
"jadi kamu pasti sering main ke bar kan mas" ucap Mila sinis
elang bergelayut manja "nganterin Tino doang sayang"
"alah, alesan. . . "
setelah itu ana berkenalan dengan Aris.
ana terus menundukkan pandangannya, saat menyadari bahwa Tino terus menatap kearahnya.
ia sungguh sakit hati bila mengingat perlakuan Tino padanya.
Flashback on
malam itu ana membantu seorang laki-laki yang tidak lain adalah pengusaha yang terkapar di depan pintu kamar bar nya. . .
ia memapah laki-laki itu menuju kamarnya. . . namun baru selesai ia membantu laki-laki itu dan ia segera membuka pintu, ia bertemu dengan Tino disana , Tino menatap tajam kearahnya...
"ternyata emang bener dugaan aku selama ini kamu itu bukan cuma pemilik bar , tapi wanita penghibur" ucap Tino emosi karena ia melihat seorang laki-laki yang tertidur di ranjang dan ana belum sempat menutup pintu kamar itu . . . ia tahu Tino salah paham padanya. .
tapi mau dijelaskan bagaimana lagi, bukannya selama ini Tino memang menganggapnya wanita seperti itu, ia hanya ditiduri nya tanpa kepastian suatu status. . . meskipun ana sendiri yang menawarkan dirinya sebagai partner s*ks , karena ia sangat tergila-gila pada Tino .
ana mulai merasakan buliran air bening itu menetes di pipinya, ia sungguh sakit dengan perkataan Tino.
"terserah kamu mau ngganggep aku apa, kalau pun aku bilang aku cuma tidur sama kamu , kamu nggak akan percaya kan"
"dasar wanita j*lang" Tino meninggalkan nya dengan emosi yang menggebu dan ana hanya bisa menangis sesenggukan mendengar perkataan Tino yang kasar.
setelah itu ana berusaha menjauh dari Tino, bahkan jika Tino ke bar nya ia memilih untuk pergi dari sana.
flashback off
"jadi ana ini temen aku waktu kuliah mas" ucap Mila menjelaskan
"aku nggak nyangka lo, ternyata kalian saling kenal" sahut Elang
"aku juga nggak nyangka bapak bisa jadi suami Emila" sahut ana
"what? bapak?.." mereka semua tertawa mendengarnya.
"masak aku dipanggil bapak sih mil"
"emang kamu mau dipanggil apa haha"
"saya memanggil bapak karena lebih sopan" sahut ana
ana yang baru melihat adegan dihadapannya seolah tercengang , pasalnya mereka bukanlah seperti pasangan yang dijodohkan..
kalo dilihat dari tampang nya sih gagah galak, eh setelah sama Mila malah kayak anak bocah ini orang, batin ana
"ana lo disini aja ya, gue mau siapin makan siang buat kita semua". tutur Mila
"ikut" ucap ana spontan
Mila dan ana menyiapkan makanan di meja makan , begitu juga dengan bi Ijah...
"bibi pulang aja nggak papa, biar saya yang urus sisanya" ucap Mila sambil sibuk dengan piring-piring itu.
"beneran nggak papa Bu"
"iya bi, nggak papa"
.....
"na lo panggil mereka dong"
"nggak berani gue"
Mila tersenyum "udah Lo panggil Elang aja kalo nggak berani sama yang lain"
dengan langkah yang ragu ana mendekati ketiga laki-laki itu...
"makan siangnya sudah siap" ucapnya canggung
"oke" sahut Elang, Elang dan Aris melangkah lebih dulu sedang kan ana yang hendak meraih ponsel ditasnya yang berada disofa , ia sedikit tercengang pasalnya Tino menarik tangannya..
"gue mau itu" ucap Tino
"maksud Lo"
"gue lagi pengen"
plakkkk. . . satu tamparan mendarat pada pipi Tino.
"kenapa elo masih aja ngurusin j*lang" teriak ana lalu berlalu pergi. . . ia tak habis pikir apa mau nya laki-laki itu.. ia sudah banyak mengalah selama ini, kini ia putuskan untuk benar-benar menjauh dari laki-laki yang tak punya hati itu.
namun disatu sisi Tino mengumpat i dirinya sendiri . . . ia tidak berniat mengatakan hal itu, tapi rasa gengsi nya lebih besar sehingga perkataan maafpun jadi nyeleneh seperti itu.