CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Ariella Hasyim


Lila memang sangat antusias dan serius menjalani setiap proses pembangunan MGR atau lebih tepatnya Mercy Green Resort. Bahkan sejak tahapan early work yakni pembersihan dan pemulihan lokasi pembangunan enam bulan yang lalu, sesibuk apapun Lila tetap menyempatkan diri sesering mungkin untuk meninjau satu demi satu perkembangan proyek tersebut.


Bisa dibilang saat ini MGR merupakan prioritas bagi Lila. Bukan apa-apa, tapi dengan keberhasilan PT. Mercy meyakinkan Indotama Group untuk menanamkan investasi yang begitu besar di pembangunan MGR membuat Lila merasa harus bekerja extra keras.


Lila harus membuktikan kemampuannya karena jika proyek ini mampu menuai hasil yang memuaskan, tidak menutup kemungkinan dimasa yang akan datang Indotama Group juga akan kembali tertarik bekerja sama pada proyek-proyek PT. Mercy lainnya.


Dan jika semua sesuai dengan yang diimpikan Lila maka tentu saja perkembangan bisnis keluarga yang sebagian besar sudah dipercayakan ayahnya untuk dikelola oleh dirinya bisa lebih meningkat.


Siang ini Lila datang lagi ke lokasi proyek ditemani sekretarisnya Yunita. Proyek MGR sudah memasuki tahap akhir. Lima puluh unit bangunan resort yang masing-masing dilengkapi balkon pribadi yang megah sudah berdiri anggun dikelilingi hutan dan danau buatan yang eksotis.


Pebangunan MGR ini memang tergolong super cepat. Lila saja seperti bermimpi menyaksikan semua keindahan yang terhampar didepan matanya ini dan tentu saja, keterlibatan Indotama Group-lah yang membuat semua hal yang mustahil bisa menjadi mungkin.


Lila tidak bisa membayangkan kalau hanya sekedar mengandalkan kemampuannya dan ayahnya saja, Proyek MGR pasti masih terkatung-katung dan akan memakan waktu yang cukup lama untuk bisa ada di fase


sekarang, bahkan mungkin bisa memakan waktu bertahun-tahun.


Saat ini Lila sudah bisa tersenyum puas dan menarik nafas lega. Kemajuan pembangunan resort super mewah bernuansa alam yang lengkap dengan segala fasilitas didalamnya ini sepertinya bisa selesai dalam waktu relatif singkat. Lila optimis semuanya akan selesai tepat pada waktunya dan siap diresmikan sesuai dengan perencanaan awal.


Lila yang sejak awal datang dilokasi proyek langsung berkeliling ditemani Pak Halim, Yunita dan Farid asisten Pak Halim terakhir meninjau beberapa unit bangunan gazebo yang dibangun diatas danau buatan.


Pak Halim yang merupakan manager proyek pembangunan resort dengan terperinci menjelaskan secara detail tentang semua hal-hal pencapaian yang telah dilakukan dan sejauh ini Lila merasa sangat puas dengan kinerja dan tanggung jawab Pak Halim.


“Mari kita beristirahat sebentar disini, Pak,“ Lila menunjuk gazebo terakhir yang mereka lewati, memilih untuk


beristirahat sejenak karena jujur kakinya juga sudah kelelahan seperti mau kesemutan karena baru saja berjalan mengitari area pembangunan resort yang begitu luas itu sejak tadi. Untunglah Lila sudah mengantisipasinya dengan


menggunakan flat shoes agar kakinya tidak terlalu pegal saat berkeliling.


“Baik, bu Lila, mari kita istirahat disini sebentar..” Pak Halim menganguk sambil mempersilahkan Lila duduk terlebih


dahulu. “Apakah bu Lila mau saya siapkan makan siang sekalian ?” Tanya Pak Halim sopan.


Lila menggeleng sambil tersenyum. “Tidak usah, Pak.. nanti saja.”


“Kalau begitu saya pesankan minuman saja yah, bu..?”


“Boleh, tapi tidak usah repot-repot, air mineral dingin sudah cukup,”


“Baik,” pak Halim menganguk sambil memberi kode kepada Farid yang langsung paham dengan maksud pak Halim. Farid langsung berlalu untuk mengambilkan air mineral dingin sesuai pesanan Lila.


“Pak Halim, saya harap semuanya bisa berjalan dengan lancar yah.. dan juga bisa selesai tepat pada waktunya,” Lila berucap saat mereka bertiga sudah duduk dibawah gazebo.


