
tak. . .tak. . tak. .
suara hentakan high heels yang begitu nyaring. Mila berjalan dengan angkuhnya memasuki Elang Group, Tino dan Antoni dengan sigap berjalan dibelakangnya.
Semua mata tertuju pada dirinya tentunya, siapa sangka wanita yang baru saja melahirkan itu akan kembali ke perusahaan sedangkan suaminya sedang sakit dan cukup parah.
wanita mana yang kuat menghadapi nya ...
Dia memang kuat, tapi hanya dari luarnya saja bahkan tidak ada yang tahu bahwa tadi pagi ia kembali menghadap ke dokter Puri, dokter psikis nya.
Mereka bertiga berjalan menuju ke ruang rapat yang tampaknya sudah dimulai voting disana. terlihat beberapa orang mengangkat tangan, entah apa yang mereka bicarakan.
Untungnya Mila datang tepat waktu. . .
Antoni membukakan pintu ruangan itu untuk Mila, dan sontak semua orang yang disana melongo melihat Mila yang tiba-tiba muncul disana.
dan semua orang langsung berdiri menyambut nya, dia tampak disegani tapi Mila yakin ini hanya akting saja. . . nyatanya banyak yang merebutkan posisi suaminya.
Mila menyilangkan kedua tangannya menatap tajam sosok laki-laki yang berada di depannya, dia yang memimpin voting hari ini, dan bisa jadi voting ini adalah usulnya mengompor-ngompori.
"Siapa yang hendak mengajukan diri menjadi pimpinan disini" ucap Mila menatap satu persatu wajah yang ada disana, kebanyakan orang yang sudah berumur memang. . .tapi persetan dengan semua itu, bekerja tetaplah bekerja jadi memang harus profesional.
Tidak ada yang bergeming sedikitpun, mereka semua tampak saling memandang.
"Selama suami saya belum sembuh saya yang akan menggantikan posisi nya, bagi ada yang tidak suka atau keberatan dan mungkin saja tidak setia menunggu suami saya sembuh . . . dipersilahkan mengangkat kaki dari sini" ucap Mila kemudian duduk di kursi besar kekuasaan suaminya.
"maaf sebelumnya" ucap laki-laki tua yang berada di hadapannya "bukankah yang memiliki kekuasaan adalah pemegang saham, meskipun ibu adalah istri dari pak Elang tapi jika tidak memiliki saham disini rasanya tidak bisa menggantikan posisi nya".
Mila tersenyum licik , ternyata itu memang senjata yang ampuh. . . pantas saja Elang memikirkan itu dari jauh-jauh hari.
Antoni menyerahkan selembar map pada pria itu, apa lagi jika bukan surat kekuasaan saham yang atas nama Mila. dan Tino menampilkan surat itu lada layar monitor besar itu.
Semua orang tampak bungkam dan melongo tidak percaya Elang bahkan memberikan saham untuk istrinya.
"ada lagi yang keberatan? " tanya Mila "jika ada mohon berdiri".
Tidak ada yang berdiri karena ia memiliki kuasa untuk melakukan apapun pada perusahaan, termasuk memecat mereka jika berani melawan.
"jika ada yang tidak suka ataupun apa ?, saya tunggu surat pengunduran dirinya" ucap Mila menantang dan sangat tidak takut durhaka.
"Kami setuju Bu" ucap pria tadi dengan terpaksa.
Mila menatap Antoni, Antoni sudah mengerti apa yang dimaksud "Bagi yang tadi memilih pimpinan lain kecuali pak Elang. . . harus bersiap untuk saya cek setelah jam istirahat" ucap Antoni dingin.
Strategi pertama, Mila sudah memutuskan untuk melihat orang dalam terlebih dahulu dan membiarkan Antoni yang turun tangan.
"untuk semuanya dipersilahkan untuk keluar" sambung Tino, tanpa membiarkan orang yang disana berbicara sedikitpun.
Mila menghela nafasnya lalu menyandarkan tubuhnya pada kursi setelah mereka semua keluar. Antoni menyodorkan air mineral kemasan itu pada Mila.
"thanks an" ucap Mila lalu meneguknya.
"ibu yakin kan masih kuat" tanya Tino yang khawatir dengan Mila yang memang sedang tidak baik-baik saja.
Mila mengangguk "ada Antoni yang membantu tenang saja tin, tugasmu cukup perketat divisi mu. . .jangan sampai kecolongan".
"tenang saja, selama beberapa bulan ini bagian keuangan memang diperketat oleh pak Elang".
.
.
.
Mila memasuki ruangan besar yang biasanya ditempati suaminya untuk bekerja siang dan malam.
ia menatap kursi besar kebanggaan suaminya, ingin sekali rasanya melihat Elang duduk dengan gagahnya pada kursi itu.
ia rindu dengan Elang yang selalu menyambut nya dengan senyuman saat ia datang kesini.
