
Tangan kiri Arini berada tepat diatas dada Tian, sedari tadi memainkan bandul kalung yang bentuknya sama persis dengan cincin yang sedang melingkar manis dijari manisnya.
Tentu saja bentuknya sama, karena mereka telah ditakdirkan untuk menjadi sepasang. Bandul kalung itu adalah benar merupakan pasangan cincin pernikahan mereka yang dipakai Arini.
Tian sebenarnya sudah ingin memejamkan matanya. Karena yang ia takutkan.. merasakan jemari Arini yang sedari tadi bermain-main diatas permukaan kulitnya seperti sekarang terasa sangat mengusik seluruh sensor tubuhnya. Tian hanya sedang menahan dirinya. Tubuhnya memang lelah, tapi bukan berarti ia tidak sanggup bertemu sang fajar yang tinggal beberapa jam lagi.. ia hanya merasa iba dengan sosok yang bersandar manja dalam pelukannya ini, yang bahkan sudah ‘lempar handuk’ berkali-kali tanda menyerah.
“Kamu penasaran ingin melihat aku memakainya, kan ?”
Arini menganguk, namun tangannya tidak serta merta berhenti bermain-main. “Maybe next time, aku tidak akan memaksamu untuk memakainya sekarang..” lirihnya kemudian.
Tian tersenyum sambil mengusap punggung yang polos itu. “Bersabarlah sebentar..” bisiknya perlahan, mengambang..
Namun Arini tetap menganguk, seolah ia paham betul apa maksud kalimat yang bahkan tidak selesai diucapkan itu. “Jangan terlalu mengkhawatirkan aku. Selagi bersama denganmu, maka aku dan perasaanku ini akan baik-baik saja..”
Tian terdiam. Dalam hati tak berhenti menyesali keegoisan dan kebodohannya diawal kisah saat dirinya terpaksa menikah, karena jika bukan karena dua hal konyol tersebut sudah pasti saat ini ia bisa memberi keadilan untuk Arini. Ia bisa mereguk kebahagiaan, memeluk istrinya sendiri tanpa harus bersembunyi seperti pencuri, dan mengundang spekulasi seolah-olah mereka telah melakukan perbuatan yang keji dan tidak terpuji.
Tapi ibarat nasi yang sudah menjadi bubur. Sejujurnya sekarang, Tian bahkan merasa bahwa dibandingkan Arini, ia justru menjadi orang yang paling menyesal atas semua keadaan yang terjadi. Sekarang ia hanya bisa menerima keadaan, menjalaninya dengan sabar, menunggu yang diatas mendengar doanya sambil terus berusaha keras untuk ‘kejar setoran’ tentunya.
“Sayang..”
“Hhmm..?”
“Apa karena kontrak perjanjian itu kamu jadi sering terdiam seperti ini ?” Arini mendongak seperti bisa ikut merasakan apa yang sedang membuat Tian gundah.
“Arini.. saat ini aku benar-benar tidak suka jika harus membicarakan kontrak perjanjian itu.”
Arini mengelus lengan kekar Tian
berkali-kali, seolah ingin mengatakan bahwa hal itu tidak mengusiknya sama sekali, tapi tetap saja Tian tidak bisa serta merta merasa baik-baik saja.
“Bagiku kontrak itu tidak ada artinya karena yang aku inginkan sekarang hanya agar bisa bersama denganmu selalu, tapi.. sayangnya semua itu tidak sesederhana seperti yang aku inginkan.” Tian membuang nafasnya berat.
Arini terdiam. Ia bukannya begitu bodoh jika tidak bisa mereka-reka apa yang sedang menjadi beban fikiran Tian dalam diamnya. Sejak mereka kembali dari kota S, meskipun lelaki itu menyimpan kegundahan untuk dirinya sendiri tapi mata bathin Arini bisa merasakan bahwa sesuatu pasti telah terjadi, sesuatu yang telah mengusik Tian.
Sejak di pesawat Arini sudah sering melihat diam-diam Tian memijit keningnya, sebuah gerakan khas Tian jika sedang memendam persoalan yang berat.
Memang melihat Tian sekilas seperti tidak ada yang berubah. Lelaki itu tetaplah sang penguasa yang bisa dengan mudah membolak balik keadaan, lelaki itu tetaplah sang penakluk ulung yang mudah merayu dan berotak mesum, lelaki itu tetaplah seorang Sebastian Putra Djenar.. tapi apapun itu Arini tetap bisa merasakan.. ada yang berubah, ada yang sedang dia fikirkan, ada yang sedang mengganjal dihatinya.
