CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Membohongi Rico


Tian yang masih setia mengawasi Arini dengan segala kesibukan memasaknya saat ponselnya kembali berbunyi. Dan ia menghela nafas pelan saat mengeja dalam hati sederet nama yang tidak asing tertera dilayar ponselnya.


‘Rico Chandra Wijaya’


‘Mau apalagi sih dia..?’


Tian memutuskan untuk tidak menghiraukan panggilan itu sampai deringnya usai. Tapi setelah beberapa detik ponsel itu kembali berbunyi, seolah ingin menegaskan bahwa sang penelpon benar-benar gigih tidak ingin  diabaikan.


Arini yang awalnya sibuk mengecek hasil masakan dadakannya yang sepertinya hampir selesai itu akhirnya sedikit terusik, sementara usaha si penelpon itu ternyata tidak sampai disitu karena setelah dering itu kembali usai detik berikutnya ponsel Tian kembali berbunyi, kali ini berganti dengan bunyi notifikasi whatsapp.


“Kenapa tidak diangkat ?” Arini tidak bisa lagi menyembunyikan rasa ingin tahunya.


Tian tidak menjawab namun sontak memijit keningnya. Otaknya mendadak pening, bukan hanya karena mendengar bunyi panggilan Rico yang begitu berisik melainkan saat melihat apa isi pesan whatsapp Rico, yang tak lain adalah foto door acces pintu depan apartemen Tian, yang itu berarti lelaki tengil itu saat ini sedang berada tepat didepan pintu apartemennya.


“Ada apa.. ??”


Ponsel Tian kembali berdering.


“Ssstt..” Tian menempelkan jari telunjuknya sesaat ke bibir Arini, mengisyaratkannya untuk tidak meloloskan suara, namun yang ada jantung Arini malah menggila mendapati gerakan itu.


Setelah berhasil membungkam Arini barulah Tian berani menggeser icon warna hijau dilayar ponselnya, suaranya terdengar menyapa perlahan.


“Halo, Co ?”


“Cepat buka pintunya ! Aku tau kamu ada didalam apartemenmu !”


“Eh ? Tidak.. tidak.. aku sedang tidak berada di apartemen, aku berada diluar sekarang..” elaknya  menyembunyikan kepanikannya.


“Benarkah, ?”


“Tentu saja ! Kamu.. untuk apa mencariku ?”


“Jadi sekarang untuk datang ke apartemenmu saja aku harus butuh alasan ?!”


Tian terdiam, ia malah sedang memikirkan bagaimana caranya bisa mengusir Rico dari depan pintu apartemennya.


Rico memang sering seperti ini, datang menerobos apartemen Tian sudah menjadi kebiasaan Rico. Bahkan jika Tian tidak ada sekalipun sahabatnya itu bisa dengan leluasa menginvasi apartemen Tian. Tapi itu dulu.. sebelum Tian menyembunyikan identitasnya yang telah menikahi Arini sekaligus menyembunyikan istrinya itu di apartemen ini.


“Bahkan sekarang kamu mengganti password door acces apartemenmu. Apa-apaan ini ?! wahh, Tian.. kamu benar-benar sudah berubah menjadi sahabat yang keterlaluan !”


“Sori, Co, aku tidak akan pulang malam ini karena masih banyak urusan yang harus aku selesaikan sementara besok pagi aku harus terbang ke Singapore,” akhirnya Tian menemukan alasan yang tepat untuk mengalihkan perhatian Rico.


“Kau akan ke Singapore ?”


“Yup, sebelum shubuh aku sudah harus berada di bandara.”


“Huhh, baiklah..”


Tian menarik nafas lega.


“Kapan kamu kembali, ?”


“Aku belum tau pasti. Seperti biasa tergantung negosiasinya. Kalau berlangsung alot tentu saja memerlukan waktu ekstra yang lebih lama dari jadwal yang sudah ditentukan,”


“Ooo,”


“So ?”


“Apanya ?”


“Apa kamu akan pulang sekarang ?”


“Tidak,”


“Eh.. apa ?” Tian tergeragap. “Kenapa tidak pulang saja..?” desisnya terlontar begitu saja tanpa sadar.


“Segitu niatnya mau mengusirku ? cih.. keterlaluan..!”


Tian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “B-Bukan begitu maksudku, Co..”


“Aku akan menghabiskan beberapa jam dulu sebelum kembali pulang kerumah.”


“Lalu kau akan kemana ?”


“Entahlah..  yang jelas aku tidak mungkin menghabiskan waktu beberapa jam kedepan dengan berdiri didepan pintu apartemenmu seperti orang bodoh.”


