
Yang belum Like bab sebelumnya.. yukk bantu author untuk genapin Like nya dulu biar performa author gak jalan ditempat.. 🤗 Terima kasih.. 😘
Ditunggu kunjungannya di :
‘Cinta Eleana dan Panglima Perang’.
Bantu like, comment, dan favoritekan, biar bisa ajukan kontrak juga kayak CTIR. 🙏
.
.
.
Laras melirik jarum jam yang melingkar manis dipergelangan tangan kirinya, kemudian melirik ponselnya yang ada diatas meja.
Sudah hampir jam delapan malam. Seharusnya Rudi sudah sampai sejak tadi siang kan ? tapi entah kenapa sampai sekarang lelaki itu tidak kunjung datang atau bahkan sekedar memberinya kabar ? padahal Laras sudah dengan jelas mengatakan untuk membawa dokumen yang dititipkan Tian langsung ke butik. Laras bahkan sampai harus membatalkan rencananya mengunjungi pabrik konveksi tadi sore karena memutuskan untuk menunggu Rudi, tapi kenyataannya sampai hari menjelang malam lelaki itu tidak juga menampakkan batang hidungnya.
‘Apa itu karena pekerjaannya di kator cabang sangat padat yah ?’
Laras bergumam dalam hati saat mengingat kedatangan utama Rudi memang karena harus mengunjungi
kantor cabang indotama group, dan menyelesaikan beberapa pekerjaan yang urgent disana.
“Bu Laras, malam sudah semakin larut.. ibu belum juga mau pulang ?” suara Dewi seorang staf SWD Fashion yang sejak seminggu yang lalu telah ia tunjuk sebagai sekretarisnya itu memecah lamunan Laras begitu saja.
“Iya, wi.. ini baru mau pulang..” ucap Laras kemudian seraya meraih tasnya yang ada diatas meja dan membenahi beberapa barang pribadinya yang berserakan disana untuk dimasukkannya kedalam tas.
Sudah selarut ini bahkan yang tersisa hanya dirinya dan Dewi.. memangnya mau sampai kapan ia akan menunggu Rudi ?
Akhirnya Laras berjalan keluar yang diikuti oleh Dewi, berbasa-basi sebentar dengan satpam yang ada didepan seperti kebiasaanya yang selalu memperingatkan agar tetap waspada menjaga keamanan, yang dibalas anggukan kesiapan oleh dua orang satpam yang sedang bertugas pada shift malam itu.
Laras berpisah dengan Dewi dipelataran parkir, karena sekretarisnya itu juga membawa mobilnya sendiri setiap kali pergi ke butiq.
Tidak sampai lima belas menit berselang Laras sudah berada didepan bingkai pintu apartemennya yang unitnya berada dilantai tujuh. Ia memutuskan untuk bergegas mandi guna menghilangkan kepenatan yang melanda lewat ritme pekerjaan yang dilalui seharian ini.
Tepat saat Laras keluar dari kamar mandi dan duduk didepan meja rias masih dengan menggunakan bathrobe ketika ia mendapati ponselnya yang teronggok diatas meja rias berdering nyaring.
Nama ‘Asisten Rudi’ muncul dilayar ponselnya ketika Laras meraih benda pipih tersebut. Tanpa menunggu lebih lama Laras memutuskan untuk menerima panggilan itu dengan jantung yang langsung berdenyut dengan irama yang tidak teratur.
“Masih di butik ?”
Entah kenapa begitu suara berat Rudi menyapa gendang telinganya untuk pertama kali, tiba-tiba saja Laras merasakan perasaan kerinduan yang menyelinap tanpa permisi.
“Sudah pulang.” memilih menjawabnya dengan singkat, sedikit ketus.
Sosok yang ada diseberang sana malah terdiam usai mendengar jawabanya, membuat Laras menjadi sedikit tidak nyaman.
“Kalau masih sibuk dan tidak punya waktu, antarkan saja dokumen itu besok di butik..”
Masih hening. Namun kemudian..
“Share loc alamat apartemenmu sekarang.. aku akan kesana..”
Kalimat to the point diseberang itu membuat tubuh Laras mematung namun tidak dengan denyut jantungnya yang justru mengalami hal sebaliknya.. seperti sedang salto kesana-kemari. Alhasil Laras masih membeku usai mendengar kalimat minim ekspresi itu.
“Laras..”
Panggil Rudi lagi setelah menunggu sekian lama tanggapan Laras yang tak kunjung ia terima.
“Hhhmm..”
“Kamu mendengarkan aku atau tidak ?”
Intonasi suara Rudi mulai terdengar tidak sabar, tapi yang ada Laras masih tetap membisu, sehingga membuat Rudi harus menghembuskan nafasnya dengan keras. Separuh kesal.. separuh tidak sabar..
“Baiklah.. kalau begitu aku akan menanyakannya langsung kepada pak Tian, dimana sebenarnya alamat apartemenmu..”
“Tunggu !”
“Tunggu apa ?”
Laras mendengus kesal. “Akan aku share loc sekarang !” berucap demikian seraya memutuskan panggilan begitu saja.
Dengus Laras kesal setengah mati saat menatap layar ponselnya ketika menyadari lagi-lagi Rudi membawa nama Tian untuk membuatnya mati kutu.
Sementara itu.. tidak seberapa jauh dari tempat Laras yang sedang misuh-misuh..
