Elang Dan Emila

Elang Dan Emila
Tidak bisa berkata-kata


Renaldi terus mengikuti dokter Meli dari belakang.


"dok!" panggil nya.


"ada apa dokter Renaldi?" tanya dokter Meli menghentikan langkahnya.


"bagaimana keadaan pasien yang tadi?" tanya Al


dokter Meli tersenyum pada Al "sepertinya anda tidak salah memanggil saya kesana dok"


Al mengerutkan keningnya bingung "maksudnya?"


"sepertinya pasien yang tadi sedang hamil muda"


Al tercengang mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh dokter meli.


"Anda baik-baik saja" tanya dokter meli melihat Al yang terdiam.


" e ehm . . iya dok".


ia harus benar-benar melepaskan Mila, bukankah sebelumnya ia sudah kekeh ingin melupakan semua. . . jadi ia harus berbahagia dengan kabar baik ini bukan?


"saya ingin memastikan nya terlebih dahulu dok, karena beliau pasien VVIP bisa bahaya kalo kita salah menganalisa" ucap dokter meli.


"baik dokter meli, saya terima kabar baik nya saja ya. . . mereka teman saya" ucap Al


"iya dokter. . . tapi sebaiknya pasien dipindahkan ke ruangan yang lain untuk diinfus sebentar. kondisinya sedang lemah. saya sudah menyuruh perawat untuk menyiapkan nya" ucap dokter meli.


"iya dok, biar saya yang memeriksa kesana"


"baik dokter Renaldi , mari" dokter meli mengangguk kan kepalanya dengan sopan lalu berlalu dari sana.


.


.


.


ceklek. . .


"gimana , hasilnya udah keluar?" tanya Elang pada Al yang baru saja memasuki ruangan.


"sebentar lagi nggak usah khawatir, mendingan Mila dipindahkan ke ruangan sebelah" ucap Al . lalu dua perawat datang dari belakang nya.


Elang mengangguk. .


"mau kamu angkat sendiri atau-"


"gue angkat sendiri nal!"


"Hem, oke-oke"


setelah membantu Elang memindahkan Mila ke kamar sebelah kakaknya. Renaldi berpamitan untuk pergi, daripada melihat Elang yang terus memegang tangan Mila dan sesekali mencium nya. . . sangat terlihat sekali bahwa Elang benar-benar khawatir. ia belum terbiasa dengan pemandangan seperti ini.


Mila membuka matanya perlahan dan langsung menatap Elang yang sedang melamun sembari menempel kan tangan Mila pada pipinya.


"mas" panggil Mila dengan suara yang serak dan lemah.


begitu mendengar namanya dipanggil oleh seseorang yang ia tunggu-tunggu sedari tadi Elang langsung mengalihkan pandangannya pada sosok yang sangat ia cintai.


"sayang. . . mana yang sakit" ucap Elang begitu antusias.


Mila menggelengkan kepalanya "aku nggak papa mas". Mila melihat sekeliling nya bingung. "kok aku bisa disini" tanya nya.


"tadi kamu pingsan sayang" ucap Elang lalu mencium kening Mila , rasa khawatir yang berlebihan seolah membuat ia menahan nafas beberapa saat tadi.


Mila menangkup wajah Elang dengan kedua tangannya, namun ia baru menyadari sesuatu menempel pada tangannya "loh aku kok diinfus?, sakit apa mas kata dokter"


"suruh nunggu, sebentar lagi baru keluar hasilnya".


Mila mengangguk "kamu nggak usah khawatir mas, pasti aku baik-baik saja kok".


"aku panggilin dokter dulu ya"


"nggak us-"


ceklek. . .


terlihat kedua orang tua Mila berlari kecil mengahampiri mereka.


"sayang kamu kenapa?" tanya pak Mawardi begitu khawatir


"nggak papa pah ,paling cuma kecapekan aja" ucap Mila mencoba tersenyum untuk menenangkan.


mamah Mila menyentuh dahi Mila "sakit apa sih kamu mil?" tanya nya


"belum keluar hasilnya sebentar lagi mah" sahut Elang.


"jantung mamah mau copot saat tau kamu juga dirawat" ucap mamah memegang dadanya.


Mila tersenyum mendengarnya, memang ia sering adu mulut dengan mamahnya tapi jika ia sudah sakit seperti ini mamahnya adalah orang yang paling berlebihan.


tidak lama kemudian terlihat seorang perawat mengetuk pintu itu dan membawa sebuah nampan berisi makanan disana.


"permisi pak Bu, ini makanan untuk ibu Emila dan untuk suami Bu Emila harap ke ruang dokter meli yang berada diujung". ucap perawat itu dengan ramah dan menaruh nampan di meja dekat ranjang Mila.


"baik , saya kesana sekarang" ucap Elang yang beranjak untuk berdiri.


"Lang tunggu papah ikut" ucap pak Mawardi melangkahkan kakinya.


"ayo pah".


.


.


.


"pak Elang ya" ucap dokter meli memastikan setelah melihat data-data mila, ia baru tahu jika pasangan suami istri itu bukan orang sembarang melainkan dua orang dari keluarga ternama.


