Elang Dan Emila

Elang Dan Emila
bagitu berat


mamah Elang menatap anaknya yang sedang sarapan , bahkan dari semalam ia tidak angkat bicara soal istrinya. . . tapi mamahnya Elang berinisiatif memberitahu Mila bahwa Elang sedang berada dirumah utama, agar Mila tidak khawatir.


"Lang" panggil mamah nya


"Hem"


"semua masalah bisa diselesaikan bukan?"


Elang meletakkan kedua sendoknya. . . mengelap sisa makan di bibirnya.


"kali ini urusan Elang mah, Elang tahu harus bagaimana" Elang berlalu begitu saja. .


mamah Elang sangat khawatir bagaimanapun baru kali ini mereka marahan , apalagi sampai Elang tidak pulang.


.


.


.


siang ini Mila selesai melakukan pertemuan dengan kliennya di sebuah restoran. . .


"ibu nggak makan siang dikantor pak Elang" tanya Dimas.


"uhuk . .uhuk. . " Mila segera meraih air putih untuk diminum, mendengar nama Elang bahkan kini ia sulit untuk mencerna makanan nya.


"enggak dim hehe, kalo kamu mau makan sama sella nggak papa"


"ah enggak kok Bu" Dimas tahu bahwa sikap bosnya berbeda dari biasanya. .


drrrrrttttgggg. . . drrrrrttttgggg. . .


mila mencari ponsel ditasnya, tertera nomor asing yang sedang memanggil.


"*halo, dengan siapa ya?"


-


"iya benar ini saya sendiri"


-


"iya saya teman dekatnya ana"


-


"apaaaaaa....!!!"


-


"saya kesana sekarang*"


tut...


"ada apa bu?" tanya Dimas yang melihat bosnya begitu khawatir.


"ayo dim antar saya kerumah sakit sekarang" ucapnya sambil berlari menuju parkiran.


Dimas pun segera mengambil mobilnya dan membukakan pintu untuk Mila. . .


"siapa Bu yang sakit" tanya nya ragu


Mila terlihat begitu panik "teman saya dim, katanya dia melakukan percobaan bunuh diri"


"saya akan lebih cepat Bu, Bu Mila yang tenang ya"


"iya dim, terimakasih ya"


Mila segera berlari menuju UGD bertepatan dengan dokter yang keluar dari ruangan itu,


"gimana dok keadaan sahabat saya" tanya Mila begitu khawatir


"oh Bu mila kerabat pasien yang bernama ana ya?"


ucap dokter yang tidak asing dengan Mila karena memang Mawardi Utama memiliki saham dirumah sakit tersebut.


"iya dok"


"beruntung pergelangan tangannya hanya sedikit yang terkena pisau, karena setelah itu dia tidak sadarkan diri. . .tapi tetap saja dia kehilangan banyak darah. . ibu tidak usah khawatir Bu ana baik-baik saja"


"tapi dok bagaimana dengan kandungannya?"


"kandungan sejauh ini tidak papa Bu, untungnya tadi ada assisten rumah tangga nya Bu ana yang segera menelpon rumah sakit"


Mila menghela nafasnya. . .


"tapi Bu Mila"


"iya dok?"


"sebaiknya pasien jangan ditinggalkan sendirian, beliau juga mengalami depresi. . . sebenarnya itu yang berbahaya untuk kandungan nya"


"baik dok, segera pindahkan keruangan VVIP seperti biasanya"


"baik Bu Mila".


Mila yang menyadari Dimas dibelakangnya, "dim kamu kembali ke butik saja ya. . gantikan saya pertemuan sore ini"


"baik Bu, ini" Dimas menyerahkan sebotol air mineral , untuk menenangkan bosnya itu yang sedari tadi terlihat kacau.


.


.


.


.


kini Mila benar-benar kacau , sudah seminggu ini ia menunggu sahabat nya di rumah sakit dan menginap disana . . apalagi Elang belum juga pulang. . . Mila hanya pulang untuk mandi dan mengambil pakaian , ia mengurus sahabat nya yang semakin hari semakin tidak banyak bicara...


pikiran nya terbagi antara suami dan sahabat nya, mengingatnya saja sudah membuat kepalanya pusing, sebenarnya ia ingin menyusul Elang dirumah mertuanya namun disisi lain ia juga tidak bisa meninggalkan sahabatnya sendiri. .


entah bagaimana rumah tangganya saat ini , ia benar-benar merasa stress.


siang ini Mila menyempatkan kerumah sakit ditengah kesibukannya bekerja. . .Mila menatap sahabatnya yang sedang tertidur, ia bisa merasakan bagaimana jadi ana. . pasti sangat berat untuk melaluinya, jadi sebagai sahabat Mila hanya bisa tetap disampingnya. .


ddddddrrrrggg. . . . . .


mila menatap ponselnya sekilas mamahnya mengirim pesan, dan dibukanya. .


Mamah : Mila, kamu ke kantor Elang sekarang mamah sama kakak kamu lagi ada disini. . .kita makan siang bareng, cepetan gak pakek lama.


mila mengembuskan nafas kasarnya, Mila takut Elang mengadu pada mamahnya. . . dengan terburu-buru Mila berlari menuju parkiran mengambil mobil hadiah dari suaminya. .


menyusuri kemacetan di kota tersebut. . .


"duh kenapa macet segala sih, mamah sama kak erfan pasti marahin aku. . pasti elang sudah ngaduin semuanya, mengapa semua ini begitu berat" ia berbicara sendiri dengan air mata nya yang membasahi pipi.


Mila berhenti didepan gedung yang menjulang tinggi itu, kemudian menyerahkan kunci mobilnya pada seorang satpam disana. . .


seperti biasa Aris sudah menunggu di lobby, selama seminggu Aris sendiri bertukar tugas dengan sella dan baru hari ini Elang sedikit berbicara kepadanya. . .


dengan highhells yang begitu tinggi Mila berlari kecil menuju Aris, "aw. . ." teriaknya, Mila ambruk begitu saja merasakan kakinya terkilir. . Aris berlari menghampiri bosnya...yang sudah terduduk dilantai, bahkan banyak karyawan yang menolong.