Elang Dan Emila

Elang Dan Emila
Masakan suami


usia kandungan Mila kini sudah lima bulan satu minggu, perutnya sudah terlihat jelas membesar tubuhnya kini semakin mont*k dan berisi karena efek kehamilan nya nafsu makannya menjadi bertambah, apalagi saat ini ia sudah tidak mengalami muntah dipagi hari.


siang ini ia dan Elang memeriksakan kandungannya dan hari ini juga mereka sudah bisa mengetahui jenis kelamin buah hati mereka.


Elang terus tersenyum sepanjang jalan menatap foto kecil hasil USG itu. tujuan mereka saat ini adalah kantor Elang karena sejak hamil Mila tidak bisa berjauhan dengan Elang dan Mila kini sudah tidak bekerja lagi, semua itu atas kemauannya sendiri meskipun Elang juga berniat melarang nya.


"udah ngelihatin nya" tanya Mila saat Elang memasukkan foto itu dalam saku jas nya.


"dia lucu banget deh yang, kayak nya Elang junior tumbuh sehat disini" ucap Elang mengelus perut Mila yang membesar.


"ya iyalah tumbuh sehat nggak lihat ibunya badannya kayak gentong gini" Mila mencebikkan bibirnya.


"seksi tau" Elang mengedipkan sebelah matanya, memang yang dikatakan benar adanya Mila yang seperti ini terlihat semakin seksi di matanya semuanya berisi dan padat.


Mila berdecak "pokoknya aku mau langsung diet setelah ngelahirin"


"nggak usah yang, buat apa?"


"aku kan malu mas, aku takut orang-orang ngomong aku nggak pantes sama kamu".


Elang mengerutkan keningnya "siapa yang berani bilang gitu"


"udah ah , ayo turun" ucap Mila, karena saat ini mereka sudah sampai depan kantor Elang.


Elang terus menggandeng Mila sampai diruang nya. . .


Mila menyandarkan tubuhnya pada sofa lalu mengelus perutnya, tendangan dari sang buah hati membuatnya tersenyum.


"nendang lagi ya?" tanya Elang menghampiri nya


Mila mengangguk "dia aktif banget mas aku jadi seneng deh".


Elang mengecup perut Mila lalu berganti mengecup bibir Mila "aku juga seneng kalo kalian berdua sehat".


Mila menghela nafasnya "aku takut kamu yang sakit mas, kamu akhir-akhir ini sibuk lagi".


"iya kan biar bisa libur lama yang, Minggu depan sebelum pernikahan kak Erfan biar semuanya udah beres".


"iya deh mas, nanti foto maternity nya sekalian disana aja ya".


"nggak yang, nanti nyewa tukang foto aja biar bisa ganti-ganti tema, kalo disana nanti pasti ribet"


"Hem, baiklah" ucap Mila pasrah.


"gimana kamu terima tawaran mamah kamu?" tanya Elang, karena usia kandungan Mila sudah bertambah besar mamahnya menyuruh untuk tinggal di rumah agar ia bisa membantu memantau mila.


"aku kok nggak enak sama mamah kamu ya mas" ucap Mila sungkan membiarkan mertuanya tinggal sendirian sedangkan ia tinggal bersama keluarganya.


"mamah nggak papa kok yang, lagian kan nanti kalo baby udah gede kita balik ke rumah utama" ucap Elang, Elang akan tinggal di rumah nya karena ia ingin membangun kenangan bersama anaknya seperti kenangan yang dimilikinya dengan sang papah.


"iya deh, nanti biar kak Erfan tinggal sama kak brina dan Exel dulu.. . kasian kak brina kalo tiap hari dengerin omongan pedes nya mamah"


"iya sayang".


.


.


.


mereka sampai di rumahnya pada sore hari, karena Elang memutuskan untuk pulang lebih cepat daripada biasanya.


Mila duduk di sofa kamarnya, semenjak Mila hamil Elang memutuskan untuk pindah kamar dilantai bawah untuk keselamatan istri dan anaknya.


Elang keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah.


"ehmm. . .yang" panggil Elang pada Mila


"apa sayang?" jawab Mila yang mulai terbiasa memanggil nya sayang meskipun hanya kadang kala, namun mampu membuat hati Elang terus bergetar.