Tian merasa tidak enak sudah membohongi Rico seperti itu karena Tian tau persis bahwa sahabatnya ini sedang berada dalam pesoalan hati yang pelik akan hubungannya dengan Lila. Tapi mau bagaimana lagi ? Bahkan saat ini Tian juga sedang berusaha untuk keluar dari masalah yang sama sehingga mau tidak mau dirinya tidak memiliki pilihan lain selain membohongi Rico dengan kejam.


“Itu Pak Rico ?” tanya Arini setengah berbisik saat Tian sudah mengantongi ponselnya lagi. Sedari tadi ia hanya menyimak ekspresi Tian yang gelagapan mencari alasan saat mencoba menghindari Rico.


“Hemm..”


“Pak Rico masih berada didepan ?”


“Sepertinya sekarang sudah pergi,”


Arini terdiam sejenak. Berfikir bahwa Tian harus membohongi sahabatnya seperti itu tentu saja karena sedang mencegah Pak Rico masuk ke apartemen dan mengetahui apa yang sedang ia sembunyikan dari seluruh dunia.


Dirinya.


Akh, mendadak hati Arini kembali terasa ngilu. Bahwa lelaki itu bahkan belum bisa membiarkan sahabat terdekatnya untuk mengetahui kenyataan tentang dirinya membuat Arini menyadari suatu hal, betapa hari ini terasa begitu manis sehingga nyaris membuat dirinya lupa diri. Berharap Tian sudah bisa menerima kehadirannya dan membuka hatinya lebar-lebar, tapi ternyata..?


‘Haihh.. jangan salahkan Tian, tapi salahkan diimu sendiri, Arini ! Lagipula kalau bukan karena dirimu yang kelewat baper mana bisa tak ada angin tak ada hujan lelaki yang tak lain suamimu yang playboy ini tiba-tiba tertarik begitu saja pada wanita tanpa kelebihan seperti dirimu..?’


Baru satu hari full berada didekat Tian dan menerima sedikit keramahan Tian, Arini merasa hatinya sudah meleleh seperti ini lalu bagaimana ia sanggup menjalani hari-hari selanjutnya dengan hidup dan bernafas disekitar lelaki dengan sejuta pesona ini ?


Arini tersenyum kecut, terlebih saat menyadari bahwa Tian bahkan sudah mencuri sekaligus ciuman pertama dan keduanya dalam waktu singkat, tanpa penolakan dari dirinya, tanpa protes dari dirinya, tanpa ungkapan kata cinta dari Tian, bahkan Tian tidak bersusah payah berusaha merayunya sedikit pun seperti layaknya pria yang ingin mencium seorang wanita pada adegan sederet novel-novel online yang sering ia baca.


Meskipun dalam kehidupan nyata boro-boro berciuman, Arini bahkan tidak pernah berani pacaran dan memilih menolak semua lelaki yang pernah menyatakan cinta padanya karena doktrin ayah padanya.


‘Apa aku terlihat begitu murahan sekali dihadapan Tian ? Betapa bodohnya.. tau dia hanya memanfaatkanku tadi mengapa tidak kutampar saja lelaki kurang ajar ini.  Berani-beraninya mencium tanpa permisi..! Membuatku melambung setinggi langit setelah itu membanting nya ke bumi dengan keji..!’


“Melamunkan apa ?”


Arini yang tersadar sontak menggeleng perlahan. Mencoba mengukir senyum meski pasti senyumnya terlihat kaku.


“Sebaiknya kita makan dulu. Kalau tidak sop nya keburu dingin..” ucapnya datar sembari menghindari tatapan Tian di manik matanya. Arini tidak ingin kekesalan bercampur kesedihan dihatinya bisa ditemukan Tian dengan begitu mudah karena sudah pasti tergambar jelas diwajahnya saat ini.


Tian melangkahkan kaki ke meja makan sambil dalam hati tak henti-hentinya menyumpah serapah Rico yang selalu saja berhasil membuatnya kalang kabut seperti ini.


Lagian Tian juga merasa heran, entah kenapa akhir-akhir ini intensitas Rico dalam mengacaukan hidupnya seperti


bertambah frekuensinya. Sepertinya Lila sudah berhasil membuat sahabatnya itu menjadi gila.


Tian menghempaskan tubuhnya dikursi sedangkan Arini yang baru saja selesai menghidangkan makanan diatas meja sudah mulai menyendokkan nasi dan sop ke mangkok untuk Tian tak lupa ia menambahkan potongan ayam yang sempat ia goreng tadi.


