
Untuk part Royan dan Zeze nya di skip dulu ya, nanti aku tulis di part bonus khusus.
.
.
.
Setelah selesai makan, mereka kembali ke lantai dasar untuk pulang, entah apa yang Royan dan Zeze bicarakan. . . keduanya hanya terdiam semenjak tadi.
"Gem, ikut Papii aja yuk" ucap Elang pada putranya, karena ia ingin menempel pada Mamii nya terus menerus. Elang kasihan dengan Mila yang pasti nya kelelahan.
"udah mas gapapa" ucap Mila yang tahu Elang pasti kasihan padanya.
tatapan mereka semua teralihkan pada sosok gadis mungil yang berlarian kearah mereka.
"loh . . . Ilona" ucap Royan memanggil gadis mungil yang kira-kira berumur empat tahun itu.
"om oyan" ucap anak kecil itu berhamburan kepelukan Royan.
"siapa mbing?" tanya Elang.
"ponakan gue".
"gue kirain anak Lo" sahut Elang terkekeh.
"eng. . enggak lah" ucap Royan menatap pada Zeze, Elang memang senang sekali bercanda yang tak wajar. jadi ia takut Zeze salah paham.
"Daddy sama mami mu mana?" tanya Royan kembali pada gadis kecil itu.
"ssssstttt, om diam Lona lagi bersembunyi" ucapnya memeluk erat leher Royan.
"nama kamu siapa anak cantik?" tanya Mila begitu gemas melihat kuncir kuda nya.
"Ilona Tanesa" jawab nya cuek.
"panggil Tante, Lona" ucap Royan menasehatinya.
"Lona!, jangan lari lagi" ucap seseorang yang baru datang , ia berlari mencari Lona.
"Daddy, Lona ingin main kejar-kejaran" ucap anak kecil itu antusias.
"untung nya ada om Royan" sahut nya kemudian beralih menatap orang yang dibelakang Royan, bahkan Elang dan Mila masih tercengang melihatnya dipanggil dengan sebutan Daddy.
"nggak papa Le, maklumin aja anak kecil" ucap Royan.
"dia anak kamu?" tanya Mila memberanikan diri karena benar-benar terkejut ditambah rasa penasaran.
"iya mil" jawab Leon menggaruk tengkuknya.
Mila sama sekali tidak habis pikir, anaknya sudah berusia empat tahunan, lalu dengan percaya dirinya Leon mengajak nya menikah dulu. . .
bagaimana jika Mila dulu mau menikah dengan nya. . .
Elang menggenggam erat tangan Mila, ada perasaan kesal ketika melihat laki-laki itu.
tatapan tidak suka langsung Elang layangkan pada Leon. namun mengingat ada anak-anak disini Elang memilih diam.
Tatapan Leon terpaku pada sosok mungil yang sedang berada di dalam gendongan Mila, tanpa bertanya pun rasanya semua sudah terjawab. Karena anak kecil itu sangat mirip dengan Elang.
"ayo pulang" Elang menarik tangan Mila begitu saja, katakan lah ia sangat posesif memang benar. apalagi laki-laki itu pernah akan menjadi suami Mila. . . untung saja Mila memilih dirinya.
Keheningan membentang begitu lama, Royan yang mengemudi pun ikut terdiam ia hafal betul Elang sedang kesal, sedangkan Zeze hanya ikut terdiam duduk di bangku depan.
"ceritakan semuanya tentang Leon" ucap Elang yang terus menatap kearah jendela mobil.
"dia baru beberapa bulan lalu menikahi anak om gue namanya Elena, soal anaknya itu emang anak Leon. . . eh tunggu deh Lang, Lo kan kenal sama Elena".
Elang mengerutkan keningnya "Elena siapa?"
"yang anak om gue, tetangga Lo " sahut Royan mengingatkan.
"anak Bu RT" ucap Elang mengernyit.
"iya betolll".
"kok bisa?" tanya Elang terheran-heran.
"jadi mereka awalnya menyembunyikan Ilona, karena mereka emang gak saling suka. . . katanya sih khilaf" ucap Royan menghela nafasnya.
"bisa-bisanya sih kaya gitu" sahut Mila yang ikut emosi. Pantas saja berbulan-bulan ini Leon tidak mengganggunya lagi.
"ya tapi mereka juga sering mengunjungi Ilona, tapi mungkin mereka sadar kalo Ilona butuh keluarga yang utuh. . . akhirnya nikah deh, kok Lo bisa kenal sama Leon mil?" tanya Royan, karena tadi ia mengingat Mila bertanya pada Leon.
