CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 - 124


Double UP !! 🥰


Yang penasaran dengan perjalanan cinta debay-debay lucu ini, yuk meluncur ke : PASUTRI 😍


Nanti dari sana bukan hanya ada kisah Rei loh.. tapi akan berkembang juga kisah cinta Sean dan kisah cinta adik-adik mereka yang lucu.. 🤗


.


.


.


Rico baru saja selesai menutup rapat disore itu. Ia melangkahkan kakinya keluar dari meeting room lebih dahulu, hendak menuju ruangannya manakala Dani muncul dihadapannya dengan tergesa.


"Ada apa, Dan?" tanya Rico keheranan, namun tidak menghentikan langkahnya yang memasuki ruangannya, dengan Dani yang akhirnya memutuskan mengekori langkahnya kedalam.


"Sejak tadi Pak Tian mencoba menghubungi tapi katanya Pak Rico tidak mengangkat telpon.."


"Bagaimana mau mengangkat kalau ponselku ketinggalan. Nihh..!" ujar Rico sambil meraih ponselnya yang tertinggal diatas meja. "Memangnya ada apa, Dan? kelihatannya penting sekali..?" ujarnya lagi sambil membuka lock ponselnya lewat sederet angka.


"Pak Tian ingin Pak Rico menghubungi beliau sesegera mungkin. Penting katanya."


Bertepatan dengan itu alis Rico langsung bertaut begitu matanya menatap layar ponselnya, yang menunjukkan begitu banyak panggilan tak terjawab dari Tian juga dari ibu.


Rico memilih menekan notifikasi chat wa yang dikirimkan Tian terlebih dahulu dan matanya membola saat membacanya.


"Aku pergi dulu, ada urusan yang sangat penting..!"


Dani hanya melongo saat melihat Rico menyambar kunci mobil yang ada diatas mejanya dan melesat bak peluru keluar dari ruangannya.


Dengan langkah tergesa Rico langsung menuju lift, berdiri gelisah seraya menanti pintu lift terbuka sekaligus menunggu nada sambung panggilan telponnya untuk Tian dengan tidak sabar.


Chat wa Tian cukup membuatnya panik. Berbagai pemikiran buruk menghantui benaknya saat ini. Tentang mengapa Meta bisa begitu kebetulan bertemu dengan kedua orangtuanya.. dimana mereka bertemu.. apa yang telah terjadi.. mengapa Meta tidak memberitahu..


"Halo, Co..?"


Suara Tian telah menyapanya dari ujung sana.


"Tian.. aku.."


"Hotel Mercy nomor 307."


Pungkas Tian seolah merasa tidak perlu berlama-lama mendengar apapun penjelasan Rico.


Rico terperangah mendengarnya. Dan rasanya ia ingin pingsan saja manakala mendengar ucapan Tian selanjutnya..


"Meta berada disana.. dikamar Ayah dan Ibumu.."


XXXXX


"Akhirnya kamu menelpon juga.." Yunita Wijaya terlihat menarik nafas lega begitu mengangkat panggilan masuk dari putra semata wayangnya.


"Aku akan kesana.."


Alis Yunita Wijaya berkerut mendengar kalimat Rico yang terdengar dingin dan datar. "Rico.. Meta ada disini, dia.."


"Aku sudah tau.."


"Meta pingsan dan.."


"Apa..?!"


"Dengarkan Ibu dulu, Co.."


"Ibu.. tolong jangan melakukan apapun padanya, aku mohon, Bu.."


"Rico, dengar dulu.."


Klik.


"Dasar anak keras kepala..!"


Ahmad Wijaya menatap wajah istrinya yang telah mengumpat kesal.


"Ada apa lagi, Bu..? apa kata Rico..?"


"Rico akan segera kesini.."


"Baguslah kalau begitu.."


"Tapi Rico telah menutup telponnya begitu saja sebelum mendengar penjelasan Ibu. Sepertinya dia takut Ibu akan melakukan sesuatu pada istrinya..! benar-benar keterlaluan..! memangnya Ibu sekejam itu..?!"


Ahmad Wijaya mengulum senyum mendengar istrinya yang mengomel lagi. Wanita itu sepertinya sudah lupa kalau awalnya ia telah membuat gemetar menantunya lewat omelan yang panjang, sebelum ia mengetahui kabar bahagia bahwa kemungkinan besar menantunya sedang mengandung cucu mereka.