"iya dok". sahut Elang


"saya papahnya dok, anak saya sedang sakit apa ya?" ucap pak Mawardi.


dokter Meli terus mengulas senyum nya , bisa merasakan jika kedua laki-laki dihadapannya ini sudah begitu tegang menantikan hasil pemeriksaan. "bapak tenang saja ,tidak ada yang. perlu dikhawatirkan" ucapnya lembut.


ia menyerahkan selembar kertas yang berisi hasil pemeriksaan Mila, Elang langsung membacanya namun ia kurang begitu paham karena bahasa yang digunakan adalah bahasa kedokteran, banyak istilah dan kata yang tidak ia pahami.


lagi-lagi dokter Meli tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Elang yang masih terlihat bingung.


Elang mengerutkan keningnya, namun ia menerima uluran tangan dokter itu lalu mereka berjabatan tangan.


"selamat pak Elang sebentar lagi Anda akan menjadi seorang ayah".


DEG. . .


suatu perasaan yang tidak bisa diungkapkan melalui kata-kata, tubuhnya langsung membeku begitu ia menerima penjelasan itu. . dimana rasa haru, bahagia, bingung serta ketidakpercayaan berkumpul menjadi satu.


"jadi anak saya hamil dok" tanya pak Mawardi karena Elang terus mematung saat mendengar nya.


dokter Meli mengangguk dengan senyuman...


Elang mengerjapkan matanya jantung nya masih berpacu saat menerima kabar bahagia ini.


ia tersenyum namun kedua matanya basah begitu saja.


pak Mawardi menepuk bahu menantunya "selamat ya Lang" ucapnya tersenyum.


Elang mengusap matanya yang sedikit basah karena rasa haru itu. lalu memeluk papahnya.


"makasih pah, Elang nggak nyangka akan diberikan kepercayaan secepat ini".


pak Mawardi lagi-lagi menepuk bahu Elang "tanggung jawab kamu akan bertambah nak"


Elang mengangguk "aku masih tidak percaya pah" ucapnya bersemangat dan dengan bibir yang terus melengkung.


pak Mawardi bisa merasakan apa yang dirasakan menantu nya itu. . . ia hanya tersenyum pada Elang karena perasaannya sendiri pun juga sangat bahagia, ia akan memiliki cucu lagi.


"ehm. . . pak Elang yang harus saya sampaikan" ucap dokter Puri menyela pembicaraan mereka.


"iya dok". ucap Elang yang terus tersenyum.


"masalah soal Bu Mila yang pingsan tadi-"


"apakah ada yang serius dok" tanya Elang kembali khawatir.


"tidak pak Elang, hanya saja Bu Mila terlalu kelelahan dan kurang makan. . .itu pemicunya beliau pingsan tadi"


"iya dok, ia muntah-muntah tadi pagi dan tidak bernafsu untuk makan" ucap Elang


"itu hal biasa pak , ketika hamil muda kebanyakan orang akan mengalami nya. . . namun seharusnya tetap memaksakan makanan masuk kedalam perut nya. karena sekarang juga ada kehidupan disana dan Bu Mila juga membutuhkan asupan lebih supaya keduanya tatap sehat ".


"iya dok saya akan memastikannya" ucap Elang bersemangat.


"ehm. . .dan i itu pak, tolong jangan terlalu sering berhubungan badan untuk sekarang ini ya" ucap dokter meli begitu ragu.


"iya dok" ucap Elang yang sedikit malu pasalnya sekarang ada mertuanya disebelahnya.


"sepertinya Bu Mila pingsan juga gara-gara itu pak hehe" dokter Meli mencoba tertawa.


Elang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. ia kembali mengingat kejadian semalam dimana ia tidak membiarkan mila beristirahat begitu saja.


bisa-bisanya dokter ini berbicara seperti itu saat mertuanya ada!!!. . .


"hahahahahhhaha" pak Mawardi malah tertawa mendengar ucapan dokter Meli.


"ma maaf pah" ucap Elang begitu sungkan.


"haha kenapa minta maaf Lang, Mila kan sekarang sudah jadi istri kamu. . . papah pernah muda, papah tau kok rasanya" goda pak Mawardi


pipi Elang sampai merona dibuatnya, ia tak masalah jika membicarakan hal ini dengan siapapun, namun kali ini adalah mertuanya 😌...


dokter meli ikut tertawa bersama pak Mawardi melihat Elang yang salah tingkah. . .


"jadi sudah berapa bulan dok" ucap Elang mengalihkan pembicaraan yang terus memojokkan dirinya.


"saat ini sudah berjalan lima Minggu pak"


"sudah satu bulan lebih kok saya baru tahu" ucap Elang kesal. bukannya ia tidak memperhatikan Mila namun ia memang tidak paham dengan tanda-tanda kehamilan.


namun Elang tersandar akan sesuatu. . . Mila yang sering muntah, Mila yang begitu manja, Mila yang nafsu makannya berubah-ubah , dan satu lagi ia sebenarnya tahu betul jika perut mila sedikit membesar namun mana berani ia mengutarakan hal itu. . . .


.


.


.


**Yeay mila hamil dong 😂😂. . .


semangat banget nulis part ini , meskipun kejar-kejaran sama waktu karena author sedang sibuk.


aku harap kalian juga semangat buat like komen and votee nya 💋💋💋💋💋💋💋**