Elang Dan Emila

Elang Dan Emila
begitu harmonis


"maaf ya , udah buat kamu capek" ucap Elang mencium kening Mila, setelah pergulatan panas mereka Mila terus memejamkan matanya karena lelah . . . usia kandungan yang sudah tua membuatnya menjadi lebih cepat lelah sekarang.


"nggak papa mas" ucapnya menatap Elang


"nanti aku pijitin, mandi dulu ya baru tidur" bujuk Elang yang merasa bersalah karena perbuatannya. memang ia tidak menyentuh Mila beberapa hari yang membuat hasrat nya terbendung dan baru bisa tersalurkan.


Mila tersenyum "aku beneran nggak papa mas, kamu mandi duluan aja aku mau tidur sebentar".


"nggak sayang, aku tahu kamu pasti males mandi kan . . . jujur". ucap Elang yang membuat Mila menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


Elang terkekeh geli saat melihat tingkah mila, memang semenjak kehamilannya Mila sangat susah untuk disuruh mandi. "ayo , aku mandiin".


"nggak mau" ucap Mila manja dibalik selimut nya.


"keringetan itu yang".


"mau tidur aja".


"kalo gitu ayo sekali lagi" ucap Elang yang membuat Mila membuka selimut nya.


"massss" rengek nya manja.


"mandi dulu macan betina ku" ucap Elang mengecup kening Mila lalu mengangkat kedua tubuhnya begitu saja.


"mas turunin, berat akunya".


"segini doang mah enteng yang" ucap Elang sombong.


"cih , sok kamu".


"kapan lagi coba aku bisa gendong kamu sama anak kita secara bersamaan".


"iya iya iya". ucap Mila pasrah.


.


.


.


Mila membuka matanya. . . namun begitu kecewa saat Elang sudah tidak ada disamping nya.


ia melihat jam di meja nya, waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. seharusnya ia dan Elang sudah pulang ke rumah papahnya untuk menetap disana.


"mas" panggil Mila manja saat membuka pintu kamarnya.


"iya sayang" teriak Elang yang berada diruang tamu.


Mila melihat Elang, Aris dan dua orang yang tak dikenal nya duduk disana.


"sini". ucap Elang menepuk sofa disamping nya.


Mila duduk disana setelah tersenyum pada semua orang yang berada disana.


"Mila kapan hari aku sudah berbicara padamu"


"tentang?" tanya Mila yang tak paham.


"aku akan mengalihkan Lima puluh persen saham diperusahaan atas nama mu" ucap Elang yang membuat mata Mila membulat sempurna.


"mas-"


"aku mohon, kamu tinggal tanda tangan saja" ucapnya menunjukkan tumpukan kertas yang berada disana. "ini pak Joni dan pak Yoga, pengacara aku". jelasnya.


Mila sungguh tidak dapat berkata-kata lagi. .


apa maksud Elang. . .


namun ia sadar akan sesuatu. . . "sebelum ini semua sahamnya atas nama mu mas?" tanya nya


dan Elang mengangguk sebagai jawaban.


"setelah papah pergi, semua menjadi atas nama ku".


"aku tidak mau mas, aku tidak butuh. . . untuk apa coba, kebutuhan ku sudah kamu penuhi dan aku tidak ingin ikut campur masalah perusahaan mu".


Elang menatap Mila dengan perasaan kecewa "aku membutuhkan mu mil, hanya kamu yang aku percaya dan sebenarnya-".


"jangan bilang ini hanya untuk permainan perusahaan, apa yang terjadi mas?" tanya Mila yang sudah mulai paham.


"hanya untuk berjaga-jaga saja".


Mila tahu sorot mata Elang yang menyembunyikan sesuatu "baiklah" akhirnya ia menyerah.


Elang menghela nafas lega bersama orang-orang yang berada disana. "makasih sayang" ucap Elang mengecup tangan istrinya.


.


.


.


Saat ini Elang dan Mila sedang menyantap bakso di taman, langit yang mulai gelap dan hembusan angin yang mulai dingin menjadi kenikmatan tersendiri untuk menyantap bakso berkuah panas itu.


"apakah masalahnya besar mas diperusahaan, sehingga membutuhkan untuk kamu melakukan permainan saham seperti ini" tanya Mila saat selesai menandaskan bakso nya.