"sebenarnya lusa ada acara reunian sama anak-anak, aku boleh ikut nggak rencananya sih mau ngajak kamu?". ucap Elang begitu sungkan.


"temen apa?"


"sebenarnya dari berbagai sekolah, temen tongkrongan dulu"


"yang berapa kali sih aku harus bilang, aku sayang kamu apa adanya. . ." ucap Elang yang mungkin sudah ke sekian kalinya, Mila selalu membahas tentang itu.


"yaudah deh aku ikut kalo ana juga ikut" ucap Mila karena ana juga mengandung dan perutnya lebih besar daripada ia jadi ia tidak akan merasa asing jika bersama ana.


"kayaknya sih ikut dia".


"iya mas". ucap Mila uang kembali sibuk dengan ponselnya.


"kamu beneran nggak mengidam?" tanya Elang, karena Mila sejak awal kehamilan belum pernah meminta apapun.


"kamu setiap hari nggak absen ya nanya itu" ucap mila dengan bibir yang terus melengkung karena perhatian Elang "sebenarnya sih aku lagi pengen sesuatu tapi aku ragu".


Elang mendekati Mila dengan antusias memegang kedua bahunya agar menghadap kearahnya "mau apa ?, mau apa kamu sama baby?".


"ehmm. . itu aku nggak tau ini termasuk ngidam atau nggak ehm. . tapi" ucap Mila ragu


"apa sayang, apapun untuk mu" ucap Elang matanya yang sudah berbinar, ia menunggu lama untuk keinginan Mila.


"aku mau makan masakan kamu" ucap Mila nyengir kuda.


"haaaa..?" Elang seolah tak percaya dengan permintaan sang istri "kamu kan tau yang aku nggak bisa masak".


Mila menghela nafasnya "yaitu dia yang buat aku ragu buat ngomong sama kamu mas"


"aduh yang gimana dong, kan aku bisanya cuma masak mie instan. . .aku nggak mau lah masakin kamu sama baby mie instan, nggak sehat".


"yaudah deh terserah" ucap Mila dengan raut wajah kecewa nya, karena ia benar-benar menginginkan itu sekarang.


"aku bakal usaha deh yang, bantuin ya" ucap Elang yang tak tega melihat Mila, ini juga demi buah hatinya dan sudah kewajiban nya sebagai ayah untuk menuruti keinginan mereka berdua.


Mila mengangguk dengan semangat. . .


"kamu mau aku masak apa?" tanya Elang , kini mereka sudah berada di dapur.


"yang gampang aja mas, omelet aja".


Mila duduk di meja makan , sedangkan Elang terus gusar kesana kemari untuk mencari peralatan dan bahan yang Mila tunjuk.


Mila terus tersenyum menatap Elang yang terlihat seksi saat mengenakan celemek warna merah jambu itu.


"api nya kecil aja mas"


"iya" sahut Elang yang terus sibuk.


Elang merasakan tangan melingkar di pinggang nya, siapa lagi jika bukan istrinya yang manja.


semenjak hamil pun Mila tidak pernah memasak selalu malas-malasan setiap hari, untuk mandi pun harus disuruh olehnya.


"apa sayang. . .lihat perut kamu nendang-nendang tuh" ucap Elang yang merasakan pergerakan dipinggang nya.


"biarin . . . biar nendang Papii nya".


Elang tak berhenti mengulas senyumnya "nanti kalo udah gede pasti ngajakin main bola terus dia nya".


"kayaknya enak kalo dia mainnya rumah kamu, kan belakang rumah kamu luas banget mas".


"iya sayang , makanya itu".


Mila mengendus ngendus "tunggu mas!, bau apa ini".


"astaga yang!, tuh kan jadi gosong kamu ngajak ngomong Mulu" gerutu elang dan Mila hanya tertawa melihat Elang kelabakan mematikan kompor.


"aku masakin lagi ya" ucap Elang yang duduk dihadapan Mila dan melihat omelet gosong di piring Mila.


"nggak usah makan ini aja" ucap Mila yang terus mengunyah.


"yang kalo nggak enak nggak udah dipaksain" Elang bisa melihat betapa hancurnya masakan nya.


"cuma gosong dikit mas selebihnya lumayan kok".


Elang mengambil sendok dan ikut mencicipi omelet itu "huek. . . ".


"eh mas"