Elang Dan Emila

Elang Dan Emila
Serba salah


Margaretha mengambil segelas minuman kemudian,


byurrr. . .


niatnya ingin menyiram Mila tapi Elang dengan sigap memeluk Mila untuk melindunginya.


"El?" ucap Margaretha kaget.


"sialan!" Mila menerobos tubuh Elang dan mendorong Margaretha hingga tersungkur lalu kepalanya menabrak meja dan pelipis nya berdarah.


Margaretha memegang pelipisnya yang berdarah dan menatap Mila dengan tajam, Royan membantu nya berdiri "Retha Lo nggak papa" ucap Royan kemudian mengalihkan pandangannya pada Mila "mil, Lo jangan keterlaluan!"


Mila hendak maju namun Elang mencengkeram erat lengan Mila.


"mas lepasin!" ucap Mila sambil meronta-ronta.


Jujur saja Elang bingung apa yang harus dilakukannya sekarang posisinya menjadi serba salah, apalagi banyak orang disana yang memandangi nya.


akhirnya ia memutuskan untuk mencium bibir Mila dan ******* nya perlahan. ia pikir hal ini mampu menenangkan Mila namun ia salah, sepertinya Mila benar-benar marah padanya. Mila mendorong dada Elang dengan kasar.


"Emila!!" teriak Elang yang sudah berada diambang kesabaran nya.


"ka kamu membentak ku mas" ucap Mila dengan bibir yang bergetar dan pipi yang sudah basah, ia pergi meninggalkan tempat itu berjalan dengan cepat meskipun tidak berlari.


"Mila. . " panggil Elang dari belakang, Mila langsung membalikkan tubuhnya menatap Elang. saat ini mereka sudah berada di depan restoran.


"mil, bisa nggak sih kamu menghormati aku sedikit saja sebagai suami mu" ucap Elang memelankan suaranya.


Mila tersenyum masam "terus salahkan saja aku, dan bela saja Retha mu itu!" Mila berlari kecil meninggalkannya.


Mila bersembunyi dibalik tiang restoran yang cukup besar itu, ia terduduk dan membenamkan wajahnya pada kedua lututnya. Mila menangis tersedu-sedu merasakan betapa pilunya hatinya saat ini. ia sungguh tidak bisa mengontrol dirinya ia memukuli kepalanya sendiri dengan kedua tangannya dan tangisannya berubah menjadi tangisan histeris.


Elang yang mendengarnya langsung berbalik menatap Mila dan hendak mengahampiri nya , namun tangan nya ditahan oleh seseorang.


"biar aku saja, nanti dia tambah emosi. Lang panggil ambulance ya, cepet!" ucap Al lalu meninggalkan elang begitu saja.


perlahan Al mendekati Mila, menepuk-nepuk bahunya. Al pun juga bingung apa yang harus ia lakukan. tidak mungkin membius Mila karena ia sedang hamil tetapi jika Mila tetap seperti ini akan membahayakan kandungan nya.


"Mila . . ." panggil Al dengan lembut


"kokoh" ucap Mila dengan bibir yang bergetar, Al mendekat pada Mila kemudian menatap Elang sejenak untuk meminta ijin dan Elang hanya bisa mengangguk pasrah.


Al memeluk Mila dan menepuk pundak nya. "kokoh hati aku sakit banget , ke kenapa mas Elang harus kenal dengan ****** itu" ucapnya sambil terisak.


"semuanya ada alasan nya mil, kamu tenangin hati kamu dulu ya".


namun tidak ada jawaban dari Mila , Al menjauhkan tubuhnya dari Mila.


"mi. . . Mila . ." Al menepuk-nepuk pipi Mila karena Mila tak sadarkan diri.


Elang langsung berlari kearah mereka saat mengetahui istrinya tidak sadarkan diri. . .


dan untungnya ambulance datang begitu cepat, Elang dan Al langsung membawa Mila ke rumah sakit.


Elang menatap dengan cemas pada pintu ruangan yang sedari tadi masih tertutup.


suara langkah kaki membuat Elang menoleh.


"kak Erfan" ucapnya pada seseorang yang baru datang.


Erfan menepuk nepuk pundak Elang "pasti kamu kaget banget ya" ucap Erfan ikut duduk. ia sudah tahu apa yang terjadi, Mila bertemu dengan mantan istrinya.


Elang mengangguk "maafkan aku kak, aku tidak becus menjaga mereka" ucap Elang sendu.


"apakah kamu memukul Mila?" tanya Erfan hati-hati.


"tidak akan pernah kak!" tegas Elang.