Dan saat barusan mereka membicarakan tentang kontrak pernikahan, serentak Arini seperti terbangun dari koma. Entah kenapa Arini langsung bisa menyimpulkan bahwa Tian seperti sedang berada dalam kelemahan..
‘Saraswati Djenar..?’
“Aku bahkan tidak suka meski hanya memikirkan perihal kontrak itu.” ucap Arini spontan.
“Aku juga tidak..”
“Kalau begitu mari kita menjalani hari esok dengan tidak mengungkit hal itu lagi..”
Diluar dugaan Tian malah bangkit
meskipun dengan gerak perlahan, membuat Arini cukup kaget dengan gerakan yang tiba-tiba menyibak selimut dan langsung membungkuk, menciumi perut rata Arini berkali-kali dengan lembut.
Arini membeku menerima perlakuan Tian itu. Hatinya sudah diliputi haru yang tidak bisa terbendung...
‘Calon anakku.. tolong hadirlah secepatnya diperut ibumu ini, nak.. karena ayah tidak suka membuat ibumu sedih, dengan berlama-lama menyembunyikan ibumu seperti ini..’
Berbisik dalam hati..
Dengan sepenuh hati..
---
Cahaya yang awalnya hanya berupa corak kemerahan diufuk timur akhirnya semakin nyata dan mulai menembus tirai. Pagi yang begitu cerah..
Lila baru saja keluar dari kamar mandi langsung menuju lemari untuk mengambil sebuah dress selutut berwarna coklat susu yang memang sudah ia persiapakan untuk dipakai pagi ini. Memantaskan dirinya sejenak didepan cermin meja rias sebelum akhirnya duduk disana dan mulai menyapu make up tipis kewajahnya yang mulus.
Saat ini Lila memang sedang berada disalah satu kamar Mercy Green Resort, yang ditempati oleh seorang tamu vip yang sedang tertidur pulas diatas ranjang dengan kondisi mabuk sejak semalam.
Yah.. usai menatap tajam Lila yang
semalam nekad menengahi perdebatannya dengan Tian, Rico malah memilih berlalu begitu saja menuju mini bar yang letaknya ada diujung selasar. Rico terus berada disana sampai mabuk berat membuat Lila yang diam-diam terus mengawasinya harus menyuruh beberapa orang pegawainya untuk memapah Rico sampai dikamarnya, dan akhirnya ia menjadi tidak iba untuk meninggalkan suaminya itu seorang diri dalam keadaan seperti itu.
Lila memoles lipstick tipis-tipis sebagai sentuhan akhir. Entahlah.. sejak mengetahui telah berbadan dua pada beberapa hari yang lalu, Lila merasa ia menjadi sangat malas berdandan. Akhir-akhir ini ia berdandan ala kadarnya hanya karena tidak mungkin ia muncul dimuka umum dengan wajah pucat tanpa make up.
Usai berdandan ala kadarnya Lila hanya duduk diam sambil mengawasi sosok Rico yang terpantul lewat cermin sambil mengetuk-ngetuk buku jarinya keatas meja
Fikiran Lila kembali mengembara pada sesuatu yang mengusik benaknya namun sepertinya ia mulai menemukan ujung benang merahnya saat secara tidak sengaja ia memergoki Rico yang tak lain adalah suaminya yang manja itu sedang mendebat sengit Tian diujung selasar.
Yah.. saat itu sebenarnya Lila tidak
pria itu tentang seorang wanita.
Lagi-lagi Arini..
Lila tersenyum kecut, menahan diri untuk tidak membenci, tapi yang ada dia memang sudah menyimpan rasa tidak suka yang dia sendiri tidak ingini. Terlebih saat dengan jelas Lila mendengar saat Rico mengaku dihadapan Tian bahwa dia menyukai Arini. Rico bahkan juga meminta Tian untuk memberikan Arini untuknya.
‘See ?’
Hehh, konyol dan kekanak-kanakan, bukan..? begitulah Rico adanya. Lalu jangankan untuk orang yang berotak cemerlang seperti Tian, bahkan orang bodoh pun bisa menebak dengan mudah bahwa Rico memang hanya mencari cela untuk membuat ulah, memancing huru-hara.
Lelaki itu seperti memiliki sebuah misi besar yang sedang disembunyikannya dengan sangat rapat. Entah apa.
Tapi adegan perdebatan itu justru
membuat Lila menemukan dua jawaban sekaligus, tentang mengapa kamar yang ditempati Tian selalu meminta layanan khusus rolling table terhitung sejak kemarin pagi, padahal Tian sendiri tidak pernah berada disana, dan mengapa ada begitu banyak pengamanan khusus dari orang-orang Indotama Group yang memenuhi setiap sudut Mercy Green Resort terutama kamar Tian, bahkan sejak Tian juga belum berada di kawasan Mercy Green Resort.
