
Halo teman-teman, salam hangat untuk kalian semua. Bagaimana kabar kalian? masih ingat kan sama aku? 😂
Semoga selalu di berikan kesehatan ya readers setiaku.
Kurang lebih setahun sudah tidak saling menyapa, ternyata lumayan hampa ya tanpa kalian semua.
Aku punya kabar bahagia xixi, telah terbit novel baruku yang berjudul "Remarried" di Noveltoon, jangan lupa mampir ya.
Kita kangen-kangenan disana ya😚
Hanya di Noveltoon ya teman-teman, yuk klik profil aku.
Seorang wanita cantik begitu bersemangat bergelut dengan benda-benda di dapur. Bahan-bahan makanan tampak berceceran di meja.
Lona baru belajar memasak satu minggu yang lalu dan sekarang dengan hati yang berbunga, ia menaburkan bumbu-bumbu cinta pada tumis ati kesukaan suaminya.
Bibirnya terus melengkung, membayangkan betapa lahapnya nanti Exel memakan masakannya. Laki-laki itu tidak perlu repot-repot jajan di luar lagi, karena sekarang ia sudah belajar masak.
Segera melepaskan celemek merah muda yang melekat pada tubuhnya, melirik sekilas makanan sudah tersaji dengan cantik di atas meja.
Suara klakson mobil di luar rumah membuat jantungnya berdegup kencang. Itu pasti suaminya yang baru saja pulang dari lembur.
Kakinya melangkah dengan perasaan berbunga, menuju pintu untuk menjemput kepulangan Exel. Dan benar saja, sosok tampan dengan perawakan tinggi nan gagah itu terlihat begitu lelah, lingkaran mata yang seperti panda serta kemeja yang sudah kusut berantakan.
Meraih tas laki-laki itu untuk ia bawa. "Capek ya?" tanyanya sembari mengekori langkah Exel.
"Hm.." sahut Exel sembari melepaskan kancing kemejanya satu persatu. Tidak menoleh sedikitpun pada Lona dan memilih langsung menuju kamarnya.
Menghela napas panjangnya, sebelum menghempaskan tubuh letihnya pada ranjang empuk berukuran king size itu. Matanya terpejam sejenak sebelum merasakan sentuhan pada kakinya.
Ilona melepaskan sepatu yang masih melekat pada kaki besar suaminya. "Kak, aku sudah siapkan baju. Kamu mandi dulu gih, makan, abis itu baru istirahat."
Rasa sesak melingkupi seisi hati Lona, tetapi bibirnya ia paksakan untuk tetap tersenyum meski hatinya tengah tersayat.
Ternyata sakit hati sesederhana ini ya.
Tentunya ia sudah terbiasa dengan ini semua. Akan tetapi entah mengapa masih sama pedihnya, saat menerima kenyataan bahwa Exel tidak pernah melihat kearahnya.
"Ya sudah aku siapkan air hangat dulu." Buru-buru menutup pintu kamar mandi saat air mata menyapa pipinya dengan derasnya.
"Hiks..hiks.." Memukul dadanya yang terasa sesak. Sudah hampir tiga bulan menikah dengan laki-laki itu, tidak merubah apapun. Sekalipun ia telah memberikan semua yang ia punya pada Exel.
Bertahun-tahun Lona mencintai laki-laki itu sendirian, tanpa balasan. Setelah di sakiti pun ia tetap cinta.
Kata-kata Exel tiga bulan yang lalu selalu melintas di kepala dan menghantui dirinya.
"Kamu yakin membantuku untuk melupakan Jen dengan cara menikah?"
"Baik, ayo menikah saja. Lagipula umurku tidak lagi muda. Tetapi jika dalam tiga bulan kamu gagal membuatku jatuh cinta. Lebih baik kita berpisah saja, Na. Aku tidak ingin menyakitimu lebih dari itu."
Dan dengan bodohnya Lona menyetujui hal gila itu. Mengiyakan segala cara untuk memiliki Exel yang ia sukai sejak Sekolah Menengah Atas.
\*\*\*
Author Ema No