CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 - 116


Hayolah.. yang belum mampir di : TERJERAT CINTA PRIA DEWASA dan PASUTRI, mampir yah.. 🤗🤗🤗


.


.


.


Hari sudah menjelang sore ketika Meta selesai menyusun dokumen yang berada di brankas file manakala Pak Tian memasuki ruangannya bersama Rudi.


Sejak Rico mengantarkan Meta tadi siang tepat didepan lobby kantor pusat, tak berapa lama kemudian Pak Tian dan Rudi memang sudah tidak terlihat berada di kantor. Hanya telpon Pak Tian saja yang kemudian ia terima yang memberikannya tugas untuk menghubungi divisi perencanaan guna pemberitahuan persiapan meeting pada besok pagi jam delapan, disusul perintah untuk merapikan meja sang bos besar yang bertabur dokumen tak beraturan untuk kembali disortir, sekaligus langsung mengamankan beberapa dokumen yang sudah final agar bisa disimpan ke brankas file yang ada disudut ruangan.


"Pak Tian, semua dokumen di brankas file sudah saya susun per-tanggal, sisanya yang ada diatas meja adalah dokumen yang memerlukan tanda tangan, satunya lagi dokumen yang baru masuk.." Meta menjelaskan seraya menunjuk dua tumpuk dokumen diatas meja yang sengaja ia susun terpisah meskipun bersisian, tepat disaat Tian telah menghempaskan tubuhnya dikursi kebesarannya.


"Baik, Meta.. terima kasih, by the way, arahan untuk divisi perencanaan untuk meeting besok pagi sudah diinformasikan semuanya kan?"


"Sudah Pak, sesuai yang Pak Tian perintahkan.." Meta mengangguk takjim.


Tian menghembuskan nafasnya. "Huhhf.. finally, besok adalah hari pertama, aku melakukan pekerjaan tanpa dirimu.." Tian berucap sambil menatap Rudi dengan tertawa kecil, namun tetap tak bisa menutupi nada kesedihan dalam warna suaranya.


Meta yang masih berada didepan brankas file sambil mengumpulkan beberapa alat tulis kantor kedalam sebuah box kecil sontak terpaku mendengarnya.


'Melakukan pekerjaan tanpa dirimu?'


'Tanpa siapa? Rudi?'


'Kenapa Pak Tian berkata seolah-olah Rudi akan pergi jauh..?'


Beberapa pertanyaan beruntun menguasai pikiran Meta, meskipun tangannya kembali bergerak untuk meneruskan aktifitasnya yang sedang membelakangi Pak Tian dan Rudi, namun seiring rasa keingintahuannya yang semakin mendalam, gerak tangannya pun ikut melambat.. seolah mengulur waktu.


"Semuanya akan tetap berjalan dengan baik.." kali ini Rudi yang membuka suara.


Tian terdengar membuang nafasnya perlahan. "Hhmm.. aku merasa menjadi seorang murid baru yang harus kembali menyesuaikan diri.." kemudian suaranya terdengar lagi. "Hari ini kamu.. besok tidak menutup kemungkinan, Meta pun akan pergi.." terdengar lirih, namun bagi Meta yang tak menyangka namanya akan disebut dengan nada kesedihan dari mulut seorang Sebastian Putra Djenar merasa dirinya seperti mendengar petir disiang hari.


Meta sontak membalikkan tubuhnya, masih dengan box wadah alat tulis kantor ditangan, ia berdiri terpaku menatap Tian yang juga tengah menatapnya.


"Duduklah disitu.." masih sambil menatap Meta, Tian menunjuk kursi kosong tepat disebelah Rudi.


Meta menghempaskan tubuhnya kekursi yang dimaksud dengan sedikit ragu, setelah terlebih dahulu menaruh box kecil yang ada ditangannya kedalam salah satu laci dari brankas file.


"Meta, dengan sangat menyesal aku harus mengatakannya, bahwa mulai besok sampai diakhir minggu ini, beban pekerjaanmu pasti akan sedikit bertambah, menunggu sampai divisi SDM menentukan pilihan pada beberapa kandidat yang akan menggantikan posisi Rudi sebagai asistenku.."


