Elang Dan Emila

Elang Dan Emila
Bertemu


Mila kembali dari kamar mandi dengan bibir yang terus melengkung sempurna, ia merasa mood nya sangat baik malam ini. . . ia berjalan kembali menuju halaman .


disisi lain Elang,ana, tino, Aris ,Royan ,Terry dan juga Renaldi sedang berdiri sambil menunggu meja yang disiapkan oleh pelayan. . .


mila sudah bisa melihat mereka dari kejauhan , baru ia mau melangkah untuk mendekat. namun seseorang memanggilnya.


"nona" panggil perempuan paruh baya itu.


"iya Bu" jawab Mila bingung karena tidak merasa mengenali nya.


"Anda istrinya Elang?"


"iya"


"saya ibunya Tino" wanita itu mengulurkan tangannya kemudian disambut dengan sopan oleh Mila.


"maaf, saya tidak tahu bu" ucap Mila sungkan


"tidak apa-apa panggil saja bibi, Elang biasanya juga memanggil seperti itu".


"baiklah bibi, nama saya Emila panggil saja Mila bi"


"kamu memang sangat cantik benar apa yang dikatakan Tino, pantas saja Elang bertekuk lutut dengan mu . . . siapa yang bisa menolak perempuan secantik ini" pujinya


"bibi, bibi terlalu berlebihan bahkan banyak perempuan diluar sana yang lebih cantik dariku" ucap Mila.


"Elang adalah anak yang baik dari kecil, ia tidak pernah neko-neko istilahnya.. kamu juga beruntung berjodoh dengannya. . . tapi pernikahan itu bukan tentang baiknya saja , kadang memang akan ada sedikit halangan untuk itu apapun yang terjadi tetap saling percaya dan jangan pernah meninggalkan satu sama lain".


Mila mengangguk paham "iya bi terimakasih nasehatnya"


.


.


.


"itu bukannya istri Lo Lang?" ucap Royan melihat mila dari kejauhan. dan semua mata melihat kearah Mila namun tidak begitu jelas dari samping . .


"kayaknya istri lo dapet wejangan dari nyokap gue deh lang" sahut tino.


deg. . . deg. . .deg. . jantung Aris dan ana nyaris copot mengetahui Mila sedang berada disana.


"gue kesana dulu, takutnya nyokap Lo terlalu memuji gue di depan Mila ntar dia jadi tambah cinta ke gue" ucap Elang lalu pergi menghampiri istrinya. . .


"yee tu bocah emang songong" ucap tino


sedangkan Al yang mendengar nama itu...


deg.. deg. . .jantung nya berdegup kencang saat Elang menyebutkan nama yang pernah mengisi hatinya, bahkan sampai saat ini bayangan tentang dirinya tidak pernah hilang meskipun terkikis oleh jarak dan waktu. dia adalah cinta pertamanya , gadis cantik yang selalu bergantung padanya dulu. . . yang selalu membutuhkan pundaknya sebagai sandaran, tangannya sebagai genggaman, . . . sampai saat ini Al masih khawatir, apakah ia menjalani hari-hari dengan baik setelah ia pergi. . . ?.


.


.


.


"bibi, jangan jelek-jelekin aku ya di depan istriku" ucap Elang diseberang sana.


"iya bibi bilang kalo kamu itu sukanya tawuran dari dulu"


Mila tersenyum mendengarnya,


"jangan percaya sayang, bibi ini terlalu cemburu padamu" canda Elang


"lihatlah mil pria yang manja ini, dia selalu saja percaya diri"


"oh itu memang harus bi" ucap Elang sombong


"apakah dia juga selalu manja padamu mil?"


"haha sebenarnya sangat sangat sangat manja bi" jawab Mila tertawa dan menutup mulut dengan tangannya begitu anggun.


"Elang itu memang dari luarnya aja nyeremin, tapi aslinya kaya bocah. . . dasar bos bos, yasudah bibi mau istirahat" ucapnya kemudian pergi dan melambaikan tangannya.


"pergi yang jauh bi" canda Elang disusul dengan tawanya... ia kembali mengalihkan tatapannya pada seseorang didepannya.


"my dear" panggil Elang dengan lembut dan panggilan itu terasa merdu ditelinga Mila.


"hmm ya?"


"im really miss your touch, aku sangat rindu sentuhan mu. . . sadar nggak sih kamu dari kemaren nggak pernah nyentuh aku" ucap Elang begitu dalam


"tapi yang namanya salah memang harus ada hukumannya mas, biar kamu nggak ngulangin kesalahan yang sama lagi" Mila mengusap wajah Elang.


Elang langsung menggenggam tangan istrinya lalu mengecupnya.


"baiklah. . . baiklah aku kalah" ucap Elang begitu frustasi.


Mila sejujurnya tak tega melihat Elang yang seperti itu. ia menghela nafasnya. "Hem . . . satu pelukan saja" Mila merentangkan kedua tangannya.


Elang langsung berbinar saat mendengarnya. ia dekap tubuh yang selalu ia rindukan juga aroma yang memabukkan yang membuatnya sungguh tidak ingin melepaskan pelukan yang sama eratnya itu, ia juga tahu dari eratnya pelukan Mila . . . sebenarnya istrinya juga sama membutuhkan sentuhan namun begitulah wanita selalu gengsi yang diutamakan.


CUP. . .


Elang mengecup puncak kepala Mila, lalu membisikkan sebuah kalimat "aku mencintaimu, sungguh mencintaimu Emila" ucapnya dengan bisikan selembut mungkin, dan bisikan itu seperti mantra yang memabukkan untuk Mila. . . suaminya berhasil membuatnya terbang setinggi langit hanya dengan kata-kata sederhana dan terdengar begitu tulus. ia sandarkan kepalanya pada bahu yang kokoh itu. . . sangat nyaman sekali ❤️.


.


.


.


"lihat deh sohib Lo nyet, emang kayak nggak ada tempat aja peluk-pelukan disitu" ucap Royan kesal menatap dari kejauhan dua orang yang saling berpelukan. dan itu membuat pandangan semua orang yang disana mengarah pada dua manusia itu.


"udah biasa kalo itu mah" jawab Tino santai


"kayak dirumah nggak ada waktu aja" ucap seseorang yang sedari tadi terdiam , Terry begitu kesal melihat kemesraan Elang dengan sang istri.


"kok Lo jadi ikut ngiri sih" sahut Tino ketus.


"itu pasti cewek nya kan yang kegatelan" ucap Terry sinis


"jaga mulut anda" sahut ana yang tidak suka sahabatnya dikatai "mereka suami istri jadi tidak masalah melakukan hal apapun di manapun" lanjutnya dengan emosi. Tino menggenggam tangannya dan memberi isyarat agar ana tidak meladeninya.


.....


Elang menggenggam tangan Mila lalu berjalan kearah para teman-temannya. . . semakin mendekat.


dekat


dan


dekat.


"oh iya sayang kenalin ini temen aku satu lagi, namanya Renaldi" ucap Elang saat berhadapan dengan teman-temannya.


DEG..


DEG..


DEG..


DEG..


DEG..


Mila membelalakkan matanya saat pandangannya bertemu dengan orang yang dikenal Elang sebagai sahabatnya. bahkan saat ini dadanya terasa sesak dan berkeringat dingin.


.


.


.


terimakasih atas semua dukungan nya dalam bentuk apapun. kalian inspirasi ku 💋💋💋💋💋