Rudi menggelengkan kepalanya berkali-kali begitu menyadari Laras telah memutuskan pembicaraan itu secara sepihak begitu saja dengan tanpa basa-basi.
Detik berikutnya sebuah notifikasi masuk nampak tertera dilayar default ponsel Rudi, yang setelah dibuka seperti dugaannya bahwa pesan itu dari Laras yang telah mengirimkan titik lokasi apartemen yang ia huni.
“Pak Rudi apa pak Rudi yakin mau menginap di hotel saja ? tidak mau ikut dengan saya ke rumah ?” suara pak Tomi menggugah konsentrasi Rudi yang tengah memperhatikan lokasi apartemen yang baru saja di share loc oleh Laras ke ponselnya. Sedikit lega karena menyadari bahwa sepertinya lokasi apartemen Laras tidak begitu jauh dari kantor cabang indotama group, tempat seharian ini dirinya bergumul dengan pekerjaan hingga tak terasa hari sudah larut malam.
Rudi menggeleng kearah pak Tomi yang memang sejak awal menawarkan dirinya untuk menginap dirumah orang tua pak Tomi yang berada disalah satu komplek perumahan di kota B.
“Tidak, pak.. saya sudah terlanjur memesan hotel..” sengaja beralasan demikian, karena tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya bahwa sejak awal ia memang berencana untuk pergi ke apartemen Laras. Istri sahnya yang bar-bar dan keras kepala.
“Kalau begitu saya duluan, pak..” pamit pak Tomi yang langsung beranjak mendekati mobilnya yang terparkir begitu menerima anggukan kepala Rudi.
Rudi sendiri masih setia berdiri dipelataran lobby kantor cabang indotama group sambil menimang kunci mobil kantor yang memang telah dipinjamkan sementara untuknya dengan tujuan memudahkan aktifitas Rudi saat berada di kota B.
Meskipun pak Tian sedikit menekan Rudi agar harus menginap ditempat Laras, namun disudut hati Rudi juga tidak munafik.. bahwa pada kenyataannya ia juga berkeinginan untuk menemui Laras. Rudi bahkan juga merasa sedikit merindukan wanita kasar itu. Merindukan yang dalam artian ingin kembali melakukan aktifitas mereka yang dulunya sering mereka lakukan dalam keadaan terlarang.. dan sekalinya halal malah belum pernah mereka lakukan lagi.
Rudi menggelengkan kepalanya yang dipenuhi khayalan mesum saat tubuh aduhai Laras yang benar-benar ramping itu mulai menginvasi setiap sudut otak kotornya sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali menghubungi nomor Laras. Kali ini Rudi tidak perlu menunggu lebih lama untuk bisa mendengar kalimat ketus khas Laras yang menyapa gendang telinganya.
“Ada apa lagi ?”
“Sudah makan belum ?” tanya Rudi to the point seperti biasa.
“Aku tidak akan makan ma..”
“Baiklah. Akan aku bawakan sekalian.” pungkas Rudi memutuskan saat bisa menangkap kalimat apa yang hendak diucapkan Laras yang tak lain adalah penolakannya untuk makan malam.
“Terserah..”
“Menurut begitu lebih baik..” ucap Rudi sambil mengulum senyum, kali ini memilih mengakhiri pembicaraan itu terlebih dahulu sebelum Laras melakukannya.
Dengan langkah yang bersemangat ia mendekati seorang satpam yang berdiri tidak jauh darinya. “Pak, sate ayam yang enak dimana yah ?” tanya Rudi membuat satpam tersebut menoleh.
“Sate ayam, pak ?”
“Iya, sate ayam..” angguk Rudi.
“Kebetulan tempatnya tidak terlalu jauh disini..” selanjutnya pak satpam itu telah menerangkan rute yang harus dilewati Rudi dengan terperinci untuk bisa mendapatkan tempat yang menjual sate ayam yang katanya paling terkenal di kota B itu.
“Tapi beneran enak kan, pak..?” tanya Rudi lagi meyakinkan.
“Dijamin maknyos, pak.. sate ayam yang paling enak dan paling terkenal ya disitu tempatnya..” jawab pak satpam itu lagi tak kalah yakin. “Makanan kesukaan yah, pak ?” seloroh pak satpam lagi berbasa-basi.
“Iya pak.. dan kebetulan, istri saya juga doyan..” entah kenapa saat mengatakan kalimat itu Rudi merasa sedikit senang. Bisa pamer cerita tentang istrinya kepada orang yang tidak dikenal ternyata menyenangkan juga..
“Wah.. makanan kesukaannya saja bisa sama.. jodoh emang gak kemana yah, pak..”
“Ha ha ha.. bapak bisa aja.. terima kasih ya pak, saya kesana sekarang, takut kehabisan..”
“Iya, pak.. hati-hati..”
Dan bisa-bisanya candaan absurd pak Satpam dengan kumis tebal itu mampu membuat hati Rudi berbunga-bunga.. sehingga tanpa sadar senyum Rudi terus menghias disepanjang wajahnya begitu ia melangkahkan kakinya kearah mobil kantor yang tidak seberapa jauh terparkir.. siap berburu sate ayam.. makanan kesukaan sang istri yang bermulut judes..
.
.
.
Bersambung..
Catettt yah my Readers tersayang.. double up nih.. 😍
Hwayoo jangan lupa dukung author terus dengan menekan favorite, Like, Comment, and Vote.👍
Thx and Lophyuu all.. 😘