Elang Dan Emila

Elang Dan Emila
Memory lama


Mila memberhentikan langkahnya, lalu memejamkan matanya sejenak. . .


ia tahu betul suara lembut yang memanggilnya saat ini, ia memutar badannya perlahan. . .


laki-laki yang dihadapannya masih mengatur nafasnya yang memburu . . .


sedangkan Mila terus menatap datar pada laki-laki itu.


"Mila, kita harus bicara" ucap Al menatap manik mata indah dengan bulu mata lentik itu.


"Anda mengenal saya" ucap Mila dengan seringai kecil dibibir mungilnya. ia menyilangkan kedua tangannya, bukannya sombong namun ini adalah bentuk untuk membentengi diri dirinya agar tidak lemah.


"Mila , aku tau aku salah udah ninggalin kamu. . . tapi-" ucap Al yang penuh penyesalan itu terpotong oleh Mila


"aku tidak ingin mendengar apapun alasan mu koh, meninggalkan tetap sama saja meninggalkan. bahkan ini bukan untuk yang pertama kalinya" sentak Mila yang sudah tidak bisa menahan unek-uneknya lagi.


"kita benar-benar harus bicara Mila, kamu juga harus bercerita tentang apa yang terjadi?, kenapa kamu menikah dengan Elang?, apa kamu dijodohkan?, apa kamu terpaksa?" tanya Al beruntun tanpa ampun.


"bahkan apapun yang terjadi padaku saat ini bukan urusan kokoh lagi bukan??". satu kalimat Mila yang menohok membuat Al tidak bisa berkutik lagi.


Al menunduk penuh penyesalan. "maafkan aku, aku memang laki-laki pengecut". bahkan kini matanya terlihat berkaca-kaca.


"cukup koh, dari dulu aku selalu maafin kesalahan kokoh. . . karena kokoh terlalu sempurna di mataku. tapi sekarang aku menemukan celah dimana kokoh tidak terlihat sempurna lagi di mataku. . ." dengan mata yang sudah memanas bahkan buliran bening itu sudah bersiap untuk jatuh dari matanya ia menghela nafasnya.


"untuk kali ini saja , biarkan aku tidak memaafkan kesalahan mu koh" Mila mengusap air mata yang sudah terjatuh di pipinya.


"kamu boleh benci aku mil, kamu boleh pukul aku, kamu boleh lakuin hal apa aja selama kamu bahagia. aku cuma mau mastiin kalo kamu baik-baik aja. . . . " ucap Al dengan mata yang memerah.


"apa yang membuat mu , menikah dengan Elang?, aku tahu kamu bukan perempuan yang mudah untuk didekati apa lagi jatuh cinta" lanjut Al.


"baiklah alasan cuma satu yaitu, kokoh". lagi-lagi Mila mengusap air matanya dengan kasar.


"kokoh sendiri kan yang ninggalin aku, itu berarti kokoh udah relain aku sama orang lain" jawab Mila tanpa ampun.


"untuk kali ini aku akan berjuang sampai titik darah penghabisan mil, jika kamu tidak bahagia dengan Elang. . jika kamu terpaksa hidup dengan nya. aku siap membantu mu lepas darinya. . . meskipun kedua orang tuamu akan memenggal kepala ku sekalipun" ucap Al penuh tekat.


Mila tersenyum masam dengan apa yang dikatakan laki-laki yang dari dulu memang sok jagoan itu, sebenarnya ia tahu jika Al sudah berucap begitu pasti ia akan bertekad memperjuangkannya "semuanya sudah terlambat koh, sudah terlambat" ucap Mila penuh penekanan.


tin. . tin. .tin. .


bunyi klakson mobil yang dikendarai Aris sudah didepan mereka. Mila meninggalkan Al yang masih mematung, ia memasuki mobil dan segera menghapus air matanya.


sejujurnya Aris sengaja menunggu sebentar di dalam mobil, membiarkan dua orang yang hati nya berkecamuk sama-sama dilanda kebingungan itu berbicara empat mata. . . .


pikiran Al benar-benar berantak kalimat Mila masih terngiang-ngiang di kepalanya.


semuanya sudah terlambat koh, sudah terlambat!


apa maksudnya sudah terlambat, apakah Elang sudah bisa membuka hati Mila, apakah perasaan Mila yang bertahun tahun lamanya sudah hilang begitu saja. . . . apakah Mila benar-benar membencinya dan tiada kata maaf lagi darinya...


untuk kali ini Al bisa melihat sendiri Mila benar-benar kecewa Mila benar-benar marah padanya..


Al mengusap rambutnya kasar setelah melihat mobil itu semakin menjauh dari sana...


.


.


.


sepanjang perjalanan tidak ada percakapan sama sekali , Aris memilih diam karena Mila terus melamun sepanjang jalan ia tahu betul pikiran Mila benar-benar tidak pada tempatnya kali ini. . .


Mila hanya meminta untuk mengantarnya ke rumah orang tuanya pada saat ia memasuki mobil.


mobil yang Aris kendarai melaju memasuki perumahan megah di kota ini. . . .


"mas Aris berhenti" ucap Mila tiba-tiba. dan Aris segera menghentikan mobilnya tepat di depan taman.


"tapi ini belum sampai rumah mil" ucap Aris


"kan udah Deket mas, aku turun sini aja. . . mas Aris tolong jemput mas Elang. . . anterin sampe rumah ya".