"Padahal aku mau mengatakan kabar bahagia, sikap Rico malah seperti itu.." gumam Yunita Wijaya lagi kecewa, wajahnya terlihat diselimuti kesedihan.


"Tidak apa-apa. Masih lebih terasa surprisenya kalau nanti ia mendengar langsung. Yah.. meskipun baru diagnosa awalnya Tio.." ujar Ahmad Wijaya seraya menyebut nama dokter keluarga mereka yang baru saja berpamitan.


"Tapi Ibu yakin kalau diagnosa Tio tidak mungkin meleset.."


"Yang benar, Bu?"


"Feeling Ibu tidak mungkin salah.." seloroh Yunita Wijaya seraya tersenyum bangga penuh keyakinan. Namun detik berikutnya air mukanya berubah saat melihat kearah ranjang, dan mendapati pemandangan Meta yang tengah berusaha menjejakkan kakinya keatas lantai. "Stop.. Ibu bilang stop.. mau kemana lagi kamu, Meta..?" langkahnya bergegas mendekati ranjang dengan ekspresi wajah diliputi ketegangan.


"Anu.. Bu.. aku.."


"Masih mau ke toilet?" pungkas Yunita Wijaya cepat.


"T-tidak.."


"Tidak..?" mendengar jawaban tergeragap itu sepasang mata Yunita Wijaya bersinar tajam. "Kalau begitu naikkan lagi kakimu."


Meta terhenyak mendengar titah yang aneh itu.


"Malah melotot.. ayo cepat berbaring, tidak lama lagi Rico akan tiba, Ibu tidak mau disalahkan kalau kamu sampai kenapa-napa lagi, dan jangan harap Ibu juga akan mengampunimu kalau kamu tidak hati-hati menjaga calon cucu Ibu..!"


Detik berikutnya Meta benar-benar terpana, saat menyadari apa makna yang terkandung dalam kalimat Ibu Rico, yang nadanya masih saja terdengar tegas tak terbantah.


XXXXX


Suara ketukan keras dan berulang tanpa sabar terdengar dari arah daun pintu, membuat tiga pasang mata yang ada didalam kamar itu sontak mengarah kearah yang sama, karena suara ketukan itu terdengar terus menerus, seolah ingin menghancurkan daun pintu.


"Biar aku saja yang membukanya, Bu.. itu pasti Daddynya Rei.." Meta yang pertama kali tersadar mencoba kembali bangkit dari atas ranjang.


"Tetap ditempatmu." kalimat tegas itu sanggup membuat gerak tubuh Meta terhenti. "Biar Ibu yang akan membukanya.." ujar Yunita Wijaya lagi sambil bergegas bangkit menuju pintu yang sekarang bukan hanya terdengar diketuk, tapi digedor seperti petugas yang hendak menggerebek pesta narkoba.


Pintu terpentang, seraut wajah panik milik Rico terlihat berdiri tegak didepan pintu dengan peluh yang bercucuran seperti seorang atlit lari yang baru selesai mengikuti lomba marathon.


"Meta mana, Bu..?" ujarnya tanpa aba-aba langsung menerobos masuk dengan wajah cemas.


"Daddy.." panggil Meta lirih rasanya ia ingin melompat dari ranjang dan langsung berlari kearah lelaki tampan yang berdiri dengan penampilannya yang berantakan itu, namun anehnya tak sedikit pun mengurangi ketampanannya. Rico malahan terlihat semakin menawan ditambah dengan bulir peluh yang menghiasi wajahnya.


Rico yang tatapannya tertuju lurus keatas ranjang langsung terbentur pada seraut wajah pias yang juga sedang menatapnya dengan mimik yang menahan tangis.


Secepatnya Rico beringsut mendekat, langsung merengkuh tubuh Meta kedalam pelukannya. "Sayangku.."


Meta menenggelamkan wajahnya kedalam pelukan Rico seraya menghirup aroma tubuh lelaki itu dalam-dalam seolah aroma yang ia hirup itu begitu ampuh menenangkan jiwanya..


.


.


.


Yukk SUPPORT dulu sebelum otw NEXT BAB - nya yah.. 🤗