
semua orang mendekat kearah Mila yang berteriak histeris dan memukuli kepalanya sendiri...
sebenarnya ada sepasang mata yang sedari tadi mengikuti mereka berdua, Elang sudah berfirasat kalau cara bicara Mila pada Tino dikantor tadi penuh emosi. . . jadi ia khawatir dengan istrinya. dan tentu ia menguping pembicaraan Tino dan Mila, tapi betapa kagetnya ia melihat Mila mengamuk pada Tino dan bahkan kini ia histeris.
baru Elang akan melangkah kan kakinya menghampiri Mila . . . seorang dokter perempuan lebih dulu mendekati Mila diantara banyak orang yang mendekati Mila.
"Mila. . Mila. . tenang" ucap dokter itu namun Mila tetap berteriak dan memukuli dirinya sendiri.
sampai dokter tersebut menyuntik Mila sampai Mila tidak sadarkan diri.
"Anda beri suntikan apa pada istri saya!!" Elang mendekat dan mengambil alih Mila dari dokter itu.
dilihatnya pada name tagnya Puri Parawansa Megalista , dokter paru baya yang memiliki gelar psikologis di name tag jubah putih nya..
"istri?" tanya dokter itu sedikit kebingungan
"iya, dokter apakan istri saya"
"ini cuma obat penenang saja, mari bawa masuk dulu saya jelaskan didalam" ucap dokter Puri dan Elang langsung menggendong istrinya meskipun tidak paham apa yang dikatakan oleh dokter tersebut.
"siapkan ruangan biasanya untuk Bu Mila" ucap Puri pada salah seorang perawat.
elang semakin bingung apa maksud ruangan biasanya..
"pak , ruangan VVIP ada diatas . . Bu Mila mau bapak gendong saja atau-"
"biarkan seperti ini , ayo cepat" ucap Elang yang kemudian memasuki lift..
.
.
.
Elang membaringkan Mila pada ranjang dikamar VVIP kamar tersebut.
"tenang pak, sebentar lagi juga pasti Bu Mila bangun. . . boleh saya berbicara dengan bapak" kata Puri yang telah selesai memeriksa keadaan Mila.
Elang menangguk . . mereka duduk di sofa samping ranjang Mila.
"maaf sebelumnya saya tidak tahu kalo Bu Mila sudah menikah. . . perkenalkan nama saya Puri" ucapnya mengulurkan tangan.
"Elang"
"saya benar-benar tidak menyangka Bu Mila menikah dengan orang lain"
"maksud dokter apa?"
"eh tidak pak maaf, saya sudah mengenal Bu Mila lama. . . saya kira Bu Mila akan menikah dengan kekasihnya dulu yang sering diajak kemari"
"saya dokter psikis nya Bu Mila sejak dia di sekolah menengah atas"
"psikis ? memangnya kenapa Mila?"
"dulu Bu Mila mengalami depresi. . .tapi beberapa tahun belakangan ini sudah dinyatakan sembuh"
"depresi??" ucap Elang kaget
"iya, seharusnya sudah sembuh tapi sepertinya terjadi sesuatu sehingga memicu ibu Mila setres berlebihan lagi"
"memangnya sebelum ini apa penyebab Mila mengalami depresi dok?" tanya Elang
"untuk penyebabnya sendiri saya tidak bisa menyampaikan karena itu merupakan privasi pasien pak"
"tapi saya suaminya dok"
"maaf pak Elang , bahkan orang tuanya sendiri tidak diberi tahu atas permintaan Bu Mila"
"jadi nggak ada yang tahu selama ini"
"ada dua orang"
"siapa dok?"
"pak Erfan sama mas Al"
"Al?"
"iya laki-laki yang dulu dekat dekat Bu Mila"
deg. . . jantung Elang bagai tertancap beribu jarum.
"untuk penyebabnya pak Elang tanya Bu Mila saja pak, saya tidak berhak atas itu. . . tapi mohon untuk lebih memperhatikan Bu Mila karena orang yang sudah terlanjur mengalami depresi tidak mudah mendapatkan tekanan dari perihal apapun"
perkataan dokter itu bagai teguran untuk Elang yang selama ini mendiamkan istrinya apalagi belum masalah tentang sahabat nya . . . pasti Mila tertekan gara-gara itu. . Elang merasa sangat bersalah.
setelah dokter tersebut pergi Elang terus menggenggam tangan Mila penuh penyesalan serta kekhawatiran.
.
.
.
**Sudah di up jangan lupa vote dulu ya , terimakasih πππ
salam hangat (like komen and vote)πΈπΈπΈ**