CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 – 019


Keheningan itu cukup lama.. manakala Arini menatap wajah Tian yang ada disampingnya, yang tertunduk masih dengan aktifitas yang sama.. memainkan kedua jemari Arini dalam diam.


“Apakah semua kejadian itu telah mengguncang jiwamu..?”


Tian mengangkat wajahnya menatap Arini seraya tersenyum kecut. “Siapapun akan terguncang jika mengalami apa yang pernah aku lalui.” kemudian Tian menggeleng dengan cepat. “Tidak.. tidak.. bukan hanya aku.. tapi kami. Dan jiwa kami menerima semua kejadian tragis tersebut dengan cara kami masing-masing..”


“Tentang rahasia besarmu.. Laras sudah mengatakannya..” Arini telah menimbangnya sejak awal. Mungkin saja Tian tidak memiliki kepercayaan diri untuk mengatakannya.. tapi sebaliknya Arini sudah bertekad untuk memberikan rasa nyaman atas beban yang selama ini dipikul Tian.


Tian terdiam. Menunggu. Sejujurnya Tian tidak terlalu paham dengan istilah ‘rahasia besar’ yang selalu didengungkan Arini sejak tadi, yang sempat mengecohnya hingga membuka peluang untuk Arini memasang perangkap sehingga ia terjebak dan mengakui Laras dengan mudahnya.. sebagai wanita yang kala itu diinginkan Saraswati untuk ia nikahi. Tapi Tian tidak ingin terjatuh dalam lubang yang sama untuk kedua kali, sehingga Tian memilih menunggu daripada salah mengantisipasi keadaan.


“Apapun itu.. apapun dirimu.. aku akan selalu berada disampingmu. Kamu tidak perlu takut, karena aku akan melewati semua itu bersamamu..”


‘Laras.. sebenarnya apa yang sudah kamu katakan kepada Arini sehingga membuat Arini terus mengatakan kalimat aneh ini..?’


Benak Tian sibuk menebak, namun ia tetap bersikeras menahan diri untuk bertanya.


“Sayang.. sejak kapan kamu mengalaminya..?”


Tian menatap Arini dalam diam. ‘Mengalami apa..?’ dalam


hati bingung menerka.


“Tidak apa-apa.. katakan saja semuanya padaku.. apakah sakitmu sudah sejak lama ?”


‘Astaga.. apa lagi ini ? sakit apa ?’


Semakin bingung, tapi tetap bertahan dalam diam karena tidak ingin kembali terjebak kedalam lubang yang sama.


“Kenapa harus takut berbicara jujur ? aku tidak akan meninggalkanmu hanya karena kamu pernah pernah menderita PTSD.. cintaku tidak sedangkal itu..”


Tian membuang nafasnya, seraya menatap Arini yang juga sedang menatapnya iba.


‘Haihh.. ternyata ini yang dimaksud dengan rahasia besar itu..?’


Jadi Arini sedang salah faham, akibat informasi yang diberikan Laras yang ternyata selama ini juga telah salah


menduga.


‘Post Traumatic Stress Disorder.. atau PTSD adalah gangguan stress pasca trauma, yang berupa terganggunya kondisi kesehatan jiwa yang dipicu oleh peristiwa traumatis baik dengan mengalaminya, maupun menyaksikannya.’


‘Baiklah.. jadi selama ini Laras telah mengetahuinya.. meskipun sebenarnya ia telah salah sasaran..’


“Arini.. mendengarmu mengatakan bahwa cintamu tidak sedangkal itu membuat hatiku lega. Tapi kenyataannya aku benar-benar tidak menderita trauma seperti itu.”


Arini menatap Tian lekat seolah mencari-cari jawaban kebenaran didalam sepasang mata mereka yang saling bertatapan. “Tapi.. kata Laras, delapan tahun yang lalu kamu sangat sering mengunjungi psikiater..”


Tian menganguk. “Itu memang benar.. tapi..”


“Delapan tahun yang lalu, Laras diam-diam menyelidikinya dan akhirnya mengetahui kebenaran bahwa kamu memang sedang menjalani psikoterapi untuk gangguan PTSD yang kamu derita.. dan secara konsisten telah membuat jadwal kosultasi secara bertahap..”


Tian membuang nafasnya berat. Bingung entah harus menganguk atau menggeleng. Sesaat setelahnya Tian sudah menatap kedua mata Arini yang menatapnya dengan panacaran mata yang dipenuhi rasa iba dan empati.


“Sayang, Laras, memang benar, semua yang dikatakannya itu juga benar. Yang tidak benar hanyalah satu, bahwa bukan aku pasiennya..”


.


.


.


Pov delapan tahun lalu..


Saraswati masuk kekamar Tian begitu saja setelah mengetuknya terlebih dahulu.


Tian yang baru saja meletakkan tas kerjanya keatas nakas serentak mengangkat wajahnya kearah


Saraswati dengan alis bertaut. “Kejadian apa, nek ?”


Saraswati menghempaskan tubuhnya di sofa yang ada disudut kamar, membuat Tian ikut menghempaskan tubuhnya disana, berhadapan tepat dengan Saraswati yang menatapnya dengan tatapan penuh.