"Baik, Pak.." ucap Meta perlahan, susah payah menahan rasa keingintahuannya tentang apa yang sebenarnya telah terjadi, dan mengapa Rudi tiba-tiba berhenti menjadi asisten Pak Tian serta memilih meninggalkan Indotama Group.


"Kamu pasti bertanya-tanya kenapa kan..?" ucap Tian seolah bisa membaca pikiran Meta dengan jelas.


Meta mengangguk. "Maaf Pak Tian, tapi.. mengapa tiba-tiba.. semua ini.." mengambang, lewat ekor matanya Meta pun bisa melihat Rudi yang sedikit tertunduk, dan tak bisa dipungkiri sudut hatinya pun ikut terasa sesak.


Sekian tahun mengenal sosok lelaki disampingnya ini dan Meta tidak menemukan sesuatu yang buruk dari Rudi. Rudi adalah lelaki baik serta pekerja keras. Meskipun akhir-akhir ini hubungan mereka berdua seolah semakin mendingin.. itu karena mereka berdua sama-sama berada diposisi yang sama.


'Ada hati yang harus dijaga..'


Itu penyebabnya.


"Karena sudah waktunya.." Tian nampak menatap keduanya berganti-ganti. "Well.. suatu saat, kamu juga akan melangkah keluar dari kantor ini. Dan saat itu tiba, aku juga tidak memiliki kekuatan apapun lagi untuk menahannya.."


Meta tertunduk mendengarnya.


Mendadak kalimat Rico pada malam terakhir mereka di pulau Dewi kembali terngiang jelas.


Saat itu, usai melakukan aktifitas panas selayaknya suami istri, Rico telah mengutarakan keinginannya.. dan Meta pun telah menyanggupinya.


"Aku ingin meminta sesuatu, dan aku sangat ingin kamu menyetujuinya.."


"Tentang apa..?"


Rico terlihat terdiam sejenak seolah mengumpulkan kekuatan untuk mengatakannya. "Kelak.. jika adik Rei hadir disini.." tangan Rico meraba perut datar Meta yang masih polos didalam selimut. "Maukah kamu berhenti bekerja..?"


Saat Meta mendongak ia mendapati wajah Rico lengkap dengan ekspresi penuh permohonan.


"Sayang.. apakah kamu bisa seperti Arini? tinggal dirumah dan menungguku pulang setiap hari.. terus bersama Rei dan anak-anak kita kelak.. melihat mereka tumbuh besar setiap saat.."


Meta mengusap wajah Rico sambil tersenyum. Lelaki itu pasti tidak tau.. bahwa jauh didalam relung jiwa Meta, apalagi ditambah dengan ekspresi wajah Rico saat ini, jangankan mengabulkan impian sedehana Rico, Meta bahkan mampu memberikan seluruh hidupnya untuk lelaki itu.


"Tapi.. itu kalau kamu mau, dan aku tidak akan memaksa. Seandainya kamu masih ingin berkarir.."


"Aku setuju."


Rico terhenyak. Mulutnya bahkan sedikit terbuka mendengar jawaban Meta yang spontan seolah sama sekali tidak membutuhkan waktu untuk berpikir.


"Aku setuju tinggal dirumah, menunggumu setiap hari, melihat Rei tumbuh besar.. dan.."


"Buah hati kita.."


"Daddy.." Meta memilih memeluk tubuh Rico kuat-kuat.


Pembicaraan mereka saat itu begitu manis, seolah Meta bisa melihat seperti apa gambaran masa depan mereka berdua kelak. Sungguh indah.. membuatnya tak sabar untuk segera meniti dan melewatinya.


"Mau ke kota B jam berapa, Rud..?" suara Tian telah mengembalikan suasana hening yang sempat melanda, sekaligus mengurai lamunan Meta.


"Sore ini.."


"Laras sudah tau?" tanya Tian lagi sambil melirik jam tangannya yang telah menunjukkan pukul empat sore.