Ternyata karena seorang wanita, dan kenyataan bahwa wanita itu adalah Arini, karyawan Tian sendiri, itulah yang cukup mengejutkan Lila, ditambah dengan sikap provokasi Rico yang seperti benar-benar tidak merelakan Tian untuk bersama Arini. Lila mencatat ini baik-baik, bahwa Rico tidak rela Tian bersama Arini, bukan karena Arini.. tapi karena Tian. Seolah-olah dimata Rico, Arini tidak akan pernah cukup pantas untuk Tian.
‘What happened ?’
Sikapnya yang menegahi perdebatan mereka semalam hanya sebuah sikap refleks, karena Lila yakin seratus persen bahwa Tian butuh cara melarikan diri dari Rico. Yah.. meskipun dengan begitu Lila sudah membuat Rico semakin kesal padanya dan hubungan mereka bisa ditebak menjadi semakin memburuk saja.
Lamunan Lila sontak terputus saat
melihat tubuh yang ada diatas ranjang itu terlihat bergerak. Menggeliat sejenak dengan malas, kemudian beringsut turun dengan gerakan slow mo.
Lila tidak berucap apapun sampai akhirya sosok itu nyaris terjengkang kembali keatas ranjang saat menyadari kehadiran Lila disana.. ekspresinya seperti melihat hantu dipagi hari..
“Kenapa kamu ada disini ?” terlihat
mengusap tengkuknya berkali-kali, kemudian menguap acuh.
Lila tidak menggubris pertanyaan dengan nada yang kurang bersahabat itu. “Pergilah bersihkan dirimu dulu, kemudian sebaiknya kamu sarapan..”
Rico turun dari ranjang dengan langkah gontai. Bukannya langsung menuju kamar mandi seperti yang dititahkan Lila, ia malah langsung melenggang cuek menuju rolling table yang terletak tidak begitu jauh dari tempat Lila duduk sekarang, membuka sebuah plate serving covers yang terbuat dari bahan stainless steel, yang begitu terbuka langsung menguar aroma bubur ayam lengkap dengan beraneka ragam pelengkap yang menggugah selera, namun tiba-tiba..
“Uhukk !!”
Kepala Rico berpaling kearah Lila yang sedang terlihat sedikit panik sambil menutup mulut dan hidung dengan kedua tangannya sekaligus.
Alis rico sontak bertaut, belum sempat Rico bertanya Lila sudah bergegas menuju kamar mandi dengan sedikit berlari kecil.
Tubuh wanita itu menghilang disana.. namun suara seperti seseorang yang sedang mengeluarkan isi perutnya terdengar jelas ditelinga Rico.
Rico mengerinyit lagi-lagi, mendekati pintu kamar mandi yang terkatup rapat tersebut, mencoba memutar handlenya namun sia-sia karena pintu itu ternyata dikunci dari dalam.
“Lila ? Lila kamu kenapa ? kamu sakit..? Lila.. buka pintunya !!!” Rico menggedor-gedor pintu kamar mandi dengan tidak sabar. Ia tidak bisa lagi bersikap sok cuek dengan tidak mengkhawatirkan keadaan Lila sekarang.
“Aku tidak apa-apa !”
Teriakan itu terdengar dari dalam
diiringi suara guyuran air di wastafel, mengurungkan niat Rico yang rasanya sudah ingin menghancurkan pintu kamar mandi.
Lila bersandar di wastafel dengan tubuh lemas. Kepalanya bahkan ikut-ikutan pening, namun ia sama sekali tidak berniat meladeni Rico yang belum berhenti menggedor pintu kamar mandi sambil terus memanggil namanya berkali-kali.
‘Aroma bubur ayam..’
Lila membathin sambil tersenyum kecut.
Baiklah.. bahkan sekarang menu sarapan yang paling ia gemari pun sudah menjadi musuh besarnya.
Lila mengelus perlahan perutnya yang masih sangat rata itu dengan lembut, seolah ingin mengajak penghuni kecil didalam sana untuk lebih bersahabat.. mengingat betapa banyak pekerjaan yang menantinya saat ini, dan Lila tidak ingin moodnya hancur dipagi hari.. disaat ia bahkan belum melakukan apapun untuk memulai..
.
.
.
.
.
Bersambung…
Like and Comment jangan lupa ya.. sayangkuuuhh.. Lophyuu.. ALL.. 😍😘