depannya. bohong jika Mila tak menyadarinya ia tentunya tahu bagaimana dengan sorot mata itu menunjukkan sebuah keterlukaan yang begitu dalam.
maafkan aku koh
"aku mandi dulu" bisik Mila pada Elang , kemudian Mila meninggalkan mereka dengan terburu-buru.
Mila menyuruh bi Ijah untuk mengantarkan kaos pada Elang. "makasih bi" ucap Elang menerima kaos itu dan langsung memakai nya.
"emang kayanya Lo mau pamer ke kita-kita kan Lang" seru Royan.
"itu ngerti" jawab Elang menyunggingkan senyumnya.
"cih, menggelikan. . . . .balikin uang gue" sahut Tino menyadari niatnya kesana.
"Lo tu pagi-pagi ke rumah orang udah ganggu, ngomong nggak jelas lagi, dasar tamu tak diundang" ucap Elang yang terus menahan senyumnya.
"pagi mata Lo , ini hampir siang!" sahut Royan.
"kalo hari Minggu gue, jam segini masih pagi"
"cepetan transfer uang kita" ucap Tino tak sabar.
"CK, salah siapa berani mengkhianati Elang Suryo"
"itu kan demi kebaikan Lo juga" sahut Royan.
"oh ya , kalo gitu terimakasih juga buat kemaren. . . syukuran kehamilan Mila , kalian yang bayarin kan" elang tertawa mengejek.
"nggak Sudi!" jawab kompak Tino dan Royan.
"oke-oke gue nggak semiskin itu nyuruh kalian bayarin syukuran kehamilan istri gue. . . tunggu Mila bentar, cek nya ada di dia".
"udah gue duga nyet" seru Royan.
"yoiiii mbing SUAMI TAKUT ISTRI" ucap Tino penuh penekanan, sedangkan Al hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat sikap para sahabatnya.
.
.
.
semangatin author dengan vote ya 💋💋💋💋💋💋