"tapi mil-"


"mas, aku bener-bener males berdebat kali ini, tolong pastiin mas Elang pulang sampe rumah"


"makasih mas Aris, cepetan ya mas. . . jangan biarin wanita itu deketin mas Elang" ucap Mila


Aris mengernyitkan keningnya tak paham.


"udahlah pokok nya pastiin aja mas Elang pulang dengan selamat, abis ini aku bakal ngubungin mas Elang, satu lagi jangan bilang apa-apa ke mas Elang".


Aris mengangguk lalu melajukan mobilnya meninggalkan Mila sendiri disana. . .


Mila duduk di bangku taman , taman yang sudah lumayan sepi hanya beberapa orang yang berada disana. ia menatap langit malam yang tidak ada bintang sama sekali . . . bintang-bintang sedang bersembunyi di balik awan yang menghitam itu.


langit mendung malam ini seolah menggambarkan perasaannya saat ini. . .


ia menatap kaki telanjangnya , karena Hells nya sudah ia lepas dari tadi . . .ia bahkan tidak kuat menopang dirinya saat menggunakan Hells tinggi itu malam ini . . .


angin malam berhembus menyelusup ke kulitnya, ia memeluk erat-erat jas suaminya yang masih menempel sempurna dipundak nya.


ia mengambil ponsel didalam tasnya, mengirim sebuah pesan pada suaminya...


Me : mas hari ini aku tidur dirumah mamah ya, Exel minta temenin. . . kamu tidur dirumah aja, besok pulang kerja kamu langsung kesini ya.


Mila terpaksa berbohong pada Elang, ia benar-benar membutuhkan waktu untuk sendiri saat ini.


ia berjalan dengan pandangan kosongnya, menyusuri trotoar jalan di komplek itu...


sampai ia menemui kursi panjang di pinggir jalan dekat rumahnya itu, mengingat kembali pada kejadian beberapa tahun lalu. . . .


Flashback on.


seorang wanita cantik duduk termenung dibawah rintikan hujan malam itu. . . ia biarkan hujan membasahi tubuhnya, ia biarkan angin menelusup tulang nya. pikiran nya benar-benar kacau hatinya sedang hancur malam ini. . . .


ia tersenyum kecut saat merasakan jaket memayungi kepalanya yang bahkan sudah basah itu. ia sudah tahu laki-laki itu pasti akan datang menemuinya malam ini.


Al berjongkok didepan Mila menggenggam tangan nya yang sudah berkerut karena kedinginan. . .


"aku sayang kamu mil, aku udah berusaha sebisa ku. . . . tapi tembok orang tua mu terlalu tinggi dan keras bagaikan baja untuk aku tembus, bahkan bertahun-tahun aku tidak bisa menemukan celah nya sedikit pun" ucapnya dengan bibir yang bergetar menahan dingin.


"jadi kokoh menyetujui permintaan orang tuaku, untuk berpisah dan pergi meninggalkan aku" raut wajah kecewa sudah tidak bisa ia tahan lagi, semenjak mendengar percakapan Al dengan kedua orangtuanya tadi.


"kamu berharga mil, tapi Jen juga berharga buat aku. . . aku nggak bisa memilih salah satu dari kalian, kamu tahu sendiri kan apa yang akan dilakukan orang tua kamu pada Jen jika aku tidak meninggalkan mu". ucap Al sendu


"jadi kamu juga berniat membawa Jen pergi, memisahkan ku dengan Jen yang sudah aku anggap sebagai anak aku sendiri" ucap Mila dengan air mata yang membasahi pipinya bersamaan dengan air hujan.


"Jen akan terluka jika aku tidak pergi mil, karena ia akan terus berharap kamu berada disampingnya sedangkan orang tuamu jelas melarang nya. . . . jika aku biarkan seperti ini terus Jen akan sangat terluka begitu juga dengan kita" ucapnya lirih.


Al sudah tidak tahan lagi dengan takdir kejam pada mereka berdua. dengan posisi yang masih berjongkok ia merebahkan kepalanya di pangkuan mila.


"hanya kamu mil satu-satunya wanita yang ada di hatiku . . . bahkan ibunya Jen sekalipun tidak mempunyai ruang di hatiku sama sekali. jika aku pergi aku pastikan perasaan ku akan tetap utuh untuk mu" ucap Al memejamkan matanya sambil menikmati rintik hujan yang berjatuhan di kulitnya.


"tapi kali ini jika kokoh benar-benar pergi aku sendiri tidak bisa memastikan perasaanku pada kokoh nanti nya" Mila beranjak , menyerahkan jaket itu pada pemiliknya.


"aku benar-benar tidak bisa menjamin perasaanku nantinya koh, pilihan nya ada di kokoh pergi atau tidak" Mila berlari kecil menangis tersedu-sedu ditengah derasnya hujan...


Flashback off


Mila tersenyum kecut, mengingat memory Beberapa tahun yang lalu. . .


benarkan koh, kali ini aku tak bisa menjamin perasaanku sendiri. . . .


.


.


.


**Terimakasih banyak semuanya. . .


berkat dukungan kalian semua, aku jadi lebih bersemangat ngetik sampe jariku keriting hehehe. . . soalnya udah berasa panjang banget episode kali ini.


pengen deh sekali kali yang ngelike juga ikutan komen. . . pengen tahu aja pendapat kalian tentang cerita ini


salam sayang 💋💋💋**