
Netra yang dulu begitu tajam itu berubah menjadi sayu, seolah menggambarkan betapa lemah nya tubuhnya saat ini. . .
iya. . . Matanya terbuka, masku bangun.
Seolah semua itu hanya mimpi, Mila masih mematung ditempatnya melihat mata itu terbuka adalah sebuah keajaiban yang ia nanti-nantikan.
Antoni yang berada diambang pintu pun, lalu berlari mendekati Elang yang berusaha membuka alat bantu pernapasan nya, Antoni membantu nya.
"minum" ucap Elang dengan begitu lirih.
Antoni membantu Elang untuk meneguk air putih itu perlahan, tangan nya meraih tombol darurat untuk memanggil dokter.
Elang terlihat mencengkeram erat kepalanya, ia melihat sekitar meneliti setiap ruangan.
"buk" panggil Antoni pada Mila yang masih tercengang.
"mas" ucap Mila mendekati Elang dengan cepat lalu merengkuh nya, ia terus terisak masih tidak percaya jika Elang sudah bangun.
"si siapa?"
Satu kata yang membuat Mila hampir terjatuh jika Antoni tidak menahannya dari belakang.
"ka kalian siapa?" tanya Elang dengan suara yang masih lemas ia terus memegangi kepalanya.
Air matanya luruh sederas-derasnya, ia menatap Elang bergantian menatap Antoni yang juga masih tercengang mendengarnya.
"kamu tidak mengingat ku mas?" tanya Mila dengan bibir yang bergetar.
Elang menggelengkan kepalanya kuat-kuat , ia terlihat kebingungan.
Tangis Mila pecah begitu saja melihat Elang tidak mengenalinya, ia meraih tangan Elang.
"aku istrimu" ucapnya menatap Elang dengan dalam dan mencoba mengingatkan.
Elang menepis tangan Mila begitu saja, lagi-lagi ia menggelengkan kepalanya.
"jangan bercanda mas!" ucap Mila mengguncang lengan Elang.
ceklek. . .
Terlihat Al dan dokter yang menangani Elang membuka pintu itu, Al sendiri masih tersengal-sengal karena berlari. . . ia takut terjadi sesuatu dengan Elang.
Namun ia begitu bahagia saat melihat Elang sudah terbangun namun Mila malah menangis kencang dan terus mengguncang lengan Elang.
"mil" ucap Al yang membuat Mila menoleh.
"koh" ucap Mila dengan air mata yang berjatuhan ia berhamburan memeluk Al.
"koh hiks. . . mas Elang jahat. . hu hu hu. . dia tidak mengingat ku, katakan padaku dia hanya bercanda kan koh" ucapnya memukul pelan dada Al yang juga kaget mendengarnya.
Lalu Mila beralih menatap Elang yang sedang diperiksa oleh dokter.
"lihat saja mas , aku akan terus memeluk kokoh jika kamu terus bercanda seperti ini hiks hiks hu hu hu. . . ini nggak lucu koh" ucap kembali memeluk Al.
Al menatap Antoni mencoba meminta penjelasan, namun Antoni hanya menggelengkan kepalanya lemah.
"ada apa Lang" ucap Al menatap Elang.
"sebentar dok" ucap dokter lalu itu menatap Elang dengan serius.
"Apakah anda mengingat siapa nama anda?" tanya dokter itu.
"Saya tidak mengingat apapun" ucapnya yang menahan sakit di kepalanya.
Dokter itu menghela nafasnya lalu menatap Al dan Mila "seperti yang sudah saya sampaikan, sebelumnya ada tiga kemungkinan yang saya jelaskan Bu Mila" ucap dokter itu mengingatkan Mila tentang perkataannya tempo hari.
Kemungkinan yang paling buruk adalah nyawa Elang tidak terselamatkan, lalu kemungkinan akan koma dengan waktu yang lama, dan kemungkinan ketiga adalah hilang ingatan atau bisa disebut dengan amnesia.
bruk. . .
Mila benar-benar terjatuh di pelukan Al, ia sungguh sangat lelah dan rasanya tidak bisa menerima kenyataan pahit ini.
Al menggendong tubuh Mila "An, kamu temani Elang saja biar saya yang mengurus Mila"
"iya pak".
"dok tolong periksa ulang tubuh Elang secara menyeluruh, lakukan rontgen pada seluruh tubuhnya"
"iya dokter Renaldi".