“Terima kasih..” Tian menyambut suguhan itu yang ditanggapi Arini dengan senyum tipis, sedikit terpaksa, sebelum kemudian ia duduk diseberang meja dan mulai menyendok makanannya sendiri.


Mereka mulai makan dengan suasana meja makan yang hening, hanya terdengar sesekali bunyi denting sendok yang beradu dengan piring mereka masing-masing.


“Apa makanannya tidak enak ?”


“Egh ?” Tian yang sedikit tekejut mendengar pertanyaan yang tiba-tiba menyeruak dalam keheningan itu sontak menggeleng. “T-Tidak, ini enak kok,” kemudian ia memasukkan satu suapan penuh kemulutnya.


“Aku pikir ini tidak enak..” lirih Arini.


“Kenapa berfikir seperti itu ? Aku tidak berbohong, semua ini sangat enak..” ucap Tian bersungguh-sungguh.


Arini terdiam sejenak. “Lalu.. kenapa terlihat seperti tidak berselera ?”


Tian terdiam.


‘Huhh.. aku terlihat tidak berselera bukan karena makanan ini tidak enak, tapi karena kehadiran Rico yang sudah seperti jailangkung. Merusak suasana saja..!’


Tian ngedumel dalam hati, namun ia mencoba tersenyum. “Aku bersungguh-sungguh, ini rasanya enak sekali.”


“Benarkah, ?” nada suara Arini terdengar ragu.


“Tentu saja, kamu kan sekarang sedang memakannya juga, kamu bisa merasakannya sendiri kalau ini enak,”


Dalam hati Arini membenarkan. Ia memang tidak merasakan ada yang kurang dari semua rasa masakan sederhananya ini, namun ekspresi wajah Tian yang datar membuat hatinya tak urung menjadi was-was.


“Sepertinya menyenangkan juga kalau bisa sering-sering makan dirumah seperti ini..”


“Tidak masalah, aku bisa memasak setiap hari,” entah kenapa Arini bisa berucap seperti itu. Kalimat itu seperti terlontar begitu saja dari mulutnya, membuat Arini menyesal mengapa ia begitu ceroboh, karena jika tanggapan Tian akan menyakitkan seperti hari-hari kemarin, itu hanya akan membuat hatinya menjadi semakin terluka.


“Kalau masakanmu selalu enak seperti ini, boleh juga..”


Mendengar ucapan Tian yang seperti itu hati Arini otomatis langsung menghangat. Seketika ia langsung lupa bahwa beberapa menit yang lalu dirinya begitu terluka oleh sikap Tian yang dengan mudahnya mematahkan hatinya hingga berkeping-keping karena begitu ingin menyembunyikan kenyataan tentang dirinya dari seisi dunia. Arini bahkan tidak menyadari jika raut wajahnya sekarang bahkan langsung sumringah.


“Tenang saja.. rasa masakanku selalu enak, karena aku sangat ahli dalam urusan dapur," saking senangnya mendengar pujian Tian tanpa sadar dengan sedikit kesombongan akan kemahirannya didapur ia sudah berucap tanpa beban.


Lagi-lagi Arini mengutuk mulutnya yang sudah telanjur berucap sesumbar dengan tidak tahu malunya. Bahkan tadi rasanya ia sudah ingin menepuk dadanya dengan bangga.


“Oh ya…”


“Hemm..,”


“Kalau begitu berhenti saja bekerja..”


“Egh ?” langsung terhenyak.


Ekspresi wajah Arini yang awalnya dipenuhi sisa-sisa senyum kesombongan langsung menghilang begitu saja mendengar kalimat yang terlontar acuh dari sosok yang malah asik mengunyah makanan itu, seolah-olah isi piringnya jauh lebih menarik untuk ia pelototi daripada harus menatap wajah pas-pasan Arini yang sudah memucat dihadapannya.


“Iya. Berhenti bekerja saja, dan tinggal dirumah. Cukup jadi istriku.”


Arini terdiam, menatap lelaki dihadapannya yang terlihat masih fokus menikmati makanan yang ada dihadapannya. Sepertinya Tian bahkan tidak menyadari bahwa ucapannya barusan sanggup menorehkan makna ke-baperan tingkat tinggi di sudut hati Arini.


“Memangnya sekarang belum jadi istrimu.. ?”  kalimat itu menyeruak lirih begitu saja. Arini bahkan terlambat menyadari bahwa sepertinya ia sudah sangat kelepasan setelah lelaki dihadapannya nampak tersedak usai mendengar perkataannya.


Bersambung..


digantung pas lagi ‘sayang-sayangnya..’ hahaha…


Sebelum next, jgn lupa dukung author yak.. Lophyuu muahhh..