
kini Mila dan Aris turun dari lift . . .
"mau makan siang sel?" tanya Mila melihat sella yang terburu-buru itu
"eh ibu , iya Bu duluan ya saya udah ditungguin" sella kemudian memasuki lift. .
Mila hanya diam seribu bahasa ketika melihat Sasa hendak pergi namun ia tetap mendongakkan kepalanya.
ceklek, dilihatnya Elang yang sedang sibuk dengan dokumen-dokumen yang diatas mejanya, namun segera melihat kearah Mila ketika melihat istrinya sudah datang.
Elang tersenyum saat melihat Mila, ada rasa nyaman saat menatap wajah cantik istrinya itu..
greppp... menghampiri istrinya lalu memeluknya seolah berhari-hari tidak bertemu dan dibalas dengan senyuman oleh istrinya itu. . .
ia menyadari tingkah Elang semakin lama semakin manja padanya.
seketika Mila melihat beberapa makanan sudah tersaji dimeja..
"wah udah disiapin makanan, makasih ya mas Aris"
"kok Aris sih" ucap Elang sambil mengajak istrinya duduk
"mana mungkin kamu yang nyiapin"
"tapi semua rencana aku" Elang sewot
"kamu yang berencana mas Aris yang mewujudkan" Mila tersenyum
"terserah deh" muka Elang masam
"uluh jangan marah dong suamiku sayang"
deg. . .jantung Elang seperti tak beraturan, baru kali ini Mila memanggilnya seperti itu.
Elang yang bahagia mendengarnya menghujani istrinya dengan ciuman..
ceklek. . ."pak Elang, eh eh maaf saya menganggu" ucap laki-laki itu, ia lupa mengetuk pintu karena baru saja keluar dari ruangan itu beberapa menit yang lalu, tapi kini sedikit kaget melihat bosnya sedang bermesraan.
Mila membulatkan matanya "Antoni, loh kok kami ada disini" Mila menatap suaminya
"udah nanti aku jelasin, kamu taruh dimeja saja an berkasnya" ucap Elang santai
setelah menaruh berkas Antoni pamit pergi pada kedua bosnya itu..
"iya-iya bawel" Elang mencubit pipi istrinya
Flashback
Elang memasuki perusahaan sendirian, baru kali ini dia pergi tanpa Aris ataupun karyawan yang lain. . .ia menaiki lift menuju lantai paling atas dikantor ini, wanita-wanita diperusahaan ini melihat kagum pada sosok Elang yang begitu gagah dan tampan. Elang hanya tersenyum tipis menanggapinya.
Elang mengetuk pintu tok. . tok...
lelaki paruh baya itu selalu tersenyum dengan hangat kepadanya, ia membukakan pintu untuk Elang kemudian memasuki ruang kerja yang besar itu.
"anak papah" ucapnya tidak lepas dari senyumnya
mereka berdua duduk disofa "papah sudah makan?" tanya Elang sedikit sungkan pada mertuanya
"papah baru saja makan, kamu mau papah pesankan makan?"
"nggak usah pah, tadi aku ada meeting direstoran Deket sini"
"papah seneng kalo kamu main kesini, kakak kamu lagi keluar kayaknya"
"nggak papa kok pah, aku kesini ada yang perlu Elang omongin sama papah" ucap Elang ragu-ragu
"nggak usah sungkan, sama papah sendiri masak sungkan" pak Mawardi menepuk bahu menantunya.
"Elang mau minta ijin sama papah, tapi kalo nggak boleh juga nggak papa"
"ijin apa nak?"
"maaf pah, Elang mau minta ijin untuk Antoni bekerja sama Elang. . lagian katanya adiknya Antoni juga udah mulai bantu kak Erfan disini"
meskipun pak Mawardi sedikit kaget mendengar apa yang dikatakan menantunya tapi ia selalu mencoba untuk tersenyum.
"kalo Antoni mau papah nggak keberatan Lang".
pak Mawardi tau betul kondisi perusahaan Elang saat ini, ia juga tidak ingin membedakan anak-anaknya, karena ia sendiri sudah menganggap Elang seperti anaknya sendiri.
Elang tersenyum mendengarnya "Antoni sudah setuju pah , kita sudah mendiskusikan ini...
Elang akan menempatkan Antoni di perusahaan cabang diluar negeri karena kata Antoni sendiri kekasihnya juga berada di negara itu dan Antoni ingin segera meminangnya".