
Ditunggu kunjungannya di :
‘Cinta Eleana dan Panglima Perang’.
Bantu like, coment, dan favoritekan, biar bisa ajukan kontrak juga kayak CTIR.. 🙏
.
.
.
Hari mulai menjelang malam saat Rudi mengarahkan mobilnya kembali ke apartemen. Tatapan matanya lurus mengawasi jalanan, sesekali nafas berat berhembus dari bibirnya, seolah dengan melakukannya sesering mungkin segala kekecewaan yang ada didalam lubuk hati bisa ikut menguap bersama udara.
Tidak seharusnya ia merasa patah hati kan ?
Meskipun dalam beberapa tahun terakhir hubungannya dengan Meta cukup dekat tapi selama itu tidak pernah ada komitmen diantara mereka.
Dan jika hari ini dirinya mendapati kenyataan bahwa seorang Rudi Winata tidak lagi menjadi orang yang berarti.. itu sama sekali bukan kesalahan Meta. Setelah sekian lama tidak pernah memberi gambaran apa-apa tentang masa depan.. terasa wajar jika wanita mana pun tidak bisa bertahan semakin lama.
Rudi menghentikan mobilnya disebuah taman kota, tidak seberapa jauh dari apartemen miliknya. Hanya mematikan mesin mobil dan menurunkan kaca mobil sport hitam kebanggaannya.
Rudi mengeluarkan sebungkus rokok dari dashboard, mengambilnya sebatang, menyalakannya, kemudian mulai menghirupnya dalam-dalam seraya menikmati suasana malam.
Pandangan Rudi hanya mengarah keluar tak tentu arah.. fikirannya menerawang.
Terasa masih lekat dalam ingatannya kejadian tadi sore, bagaimana sepasang mata Meta yang terpana saat mendapati dirinya berdiri tepat dibingkai pintu.
Sayang sekali mereka belum sempat bercerita banyak, baru sekedar bertanya kabar dengan sedikit basa-basi, sesaat setelah Meta mempersilahkan dirinya untuk duduk di teras rumah yang mungil namun terkesan asri itu.
Rudi bahkan baru saja menyerahkan buku agenda dan power bank, dua buah barang milik Meta yang tertinggal dilaci meja kerjanya, manakala sebuah suara rengekan manja terdengar seiring dengan munculnya seorang bocah lelaki yang sedang mengucek matanya berkali-kali.
“Mommy.. mommy..”
Rudi tertegun saat menyadari bahwa bocah lelaki itu adalah Rei, yang tak lain merupakan anak lelaki pak Rico.
“Iya sayang.. ada apa ? kenapa menangis ? mana nenek ?”
Meta yang melihat kemunculan Rei
langsung mengangkat tubuh mungil itu keatas pangkuannya,mengusap air mata, membujuk, mengelus lembut punggung kecil yang membenamkan diri dalam pelukan Meta yang belum juga berhenti merajuk.
Semua itu terekam jelas dimata Rudi, sementara Meta malah sebaliknya. Kehadiran Rei sejenak membuatnya lupa bahwa Rudi sedang berada disisinya sambil menatapnya lekat.
Ibu Arum, ibunya Meta yang mengekori langkah Rei dari dalam rumah mendadak terhenyak saat melihat sosok Rudi yang duduk di kursi teras.
“Nak.. Rudi ? sudah lama..?” wanita paruh baya itu menyapanya seraya tersenyum ramah.
“Tidak bu, barusan..”
“Ibu, ada apa sebenarnya..? bukannya tadi Rei masih baik-baik saja waktu aku tinggal..?” Meta terdengar berucap khawatir saat mendapati rengekan Rei yang tak kunjung teredam.
“Namanya juga anak kecil, Meta.. sebentar-sebentar ceria.. sebentar-sebentar rewel..” ibu Arum nampak mengelus pucuk kepala Rei yang masih berada dalam pelukan Meta. Ikut berusaha menenangkan.
“Mommy.. Lei kangen daddy.. mommy telpon daddy.. Lei kangeenn..”
“Oh.. jadi Rei kangen daddy.. Iya,sayang.. kalau begitu.. mommy ambil telpon dulu yah.. kita telpon daddy..”
"Mommy juga kangen daddy ..?" pertanyaan polos yang membuat Rudi menahan nafas menunggu jawaban.
"Iya.. iya.. mommy juga kangen daddy, kita telpon daddy yah..?"
Rudi yang menyaksikan adegan itu nyaris tidak mempercayai penglihatan dan pendengarannya sekaligus.