Mila duduk pada kursi itu, aroma tubuh suaminya seolah masih melekat disana. ia meraih bingkai foto kecil yang berisi foto keluarga kecilnya, ada Elang yang sedang menggendong Gemilang disana, dengan Mila yang bersandar pada bahu yang kokoh itu. . . mereka bertiga tersenyum sangat bahagia.
kapan kita bisa tertawa bahagia seperti ini lagi mas?
Mila mengusap air matanya yang lolos di pipi nya.
matanya tercengang saat melihat kotak beludru berwarna hitam di atas meja, perlahan ia membukanya.
Kilauan emas putih berupa kalung yang bandulnya berupa huruf "E". lagi-lagi ia menangis saat melihat ukiran nama Elang pada bandul itu.
............
Untuk Emila, istriku tercinta , ibu dari anakku. . .
Terimakasih sudah melahirkan anakku, terimakasih sudah menjadi istri yang berbakti kepada ku, terimakasih untuk kehangatan dari tempat pulang yang kamu berikan selama ini. . .
hanya namaku yang boleh terukir di hatimu,
maafkan suamimu yang posesif ini Mam , aku mencintaimu dan Gemilang. 🖤
............
Mila membenamkan wajahnya pada pada lengannya, ia menangis tersedu-sedu saat melihat surat yang begitu manis itu, tempo hari memang Elang sempat memberitahu jika ia memiliki hadiah untuk Mila, namun tertinggal di kantor.
Mila membasuh muka nya , membiarkan dinginnya air membuatnya kembali bangun dan kembali meneruskan perjuangannya.
ia terus berkutik di depan layar laptopnya dan beberapa berkas nampak berserakan di mejanya. entah sudah berapa jam ia bekerja sampai melupakan dunia luar.
Ketukan pintu membuat nya menoleh dan ternyata Antoni yang datang membawa beberapa plastik ditangannya.
"ibu makan dulu, sudah jam tiga" ucapnya memperingatkan, karena Mila tidak keluar dari ruangan nya semenjak tadi.
dan benar saja, Mila kaget melihat jam tangannya sendiri. . . bukannya sengaja ia memang lupa dengan waktu.
Ingatan tentang anaknya kembali melintas di pikiran nya, ia hanya berharap semoga Gem tidak rewel di rumah. . . padahal ia sudah memberitahukan Sabrina untuk membawa Gem ke kantor jika ia rewel, ia sudah memberi stok ASI yang melimpah.
"terimakasih an" ucap Mila duduk di sofa , lalu membuka satu persatu makanan yang dibawa oleh Antoni.
"ibu jangan sampai lupa waktu begini, bagaimana jika sakit" ucap Antoni yang sebenarnya juga baru makan siang karena begitu sibuk.
Mila tersenyum "jangan terlalu perhatian an" godanya yang membuat Antoni tersipu, itulah kebiasaan Mila dari dulu. . . melihat Antoni malu-malu merupakan kebahagiaan tersendiri bagi nya.
dddrrrrggggg. . . drrttttggggg. . .
Koh Al is calling. . .
Mila mengangkat telepon itu setelah makan beberapa sendok dan meneguk air putihnya.
"hallo koh" ucap Mila.
"Mila kamu lagi dimana? sama siapa?" tanya Al beruntun.
"dikantor ini, sama Antoni. . ada apa?"
"aku sudah menyuruh Royan kesana, kamu kerumah sakit segera ya"
"ada apa koh!" ucap Mila meninggikan suaranya.
"kamu tenang dulu, tadi Elang sempat collapse".
DEG. .
DEG. .
"koh, katakan masku baik-baik saja" ucapnya sambil menepis buliran bening itu.
"sekarang Elang kembali masuk ICU mil (Intensive Care Unit), kamu tenang dulu ya sekarang sudah mendingan kok" ucap Al menenangkan.
Mila meraih tasnya lalu mengenakan kacamata hitamnya, ia tidak akan membiarkan orang-orang tahu jika ia sedang lemah dan menangis.
"An, aku harus ke rumah sakit sekarang" ucapnya lalu berlalu, Antoni mengikutinya dari belakang "saya antar kan Bu".
"tidak usah, aku titip perusahaan ya. . . aku sudah dijemput" ucapnya yang terus melangkahkan kakinya tergesa-gesa.
kamu harus baik-baik saja mas. . .
.
.
.
***Terimakasih atas komen dan vote nya, berkat kalian aku up terus ini setiap hari hehe. . .
Nikmati dulu aja ya gaessss, konflik terakhir ini.
lopeyuall***. 💋💋💋💋💋