.
.
.
Al mengusap kasar wajahnya, rasanya memang kelemahannya semenjak dulu adalah melihat Mila yang hancur seperti ini.
aku pikir setelah tidak bersamaku kamu akan menjalani hidup dengan bahagia. .
tapi kenapa kamu selalu seperti ini, kenapa takdir selalu bercanda denganmu. .
Kenapa kamu selalu mengalami rasa sakit seperti ini. . .
Aku selalu mendoakan mu agar berbahagia, tapi kenapa kamu selalu hancur seperti ini. . .
berbahagialah, aku mohon*. . .
Al menatap lekat-lekat wanita yang sedang tertidur pulas dengan infus ditangannya. Mila kurang tidur atau malah tidak bisa tidur berhari-hari ini itulah juga yang menyebabkan ia drop apalagi saat melihat kondisi Elang tadi. . .
Saat ini mamah Elang juga sedang melihat kondisi Elang, bahkan ia tidak sanggup untuk melihat satu wanita lagi yang ambruk akibat ulah Elang. Tino dan Royan juga sedang berada disana.
Tapi menurut Al sendiri itu masih sebuah keajaiban jika melihat kondisi Elang yang begitu parah sebelumnya.
ceklek. . .
Terlihat wanita yang mengenakan pakaian rumah sakit itu begitu pucat dan ragu untuk memasuki ruangan itu.
"Retha" ucap Al melihatnya.
"apakah aku menganggu?" tanya nya dan dibalas gelengan kepala oleh Al.
"aku tadi bertemu Erfan , dia sedang melihat Elang sekarang" ucapnya lalu menatap Mila dengan sendu.
Al menarik tangan Retha , ia tahu wanita itu sedang merasa bersalah pada Mila.
"aku ingin meminta maaf padanya kak" ucapnya sendu dan lemah, ia sudah tinggal dirumah sakit ini beberapa bulan. . . ia sudah memutuskan untuk menjalani kemoterapi sebelum menyerah pada rahimnya.
"jangan sekarang".
"jika dipikir-pikir kehidupannya tidak beda jauh dengan ku, kenapa dia juga harus mengalami hal yang menyedihkan seperti ini".
"sudah takdir".
"bagaimana perasaan mu terhadap nya sekarang?" tanyanya menatap Al begitu serius.
ceklek. . .
Al dan Retha melepaskan tangannya begitu saja saat melihat Erfan memasuki ruangan itu.
"kakak" ucap Al.
"aku benar-benar tidak tahu lagi Al, Elang benar-benar lupa dengan semuanya" ucapnya begitu frustasi.
"pasti ada jalannya kak" ucap Al menepuk pundak Erfan.
"biar aku yang menjaganya kalian istirahat saja" ucapnya menatap dua orang itu secara bergantian.
Erfan sudah sedikit tahu jika Al dekat dengan mantan istrinya.
"duluan ya mas" ucap Retha.
"iya".
"kalau ada apa-apa hubungi aku ya kak" ucap Al
"iya Al"
Al kemudian pergi dari ruangan itu bersama Retha.
Erfan menatap cemas pada adiknya, seolah beban Mila begitu berat untuk ia lalui seorang diri. . . melihat mamah Elang yang terus menangis seperti itu membuat nya bersedih, bagaimana dengan Mila tadi saat tahu Elang kehilangan ingatannya.
Mila bangun begitu saja, matanya langsung terbuka dengan lebar. . . ia menatap Erfan.
"kak" ucapnya kemudian kembali menangis.
Erfan memeluk erat adiknya lalu mengusap-usap punggung nya "kamu harus kuat demi Gemilang" itulah kata-kata yang selalu ia ucapkan agar Mila kembali tegar.
"rasanya benar-benar sakit kak. . hiks. . sakit sekali dia tidak mengingat ku hu . . hu huhu" Mila menangis begitu pilu, mengingat setelah ini jalan yang ia tempuh akan begitu panjang.
"hanya sementara mil, sebentar lagi juga akan ingat".
"kakak tahu sendiri kemungkinan terburuk nya bertahun-tahun kata dokter. . . aku nggak kuat kak aku nggak bisa" ucap Mila sesenggukan.
.
.
.
**Bantu like komen and banyakin vote ya. . .
lopeyuall 💋💋💋**