Erfan bernafas lega "aku bahkan pernah menampar Mila ketika Mila terus berteriak seperti orang gila pada Margaretha" ucap nya tanpa menatap Elang.


Elang sedikit terlonjak mendengar nya, jika melihat hubungan Mila dan Erfan sangat tidak mungkin Erfan menampar adiknya sendiri.


"dia sangat keras kepala Lang, kamu yang sabar ya".


Elang mengangguk kemudian menceritakan tentang bagaimana pertemuan Mila dengan Margaretha tadi sampai Mila dilarikan ke rumah sakit.


Elang mengangguk dengan wajah yang cemas dan gusar, ia memikirkan kondisi anak dan istrinya.


ceklek. . .


pintu ruangan itu terbuka terlihat tiga orang memakai jubah putih keluar dari sana.


Al, dokter Meli dan dokter Puri. . . tiga dokter sekaligus yang menangani Mila, karena Al sudah mengonfirmasikan keadaan Mila saat masih dijalan.


"Mila dan anakmu baik-baik saja" ucap Al pada sahabat nya yang terlihat pucat karena rasa khawatir yang berlebihan.


Elang bernafas lega mendengarnya "terima kasih" ucap Elang.


Al mengangguk "sebaiknya untuk waktu dekat ini jangan menemuinya dulu, tunggu sampai pikiran dan hati nya benar-benar membaik"


baru saja Elang ingin melayangkan protes nya namun dokter Meli berbicara terlebih dahulu "pak Elang saya mohon demi kebaikan kandungan Bu Mila lakukan apa yang dikatakan dokter Renaldi, karena yang tadi itu bisa membahayakan nyawa keduanya"


Elang mengusap wajahnya kasar. . .


bagaimana cara menghadapi Mila, ia adalah seorang kepala rumah tangga bukankah hal yang wajar jika ia menegur istrinya ketika sedang salah dan melewati batas. . .


dan seperti Elang harus menyiapkan kesabaran yang lebih pada Mila kedepannya, nanti jika anaknya sudah lahir ia baru akan menasehati nya.


"pak Elang tenang saja, kalo menurut cerita dokter Renaldi pak Elang tidak melewati batas kok. . . hanya saja kondisi kehamilan Bu Mila yang membuatnya menjadi sangat sensitif" ucap dokter Puri, dokter psikiater Mila.


dokter Meli dan dokter Puri pergi dari sana, dan menyerahkan pada Al untuk menjelaskan secara detail nya.


"nal gue nggak bisa jauh dari Mila" ucap Elang lemah.


Al mengangguk ia tahu betul perasaan sahabatnya "sementara saja, biarkan dia memaafkan mu dulu"


"sudahlah Lang, aku akan menjaganya" ucap Erfan menenangkan.


Elang mengangguk "nal, siapkan kosongkan ruangan disebelah kamar Mila" Elang menunjuk satu ruangan yang tertutup itu.


"apakah nggak sebaiknya kamu pulang aja Lang" ucap Erfan.


"bagaimana mungkin aku pulang sedangkan anak dan istriku dalam kondisi seperti ini kak"


Erfan hanya mengangguk melihat ekspresi Elang.


Elang berdiri "dia masih terlelap kan?, ijinkan aku menemuinya sebentar saja" ucap Elang menatap Al.


.


.


.


Elang menggenggam tangan mungil itu, ada rasa ngilu dihatinya saat melihat orang yang dicintainya dalam keadaan tak berdaya seperti ini.


"maafkan aku sayang" ucap Elang bergantian mengelus perut Mila dan mendekatkan wajahnya pada perut yang membesar itu "maafkan Papii mu juga ya, tidak becus menjaga Mamii mu, tetap sehat ya nak" Elang menepis buliran bening yang keluar begitu saja.


ia mengecup kening Mila "maafkan aku telah membentak mu tadi" lalu mengusap lembut pipi Mila. "kata dokter aku harus menjauh dulu darimu, tapi aku akan selalu ada untukmu meskipun kamu tidak melihatnya" bisik Elang pada Mila.


"cepat sehat, aku lebih suka kamu berteriak dari pada diam seperti ini" buliran bening itu kembali menetes tanpa permisi.


"aku mencintaimu" Elang mengecup tangan Mila sesaat kemudian pergi dari ruangan itu, karena takut jika Mila terbangun akan histeris lagi melihatnya.


buliran bening itu menetes kembali pada wajah wanita yang sedang terbaring dan memejamkan matanya, ia mendengar semua yang dikatakan suaminya.


namun hatinya masih begitu kecewa. . .


.


.


.


sedih akutuhhh 😭😭😭


terimakasih atas dukungannya gaesss, tetep kencengin ya 💋💋💋💋