Interaksi antara Meta dan Rei terlalu manis, ia bahkan bisa melihat ketulusan dan kasih sayang dikedua bening mata Meta saat menatap Rei. Dan sepasang mata Rei yang dipenuhi cinta.. cinta yang tulus dari seorang anak yang mengharapkan cinta yang sama dan meminta untuk selalu diperhatikan dan disayangi.
“Rudi.. sebentar yah.. aku bujuk Rei dulu.. mungkin dia ngantuk, makanya rewel..”
Rudi hanya bisa menganguk kecil saat harus mengiringi langkah Meta yang menggendong Rei masuk kedalam rumah, meninggalkan dirinya dengan ibu Arum yang juga mematung ditempatnya.
Berada dalam situasi seperti itu mau tak mau membuat Rudi menjadi serba salah.
“Sebaiknya aku pulang saja, bu.” ucapnya seraya menatap ibu Arum yang juga sedang menatapnya dengan mimik wajah yang kikuk.
“Kenapa buru-buru, nak Rudi ?”
“Tidak apa-apa, bu.. saya juga cuma mampir untuk mengantar barang Meta yang tertinggal dilaci meja kerjanya..”
“Ya sudah.. kalau begitu hati-hati dijalan..”
Dan ia akhirnya hanya bisa melangkah gontai, meningalkan teras rumah Meta yang mungil namun dipenuhi aneka bunga yang tertata rapi didalam pot.
Hatinya gamang.. seperti merasakan
sesuatu yang hilang.
Apa mau dikata ?
Penyesalan hari ini seolah tak berarti, meskipun dirinya mulai memantapkan hati. Padahal hidupnya yang awalnya sepi mulai terisi sejak mengenal Meta. Keceriaan Meta mampu memberi warna dalam hidupnya yang miskin warna.
Perjuangan panjang melawan musuh
yang adalah dirinya sendiri terasa sangat melelahkan. Gangguan Post Traumatic Stress Disorder yang ia derita pasca kecelakaan telah berhasil menggerus semua rasa kepercayaan diri yang ada didalam dirinya.
Selama ini seorang Rudi Winata tidak lebih dari sosok manusia yang mati rasa. Bagaimana mungkin ia memberikan kesempatan untuk hatinya mengenal cinta.. sementara disaat yang sama ia bahkan tidak bisa mencintai dan memberi kepercayaan kepada dirinya sendiri ?
Jika bukan karena pak Tian yang selama ini memberikan dirinya kepercayaan dan dorongan, serta menjadi satu-satunya orang yang bersikeras untuk membujuknya menjalani teraphy dan rutin mengkonsumsi obat, mungkin hingga detik ini bayang-bayang trauma masih terus mengejarnya.
Tidak mudah terus hidup dengan membawa ingatan kelam.. menyaksikan kecelakaan maut secara beruntun dengan mata kepala sendiri, menyaksikan kedua orang tua meregang nyawa ditengah himpitan badan mobil yang terbalik. Bunyi berdecit, suara tumbukan yang mengerikan, terdengar juga suara ledakan.. pecahan kaca.. ada asap.. ada kobaran api.. rembesan darah.. teriakan.. rintihan kesakitan.. tangisan pilu..
Saat itu rasanya Rudi ingin memilih mati saja.
Sempat kehilangan kesadaran nyaris tiga bulan lamanya.. jiwanya bahkan menolak untuk kembali, tapi takdir berkata lain.. ia justru menjadi satu-satunya orang yang selamat setelah tragedy berdarah itu.
Perlahan ia mengeluarkan ponselnya yang tadi sore sengaja ia nonaktifkan demi menghindari telpon pak Tian yang pasti akan mencegahnya mendatangi Meta.
Pak Tian..
Bagi Rudi, CEO Indotama Group itu adalah satu-satunya malaikat yang berjasa dibalik perjuangan dirinya yang panjang dan melelahkan. Kalau bukan karena pak Tian ? bagaimana bisa saat ini ia berdiri sebagai manusia yang berguna ?
Sekarang Rudi mengerti mengapa pak Tian terkesan begitu gigih menyabotase semua akses yang ia miliki untuk bisa mendekati Meta kembali. Dan alasannya sama sekali bukan seperti ia kira selama ini, bahwa pak Tian berlaku tidak adil padanya hanya karena seorang Rico Chandra Wijaya adalah orang yang bisa meminta apapun kepadanya..?
Tidak. Ternyata bukan itu alasannya. Dan Rudi sudah menemukan alasan yang sesungguhnya.
