
"masalah uang yang digelapkan pak Heru , itu urusan saya" kata Mila
"bukan masalah itu mil" sahut Tino
"bagaimana kalau pak Heru membocorkan tentang perusahaan" aris
"dia tidak di bagian itu, dia hanya tau tentang gaji karyawan saja, ya kan tin" ucap Mila
"bukan itu yang jadi masalahnya, rahasia kantor mah aman. are you crazy mil?. . siapa Leon? . ." Tino menggelengkan kepalanya
"nggak ada pilihan lain tin"
"serah deh kalo Elang marah kamu tangung sendiri ya"
"asalkan kamu nggak bocor"
"kalau boleh saya sarankan ibu tidak usah berurusan dengan pak Leon" ucap Aris sedikit ragu
"kalian berdua itu kenapa sih, aku tuh nggak ada niat apa-apa sama leon, cuma nggak tega aja sama pak Heru"
Tino hanya mengangguk lalu meninggalkan ruangan.. dengan melambaikan tangan , tanda tidak mau berurusan dengan Elang. karena ia tahu betul bagaimana Elang tidak suka dengannya.
Aris meraih ponselnya dan membaca pesan masuk dari Elang ,
*ris semuanya sudah kamu siapin kan
beres pak*
"masih ada yang harus diurusin nggak mas?" tanya Mila
"enggak Bu"
"yaudah aku mau pulang, ngantuk banget"
Mila yang kemaren begadang dan tidak bisa tidur menunggu balasan pesan dari Elang.
.
.
.
Mila tiba di rumahnya, ia melihat sosok wanita keluar dari taksi didepan rumahnya. . .dan menghampirinya yang baru saja keluar dari mobil.
"kak brina"
"mil maaf ya , aku datengnya sekarang. . soalnya nanti malem ada urusan mendadak"
"eh iya nggak papa kak, ayo masuk" Mila menggandeng tangan brina masuk ke rumah.
tapi yang jadi pikiran nya saat ini adalah kakanya sedang tidak ada dirumah. . ia meraih ponselnya dan mengetikkan ponsel secepat kilat.
kak, cepetan pulang kalo mau merjuangin cinta monyet kakak
Mila meminta pelayanan untuk segera menyiapkan makan siang, dan Mila mengajak Sabrina untuk mengobrol di ruang tengah..
"mil, mamah mau pergi kam-" ucapan mamah Mila terhenti saat melihat siapa yang bersama Mila.
"halo Tante apa kabar?" brina menyalami ibu dari mantan kekasihnya itu namun mamah Mila malah diam saja.
"mah, jadi kak brina yang mau aku ajak makan disini"
"mamah mau pergi sama papah kamu titip Exel"
"loh, Sabrina disini juga" pak Mawardi
"iya om apa kabar?"
"baik, sering-sering ya kamu main kesini" kata pak Mawardi dan mendapatkan sikutan dari istrinya.
"ayo pah udah telat ini"
setelah mereka pergi beberapa saat kemudian pelayan memberitahukan bahwa makan siang sudah siap.
mereka duduk di meja makan. . .
"mil. . mil. . " panggil erfan memasuki dapur
"eh ada kamu juga" erfan pura-pura bodoh
Mila menatap tajam kakaknya yang pandai berakting itu....
"Exel katanya mau pergi ke taman ya"
anak kecil yang berada di pangkuan brina itu mengangguk kan kepalanya.
"kakak anterin kak brina pulang ya , sama nanti mampir taman Exel rewel terus dari tadi"
erfan menatap Sabrina meminta persetujuan, "oke" jawab erfan. . .
mila mengantar mereka sampai teras rumahnya... Mila merasa bahagia melihat mereka bertiga pergi naik mobil bersama. . seperti keluarga Cemara, gumam nya..
.
.
.
kini ia benar-benar mengantuk berat, dan memilih untuk tidur siang
pukul lima sore, Mila merasakan tangan besar melingkar diperutnya dari belakang. . ia lalu membuang tangan itu yang terasa berat.
"kakak ngapain sih disini"
tangan itu kembali ke perut Mila. .
Mila mendengus kesal. "kakak pergi!!!, Mila capek udah dibantuin juga." namun pelukan itu semakin erat.
"kak erf-!!!" Mila membalikkan badannya, lalu merasa kaget karena yang disana bukan kakaknya. ia mencoba membuka matanya lebih lebar, "masa aku mimpi sih" ucapnya lirih . . . sambil menatapnya.
"kamu nggak mimpi sayang, kenapa? kangen ya?" Elang mengeratkan pelukannya, namun Mila masih terlihat kebingungan.
Elang mencubit pipi Mila "aw sakit"
"kan udah aku bilang nggak mimpi"
"ini beneran kamu mas?" Mila mengusap pipi Elang dan Elang mengangguk.
"i Miss you" kata Elang lirih. . .
Mila malah memeluknya erat dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidangnya.
Elang menciumi puncak kepala istrinya. . . namun ia merasakan tubuh Mila bergetar..
"loh, kamu kenapa kok nangis sih" Elang mengusap lembut punggung istrinya