
dengan wajah yang lusuh, Mila melangkahkan kaki menuju rumahnya, bahkan pada saat di pagar tadi ia hanya menjawab pertanyaan satpam nya dengan sebuah anggukan saja ...
ceklek. . .
pintu besar berkayu putih rumahnya ia buka perlahan, ia melangkah menaiki tangga tanpa memperdulikan siapapun yang ada disana, tapi sepertinya memang tiada orang dirumahnya.
"Mila!"
langkah Mila terhenti ketika mendengar suara mamahnya dari ujung dapur lalu berjalan menghampirinya.
"kamu kenapa jadi kucel gini sih, mantu mamah mana?" tanya nya. saat melihat makeup Mila yang sudah luntur dan rambut yang begitu berantakan juga tangan yang menenteng hells dan tasnya.
"Mila mau ke kamar mah, Mila lagi males berdebat sama mamah" ucap Mila lalu beranjak lagi.
"mamah tau laki-laki itu disana kan tadi"
deg. . . .
langkah mila terhenti, kenapa juga mamah nya harus tahu jika Al telah kembali.
"lihat saja apa yang akan mamah lakukan jika dia berani menemui kamu ,atau mengganggu rumah tangga mu!"
"mah ,please jangan lakukan apapun pada kokoh dan Jen. . . udah cukup mamah jadi orang yang jahat selama ini. Mila nggak akan lagi nemuin koh Al. . . tapi sebagai gantinya mamah harus membuka hati mamah buat kak brina, sebelum mamah benar-benar menyesal karena kakak bukanlah orang yang gampang pergi dari rumah. . . jadi sebelum kakak benar-benar pergi, mamah harus sadar" Mila meninggalkan mamahnya begitu saja tanpa mendengar jawaban mamahnya.
.
.
.
Elang dibuat bingung saat melihat Aris kembali kerumah tino.
"ris kamu kok nggak nungguin ibu di rumah aja" tanya Elang.
"ibu minta saya jemput bapak, dan memastikan sampai rumah dengan selamat" ucap Aris risih karena Renaldi terus menatap dirinya.
"oh iya ini dia baru ngirim pesan" ucap Elang melihat ponselnya, namun ada sedikit kekecewaan saat Mila menyuruhnya tidur dirumah saja.
Me : iya sayang . . . aku pasti akan merindukanmu malam ini.
balas pesan Elang pada istrinya. . .
"yaudah ris, ayo pulang" ucap Elang yang beranjak berdiri.
"kok pulang sih , ini mumpung nggak ada Mila sama ana udah masuk ke dalem" sahut Tino
"nggak ah nyet, gue masih butuh belaian" ucap Elang santai
"ck, emang bangkee suami takut istri" ucap Royan mengejek.
Elang mengangkat bahunya "yah daripada nggak dapet jatah".
lagi-lagi Al merasa teriris mendengarkan perkataan sahabat nya itu. . . ia sedang bergelut dengan pikirannya sendiri juga hatinya yang bahkan kini sudah retak.
.
.
.
Elang memang merasa aneh dengan sikap istrinya, ia mencoba menebak nebak tapi tidak juga menemukan hasil, karena ia tidak merasa ada masalah dengan istrinya. . . kenapa Mila langsung berubah seaneh itu saat bertemu dengan teman-teman nya.
*apa Mila tidak suka jika ia berkumpul dengan sahabat nya?
apa Mila tidak suka dengan perempuan penggoda itu, iya Terry maksud elang*?
ia benar-benar tidak bisa tidur malam ini , ketidakhadiran Mila benar-benar menjadikan sunyi seluruh sudut rumahnya. . .
kehangatan itu seolah ikut menghilang bersama Mila. . . juga kenyamanan yang biasa ia dapatkan saat bersama istrinya.
Elang menatap jam dinding nya sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. . . sedangkan matanya belum terpejam sedikitpun.
ia menuruni tangga menuju dapurnya, lalu menuangkan air kedalam gelas dan segera ia teguk. . . .ia terlonjak saat mengetahui seseorang berada dimeja makanannya. . .
"ris ngapain kamu!" ucap Elang kaget
"hehe maaf pak ,saya lapar ini, abis buat mie" ucap Aris menghentikan kunyahan nya.
"kamu nggak pulang ternyata?" Elang ikut duduk dengan Aris.
"kasian bapak dirumah sendirian" ucap Aris yang terus memakan mie nya.
Elang termenung sejenak, "ris . . . Mila kenapa ya? aku perhatiin kok aneh sih tadi"
"uhuk. . .uhuk. . " Aris tersedak mendengarnya, sedikit rasa panik dan bersalah pada bosnya itu.
"maaf pak, saya tidak tahu" lanjutnya
Elang sudah bersama Aris bertahun tahun, ia tahu betul jika Aris sedang menyembunyikan sesuatu darinya. . . ia terus menatap Aris .