"eh. . . i. .itu , rekan kerja" sahut Mila terbata.
.
.
.
Mila terbaring miring , dengan Gemilang yang sedang menyusu. . . anak itu tidak juga menutup matanya. Sedangkan Elang masih sibuk di ruang kerjanya.
"tidur nak" ucap Mila menepuk-nepuk bokong mungil itu.
ceklek. . .
Elang tersenyum saat melihat putra nya mengoceh tidak jelas, apalagi Mila yang disampingnya sudah terlelap.
"Gem, ikut Papii yuk" Elang mengambil anaknya lalu mendekapnya. ia duduk disebelah mila. . . memperhatikan wajah lelah istrinya yang seharian mengurus buah hatinya.
"mas, dia belum tidur ya" ucap Mila dengan suara seraknya , matanya masih mengantuk.
"kamu tidur aja, dia biar sama aku" ucap Elang.
Mila tersenyum "nggak tenang aku tuh kalo dia belum tidur".
"yang tutup nenn nya , nanti kamu masuk angin lagi".
"hehehe iya mas".
"nanti aja agak maleman buka nya" ucap Elang mengedipkan sebelah matanya.
"dasar mesum!"
"tapi enak"
"apaan sih nggak jelas!".
"Gem, Mamii kamu tuh galak banget" ucap Elang menatap putra nya yang anteng dalam dekapan nya.
"biarin"
"yang. . . kamu tahu Elena kan, yang dulu aku ajak kamu ke rumah Bu RT" ucap Elang.
Mila mengangguk "aku kaget banget mas, bisa-bisa dia mau bohongin aku dulu".
"pengen banget nonjok laki-laki yang nggak bertanggung jawab kayak gitu" sahut Elang geram.
"udahlah mas yang penting aku milih kamu" ucap Mila bergelayut manja di lengan Elang.
"makasih Mamii" ucap Elang mengecup kening Mila.
"Pap, Mamii sama Gemilang beruntung punya Papii. . . makasih udah jadi superhero nya kita".
"Mamii sama Gemilang segalanya buat Papii".
"aku bahagia mas, terimakasih untuk kehidupan yang sempurna ini".
"aku juga sayang". Elang mencium pipi Mila berkali kali yang tetap sama manisnya.
"malu tuh dilihat anak kamu" ucap Mila yang sudah tersipu dibuat nya.
"mungkin seminggu kedepan aku agak sibuk yang" ucap Elang menghela nafasnya.
"iya gapapa aku ngerti kok, jangan terlalu capek Pap. . ."
"siap Mamii".
"nanti apa aku anterin makan siang aja ke kantor kamu?".
"nggak usah yang, kasian baby kalo kamu ajak keluar . . . banyak polusi".
"iya deh".
"aku pasti berusaha untuk kalian berdua"
"berusaha apa mas?, ada apa?" tanya Mila mengerutkan keningnya.
"ada masalah sedikit" ucap Elang menatap kosong kedepan. ia sudah bekerja sangat keras akhir-akhir ini.
"kamu pasti bisa mas" ucap Mila tersenyum pada Elang, Mila hanya bisa mengatakan itu karena Elang hanya bungkam jika masalah itu tentang perusahaan. ia berpikir bahwa itu adalah tanggung jawabnya dan tidak ingin Mila ikut memikirkan nya.
"eh dia tidur yang" ucap Elang menatap Gemilang yang terlelap begitu saja dalam dekapan nya.
"kebiasaan deh, kalo malem maunya nempel dulu sama kamu biar bisa merem" ucap Mila mengusap pelan pipi gembul anaknya.
"dia suka wangi Papii nya , kayak kamu" Elang mencubit gemas pipi Mila.
"ya abisnya kalo nyium wangi kamu itu ngerasa nyaman dan terlindungi" Mila bersandar pada dada yang kokoh itu.
"iya aku akan jadi superhero buat ngelindungin kalian berdua" ucap Elang terkekeh geli mengucapkan kata yang begitu manis.
"thanks my superhero" ucap Mila yang juga terkekeh.
.
.
.
**Hafalin nama anak-anak mereka yah hehehe buat novel selanjutnya. . .
niatnya sih mau ngebut buat namatin, tapi apalah daya waktu tidak memungkinkan.
komen yang banyak ya gaessss 💋💋💋💋**