
“Arini, aku tidak percaya kamu bisa melakukan semua ini ...”
Lila tak henti-hentinya berucap demikian pada Arini yang malah tersenyum devil.
“Biarkan saja. Aku tidak peduli kalau aku akan membuat Tian marah. Lagipula semuanya sudah terjadi, dan aku sudah berhasil membelinya ... hehe ...”
Arini malah terkekeh diakhir kalimat, tanpa peduli dengan wajah Lila yang nampak menegang, seperti orang yang sudah mau terkena stroke ringan.
“Hahhh … Lila kamu benar, setelah melakukan hal gila ini aku benar-benar merasa lega. Sekarang aku tinggal menunggu reaksi Tian saat pulang ke rumah nanti. Aku sudah pasrah kalau dia benar-benar marah ...” berucap lagi dengan nada cuek.
Ini gila!
Ini benar-benar gila!
Lila terduduk lemas tanpa daya. Sedikit menyesal mengapa tadi dirinya bisa tidak sengaja memberikan sebuah ide gila untuk membeli sebuah mobil mewah kepada Arini.
Lila bahkan takut kalau sampai Rico tahu bahwa dirinyalah penyebab utama, yang membuat Arini menghabiskan uang Tian sebanyak 1,5 M cash demi satu unit mobil listrik tesla model 3 di sebuah aplikasi jual beli online.
Singkat cerita, tadi, ketika Arini sedang mencari-cari referensi mobil seperti apa yang akan ia beli, Lila juga yang menjadi tersangka utamanya, dengan menunjukkan sebuah konten seorang tik-tokers sekaligus pengusaha muda, yang membeli mobil serupa pada jam tiga shubuh, hanya karena sedang gabut seperti Arini saat ini.
Dan sudah bisa ditebakkan ...?
Istri Sebastian Putra Djenar itu benar-benar membelinya tanpa berfikir dua kali!
Arini bahkan melakukan proses pembelian di aplikasi jual beli online yang sama!
“Lila ... ayo makan ini ...”
Arini menyodorkan chicken sandwich ke hadapan Lila. Ia memang sengaja memesan dua, karena satunya untuk Lila yang terlihat sangat berselera memakan semua makanan yang ada di hadapannya.
Lila mengangguk saat mendengar tawaran Arini.
“Aku benar-benar salut padamu dan aku tidak sabar menunggu reaksi Tian. Jangan lupa ceritakan padaku yah ...” ujar Lila seraya mencomot sepotong sandwich.
Meskipun merasa khawatir dengan keterlibatan dirinya hingga sejauh ini, tapi tak urung Lila tertawa juga membayangkan bagaimana kira-kira reaksi Tian saat menerima pemberontakan istri polosnya ini.
Menurut feeling Lila, sudah jelas Tian tidak mungkin marah hanya karena istri kesayangannya membeli sebuah mobil tesla model 3, yang harganya pasti tidak seberapa untuk ukuran seorang Ceo Indotama Group itu.
Selama ini Tian dikenal sebagai sosok yang murah hati dan loyal kepada orang-orang terdekatnya, apalagi kepada orang yang dicintainya.
Tapi keberanian Arini bersikap kontroversial seperti saat ini ... sudah pasti akan membuat Tian takjub.
Tapi bukankah Arini memang harus dibekali dengan keberanian yang besar dalam mendampingi seorang Sebastian Putra Djenar?
Apalagi saat ini Arini juga harus memiliki kekuatan ekstra untuk menghadapi Saraswati Djenar yang super power itu ...!
Arini terlihat mengulum senyum. “Aku benar-benar beruntung sudah bertemu denganmu hari ini, La ... setidaknya beban pikiranku sedikit berkurang ...” lirihnya seraya menatap Lila dengan penuh rasa terima kasih.
Bercerita panjang lebar dengan Lila hari ini ... menceritakan semua kegundahan hati ... beratnya perjuangannya dan Tian untuk memenuhi keinginan Saraswati Djenar ...
Usai melakukan semua itu membuat hati Arini merasa plong, terlebih saat berhasil melakukan hal gila dengan membeli satu unit mobil listrik.
Dalam hati Arini merasa lucu sendiri. Meskipun tak yakin kalau Tian akan marah hanya karena ia menghamburkan uang ... tapi Arini lebih tertarik dengan apa yang ada di pikiran Tian nanti setelah melihatnya melakukan semua ini.
Lila menatap Arini yang ada dihadapannya, sedetik kemudian ia bangkit ... menggeser duduknya pindah ke sebelah Arini.
“Kesinikan tanganmu ...” ujar Lila serta merta membuat Arini sontak mengerutkan alis dengan bingung.
“Ada apa ...?”
“Sudah, kesinikan saja ...” pinta Lila lagi kali ini sedikit memaksa.
Arini mengulurkan tangannya ragu-ragu yang langsung di sambut Lila dengan membawa tangan Arini ke perutnya yang semakin hari terasa semakin membusung, mengusap-usapkan jemari Arini disana berkali-kali.
“Aku pernah dengar, kalau wanita yang sedang benar-benar ingin hamil, mengusap perut wanita hamil lainnya ... maka dia juga akan segera hamil ...” ucap Lila perlahan.
Mendengar itu Arini tidak bisa mencegah se-bulir rasa haru yang serta merta menyusuri pipinya. Ia tak bisa berucap apa-apa ... hanya mampu tersenyum sambil mengusap perut Lila berkali-kali ... dengan doa yang mengalir didalam hati ...
XXXXX
‘Sepertinya aku sudah keterlaluan..’
