
siang ini Mila sudah dibolehkan keluar dari rumah sakit, meskipun belum sembuh sepenuhnya akan tetapi selera makannya sudah meningkat dan ia memaksakan ingin pulang karena besok adalah pernikahan kakak nya.
Mila memasuki rumah besar itu dan ia digandeng kedua orangtuanya , rumah yang menjadi saksi dirinya tumbuh besar disini. . .
"kakak mana mah?" tanya nya tak mendapati sang kakak menyambut nya.
"nggak tau, kamu istirahat dulu aja" jawab mamahnya.
"inget mil, ke atasnya pakai lift saja" ucap pak Mawardi khawatir akan kehamilan Mila yang sudah membesar.
"iya pah"
.
.
.
Mila membuka pelan pintu kamarnya, menatap sekeliling yang berbeda dari sebelumnya. kamar nya dipenuhi banyak balon dan bunga.
lalu Erfan muncul dari balik pintu , menghampiri Mila lalu memeluknya "maafin kakak ya dek, kakak nggak tau kalo kamu ngerasa kaya gitu".
Mila mengusap punggung Erfan "udah jangan bahas itu lagi, Mila bosen" ucap Mila melepaskan pelukannya.
"surprise" ucap Erfan tersenyum.
"tumben sweet banget, kaya bukan kakak" Mila melirik kakaknya dengan sinis.
Erfan menyengir kuda "kamu tahu kan kakak orang yang males gak mungkin nyiapin kayak ginian"
"terus siapa?" tanya Mila bingung.
"your husband" jawab Erfan yang langsung membuat Mila terdiam seketika.
Mila duduk dipinggir ranjang lalu menatap keluar jendela kamarnya, angin yang berterbangan membawa gorden putihnya berlarian kesana-kemari.
ia tersenyum kecut pada kakaknya yang masih berdiri "dia kesini" tanya nya.
"iya, sekalian ambil baju seragam buat besok".
seragam keluarga besar untuk pernikahan Erfan esok.
Mila menganggukan kepalanya.
mau tidak mau, besok ia harus bersama Elang bukan?, sangat tidak mungkin jika datang secara terpisah. . .
"mau makan apa dek, ngidam apa gitu nggak" ucap Erfan membuyarkan lamunan Mila.
"se sebenarnya ada yang pengen aku makan dari kemaren".
"apa?, biar kakak cariin" tanya Erfan
"ehmmm. . . itu . . Mila mau makan omelette" ucap Mila ragu.
"oh, gampang kakak suruh bibi bikinin bentar ya" ucap Erfan yang hendak beranjak.
"kak!, tapi baby nggak mau kalo bibi yang bikinin" ucap Mila mengerucutkan bibirnya. Erfan menghela nafasnya jika seperti itu Mila lebih mirip dengan Exel yang hendak meminta sesuatu.
"mau nya siapa?!"
"Papii nya" ucap Mila menunjuk perutnya.
Erfan mengerutkan keningnya bingung sesaat, "Elang maksud kamu?" tanya Erfan dan dibalas anggukan oleh Mila.
Erfan merogoh kantong celananya hendak mengambil ponselnya.
"tunggu!. . . Mila nggak mau dia kesini" ucap Mila
"la terus yang bener aja!, ribet banget sih!" ucap Erfan meninggikan suaranya merasa permintaan Mila yang banyak maunya.
mata Mila berkaca-kaca saat Erfan berbicara naik satu oktaf, dan Erfan lupa jika Mila sangat sensitif akibat kehamilan nya. . . ia menghampiri adiknya lalu mengusap kepalanya.
"iya-iya kakak ke rumah kamu, seharusnya Elang udah cuti kok hari ini" ucap Erfan menenangkan.
Mila hanya mengangguk dan mengusap cairan bening yang sedikit tumpah di pipinya itu.
.
.
.
"apa?, masak omelet?" tanya Elang mengerutkan keningnya bingung, saat Erfan datang kerumahnya dan langsung minta dibuatkan omelet.
"buat anak kamu" ucap Erfan santai lalu duduk di sofa.