“Inshaallah, bu.. karena kalau melihat kondisi saat ini, sepertinya semua bisa berjalan sesuai yang kita harapkan


bersama..“


Arini menarik nafas lega mendengar kalimat bermuatan optimis dari Pak Halim. ”Saya percayakan semua pada Pak


Halim. Tolong pastikan semuanya sempurna,”


“Saya akan menjamin semua itu, bu Lila tidak perlu khawatir..”


Lila baru ingin bicara lagi saat ponsel Pak Halim tiba-tiba berdering, tepat disaat Farid yang muncul bersama seorang wanita yang membawa nampan berisi beberapa botol air mineral dingin kemasan.


Alis Pak Halim nampak mengerinyit saat melihat layar ponselnya, ragu ia menatap Lila sejenak.


Lila yang baru ingin meneguk minuman dinginnya sontak urung. “Ada apa, Pak Halim ?” Tanya Lila heran dengan tatapan Pak Halim.


“Ini dari asisten Pak Tian, bu..”


Lila sedikit tegang mendengarnya, “Ya sudah, segera di angkat, Pak. Saya yakin, itu pasti hal yang penting.”


Pak Halim menganguk sambil menggeser icon hijau dilayar ponselnya.


“Halo..?”


(…..)


“Ha..?”


(…..)


“Ahh iya, baik.., baiklah Pak Rudi..” tegeragap.


Pembicaraan yang begitu singkat. Pak Halim belum sempat menyimpan ponselnya kembali manakala ia menatap Lila dengan mimik wajah yang tegang.


“Ada apa, Pak Halim ? apa yang barusan dibicarakan asisten Pak Tian ?” Lila bertanya hati-hati, jantungnya ikut kembang kempis menyaksikan mimik wajah pak halim yang tidak bisa ia artikan.


“Asisten Pak Tian menyampaikan bahwa Pak Tian mau meninjau langsung lokasi resort ini, bu..”


“Apa ?” Lila terkejut. “Kapan, Pak..?”


“Sekarang, bu.. beliau malah sudah dijalan..”


“Appa..??!”


---


Sejujurnya Tian terkejut, tapi seperti biasa ia selalu berhasil untuk tidak menampakkan ekspresi yang berarti dibalik


wajah dinginnya yang selalu datar.


Wanita dihadapannya ini tersenyum ramah saat menyambut kedatangannya bersama Pak Halim dan beberapa orang pegawai tadi, dan Tian mengenalinya setelah memutar otaknya sejenak. Mencoba mengingat wajah yang sepertinya pernah begitu familiar dan akhirnya Tian menemukan jawabannya.


“Perkenalkan, saya Ariella Hasyim, saya adalah Ceo PT. Mercy,” Lila memperkenalkan dirinya setelah  mengumpulkan kepercayaan dirinya sejak tadi. Setelah sekian lama inilah kali pertama Lila berhadapan langsung dengan Sebastian Putra Djenar, Ceo Indotama Group.


Tian menganguk kecil. Benar sudah dugaannya sejak tadi, wanita ini ternyata memang Ariella Hasyim, salah satu teman kuliahnya waktu di Harvard, dan dia adalah Lila, yang tidak lain dan tidak bukan adalah istri Rahasia Rico Chandra Wijaya, sahabatnya yang tengil itu.


Mengapa Rahasia ?


Yah.. karena mereka menikah secara diam-diam, dan pernikahan mereka hanya diketahui segelintir orang saja termasuk Tian. Tidak jauh berbeda dengan status pernikahannya sendiri dengan Arini.


‘Arini ?’


Tiba – tiba Tian ingat Arini.


‘Apa dia sudah selesai makan..?’


Astaga.. apa-apaan sih, mengapa malah mengingat Arini disaat seperti ini ?


Tanpa sadar Tian telah menghentikan langkahnya dan menggeleng kuat-kuat, membuat Rudi yang ada  disampingnya langsung bertanya.


“Ada apa, Pak ?”


“Tidak.. Tidak apa-apa.” Tian menatap sekeliling, menyadari karena langkahnya yang terhenti disusul pertanyaan Rudi membuat semua langkah yang ada disekelilingnya ikut terhenti, dan tatapan penuh tanda tanya mereka kini semua tertuju pada Tian.


Pak Halim yang sejak tadi berceloteh panjang lebar menjelaskan semua detail mengenai Mercy Green Resort pun jadi ikut-ikutan terdiam.


“Kenapa berhenti ? ayo teruskan..” ucap Tian dingin sambil melangkahkan lagi kakinya yang tadi sempat terhenti.


‘Ini semua gara-gara kamu, Arini..!’


Rutuknya. Agak konyol memang, tapi entah kenapa sekarang Tian malah menyalahkan wanita yang sedang tidak tau menahu tentang apa yang dilakukannya sekarang, padahal sudah jelas-jelas justru dirinyalah yang selalu memikirkan Arini setiap saat tanpa sebab.