Sama hal-nya dengan pak Tian dan dirinya, Rei juga telah kehilangan ibunya disaat usianya masih terlalu kecil, namun disaat yang sama Meta menjadi satu-satunya alasan.. yang membuat bocah itu tidak pernah merasa bahwa sebenarnya ia telah kehilangan ibunya.
Logo buah yang tergigit muncul dilayar ponsel Rudi begitu ia berhasil mengaktifkan ponselnya kembali.
Tiba-tiba saja ia sudah menekan sebuah nama yang ada didalam kontaknya seraya mengambil kesempatan untuk menyalakan kembali sebatang rokok saat menunggu respon dari nomor yang sedang ia hubungi.
“Ada apa ?!” suara jutek, kasar, dan tidak tau sopan santun itu langsung menyapa gendang telinga Rudi begitu panggilannya diterima.
“Ck.. ck.. ck.. sudah melakukan
kesalahan masih menunjukkan sikap yang tidak baik..” bergumam, sambil
menyemburkan asap rokok ke udara.
“Jangan mengajariku sikap yang
baik, sementara kamu sendiri melakukan hal yang jauh lebih buruk..!” Laras malah membalas kalimatnya dengan acuh.
‘Inikah yang aku butuhkan sekarang ? wanita bermulut kasar, berotak licik, yang membuatku ingin selalu bertengkar terus-menerus ?'
Rudi tertawa dalam hati saat tersadar betapa buruk hubungannya dengan Laras, sehingga setiap kali berbicara dengan gadis itu tanpa sadar ia seperti sedang melepaskan adrenalin.
Dosa-nya pada gadis itu tidak terampuni, tapi entah kenapa Rudi pun selalu tidak bisa memperlakukan Laras dengan baik.
“Memangnya kesalahan apa yang sudah aku buat ? kamu jangan menuduhku yang tidak-tidak..!”
Rudi tertawa pelan. Entah merasa
lucu dengan kalimat penyangkalan Laras yang terlalu polos.. atau justru karena sebait kalimat, buah dari pemikiran konyolnya barusan.
“Sudahlah.. meskipun aku tidak tau dengan pasti apa yang sedang kamu rencanakan sehingga memberikan aku alasan untuk menemui Meta.. intinya aku harus berterima kasih padamu..”
Jauh diseberang sana Laras malah
bengong mendengar kalimat Rudi. Didalam otaknya sibuk mereka-reka tentang apa yang telah terjadi sehingga Rudi bisa mengucapkan terima kasih.
‘Bodohnya aku.. seharusnya aku tadi membuntutinya untuk memastikan dia melihat kak Rico dirumah Meta atau tidak..?’
‘Tapi kalau mendengar suara Rudi yang terlihat gamang ini, aturannya Rudi memang telah bertemu kak Rico kan ? tapi mengapa lelaki itu malah berterima kasih..? bukankah seharusnya dia sakit hati ?’
‘Egh.. tapi bukankah tadi kata Rudi, ia masih tidak tau dengan pasti apa yang sedang aku rencanakan sehingga memberikannya alasan untuk menemui Meta ?’
‘Jadi sebenarnya Rudi bertemu kak Rico tidak sih..?’
“Berhenti menebak-nebak hasil dari
skenario diotak licikmu itu. Sebaiknya kamu bersiap mulai sekarang karena dua puluh menit lagi aku akan menjemputmu..” melirik sekilas michael kors yang melingkar dipergelangan tangannya. “Jangan membuatku menunggu..!”
Rudi hampir mengakhiri sambungan telpon itu secara sepihak namun urung saat mendengar pekikan tertahan dari seberang..
“Tunggu ! Tunggu dulu !!”
Rudi mendengus. “Apa lagi.. keberatan ? tidak takut kalau aku akan..”
“Tidak.. tidak.. bukan keberatan..”
“Lalu kenapa ?”
“Aku.. tidak mau dijemput..” Laras berucap pelan. Tentu saja ia tidak mau Rudi menjemput, karena tidak mustahil semua gerak-geriknya didalam rumah ini telah terpantau dengan baik oleh Tian.
“Huuhhf… baiklah, terserah padamu. Tapi jangan bawa kendaraan sendiri, naik taxi online saja..”
Alis Meta mengerinyit mendengar
syarat aneh tersebut. “Memangnya kenapa ?”
“Jangan membantah.”
“Tapi..”
Klik.
“Damned !”
Laras mengumpat kesal saat
menyadari pembicaraan tersebut telah diputus Rudi secara sepihak.
.
.
.
Bersambung..
Double up.. yah gaiss.. 🥰
Please give me your Like, Comment, and Vote. Thx and Lophyuu all.. 😘