"Aku baru akan mengabarinya setelah selesai berkemas.."


Tian manggut-manggut. "Meta, kamu juga sudah boleh kembali, jangan lupa meeting besok pagi yah.."


"Baik, Pak.." Meta mengganguk sambil bangkit dari duduknya diikuti Rudi.


"Aku juga harus membenahi ruanganku terlebih dahulu sebelum pergi. Barang-barang pribadiku masih banyak yang belum diberesi.."


Tian mengangguk. "Baiklah.. dan sebentar dalam perjalanan jangan lupa berhati-hati.." ucapan Tian disambut anggukan oleh Rudi, yang kemudian berjalan dibelakang tubuh Meta yang telah melangkah lebih dahulu didepannya.


XXXXX


Suara ketukan perlahan di daun pintu membuat Rudi mengangkat kepalanya untuk menemui asal suara, dimana Meta terlihat berdiri kaku disana.


"Ada yang bisa aku bantu..?"


"Boleh tidak aku masuk?"


"Tentu saja boleh.. ayo masuk saja.."


Meta bergerak perlahan memasuki ruangan Rudi yang terlihat sedang memasukkan beberapa benda kedalam kotak kardus.


"Kenapa begitu tiba-tiba..?" tanya Meta setelah mereka hanya terdiam untuk beberapa saat.


"Seperti kata Pak Tian, sudah waktunya.." jawab Rudi sambil mengulum senyum.


"Aku pikir, kamu tidak akan bisa meninggalkan Pak Tian.."


"Kamu sendiri..? apakah kamu bisa..?"


Meta terhenyak, sambil menatap Rudi dengan begitu lekat. Kepalanya sontak menggeleng, dan entah kenapa rasanya Meta ingin menangis.


"Aku juga. Aku tidak bisa meninggalkan orang sebaik Pak Tian, sehingga Pak Tian harus tega mengusir agar aku bisa pergi.." sengaja menyelipkan canda begitu melihat wajah Meta yang mulai melow.


Meta tertunduk. Akhirnya ia mengerti bahwa ternyata bukan Rudi yang ingin pergi, melainkan Pak Tian lah yang memilih melepas Rudi.


"Kalau tidak begini, maka seumur hidupku.. aku akan terus mengikuti langkahnya.."


Cairan hangat membasahi pipi Meta tanpa bisa dicegah. Hatinya tidak bisa diajak kompromi lagi, karena ia benar-benar merasa akan kehilangan Rudi, berpisah tanpa bisa memeluk lelaki itu.


Namun yang paling membuat hatinya sedih adalah kenyataan bahwa besok bisa saja ia akan mengikuti langkah Rudi.. keluar dari Kantor Pusat Indotama Group yang telah memberikan warna yang begitu banyak dalam hidupnya.


Hanya dengan memikirkan tidak bisa melakukan hal yang berguna untuk Pak Tian cukup membuat Meta merasa gamang.


Pak Tian adalah pribadi yang terlihat sedingin es, namun banyak yang tidak menyadari bahwa kenyataannya sang bos besar memiliki hati yang seluas samudera, serta begitu hangat.


Pak Tian adalah sosok yang mampu menyejukkan segala kemelut, meredam kemarahan, pembuat keputusan yang handal meskipun tak jarang terkesan memaksa.


Namun dalam batas keterbatasannya sebagai manusia, secara garis besar.. Meta belum pernah menemukan sosok yang begitu memikirkan dan memikul beban semua orang seperti Pak Tian, yang ibaratnya selalu berusaha memberikan semua jalan dan pintu kepada semua orang yang dilindunginya, lengkap dengan peta dan anak kuncinya..


"Apa rencanamu setelah ini?" tanya Meta begitu melihat Rudi telah menutup kotak kardus yang berisi barang-barang pribadinya.


"Aku belum memikirkannya. Semua ini terasa sangat cepat, meskipun telah menjadi impianku sejak lama.." kemudian Rudi menyandarkan tubuhnya di pinggiran meja. "Urusan kedepanku sepertinya masih tidak jauh-jauh dari Indotama Group. Tapi hendak memulainya dari mana, dan mana yang akan menjadi prioritas, aku harus memikirkannya terlebih dahulu sebelum memutuskan.."


