Elang Dan Emila

Elang Dan Emila
isi hati Elang


Mila dan Elang dalam perjalanan menuju tempat dinner nya malam ini, Elang tidak mau memberitahu Mila tujuannya, meskipun sedari tadi Mila terus merengek kepada nya.


"kamu kok bohong sama kak erfan sih mas, jelas-jelas kamu yang pengen pulang" ucap Mila yang duduk di samping Elang yang sedang mengemudi


"aku nggak enak kalo harus nolak permintaan kak Erfan"


"nggak enak apa takut"


"sungkan"


"cih, bilang aja takut"


"kenapa harus takut?" jawab Elang santai


"udahlah, kita mau dinner dimana sih jauh banget"


padahal Mila tahu sendiri bagaimana ekspresi Elang ketika kakanya memarahinya dulu.


"diam jangan cerewet"


Mila hanya bisa memanyunkan bibirnya mendapati jawaban suaminya. Elang yang meliriknya sekilas lalu menyunggingkan senyumnya.


setelah beberapa lama, akhirnya Elang memarkirkan mobilnya juga, Mila yang bingung belum pernah ketempat yang didatanginya sekarang hanya bisa diam daripada Elang terus menyuruhnya diam.


Elang menggenggam tangan Mila menuju tempat yang tidak Mila duga. . .


makan malam di gubuk pinggir pantai dengan gemerlap lampu kecil yang sengaja disiapkan oleh Elang...


Mila menatap kesana kemari , sesekali melihat kearah ombak yang menurutnya begitu damai.


"disini tempatnya?" tanya Mila dan diangguki oleh suaminya..


mereka duduk berhadapan, Mila memandang Elang bingung. . . pasalnya baru beberapa saat mereka tiba disana tapi pelayan yang ada disana menyuguhkan semua makanan jenis seafood nya.


"kenapa?, nggak suka?" tanya Elang melihat wajah bingung istrinya


"aneh aja, aku kira mau ke restoran Deket rumah. . emang ada apa kok kita makan disini sih mas?"


"udah makan aja dulu"


setelah mereka selesai makan, Elang mengajak Mila beranjak mereka berjalan beriringan menyusuri angin pantai malam itu.


dan terlihat Mila yang dari tadi selalu tersenyum.


"kamu bahagia?" tanya Elang dan Mila menghentikan langkahnya menghadap suaminya.


"iya aku sudah lama sekali tidak ke pantai, bahkan aku sendiri lupa kapan terakhir kali menikmati angin pantai yang dingin ini"


"bukan itu maksudku, apa kamu bahagia hidup denganku selama ini?"


Mila tersenyum "kalau aku tersenyum artinya?"


"bahagia" jawab Elang.


mila kembali melangkahkan kakinya, namun Elang menarik tangannya dan memeluknya dari belakang, ia menciumi rambut istrinya penuh sayang...


kini mereka berdua menghadap ke arah pantai dengan Elang terus memeluk mila dari belakang..


Mila memejamkan matanya, merasa ketenangan dan kenyamanan serta kedamaian merasakan aroma maskulin suaminya...


"Mila"


"apa?"


"ada hal yang ingin aku bicarakan" ucap Elang


"jangan menatapku seperti itu"


"katanya mau berbicara, tidak sopan jika aku tidak menatapmu" ucap Mila polos


"kalo kamu menatapku seperti itu aku akan sulit mengatakannya" Elang mengeratkan pelukannya


"bicaralah , aku tidak menatapmu" kata Mila kembali menatap ombak didepannya


"kamu tidak harus menjawab semua yang aku katakan, bahkan kamu jangan berkomentar. . . kamu hanya perlu diam, jangan menyela ketika aku berbicara" tutur Elang


"cerewet sekali, mau berbicara apa sih" Mila mulai kesal


"diam dan dengarkan, jika sedikit pun kamu mengeluarkan suara. . .aku tidak akan melanjutkan perkataanku"


Elang menarik nafasnya. . . mengeratkan tangannya yang melingkar pada perut istrinya.


"Mila. . . "


"iyaaaa"


"sudah ku bilang jangan berbicara, kalau perlu sampai kita pulang dari sini" ucap Elang


Mila mendengus kesal dan memilih diam daripada berbicara pada Elang tidak ada habisnya..


"dasar aneh" gumam Mila


"Mila. . . sejujurnya aku bingung harus memulainya dari mana?. . . aku ingin memulai hubungan ini dengan normal seperti kebanyakan orang, aku ingin menjadikan mu kekasihku namun itu tidak masuk akal kurasa, aku juga ingin mengatakan maukah kamu menikah dengan ku? tapi itu lebih aneh lagi, karena bahkan kita sudah menikah" tutur Elang


kini jantung Mila berpacu lebih cepat meskipun ia belum paham apa yang dibicarakan Elang, namun Elang tidak pernah berbicara tentang hubungannya selama ini apalagi berbicara seserius ini.


"jadi yang harus aku katakan hanyalah, maukah kamu mencintaiku. . . seperti aku yang sangat mencintaimu sekarang ini?"


deg


deg


deg


jantung keduanya berpacu dengan cepat, bahkan Mila sendiri merasakan jantung Elang sama dengan jantungnya yang berdegup dengan cepat.


"Mila, aku tidak tahu sejak kapan rasa ini tumbuh. . . tapi semenjak aku merasakan tidak ingin jauh darimu, tidak rela jika melihatmu dengan laki-laki lain. selalu ingin didekat mu. . . selalu ingin melindungimu. . dan selalu ingin memeluk mu seperti ini. . . aku yakin perasaan ini adalah cinta"


Mila berbalik menghadap ke Elang dan menatapnya, baru ia mau membuka mulutnya namun Elang terlebih dahulu menempelkannya jari telunjuknya pada bibir mungilnya...


"aku sudah bilang jangan menjawabnya" Elang kembali merengkuh tubuh Mila...


"aku tidak pernah merasakan perasaan sedalam ini pada wanita manapun, terlalu egois memang jika aku menyuruhmu mencintaiku.... kamu boleh pelan-pelan aku tidak akan memaksamu. . . suatu saat nanti katakan padaku jika kamu memiliki perasaan yang sama denganku ataupun sebaliknya. . . tidak perlu tergesa-gesa aku selalu menunggu jawabanmu" kata Elang dan Mila kembali menyandarkan kepalanya di dada Elang.


Mila mendongak menatap Elang, Elang sendiri terlihat sangat malu dengan muka yang bersemu..


"jika aku tidak boleh menjawab bolehkah aku bertanya?" ucap Mila


"baiklah satu pertanyaan" jawab Elang


"dua" kata Mila dengan mengerjapkan kedua matanya, yang membuat Elang kalah.


"pertama, ehhmmm. . . bagaimana dengan kekasihmu?" tanya Mila dengan ragu


"siapa yang kau maksud?" Elang berfikir sejenak


"astaga, Sasa yang kamu maksud?" sambung Elang.