"iya tapi kalau sampai besok Mila tidak memberi tahu saya, dan kamu masih tutup mulut. . .saya pastikan bulan ini tidak ada bonus" ancam Elang kemudian beranjak.
.
.
.
sinar matahari mulai terasa saat gorden putih mulai menari-nari terkena hembusan angin pagi ini. . .
Mila menggeliat dan mengerjapkan matanya perlahan. . . begitu mata itu terbuka gejolak diperutnya begitu terasa, rasa mual yang mendadak membuatnya segera berlari menuju kamar mandinya. . .
ia mengeluarkan semua isi dalam perutnya. badannya lemas serasa tak berdaya. . . ia menetralkan hembusan nafasnya perlahan.
ia memilih turun dari rumahnya menggunakan lift karena badannya benar-benar lemas. . . padahal jarang sekali ia menggunakan lift dirumahnya...
Mila membuat teh hangat, lalu menyusul papah nya yang berada di balkon rumahnya.
"baru bangun kamu?" tanya papahnya ketika melihat Mila masih menggunakan piyama tidurnya.
Mila mengangguk lalu duduk disebelah papahnya, ia menyesap tehnya, rasa hangat menjalar dalam tubuhnya perlahan.
Pak Mawardi mengusap rambut putri semata wayangnya. Mila sandarkan kepalanya pada pundak keras papahnya yang masih saja nyaman rasanya.
"mil. . ."
"iya pah"
tentu saja pak Mawardi mengetahui apa yang terjadi semalam dengan putri nya, jadi ia betul bagaimana saat ini putri nya sedang merasa bingung bercampur gelisah. . .
"kamu tahu nggak kenapa papah dulu ngelarang hubungan kamu sama Al"
Mila mendongak, mendapati pertanyaan sedemikian dari papahnya.
"papah nggak mau putri papah merasakan kesulitan dan hidup dalam ketidaknyamanan"
"maksud papah?"
"keluarga Al semuanya bekerja di bidang medis, jadi apa kamu pikir kamu bisa mengimbangi pembicaraan keluarga nya nanti".
Mila terdiam. . .
"juga keluarga kita, apakah Al bisa nyaman saat kita berbicara tentang bisnis, apakah Al tidak akan terluka jika rekan dan teman papah banyak yang akan tidak suka padanya karena kita memang bukan se alur dan itu hanya akan membuatnya rendah".
Mila masih terdiam dengan air matanya yang sudah keluar, karena dulu papahnya tidak pernah membicarakan alasannya menentang hubungan nya . . .
"kamu tahu kan jika kepala keluarga itu derajat nya lebih tinggi daripada istrinya, dalam keadaan finansial kita Al jauh dibawah kita" ucap pak Mawardi hati-hati.
"pah-"
"tentu itu juga akan menjadi beban untuk Al, apa kamu tidak memikirkan nya, bagaimana perasaan Al saat ia lebih rendah daripada istrinya".
Mila mulai mencerna kata-kata papahnya dan semua itu benar adanya, tapi kenapa baru sekarang papahnya angkat bicara. . . kenapa baru sekarang papahnya menasehati nya sedemikian..
"maka dari itu papah memilih Elang, dari segi apapun dia lebih unggul daripada kamu. . . . jarang-jarang loh ada orang yang bisa menandingi putri papah yang pintar ini" ucap pak Mawardi dengan nada bercanda nya...
Mila mulai tersenyum kecil "pah. . . " ucapnya sambil menghapus air matanya.
"maka dari itu papah memilih yang terbaik diantara yang baik untuk putri semata wayang papah ini. . . Elang anak yang baik, papah sudah mencari tahu cukup lama untuk kata baik itu, kalian dari bidang yang sama dan tentunya akan merasa nyaman ketika membicarakan apapun".
Mila mengangguk karena itulah hal yang ia rasakan saat bersama Elang. . . dan untuk pembicaraan apapun mereka berdua sama-sama nyambung.
"dan Elang bisa memenuhi kebutuhanmu yang mahal itu" canda pak Mawardi.
"haha Mila kan punya uang sendiri pah"
"sebanyak apapun uangmu mil, kamu adalah perempuan dan suatu saat hanya akan berdiam diri dirumah saja dan uangmu akan habis. tapi untungnya papah cari mantu yang tajir melintir" lagi-lagi pak Mawardi melemparkan candaannya.
"pah. . . " ucap Mila ikut tertawa.
"jadi alasan utamanya bukanlah tahta maupun harta , namun kenyamanan itu untuk kedepannya untuk kalian semua. . . papah merestui hubungan kakakmu dengan Sabrina karena jika perempuan derajatnya lebih rendah daripada laki-laki itu tidak masalah".
Mila memeluk papahnya dengan erat, betapa beliau selama ini memikirkan hal sejauh itu untuk dirinya...
.
.
.
**thanks all untuk dukungan nya komentar nya like nya. . . nggak tahu harus berkata apa lagi hehe
kalo ada yang suka syukur kalo enggak pun nggak masalah
lopeyuall 💋💋💋💋**