“Ini tentang Laras..”


“Laras ? memangnya ada apa dengan Laras ?” alis Tian semakin bertaut saat menyadari topik yang akan dibahas Saraswati adalah tentang Laras.


“Seorang maid secara tidak sengaja mendengar secara langsung saat Laras mengungkapkan cintanya kepada Rudi di teras belakang.”


Saat itu Tian sedikit tercekat mendengarnya, namun kemudian ia serentak berfikir.. betapa ngototnya gadis itu, karena tanpa bertanya sekalipun Tian sudah tau dengan pasti bahwa Rudi pasti telah menolak Laras lagi dan lagi. Ini bukan kali pertama Laras mengungkapkan perasaannya.. dan gadis polos itu tidak pernah sekalipun kapok untuk kembali melakukannya.


Gejolak cinta masa remaja yang menggebu-gebu.. karena kenyataannya umur Laras bahkan belum sampai tujuh belas tahun, tapi sudah tidak terhitung berapa kali cintanya ditolak oleh Rudi tanpa ampun.


“Tian..”


“Laras itu masih remaja, nek.. tau apa dia tentang cinta..?”


“Yang aku dengar Laras bahkan sudah menyukai Rudi sejak masih di panti. Apa ini yang disebut takdir..?”


“Nenek ini apa-apaan ? takdir apa ?” Tian tertawa kecil, berusaha menghindar dari pembicaraan mereka saat itu.


Saraswati menatapnya lekat. “Kalau Rudi bukan anak yang baik.. terlepas dari latar belakangnya, kamu tidak mungkin mempekerjakan dia, bahkan memberikan dia tanggung jawab dan kepercayaanmu sampai sebesar itu..?” kemudian menambahkan lagi dengan nada yang dipenuhi keyakinan. “Aku juga merasa bahwa Rudi anak yang baik. Dia cocok untuk Larasati..”


“Itu lain soal, nek. Masalah pekerjaan tidak boleh dicampur aduk dengan masalah yang lain. Rudi aku pekerjakan secara professional.. sedangkan nenek menjadikan Laras sebagai bagian dari keluarga..” Tian sudah berniat untuk beranjak.. tidak ingin membahas sesuatu yang sudah beberapa kali didengungkan Laras ditelinganya.


“Tian.. kamu ini kenapa sih ? harus ada alasan kenapa kamu menolak apa yang aku inginkan..”


“Aku punya alasan.” pungkas Tian urung beranjak dari duduknya.


“Kamu ini hanya mengada-ngada..”


Tian menghembuskan nafasnya berat. “Tidak, nek. Aku bersungguh-sungguh.. aku punya alasan..”


Tian menatap Saraswati lekat dengan tatapan serius, seraya berfikir.. apakah mungkin sebaiknya Saraswati memang harus mengetahui semuanya, agar Saraswati bisa memahami duduk persoalan yang membuat dirinya bertahan sekian lama dari keinginan Saraswati yang bersikeras menjodohkan Rudi dengan Laras.


“Kalau nenek tidak ingin Laras terluka hatinya, jauhkan saja dia dari Rudi. Yah setidaknya.. diumurnya sekarang ini. Biarkan dia sekolah dulu dan menikmati masa mudanya tanpa harus terfokus pada satu lelaki. Rudi bahkan jauh lebih tua dari dirinya..”


“Kamu bilang kamu punya alasan. Tapi kamu malah tidak mengatakannya.. yang kamu katakan panjang lebar tadi itu bukan alasan.” Saraswati menggerutu panjang pendek.


Tian menatap Saraswati sejurus. “Rudi itu sakit, nek. Dia penderita PTSD.”


Detik itu juga Saraswati sudah terhenyak dari duduknya.


“Apa nenek masih yakin.. ingin Laras bersama Rudi ? kalau nenek memaksa.. aku tidak bisa berbuat apa-apa. Dan kalau aku mengambil keputusan.. Rudi pun pasti tidak bisa berbuat apa-apa. Rudi akan selalu menurut padaku meski aku menyuruhnya melompat kedasar jurang. Tapi apa benar ini yang nenek inginkan..? nenek tidak khawatir jika kedepannya Laras akan hidup dengan seseorang yang sedang bermasalah dengan kesehatan jiwanya..?”


Saraswati yang membisu terlihat menggeleng tegas. “Tidak.. kalau memang demikian, aku akan menentang keinginan Laras. Setidaknya.. Rudi harus sembuh lebih dahulu.. atau.. atau kedepannya aku akan mencarikan lelaki yang lebih tepat..”


Tian mengangkat alisnya menerima kepanikan Saraswati yang terlihat jelas. “So..?”


Saraswati menatap Tian lekat. Kepalanya menggeleng berkali-kali. “Aku akan melakukan apapun untuk menjauhi Laras dari Rudi.. tidak Tian.. aku tidak bisa membiarkannya. Laras tidak mungkin bahagia jika bersama orang yang hidupnya masih dibayangi trauma..”


.


.


.


Bersambung..