
Yang belum Like bab sebelumnya.. yukk bantu author untuk genapin Like nya dulu biar performa author gak jalan ditempat.. π€ Terima kasih.. π
.
.
.
Meta sudah memikirkannya dengan baik, tentang hasil pembicaraan dengan pak Rico yang justru berujung tantangan.
Bagi Meta, semua itu sudah seperti sebuah hukuman untuknya. Membawakan lelaki itu makan siang dalam satu bulan..?
Huuhfhhh.. Meta benar-benar menyesalinya..!
Menyesali tindakan konyolnya yang diakibatkan kecemburuannya yang membabi buta dengan kehadiran Shela di siang itu, yang mengakibatkan dirinya mau tak mau harus menelan pil pahit yang hanya menyusahkan dirinya sendiri.
Pak Rico pasti kesal dengan tindakan heroiknya kemarin siang yang telah dengan lancang mengusir wanita cantik yang merupakan calon istri pilihan orangtua dan mertuanya itu.
Sementara dirinya?
Boro-boro bisa mengambil hati Pak Rico agar sedikit melunak, yang ada Pak Rico dengan entengnya berucap bahwa mereka berdua akan tetap bercerai.
Saat ini Meta sudah berada diujung kepasrahan. Meta lelah membohongi dirinya bahwa yang ia inginkan saat ini hanya Rei saja. Pada kenyataannya Meta sudah sangat serakah karena telah begitu lancang menginginkan Pak Rico juga, sebesar ia menginginkan Rei.
Tapi apa boleh buat, disaat yang sama Meta juga harus intropeksi diri bahwa Pak Rico adalah sosok yang benar-benar tidak mungkin ia raih. Meta tak lebih dari seekor pungguk yang merindukan bulan saja.
βMeta..β sebuah panggilan dengan suara berat cukup ampuh mengusir setiap lamunan yang sejak tadi menguasai benak Meta.
Meta yang awalnya terlihat tengah menatap layar laptop dihadapannya dengan tatapan kosong karena pada kenyataannya fikirannya tengah mengembara kemana-mana tersentak kaget ketika mendapati sosok jangkung PakTian telah berdiri tegak tepat didepan mejanya.
βIya Pak..β Meta serentak berdiri dari duduknya dengan tergesa. Merasa malu karena ketahuan melamun di jam kantor oleh bos besar.
βJam berapa sekarang?β
Meta melirik sekilas arloji yang melingkar manis dipergelangan tangannya sebelum akhirnya menjawab dengan yakin. βHampir setengah dua belas, Pak..β
βKalau begitu.. kamu sudah boleh pergi makan siang..β
βI-iya.. Pak..egh, tapi sekarang masih..β
βTidak apa-apa. Selama sebulan ini.. aku akan memberimu dispensasi setengah jam lebih awal untuk bisa mengambil waktu istirahat..β
βEgh.. t-tapi Pak..β mengambang, mendengar kalimat Pak Tian tersebut tak urung Meta tergeragap.
Astaga.. kalau memang benar demikian Pak Rico sudah benar-benar kelewatan. Bisa-bisanya membuka hal memalukan seperti itu untuk mendapatkan pengertian seorang Pak Tian yang merupakan orang yang paling Meta segani.
βDasar lelaki manja!β
Meta ngedumel dalam hati.
βKenapa malah bengong? bukannya kamu harus kekantor Rico?β
Tepat seperti dugaan sebelumnya. Meta pun mengangguk perlahan namun lidahnya masih terasa kelu. Sungguh saat ini Meta merasa sangat malu dengan Pak Tian.
βTidak usah sungkan. Rico sudah meminta ijin agar aku bisa memberikan dispensasi khusus kepada istrinya selama satu bulan penuh. Jadi aku harap kamu bisa mempergunakan waktumu dengan baik, karena bisa jadi.. ini akan menjadi kesempatan yang tepat untukmu guna lebih memantapkan hubungan kalian kedepannya..β
Meta menelan ludahnya yang terasa pahit.
βAku bahkan tidak menyangka kalau bisa-bisanya Rico semanja itu denganmu..β ujar Tian lagi seraya beranjak dari hadapan Meta, dan melenggang acuh kearah pintu yang menuju ke ruangan Ceo, meninggalkan Meta yang masih setia berdiri ditempatnya dengan kedua telinga dan wajah yang memerah setelah mendengar kalimat lugas dari Pak Tian.
Huhh.. Pak Tian pasti tidak tau bahwa maksud dari sahabatnya itu sama sekali bukan karena ingin bermanja-manja dengan dirinya, beromantis ria atau apalah namanya.. melainkan Pak Rico seperti sengaja mau menyiksanya dengan sempurna.
Iya kan?
Memangnya alasan apalagi yang lebih tepat dari permintaan konyol Pak Rico itu kalau bukan karena ingin menyiksa dirinya dengan sempurna?
Buktinya baru satu hari Meta hendak menjalani hukuman pak Rico, dan Meta sudah merasa sangat kalang kabut untuk me-manage waktunya sendiri.
Mulai dari dirinya yang harus memesan makanan, belum lagi membayangkan ia harus pulang-pergi dari kantor pusat Indotama Group ke kantor pusat Best Electro selama sebulan penuh.
Meskipun jarak kedua kantor tersebut tidak terlalu jauh, tapi lumayan memakan waktu kira-kira sekitar lima belas menit untuk bisa menempuh jarak perjalanan itu.
Dan penderitaan Meta juga terasa semakin lengkap saat menyadari kondisi dirinya sekarang yang tidak lagi memiliki kendaraan pribadi sehingga Meta harus menggunakan jasa taxi online.
Sungguh merepotkan!
.
.
.
Jangan lupa di like dulu sebelum next π€