Elang Dan Emila

Elang Dan Emila
Perjuangan dimulai ~ 5


"Ya ampun mas, kamu kok tega banget sih sama sahabat kamu" ucap wanita yang baru saja menidurkan anaknya.


Lalu ia menghampiri suaminya yang masih di ruang kerjanya, selalu sibuk dengan pekerjaan saat semua orang mungkin sudah memejamkan matanya dengan tenang.


Elang meneguk susu hangat yang baru saja dibawakan oleh sang istri, lalu menatap malas pada istrinya, menyesal sudah ia telah menceritakan tentang Royan dan Zeze.


"bukannya gitu yang" ucapnya segera menghampiri Mila yang sudah bersedekap di sofa. Jika sudah seperti ini ia tak akan menang.


"aku cuma mau yang terbaik buat Zeze". Elang duduk lalu mengusap rambut sang istri yang semakin hari semakin galak.


Tapi tetap cinta tuh.


"Royan juga baik loh mas" protes Mila "yah, walaupun kadang-kadang otaknya nggak waras".


Mendengus kesal Elang mencoba bersabar "Zeze terlalu polos buat Royan yang".


"Mas kamu itu kebiasaan deh, jangan nilai orang dari covernya, aku kan udah bilang" ucap Mila menyingkirkan tangan Elang yang sudah bermain nakal pada paha nya.


"itu kenyataan yang, bukan cover" sahut Elang frustasi.


"dulu kamu juga lihat aku dari covernya aja kan" ucap Mila begitu menusuk.


Elang menelan ludahnya kasar, jawaban adalah iya, ia kira dulu Mila adalah wanita-wanita yang pergaulannya bebas dan anak konglomerat yang biasanya manja-manja seperti itu.


Tapi ia salah, wanita yang sekarang seutuhnya menjadi miliknya ini adalah wanita yang luar biasa. Wanita yang mandiri serba bisa segalanya.


"bukan gitu yang" ucap Elang berdalih.


"Oke, gini aja . . . kamu dukung Reza aku akan bantu Royan, tapi"


Tuh kan, jika sudah seperti ini pasti akan ada kalimat jahat dibelakangnya.


"Tapi apa yang" ucap Elang memelas.


"Kalo kamu bantu Reza jangan harap dapat jatah ya" ucap Mila tersenyum licik. Mila segera beranjak dan terus tersenyum.


Dan benar Elang segera menarik tangannya, sampai tubuhnya kembali terhempas ke sofa "apa?" ucap Mila tersenyum licik.


"iya, aku bantu Royan, puas" ucap Elang menggigit pipi Mila dengan gemas, selalu mengancam saja senjatanya.


"ih mas, jangan gigit" ucap Mila segera mengusap pipinya yang bersemu.


"Tapi sebagai imbalannya, jatahnya harus ditambah" kini ganti Elang yang tersenyum licik.


"Massss, capek" gerutu Mila dengan manja.


"alesan aja kamu tuh" ucapnya segera melabuhkan ciuman hangat pada bibir mungil istrinya.


"disini aja ya" ucap Elang dengan suara seraknya.


Mila mengangguk dengan malu-malu.


.


.


.


Sedangkan di apartemen Royan, keheningan menyelimuti seisi ruangan.


Zeze bungkam seusai pertemuan nya dengan Reza, Royan sendiri tak paham apa yang sedang dipikirkan wanita itu. Zeze lebih pendiam daripada biasanya.


Zeze berdiri di depan cermin menatap pantulan wajahnya, mengoleskan krim seperti biasanya yang ia lakukan sebelum tidur.


"Kakak mau Zeze buatkan susu?" tanya Zeze menoleh pada Royan yang tengah memainkan ponselnya, meskipun sejujurnya saat ini pikirannya hanya tertuju pada Zeze.


Royan berdiri lalu mendekati Zeze, memeluknya dari belakang begitu erat seolah takut kehilangan "Aku nggak butuh yang lain, aku cuma mau kamu" ucap Royan seraya meletakkan dagunya pada ceruk leher Zeze.


Tangan Zeze terulur untuk mengusap kepala Royan, tersenyum sekilas menatap pantulan wajah mereka pada cermin "Kakak nggak usah khawatir, hati Zeze cuma untuk kakak saja".


CUP...


Royan mengecup pipi Zeze "Kamu tadi berbicara apa dengannya?".


"Zeze cuma bilang kalau hati Zeze udah mentok di kakak" ucap Zeze terkekeh.


"kamu belajar gombal dari mana" ucap Royan mencubit gemas hidung mancung itu.


"Dari kakak" jawab Zeze seraya berbalik, menghadap laki-laki yang bertubuh tinggi dan tegap itu.


"Kakak sayang sama kamu Ze, cinta banget" ucap Royan sedikit bergetar, kata-kata itu keluar dari hati terdalamnya tidak ia melebih-lebihkan sedikitpun.