‘Cih, sepertinya otakku semakin bermasalah.’


Tian masih sempat merutuk dalam hati, sebelum mencoba kembali berkonsentrasi dengan semua penjelasan Pak Halim yang saat ini sedang menjelaskan konsep resort yang bisa dibilang nyaris rampung seratus persen ini. Mereka sekarang sudah memasuki salah satu dari lima puluh unit bangunan resort yang sudah berdiri megah.


Sejauh ini Tian cukup puas dengan kemajuan dan hasil akhir dari MGR yang ternyata Ceo nya adalah teman kuliahnya sendiri sekaligus istri sahabatnya. Tian sendiri kaget karena menyadari kenyataan tersebut.


Tian baru ingat bahwa kira-kira enam bulan yang lalu. diatas meja kerjanya Tian menemukan sebuah proposal tentang penawaran kerjasama tentang pembangunan resort mewah dengan konsep yang cukup menarik dari PT. Mercy, yang berada diantara sejumlah proposal perusahaan lainnya yang seperti biasa menawarkan kerjasama dengan Indotama Group.


Saat itu sepertinya tidak memerlukan waktu yang lama bagi Tian untuk menyetujuinya karena Tian langsung tertarik dengan konsep yang ditawarkan PT. Mercy. Meskipun dalam pelaksanaannya Tian hanya meminta Rudi dan beberapa manager yang berkompeten dibidangnya untuk mempelajari dengan lebih detail dan tidak pernah sekalipun menghadiri persentasi serta beberapa meeting secara langsung sebelum kerjasama itu dimulai, tapi selama ini Tian rutin menerima laporan tentang perkembangan proyek MGR dari Rudi dan beberapa orang  bawahannya yang sudah ditunjuk khusus untuk menghandle proyek tersebut.


Tian tentu tidak bisa melakukan semuanya sendiri. Untuk itulah ia selalu membuat skala prioritas dalam setiap pekerjaan. Untuk proyek raksasa biasanya Tian akan lebih menghandlenya dengan serius, sedangkan untuk proyek yang nilainya lebih kecil Tian hanya akan menyuruh orang untuk mewakili dirinya.


Seperti halnya saat proyek MGR mulai berjalan, Tian memang lebih disibukkan oleh beberapa kontrak kerja yang tentu saja nilai dan prospeknya jauh lebih fantastik dari yang ditawarkan PT. Mercy.


Untuk itulah, sesaat setelah tadi Tian baru menyadari bahwa ternyata Lila adalah Ceo-nya, hal itu tentu saja diluar dugaan Tian.


Tian sendiri tidak yakin apa reaksi Rico jika tau tentang hal ini, karena jika selama ini Rico tidak pernah membicarakan tentang Mercy Green Resort, maka bisa dipastikan bahwa Rico pasti tidak terlalu peduli tentang proyek besar yang sedang ditangani oleh istrinya ini.


‘Memang apalagi yang dia tau tentang Lila ? si tengil itu bisanya hanya meniduri istrinya setiap hari..’


Dumel Tian dalam hati, berdecak kesal saat wajah mesum Rico yang selalu bersemangat saat menceritakan tentang aktifitasnya dengan Lila istrinya melintas dibenak Tian.


“Bagaimana pendapat Pak Tian dengan penataan kamarnya ?” pertanyaan Pak Halim mengusik lamunan Tian.


Tian mengedarkan pandangannya kesetiap sudut kamar resort. Nuansa putih mendominasi setiap sudut kamar, ranjang besar berada ditengah dan berbagai fasilitas setara hotel bintang lima juga melengkapi isi kamar tersebut.


“Bagus,” ucap Tian singkat, sambil melangkahkan kaki kearah balkon. Dalam hati Tian kembali dibuat takjub saat


pandangannya mengembara disana, pemandangan hutan dan danau buatan yang terhampar membuat view nya terlihat sangat indah.


Ini luar biasa. Keputusannya untuk berinvestasi penuh untuk pembangunan Mercy Green Resort enam bulan yang lalu ternyata sangat tepat.


Tian tersenyum puas sambil menghirup udara dalam-dalam, begitu segar.


‘Tempat ini cocok sekali untuk honeymoon. Kalau Arini aku ajak kesini nanti, pasti dia akan senang..’


Egh,,,?


Tian membuka matanya tiba-tiba, tersadar dari lamunan konyolnya tentang Arini yang lagi-lagi mampir begitu saja


dibenaknya.


“hutan dan danau buatan itu di desain sendiri oleh, bu Lila, Pak..”