Kalimat itu selalu terngiang-ngiang dibenak Tian, membuat Tian merasa sulit untuk fokus dengan jalannya rapat yang saat ini di isi dengan pemaparan beberapa ide dan konsep menarik yang akan diterapkan dalam rangka pembangunan Indotama Times Square nantinya.
Perasaan bersalah pada Arini terus menerus mengusik, mengingat selama hubungan mereka membaik Tian selalu memanjakan istrinya itu.
Tian tak pernah sekalipun menampakkan amarah, dan harus di akui bahwa tadi Tian benar-benar lose control.
Saat ini Arini pasti marah kepadanya, dan wajar jika istrinya itu kecewa.
Terbiasa mendapatkan semuanya membuat Tian anti dengan kata menyerah, meskipun lagi-lagi tidak seharusnya juga dia meninggalkan Arini begitu saja dan tidak membujuknya seperti biasa.
Tian mengusap wajahnya sebentar, sudah berniat ingin beranjak untuk menemui Arini lagi.
Untuk apa?
Tentu saja untuk membujuk dan memohon maaf kepada sang istri, daripada ia bertahan disini dan bakalan gila sendiri karena perasaan bersalah yang tak kunjung pergi, tapi niat Tian itu mendadak terhenti saat tidak sengaja melihat Rudi yang memberi isyarat untuk mengecek ponsel karena saat ini ponsel Tian memang berada dalam mode silent.
Tian buru-buru mengaktifkan layar ponselnya dan langsung menemukan pesan Rudi disana.
‘Maaf pak, Ibu Arini barusan meninggalkan kantor pusat dengan menaiki mobil seorang karyawan bernama Meta.'
Sepasang mata Tian nyaris keluar dari cangkangnya begitu membaca pesan tersebut. Ia belum sempat membalas manakala sebuah notifikasi pesan kembali masuk ke ponselnya.
‘Saya sudah menyuruh beberapa orang untuk mengikuti dari jarak aman, saat ini Ibu Arini sedang berada di Mall xx, bersama Ibu Lila ...’
Dalam diam, Tian pun mengetikkan sesuatu untuk membalas pesan tersebut.
‘Mereka sudah tahu kan, apa yang harus mereka lakukan ?’
Tian menunggu sejenak, sebelum akhirnya sebuah notifikasi pesan masuk kembali terdengar.
‘Saya sudah memerintahkan mereka dengan sangat jelas, Pak ...”
‘Bagus.’
Tian menaruh ponselnya diatas meja, sejenak mengerutkan keningnya.
'Lila ...?’
Tian mengulang nama itu dalam hati.
'Bagaimana bisa ...?'
Serentak pandangannya menyapu seraut wajah Rico yang ada dihadapannya, terus menatapnya dengan tatapan yang mengira-ngira.
XXXXX
Meeting masih berjalan saat Rico melihat lampu kecil yang berkelap-kelip dari ponselnya yang berada dalam mode silent, menandakan ada sebuah notifikasi pesan yang masuk, mengambil kesempatan untuk membukanya sejenak, hendak mencari tau apa isi pesan tersebut yang ternyata berisikan sebuah foto yang dikirimkan oleh istrinya Lila.
Rico refleks membukanya ... dan sedetik kemudian ia terhenyak saat mengetahui bahwa foto tersebut menunjukkan Lila sedang bersama Arini, disebuah kedai kopi yang biasanya ada di sebuah Mall, dan lebih terhenyak lagi saat membaca caption pelengkap dari foto tersebut:
‘Co, aku bertemu Arini di Mall xx. Dia pergi tanpa sepengetahuan Tian, sepertinya mereka bertengkar..’
Saat Rico mengangkat wajahnya sedikit matanya bahkan langsung menangkap seraut wajah dingin Tian yang mengawasinya lekat, seperti hendak menelannya hidup-hidup, membuat Rico memilih tidak membalas chat Lila terlebih dahulu.
Apa kata Lila tadi?
Arini pergi tanpa sepengetahuan Tian?
'Impossible..!'
Rico mendengus. Bahkan jika Tian ingin mengetahui keadaan semut didalam lubang pun lelaki itu pasti akan dengan mudah mengetahuinya, apalagi hanya menyangkut gerak gerik istrinya sendiri.
Hanya dengan melihat tatapan Tian yang setajam belati, Rico sudah bisa mengambil kesimpulan bahwa Tian bahkan sudah tahu semuanya dengan detail apa saja yang sedang terjadi saat ini.
Cihh, tentu saja. Tidak mungkin seorang Sebastian Putra Djenar tidak mengetahuinya kan?
‘Haihh, Lila ... aku harap kamu tidak menambah masalah dengan terlibat dalam pertengkaran mereka ...’
Kira-kira seperti itulah doa Rico saat ini saat menyadari keadaan serba salah yang sedang dihadapinya.
Rico memberanikan diri membalas tatapan Tian yang tajam dengan mengangkat kedua bahunya, lengkap dengan wajah penuh permohonan, seolah-olah ingin mengatakan bahwa kali ini dirinya tidak bersalah, dan sama sekali tidak terlibat dengan apapun yang menyangkut persekongkolan dua wanita itu.
Benarkan ...?
Rico bahkan juga sedang menyusun rencana untuk meminta pertangungjawaban Lila, tentang mengapa istrinya itu berada di sebuah pusat perbelanjaan, padahal sudah terang-terangan Rico tidak mengijinkan Lila keluar rumah.
Tapi kenyataannya ... wanita itu malah telah melanggar larangannya dengan begitu mudah ...
...
Bersambung …
LIKE, COMMENT, VOTE ! 🤗