"aku nggak bisa kehilangan kamu lagi" lanjutnya yang sudah mendekap erat tubuh Zeze.


Takut.


Tangan Zeze mendekap tubuh Royan tak kalah erat "Zeze nggak akan pergi ataupun menyerah pada hubungan ini kak" ucap Zeze menenangkan.


Kecupan manis mendarat pada rambut halus Zeze "Maaf, jika aku tidak sesempurna dia".


Zeze merenggangkan pelukannya, menangkup rahang kokoh dengan bulu halus itu "Kakak nggak boleh seperti ini, sesempurna apapun dia jika Zeze nyaman nya dengan kakak bisa apa mereka semua".


"terimakasih" mata tajam itu sudah berkaca-kaca saat mengucapkannya, mengecup tangan halus Zeze penuh rasa sayang.


.


.


.


Dua gelas susu putih dengan sepiring nasi goreng tersaji diatas meja makan, aroma khas nasi goreng seafood memenuhi seisi ruangan.


"Udah dibilangin Zeze aja yang masak" ucap perempuan cantik yang baru saja datang, tangannya masih sibuk menguncir rambut panjangnya.


"ya abisnya aku kangen masakin kamu nasi goreng sih" ucap Royan yang sudah menunggu sedari tadi dimeja makan.


Zeze tersenyum kecil dan segera menghampiri Royan, ia sempatkan untuk mengecup bibir laki-laki sekilas.


"Ze, kamu tambah nakal ya" ucap Royan membelalak dengan senyuman malu-malu.


Beginilah seorang fkboy jika sedang jatuh cinta, bahkan sikap ini tidak pernah ia tunjukan pada wanita manapun kecuali Zeze seorang.


"gak papa, kan nakalnya sama kakak" ucap Zeze segera mengambil sepasang sendok dan garpu.


"kok cuma satu" ucapnya setelah melihat hanya satu piring saja yang tersaji disana.


"suapin ya tayang kuh" ucap Royan dengan manja, semua teman-temannya pasti tidak menyangka seorang Royan bersikap seperti ini. Pasti mereka semua sudah muntah mendengarnya hahaha.


Segera duduk dihadapan Royan dan tersenyum geli dengan tingkah laku laki-laki ini, tapi dia suka dan sangat suka pokoknya.


Zeze menyuapi Royan dengan penuh perhatian, sesekali mengusap bekas makanan yang menempel pada sudut bibir Royan.


"jadi perjuangannya dimulai dari mana?" tanya Zeze setelah mengusap bibir Royan.


"Biar aku aja, aku mau nemuin mamah kamu lagi" jawab Royan tersenyum.


"sendirian?" tanya Zeze khawatir.


Royan menggelengkan kepalanya "sama Elang" lanjutnya tersenyum penuh kemenangan, padahal kemarin jelas-jelas Elang tidak suka melihatnya bersama Zeze.


Terkadang manusia itu memang aneh.


"Zeze cuma bisa semangatin kakak, tapi Zeze akan kasih tahu semua tentang hal yang mamah sukai, dimulai dari situ saja ya" ucap Zeze kembali menyodorkan sesendok nasi goreng.


"iya tayang kuh" jawab Royan menerima suapan itu.


Namun tiba-tiba terdengar suara bell pintu membuat mereka saling berpandangan "siapa?" tanya Zeze.


Royan hanya mengangkat bahunya, karena merasa tidak ada yang tahu tempat ini kecuali para orang terdekatnya. Ia tidak pernah mengajak siapapun kesini.


"biar Zeze bukain" ucap Zeze segera berdiri.


Menghampiri pintu dengan sedikit terburu-buru, namun Zeze mengerutkan keningnya ketika melihat sosok wanita yang berdiri disana dari layar monitor kecil.


Zeze membuka pintu itu, menatap dari ujung kaki wanita itu dengan high heels yang begitu tinggi serta mini dress ketat yang membalut tubuhnya. Rambut pirang serta wajahnya blasteran jika diperhatikan. Bibir merah sensual juga Belahan dadanya begitu nampak disana.


Seksi.


Satu kata yang menjabarkan seluruh penampilan wanita itu.


Sepertinya model.


"dengan siapa ya?" tanya Zeze tersenyum kikuk.


"Saya Terry" ucap wanita itu menyodorkan tangannya "Royan nya ada".


"siapa tayanggg" ucap Royan merangkul pundak Zeze namun matanya membulat seketika saat melihat siapa yang datang.


.


.


.


TERIMAKASIH SUDAH SETIA MENUNGGU, DOAKAN DUA NOVEL SAYA YANG ON GOING SEGERA TAMAT AGAR FOKUS DENGAN CERITA ROYAN DAN ZEZE.


LIKA KOMEN AND VOTE GAESSS BAGI TIP SEIKHLASNYA💋