Meta termanggu. Sekian detik kembali dikuasai keheningan sebelum suara lirih Rudi terdengar.


"Aku lega melihatmu saat ini.."


Meta mengangkat wajahnya untuk mendapati wajah Rudi yang tersenyum padanya.


"Kebahagiaanmu membuatku tenang.."


Kali ini Meta telah menggigit bibirnya.


"Meta.. teruslah bahagia.. karena kalau sampai kamu tidak bahagia, maka aku akan merasa sangat bersalah.."


"T-tidak.. kenapa berkata begitu, Rud? aku mohon jangan merasa seperti itu.."


"Aku minta maaf,"


"Rudi.."


"Memang mengatakannya sekarang tidak akan mengubah keadaan apapun, tapi aku tetap harus mengatakannya agar hatiku lega. Maafkan aku karena pernah hadir dalam kehidupanmu sebagai lelaki pecundang yang tidak bisa memberikan apapun bahkan jika sekedar menjanjikannya. Percayalah.. bahwa semuanya telah mendapat balasan yang sesuai. Kebahagiaanmu sekarang adalah balasan yang berkali-kali lipat lebih indah.."


Rudi menarik nafas lega. Akhirnya ia bisa mengatakannya.. mengatakan sebuah pengakuan yang meskipun teramat sangat terlambat, namun ia merasa sangat puas karena telah membukanya dihadapan Meta.


"Kebahagiaanku sekarang adalah balasan yang berkali-kali lipat lebih indah.. lalu bagaimana denganmu? bukankah itu artinya saat ini kamu juga harus bahagia..? karena kalau tidak.. aku bahkan merasa semua ini seperti tidak adil, jika aku harus bahagia sendirian.."


Rico terhenyak mendengar kalimat Meta yang seolah sebuah pasak besar yang memaku hatinya.


Ia bahkan tidak tau harus mengarahkan biduk rumah tangganya kemana. Bertahan dengan Laras dengan semua sikap dan sifat yang keseluruhannya sangat tidak bisa mengimbangi dan membuatnya nyaman.. atau memilih melepaskan agar tidak terus saling menyakiti seperti ucapan Tian tadi pagi.


"Terkadang kita tidak mengerti, bahwa rasa nyaman bersama seseorang itu sudah ada. Hal yang membuat kita benci tiba-tiba menjadi sebuah rutinitas seiring kita terbiasa menerimanya.. meskipun kita tidak menyadarinya.."


Meta menatap Rudi yang masih membisu dihadapannya.


"Perasaan cinta ternyata seaneh itu yah..? tidak semuanya datang dari pintu yang sama seperti halnya dua manusia yang bertemu, berkenalan, kemudian saling merasa tertarik satu sama lain, dan menjalaninya hingga ke jenjang yang lebih tinggi.. terlihat sesederhana itu untuk orang lain. Tapi aku bersyukur meskipun perjalanan cintaku tidak semulus itu, pada akhirnya aku menemukan apa yang betul-betul menjadi jalan takdir yang telah ditentukan yang di Atas sana.."


Meta menghembuskan nafasnya perlahan, matanya tak lepas menatap Rudi yang masih betah menunduk, menatap lantai keramik.


"Aku juga mendoakan hal yang sama untukmu dan Laras. Kamu berhak bahagia.. Laras juga berhak. Karena jika salah satunya tidak.. maka mustahil untuk yang lainnya.."


Mendengar itu jantung Rudi berdenyut aneh, namun kalimat Meta setelahnya semakin membuat sudut-sudut hatinya merasa ngilu.


"Percayalah.. mencintai seorang diri itu.. rasanya sangat sakit.."


.


.


.


Bersambung..


Bab yang panjang. Jangan lupakan author yah.. 🙏


Like


Comment


Vote


Tip,


Subscribe,


Rate 5,


Author banyak maunya.. 🤭


Thx and Loophyuu all.. 😘