
sementara itu Sabrina menggendong Exel menghampiri Erfan yang duduk di meja makan.
"jagoan Daddy ayo makan"
"mau disuapin sama bunda" jawabnya polos
Erfan masih bingung mengerjapkan matanya berualang kali. . dan terlihat Sabrina salah tingkah mendengar nya.
"sory fan , ulah mila" Sabrina tersenyum canggung
"iya gapapa kok, asalkan kamu mau dipanggil bunda" ucap Erfan memberanikan diri. memang akhir-akhir ini mereka begitu dekat sering jalan bersama meskipun harus dengan Exel. tapi erfan tidak berani memulainya karena ia merasa tidak pantas untuk Sabrina yang begitu baik hatinya, apalagi ia masih gadis . . . ia pantas mendapatkan yang lebih darinya .
"iya gapapa, ayo Exel makan dulu ya" ucap Sabrina lembut dan Exel hanya mengangguk.
erfan terus memandangi mereka berdua sedari tadi. Sabrina memang orang yang baik tapi Erfan juga tidak ingin salah mengartikan kebaikannya. bahkan ia selalu perhatian terhadap orang sekitarnya.
"kamu udah makan fan?" tanya Sabrina memecahkan keheningan.
"ehmm aku nanti aja"
"makan sekalian gih, mumpung sup nya masih anget. . . aku ambilin ya"
"eh. . ehmmm. . iya deh boleh"
Sabrina bergegas mengambil kan piring dan sayur sedangkan Exel ingin makan sendiri. terkadang ia merasa lucu seperti ini , ia seperti sedang mengurus anak dan suaminya sendiri saja. senyuman kecil dari bibir Sabrina ketika ia menghampiri erfan.
"ini makan dulu"
"kamu udah makan sa"
"udah kok, kan kamu tau sendiri aku gak bisa telat makan. . . takut nya magg ku kambuh".
.
.
.
semalam mereka semua mengadakan acara panggang memanggang di halaman belakang rumah yang begitu luas, tampak semuanya menjadi lebih akrab dan bersendau gurau satu sama lain. . .
sedangkan pagi ini terlihat Elang sedang berada di halaman villa menunggu istrinya yang hendak mengajaknya ke pasar, sungguh bukan ini yang Elang maksud berlibur ia mendengus kesal. . . apalagi sejak kemarin ia terus memperhatikan Exel tanpa menggubris Elang yang sebenarnya jengkel.
"lama banget sih" gerutu Elang saat Mila menutup pintu rumah itu.
"iya-iya sabar" Mila terlihat kesal padahal ia sedari pagi mengurus Exel lalu mengurus segala kebutuhan suaminya.
"mau kemana kalian?" tanya Erfan yang berjalan bersama Dimas ia terlihat membawa beberapa sayuran ditangannya.
"mau kepasar. kakak bawa apa?" tanya Mila heran tidak biasa-biasa nya kakaknya mau membawa barang dapur.
"oh ini. . .sayuran petik langsung dari kebunnya tadi. Sabrina mau masak sayur"
"baru tau aku kalo kakak ternyata se sweet itu haha"
bruk. . . terlihat seseorang yang terjatuh karena terlalu keras mendorong pintu . .
dan semua orang yang disana tidak bisa berhenti tertawa akibat ulah Tino , tidak ada angin tidak ada hujan tapi ia terjatuh seperti anak kecil begitu saja..
"seneng banget lihat orang sengsara emang jahanam semua".
"udah-udah ayo mil keburu siang" ucap Elang yang tidak sabaran.
"gue ikut Lang" ucap Tino memegangi lututnya yang memerah.
"dih, ngapain . . gak usah ganggu aja" jawab Elang
"gue mau beliin mangga buat ana, ngidam dia"
"yaudah ayo tin"ajak Mila
"ayo sini" sahut erfan
terpaksa Mila menyerahkan Exel pada kakaknya. padahal ia ingin sekali mengajak Exel , agar kakaknya lebih leluasa Pdkt dengan Sabrina.
"eh tunggu-tunggu baju kalian bertiga mecing juga ya" ucap Erfan memperhatikan Mila Tino dan Elang secara bergantian.
"aduh kok kayak anak panti sih" tiba-tiba Dimas ikut berbicara dan langsung menutup mulut nya keceplosan tapi membuat tawa Erfan menggema disana.
dan yang benar saja Mila mengenakan dress hijau tua dengan dibaluti jaket jeans dan Elang memakai Hoodie hijau tua dengan celana hitam selutut. ini sudah rencana Mila agar mecing dengan suaminya tapi yang membuatnya jengkel kenapa kaos Tino berwana hijau tua juga warnanya pun sama Mila menghela nafasnya...
"Lo kok ngikut-ngikut sih tin" gerutu Mila kesal
"eh? .. mana gue tau kalian pakek warna yang sama, bambang"
"tapi kan ada warna lain, kenapa harus yang ini dari berbagai banyak warna"
"ya kan-"
"udah-udah nggak bakalan jadi kepasar kalo kalian berdua ribut terus" Elang menengahi Karena semenjak istrinya bertengkar dengan Tino mereka sering kali beradu mulut tentang hal-hal kecil.
Tino menangkap kunci mobil yang dilempar oleh Elang, dan Elang mengajak Mila masuk ke mobil.
"loh kok lo duduk dibelakang sih Lang, emang gue sopir lo" cicit Tino kesal
"anggep aja gitu, kan Lo udah gue kasih libur hari ini"
"tapi kan-"
"ya terserah kalo mau hari ini potong gaji" ancaman Elang yang selalu mampu membungkam mulut Tino rapat-rapat.
sampainya dipasar Elang dan Tino terus mengikuti Mila yang sibuk memilih bahan dapur dan saat Mila membeli ikan ia mendapat pertanyaan nyleneh dari penjualannya.
"dari kota ya neng"
"iya Bu" jawab Mila yang terus sibuk memilih ikan segar.
"pantes bening-bening. . . pacarnya yang mana neng" ibu itu melihat kearah Tino dan Elang yang terlihat tidak suka dengan bau amis di pasar tradisional tersebut daritadi mereka berdua memang menggerutu tidak jelas , tapi hanya diabaikan oleh Mila.
"ehmm... menurut ibu yang mana?" Mila tersenyum dan tentu nya pembicaraan itu terdengar oleh kedua laki-laki dibelakangnya.
"saya jodohin sama anak lurah saya aja neng orangnya kasep, baik , rajin pokoknya gini deh" ibu itu mengacungkan jempol nya
Elang yang mendengar itu pun seperti kebakaran jenggot. ia menghampiri Mila lalu merengkuh pinggang nya "mami masih lama?, papi udah nggak nggak tahan baunya"
Mila sontak menoleh "eh. ." ia mengerjapkan matanya apa? mami Elang bilang... kalo bukan ia saat ini sedang berada ditempat umum ingin sekali ia menampol kepala suaminya. siapa tahu hilang ingatan haha...
"jadi udah bersuami ya neng"
"yaiyah lah Bu masa saya supirnya" gerutu Elang kesal Tino dan Mila hanya tersenyum menanggapi Elang.
"saya kirain pak"
pak? sungguh Elang tidak merasa setua itu, sedangkan Mila dipanggil nya neng. . .
.
.
.
**yuk.. yuk.. vote ya 😂
udah panjang kok, perasaan .... 😂
cemungut semuanya 💋💋💋💋**