CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 - 106


Curhat dikit :


Akhir-akhir ini ada beberapa reader yang baca CTIR secara marathon, suka nanya, kenapa novel ini yang baca cuma sedikit..?


Aq bingung juga jawabnya. Mungkin beginilah nasib author remahan peyek.. kalian yang bertahan sampai sekarang aja sudah bikin aq berbunga-bunga.. Eeaaa.. 😅


(Lebaayy ihh 🤭)


.


.


.


Hil menatap Han yang duduk dengan wajah lesu dihadapannya. Hil bahkan tak kuasa menahan keinginan kembarannya itu ketika hendak memesan sebuah minuman beralkohol, yang kini sedang dinikmati Han.


Rasanya Hil tidak bisa percaya jika Han yang ia kenal di sepanjang hidupnya bisa terlihat gundah gulana seperti ini hanya karena seorang wanita yang baru ia temui sesaat lalu.


Tapi apa boleh dikata?


Pada kenyataannya Hil benar-benar menyaksikan sisi baru dari Han.. yang baru kali ini ia lihat dari lelaki itu.


Usai makan malam besar bersama para tamu istimewa kak Hendi, padahal Hil sudah mewanti-wanti kembarannya itu.


"Han, jangan nekad mendekati Laras, karena sepertinya lelaki dewasa yang ada disebelah Laras itu adalah pacarnya.."


"Memangnya kenapa? baru pacarkan? belum juga jadi suami.." seloroh Han dengan enteng saat mereka bersiap naik ke panggung untuk menghibur semua pengunjung yang memadati Bar Dewi Lagoon malam itu.


"Ishh.. Han.. sepanjang makan malam tadi aku memperhatikan Laras dan lelaki itu.."


"Sudah diam. Apa kamu pikir cuma kamu yang memperhatikan mereka? aku juga memperhatikannya dengan seksama. Kalau mereka pasangan sungguhan, tidak mungkin mereka sekaku itu. Tidak ada romantisnya sama sekali. Mereka bahkan tidak saling bicara satu sama lain.."


"Mungkin saja mereka sedang bertengkar.."


"Ssst..." Han malah menempelkan jari telunjuknya keatas bibir Hil yang langsung menepis tangan Han dengan kesal, membuat Han tergelak menerima kemarahan kecil Hil atas ulahnya.


"Han, lalu bagaimana kalau mereka benar-benar pasangan sungguhan..? masa iya kamu mau merusak hubungan.."


"Kamu ini bicara apa sih, Hil? sudah.. jangan berfikir yang tidak-tidak. Be positive thinking.."


"Tapi mereka.."


"Tidak mungkin.." Han tetap keras kepala, sambil beranjak naik keatas panggung dengan tidak sabar, langsung menuju ke posisinya yang awalnya akan menabuh drum.


Han meninggalkan Hil begitu saja yang akhirnya memilih mengikutinya naik ke panggung yang sama, menuju ketengah dan meraih mic dengan wajah yang masih menyisakan cemberut.


Sebaliknya, Han merasa semangatnya seolah sedang berlipat ganda, karena saat makan malam hampir selesai, Han yang melihat Laras terlihat beranjak dari tempat duduknya, tidak lebih dari tiga puluh detik kemudian ia pun berpura-pura beranjak dari duduknya.


Han meyakini satu tempat yang dituju Laras hanya satu, pasti tempat itu adalah toilet wanita.


Untuk itulah Han nekad menyusul Laras kesana, memilih menyandarkan tubuhnya kesalah satu dinding, menunggu dengan sabar dalam beberapa jenak.. dan benar saja.


Tidak sampai dua menit berlalu, Laras terlihat berjalan kearahnya dengan dahi berkerut.


"Hai.." sapa Han dengan senyum yang cerah.


"Han? kenapa kamu disini?" kepala Laras sesaat celingak-celinguk bingung, entah apa yang ingin ia cari, sebelum akhirnya kembali memusatkan tatapan kearah Han dengan penuh keheranan.


"Menunggumu.." ujar Han lagi. Lirih, namun cukup sumringah.


"A-apa..?"


"Aku dan Hil belum punya nomor kontakmu, apa aku boleh menyimpannya?" tanya Han lagi dengan tangan kanan yang menimang ponselnya sendiri.


Detik berikutnya Laras merasakan getaran samar ponsel yang ada didalam tas kecilnya, karena dihadapannya Han sedang menghubungi nomor yang barusan ia berikan dengan tujuan yang sama, meninggalkan jejak nomor kontak lelaki itu agar tersimpan dalam log panggilan masuk.


"Jangan lupa di save, karena aku juga telah mengirimkan nomor kontak Hil via chat wa."


