Elang Dan Emila

Elang Dan Emila
jangan pernah berfikir untuk meninggalkanku


dan Mila mengangguk. . .


"aku sudah putus dengannya"


"kenapa semudah itu?" tanya Mila


"dengarkan aku, aku bukan orang yang bodoh yang akan terus bersama wanita yang sudah mengkhianati ku" ucap Elang


"jadi aku hanya pelampiasan mu saja"


"bukan , bukan seperti itu sayang. . . aku mencintaimu sungguh, apa kamu tidak merasakan itu?" ucap elang sambil memegang kedua tangan Mila dengan tatapan sedalam mungkin.


"tapi hubungan mu dengannya sudah lima tahun mas, lima tahun bukan waktu yang singkat"


Elang mengusap pipi Mila "Mila aku mohon jangan membahasnya. . . aku akan membuktikan bahwa hatiku hanya untuk mu" lalu Elang menarik satu tangan Mila untuk memegangi dada nya.


"apakah kamu tidak bisa merasakan, jantungku seperti ini hanya saat bersamamu. . . sungguh aku tidak pernah merasakan getaran secepat ini sebelumnya" lanjut Elang


Mila merasakan debaran jantung suaminya, "baiklah buktikan jika perasaanmu padaku lebih besar dari perasaanmu sebelumnya pada mantan mu itu" ucap Mila


"apapun yang aku punya, yang aku bisa . . . semuanya akan kuberikan padamu jika kamu mau" ucap Elang serius


"benarkah?" Mila sedikit tersenyum


"iya apapun, kamu mau harta . . . semua kekayaan ku bisa aku alih namakan atas namamu... atau kamu mau nyawaku, bunuh saja aku asal jangan hatiku" keduanya tersenyum


"aku tidak butuh gombalan mu, aku tidak butuh hartamu bahkan jika kau tak bernyawa bagaimana bisa hatimu kau berikan padaku" kata mila


"aku serius mil, tidak ada yang lebih berarti kecuali dirimu. . . aku bisa memberikan duniaku padamu, tapi. . ."


"tapi apa?" Mila bingung


"jangan pernah berfikir untuk meninggalkanku"


"memangnya aku akan meninggalkan mu kemana?" senyuman Mila terus mengembang


"ya kemanalah, siapa yang tahu?"


"apa alasan mu mencintai ku" Mila melangkahkan kakinya dan disusul oleh Elang dibelakangnya. . . mereka berdua sama-sama malu sebenarnya, sama seperti anak sekolahan yang sedang jatuh cinta, namun berusaha dewasa untuk menyikapinya.


"apakah cinta harus butuh alasan" ucap Elang mengikuti langkah kaki istrinya.


"hmmm, apa karena aku cantik?"


"cih, narsis sekali haha" Elang tersenyum lebar


"bahkan lebih banyak lagi yang lebih cantik darimu" sambung Elang


"lalu, apa karena bentuk tubuhku bagus?"


kini Elang mengehentikan langkahnya, lalu Mila membalikkan badannya menunggu jawaban Elang.


"iya kalo tubuhmu aku akui memang bagus, dan berbeda"


Mila menatap tajam Elang "jadi hanya untuk memuaskan hasrat mu saja, apa? berbeda?. . . dengan wanita manasaja kamu melakukannya"


Mila melangkahkan kakinya lebih cepat dan Elang berusaha mengejaranya..


Elang menarik tangan Mila...


"bukan seperti itu Mila, aku tidak pernah berfikir seperti itu. . . sekalipun kamu tidak mau melakukannya denganku, aku akan tetap mencintaimu. . . bukankah waktu itu aku sudah bilang aku ingin menahannya demi kamu"


Mila masih terdiam dan menatap kepantai. . .


"aku tidak pernah melakukannya dengan wanita manapun, youre only one. . . hanya denganmu, aku pertama kalinya melakukan itu dengan istriku" ucap Elang meyakinkan


Mila menatap mata elang berusaha mencari kebohongan dari sorot matanya, namun hanya kejujuran yang ia lihat pada mata suaminya itu.


"dingin ?" tanya Elang


"sedikit" jawabnya lalu tersenyum


Elang merangkul Mila "ayo pulang"


"tapi masih ada satu pertanyaan lagi?" ucap mila


"kenapa banyak sekali, huh"


"kamu udah janji"


"iya iya padahal udah lebih dari dua daritadi pertanyaan kamu"


Mila mendengus kesal. . .


"iya tanyanya di mobil aja ya dingin. . nanti kamu flu" tutur Elang dengan lembut


sesampainya diparkiran. . .


"loh mobil kamu mana mas?" Mila menatap kesegala arah tapi tidak menemukan mobil yang suaminya.


"itu" Elang menekan tombol kunci pada mobilnya


Mila sedikit bingung, dia benar-benar tidak melihat mobil Elang. . . namun Elang menuju mobil Lamborghini Aventador berwarna merah.


"mas. . ." panggil Mila saat Elang membuka pintu mobil itu


"for you" jawab Elang santai


"what???" Mila masih diam ditempat


"mobil ini hadiah dari aku buat kamu"


"mobil??"


"iya sayang"


"tapi aku nggak lagi ulang tahun mas"


"ini hadiah karena kamu udah bantuin aku diperusahaan" kata Elang yang membuat Mila tersenyum


"jadi aku digaji ini, kalo aku kerja sebulan digaji apa ya hahaha"


"bukan gaji juga pokoknya aku lagi pengen beli sesuatu buat kamu , dan ini yang ada di kepalaku"


Mila mengelilingi mobil itu, "so sexy" ucapnya lirih


"mas berikan kuncinya"


"hah??...."


"biar aku aja yang nyetir"


"kamu serius, jauh Lo mil"


"iya aku pengen nyobain mobil baru aku"


Elang memberikan kunci pada Mila , lalu duduk disamping istrinya yang sudah siap mengemudi.


"seumur-umur baru kali ini disetirin sama cewe, kok aku deg-degan ya. . . inget jangan ngebut mil"


"pasang seat belt kamu mas"