“Benarkah ?” Tian sedikit terkejut mendengar pernyataan Pak Halim, refleks ia menoleh kearah wanita yang sejak


tadi lebih banyak terdiam, sambil ikut menyimak setiap penjelasan Pak Halim.


Lila yang ditatap tersenyum meski sedikit kikuk.


“Wah.. kapan kamu belajar desain..?” seperti tidak sadar Tian bertanya.


Lila yang mendengar pertanyaan spontan itu sontak terkesima. “Itu.. itu hanya hobi saya, Pak Tian, saya tidak pernah benar-benar belajar tentang desain sebelumnya..”


 “Oh ya ? tapi.. hasilnya ini sungguh luar biasa. Hebat..” Tian berdecak kagum. Ia sungguh salut mengetahui Lila bisa mendesain semua yang terhampar diluar sana padahal tidak pernah benar-benar mempelajari sebelumnya.


Sementara Lila yang menerima pujian langsung dari Tian tersebut rasanya tidak bisa mempercayai  pendengarannya sendiri. Kalau saja sekarang ia seorang diri, mungkin ia sudah melonjak-lonjak kegirangan.


“Selain di Harvard Business School, apa kamu sama sekali tidak pernah mengambil kuliah desain..?” tanya Tian lagi belum sepenuhnya move on dari rasa terpukaunya.


“Tidak Pak Tian, semua yang Pak Tian katakan luar biasa yang ada di tempat ini, itu karena saya dibantu oleh orang-orang yang juga luar biasa.”


Lila berucap sungguh-sungguh dengan segenap kerendahan hati. Tapi lebih dari semua itu ia begitu gembira saat


mengetahui Tian memberikan apresiasi positif atas hasil kerja kerasnya, dan kemudian sedikit berdebar saat menyadari bahwa saat mengucapkan Harvard Business School, Lila yakin bahwa Tian juga masih mengingat siapa dirinya, meskipun ia bahkan tidak termasuk mahasiswi populer di jaman mereka kuliah dulu.


‘Apa Tian juga tau bahwa dirinya istri Rico Chandra Wijaya, sahabatnya ?’


Untuk bagian ini Lila justru meragu. Ia sendiri tidak yakin apa Rico memiliki keberanian untuk mengakui keberadaan dirinya dihadapan Tian, karena suaminya itu terlihat sekali sangat menyimpan rapat status hubungan pernikahan mereka kepada siapapun.


Apakah Rico malu memiliki istri seperti dirinya ? heh.. sepertinya memang begitu. Karena kalau tidak mana mungkin lelaki itu sangat tidak ingin orang lain tau bahwa mereka adalah sepasang suami istri yang sah.


“Saya pastikan saya akan hadir saat peresmian resort ini,” ucapan Tian yang tiba-tiba otomatis membuat wajah-wajah yang ada ditempat itu langsung sumringah saat mendengar keputusan Tian yang spontan. Ekspresi gembira tersirat jelas diwajah mereka, apalagi Lila.


“Saya senang sekali mendengarnya, Pak Tian, kami benar-benar tersanjung jika Pak Tian sendiri yang akan meresmikannya,” ucapan Lila terdengar begitu bersemangat.


“Tentu saja. Untuk meresmikan tempat seindah ini secara khusus saya akan mengosongkan jadwal saya.” Kemudian Tian menatap Rudi, “Ingat, kosongkan jadwal saya dihari peresmian resort ini.”


“Baik, Pak,” Rudi menganguk takjim.


Kemudian Tian menatap Lila sejurus. “Dan saya  juga memastikan untuk menghandle semua yang berhubungan dengan peresmian resort ini, nanti konsultasikan saja dengan Rudi tentang persiapannya begitupun dengan


budgetnya,”


Lila nyaris tidak bisa mempercayai pendengarannya sendiri. “B-Baik Pak Tian, terimakasih banyak..” rasa bangga dan bahagia serentak membuncah didada Lila mengetahui sebesar itu ketertarikan seorang Sebastian Putra Djenar atas hasil peluhnya selama ini.


Tian bukannya tidak memiliki alasan mengapa ia mengistimewakan peresmian Mercy Green Resort. Selain karena hatinya yang langsung jatuh hati dengan keindahan yang disuguhkan resort ini, Tian juga tidak bisa begitu saja mengabaikan keberadaan Ariella Hasyim, Ceo PT. Mercy yang notabene adalah orang yang paling banyak memiliki andil atas pembangunan Mercy Green Resort, istri Rico Chandra Wijaya, sahabatnya.


Alhasil semua wajah yang ada diruangan itu terlihat ceria dan bisa bernafas lega.