Laras mengangguk lagi. "Iya, pasti akan aku save nomor kalian berdua," ucap Laras lagi dengan riang.


Laras juga tidak tau apa alasannya, mengapa ia bisa begitu nyaman berbincang bahkan bercanda dengan Han yang notabene baru dikenalnya. Sementara dengan Hil, ia merasa seperti telah mengenal begitu lama dengan kembaran Han yang cantik itu.


Sejauh ini Laras bukanlah tipe orang yang suka berteman, bahkan bisa dibilang, Laras tidak punya teman sama sekali. Sejak dulu Laras adalah tipe penyendiri, dan saat ini hanya Rudi satu-satunya orang yang selalu menjadi teman ia bicara, meskipun lebih sering Rudi terlihat tidak terlalu menyimak bahkan tidak peduli dengan apa yang Laras bicarakan, namun sejauh ini.. semua itu sudah cukup membuat Laras puas bisa mencurahkan segala hal yang ingin ia bicarakan dan ungkapkan.


"Oh iya.. satu lagi, Ras.. aku ingin menanyakan sesuatu, yang kalau aku tanyakan didalam sana sepertinya tidak terlalu tepat.." imbuh Han masih dengan senyumnya yang menawan.


"Menanyakan apa?"


"Lagu yang ingin kamu request nanti.."


Laras tertawa kecil. "Astaga, aku pikir sesuatu yang sangat penting.."


"Bagiku itu sangat penting. Karena lagu yang ingin kamu dengar.. pastilah lagu yang kamu suka.."


Laras terdiam sejenak, kemudian berucap perlahan sambil melirik Han. "It's you..?"


"Sezairi Sezali..?" sepasang mata Han melebar.


Laras mengangguk.


"Itu lagu kesukaanku.." sinar mata Han langsung berbinar. Entah kenapa rasanya senang sekali memiliki sebuah kesamaan dengan Laras, meskipun itu hanya berupa lagu favorite.


"Benarkah?" tatap Laras yang disambut anggukan antusias Han.


"Aku akan menyanyikan lagu itu sebentar, khusus untukmu."


"Baiklah.. aku juga tidak sabar mendengarnya." kemudian seolah teringat sesuatu, Laras kembali berucap. "Sepertinya aku harus kembali.." ucap Laras kemudian, tanpa bisa dicegah.


Akhirnya Han hanya bisa mengangguk, membiarkan Laras beranjak dan menjauh.


Dan begitulah.. tidak berapa lama kemudian, diatas panggung live music milik Bar Dewi Lagoon, dengan penuh semangat Han menabuh drum bersama dua orang rekannya, mengiringi Hil saat mereka perform.


Namun meskipun demikian sudut matanya selalu tertuju dibawah sana, dimana para tamu kakaknya terlihat duduk dengan pasangan masing-masing dengan begitu mesra satu sama lain, menyisakan Laras dan lelaki dewasa berwajah dingin, yang seolah tidak pernah tertarik menatap Laras yang malam itu terlihat begitu cantik dan bersinar.


Benak Han dipenuhi tanda tanya, serta rasa penasaran yang begitu banyak, tentang siapa lelaki angkuh disebelah Laras, dan apa hubungan mereka berdua.


Sampai pada saat Hil berhasil mengajak Laras naik keatas panggung, mempersembahkan sebuah lagu yang teramat sendu.. bukan hanya itu, bahkan sepasang mata yang terlihat berpendar indah dan ceria setiap kali bicara dengannya itu kini terlihat bertelaga, nyaris meloloskan bulir air mata yang membuatnya harus berkali-kali memberikan support diam-diam untuk menguatkan Laras agar bisa melanjutkan usahanya menghibur seluruh pengunjung yang ada dibawah sana, yang sedang terpukau dengan suara lembut serta visual Laras yang begitu menawan.


Sementara Han?


Untuk pertama kalinya Han merasa hatinya ikut terluka begitu menemukan kesedihan mendalam dikedalaman mata Laras yang bersinar sendu dan begitu rapuh. Jauh berbeda dengan Laras yang ia temui tadi sore, muda, ceria, usil, sedikit judes, dan penuh keberanian. Membuat Han seperti dihadapkan pada dua sosok yang berbeda pada diri satu orang yang sama.. membuat Han juga meyakini satu hal.. bahwa Laras, sedang tidak baik-baik saja..


.


.


.


Bersambung..


"Katanya kesel sama Laras.. kok sekarang malah kasihan sih?😅 Hayooo.. hayoo.. nah kan.. 🤭"


Like, Comment, Dan berikan semua support yah.. 🥰


Thx and Lophyouu all.. 😘