"tidak terlalu besar yang, ada yang sengaja menjatuhkan nama baikku dan perusahaan secara bertubi-tubi. . . tapi aku masih sanggup mengatasi. ini hanya untuk berjaga-jaga saja".


Mila mengangguk. .


"masalah seperti ini sudah sangat biasa sebenarnya, tapi memang permainan saham sangat dibutuhkan dalam perusahaan".


"iya mas".


"maaf ya jika kamu merasa terbebani".


"enggak lah mas, aku cuma nggak nyangka aja kamu sepercaya itu sama aku, gimana kalo aku rebut perusahaan kamu" canda Mila.


"dengan senang hati aku akan memberikan nya" ucap Elang terkekeh.


"tapi aku lebih baik duduk manis dirumah dan menunggu transferan dari kamu aja" ucap Mila tertawa, lalu Elang mengacak-acak rambut Mila dengan gemas.


.


.


.


sudah beberapa pekan Mila dan Elang tinggal di rumah pak Mawardi, Mila sangat betah karena mamahnya begitu memanjakan dirinya.


kehamilan nya yang sudah membesar membuat ia tidak bisa kemana-mana lagi sekarang, Elang selalu melarang nya untuk keluar rumah. .


jadi ia hanya berdiam diri dirumah bersama mamahnya, kadang Erfan, Sabrina dan Exel juga mengunjunginya disana. karena sekarang Erfan tinggal di apartemen, mengingat pernikahan mereka yang baru dan ingin sedikit bebas bersama keluarga kecilnya.


Mila duduk di teras depan rumah nya , menunggu kepulangan suaminya sekarang adalah hobi terbaru nya. . .


tiba-tiba ponselnya berbunyi, ia mendapatkan kabar jika ana akan segera melahirkan. ia tersenyum namun begitu khawatir dengan sahabat nya itu.


usia kandungan nya dengan ana hanya berselisih satu bulan lebih beberapa Minggu saja, namun perkiraan melahirkan untuk ana sudah lewat seminggu yang lalu.


"sayang" panggil Elang pada istrinya yang terus menatap ponselnya.


Mila berdiri lalu memeluk tubuh gagah suaminya yang masih mengenakan pakaian kantor. "mas ana akan melahirkan, aku pengen kesana" ucapnya menatap Elang.


"sayang, jangan sekarang nanti saja kalau mereka sudah pulang kita mengunjunginya ya" ucap Elang


dengan terpaksa Mila mengangguk, karena untuk alasan apapun Elang benar-benar tidak mengijinkan Mila keluar rumah.


CUP. . .


satu kecupan mendarat pada bibir Mila, lalu Elang mengusap perut istrinya yang semakin membuncit.


"dia tendangan berasa banget mas sekarang". ucap Mila yang juga ikut mengusap perutnya.


"iya, kemaren pas kamu tidur juga gitu yang" ucap Elang merangkul Mila memasuki rumah.


"Hem mas, apalagi kalo di Deket kamu . . nendang terus bawaan nya".


"dia tau kalo Papii nya lagi di deketnya".


Mila mengangguk "eh , mas kamu janji loh mau ajak aku pergi keluar rumah untuk beli perlengkapan baby".


"aku suruh orang aja yang buat bawa kesini, kamu tinggal pilih".


mereka sudah memasuki kamarnya dan masih terus berbincang. . .


"nggak mau mas, kamu udah janji loh" ucap Mila matanya mulai berkaca-kaca.


Elang tentu saja tidak tega melihat istrinya yang hendak menangis. ia mengusap lembut pipi Mila yang halus itu.


"iya sayang nanti ya sama kerumahnya Tino sekalian kalo gitu".


Mila langsung mengangguk senang dan memeluk Elang lagi "makasih masku" ucapnya sambil mengecupi pipi Elang.


"iya sayang".


"kak Erfan mau kesini" ucap Mila mengambil ponselnya.


"oh ya".


"iya, mau aku mintain martabak aja deh hihihi".


"kenapa tadi nggak minta, kan aku bisa beliin". ucap Elang melepas jas nya.


"aku nggak mau kamu capek mas, biar kak Erfan aja" ucap Mila tersenyum, ia memang sangat suka jika merepotkan kakaknya.


.


.


.


LIKE KOMEN AND VOTE YAAAAA.. 💋💋💋💋💋