"Mi Mila ngidam lagi?" tanya Elang
"iya mau omelet buatan Papii dari baby nya" ucap Erfan memperjelas keinginan adiknya. "tapi dia belum mau ketemu sama kamu, cepetan buat nanti aku bawa pulang" lanjutnya penuh dengan nada memerintah.
Elang tersenyum sejenak mengingat Mila masih memikirkan dirinya meskipun belum ingin bertemu. "baik kak, tunggu sini dulu. . .biar aku masak sebentar" ucap Elang bersemangat.
Elang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal "hehe siap kak".
setelah beberapa saat Elang bergelut di dapur dibantu bi Ijah , satu omelet spesial untuk orang yang spesial siap dihidangkan. . . meskipun rasanya biasa saja tapi lebih baik daripada omelet sebelumnya.
"ini kak" ucap Elang menyerahkan kotak makanan itu.
"ini nggak kurang banyak Lang?" tanya Erfan saat melihat disana ada berbagai omelet dengan berbagai macam variasi.
"biar dia milih sukanya yang mana?" jawab Elang
"oke deh, aku pulang dulu" ucap Erfan beranjak dari duduknya.
"iya kak hari-hati"
.
.
.
"bumil ini pesanan nya" canda Erfan pada Mila yang sudah duduk di meja makan menunggu dirinya dari tadi.
Mila dengan antusias dan semangat membuka kotak makanan itu, ia terdiam saat menemukan satu note berwarna merah muda dan berbentuk hati.
......
*Sayang. . . Papii merindukan kalian berdua, Papii janji akan segera menjemput kalian ❤️
sampaikan maaf pada Mamii mu ya jagoan Papii.
love you Emila* ❤️❤️❤️
.......
Mila tersenyum saat membaca tulisan suaminya, bahkan rona diwajahnya tidak bisa ia sembunyikan.
"tuh pipi kenapa merah banget" goda Erfan yang sudah tahu isi surat itu.
"apaan sih , nggak papa" jawab Mila ketus dan segera memakan omelet nya.
Erfan tersenyum geli saat melihat sikap Mila yang berbanding terbalik dengan isi hatinya.
"habis" ucap Mila setelah menandaskan semua makanan buatan suaminya.
Erfan menggelengkan kepalanya "pantes aja buatnya banyak, dia udah tahu porsi makan kamu ternyata"
"sirik aja ih" ucap Mila lalu meninggalkan kakaknya .
.
.
.
hari ini adalah hari pernikahan Erfan dengan Sabrina, acaranya berlangsung di hotel bintang lima yang cukup terkenal di kota ini.
saat ini semua keluarga dari Mawardi Utama sudah berkumpul di lobby hotel itu. semuanya kompak berseragam warna biru dari keluarga laki-laki, sedangkan keluarga Sabrina memakai warna merah muda.
jantung Mila berdegup lebih kencang saat melihat Elang diseberang sana dan hendak mengahampiri nya. . . mamah nya mengusap tangan Mila pelan "udah santai aja, kamu juga kangen kan sama dia"
"mamah" gerutu Mila saat mamahnya memperjelas semuanya.
tak lama kemudian Elang datang bersama mamahnya. mamahnya Elang langsung memeluk Mila dengan erat, berharap masalah mereka berdua bisa cepat diselesaikan dengan baik.
"gimana keadaan kamu sama bayi kamu sehat sayang" tanya mamah Elang.
"iya mah sehat" jawab Mila mengusap perutnya.
"makan nya gimana?"
"udah mulai banyak kok makannya, ayo" ucap mamah Mila menggandeng mamah Elang dan meninggalkan dua manusia yang masih terdiam.
Elang mendekati Mila lalu menatap nya namun Mila segera mengalihkan pandangannya . . .
Elang meraih tangan Mila dan Mila hanya diam tanpa ada penolakan.
"dia nggak rewel kan?" tanya Elang menatap perut Mila.
Mila hanya mengangguk kecil. . .
Elang tersenyum lalu menggandeng Mila memasuki hotel itu. . .
.
.
.
jangan lupa vote gaesss. . . like juga komen 💋💋💋