
Yang belum Like bab sebelumnya.. yukk bantu author untuk genapin Like nya dulu biar performa author gak jalan ditempat.. 🤗 Terima kasih.. 😘
Ditunggu kunjungannya di :
‘Cinta Eleana dan Panglima Perang’.
Bantu vote, like, comment, dan favoritekan, biar bisa ajukan
kontrak juga kayak CTIR. 🙏
.
.
.
Meta menyandarkan tubuhnya yang penat dikursi. Layar laptopnya masih dibiarkan menyala.. karena Meta hanya membutuhkan waktu sejenak untuk mengistirahatkan tubuh dan fikirannya yang lelah, sebelum kembali meneruskan pekerjaannya.
Jam dinding yang tergantung disalah satu dinding ruang kerja pak rico nampak menunjukkan pukul setengah empat sore. Itu berarti Meta masih harus menunggu satu jam setengah lagi untuk bisa mendatangi Rei dilantai dua.
Hhh..
Meta membuang nafasnya yang berat, tersenyum kecut saat menyadari betapa pahitnya kenyataan yang ia jalani sekarang, dimana nyaris dua bulan terakhir ini untuk sekedar bertemu Rei saja, pak Rico telah benar-benar memberikan jadwal yang ketat untuknya.
Sejauh ini semuanya berjalan dengan lancar. Rei tidak lagi seperti diawal yang setiap saat rewel seperti biasanya sehingga harus bersama dengan Meta setiap saat, karena pada akhirnya sedikit demi sedikit bocah itu mulai terbiasa melepas kepergian Meta dari pintu kamarnya dipagi hari dengan alasan pergi bekerja.
Beruntung bagi Meta, Rei sepertinya sudah sangat hafal bahwa meskipun ia tidak bisa melihat mommy-nya sepanjang siang, tapi saat hari mulai menjelang malam Rei pasti sudah mulai rewel lagi menanyakan kehadiran-nya. Dan pada waktu sore menjelang malam itulah merupakan satu-satunya kesempatan Meta yang tersisa untuk bisa bersama Rei, sebelum kehadirannya akan kembali di monopoli oleh suster kembali.
Yah.. seperti itulah kondisi yang sengaja diciptakan pak Rico untuknya. Semakin hari dirinya semakin dijauhkan, tidak mustahil suatu saat Rei bahkan akan melupakannya, kan ?
Meta tersenyum getir. Sepertinya dirinya benar-benar tidak lagi memiliki harapan apa-apa. Karena sejak kepulangan mereka bertiga yang menghabiskan weekend dirumah ibu, pak Rico benar-benar telah menerapkan standar yang ketat untuk dirinya.
Sepenggal percakapan mereka didalam mobil di sore itu saat mereka bertiga pulang dari rumah ibu kembali melintas dibenak Meta.
“Kamu sudah bisa tenang sekarang, karena barusan Dani sudah memberitahu bahwa ia telah berhasil mengirimkan nominal yang kamu inginkan ke rekeningmu..” pak Rico berucap datar seraya menyelipkan kembali ponselnya kedalam saku.
“Benarkah ? terima kasih, daddy..”
Meta membuat pemandangan
sepasang mata yang berbinar. Sengaja berbicara sedikit genit demi menambah kekesalan lelaki dihadapannya sambil mengambil kesempatan dengan kehadiran Rei yang sedang berada diantara mereka.
Rei dengan lincahnya berpindah dari pangkuannya ke pangkuan pak Rico setelah beberapa saat lalu juga melakukan hal yang sama, berpindah dari panguan pak Rico ke pangkuannya. Dan Rei telah melakukan hal serupa berkali-kali, terus seperti itu tanpa henti layaknya tingkah bocah pada umumnya yang tidak bisa duduk diam.
Saat itu hanya tatapan tajam pak Rico yang ia terima, terasa menusuk hingga ke tulang namun Meta telah benar-benar nekad, tak peduli meskipun lelaki disampingnya nampak menahan geram.
Apa dirinya terlihat sedang bergurau ? atau sedang memperlihatkan betapa keras kepala dirinya ? atau malah sedang pamer betapa tinggi harga dirinya ?
Saat itu Meta tidak ingin lagi memikirkan seperti apa pak Rico menilai dirinya. Yang jelas lelaki
itu hanya menganggapnya sebagai alat tukar-kan ? jadi biarkan saja pak Rico merasakan sendiri, semahal apa seorang Armetha Wulansari.
Meta telah memaksakan negosiasi sepihak yang gila. Ia lelah menolak saat pak Rico tidak ingin menerima pengembalian uang satu milyar beserta dengan barang-barang elektronik yang memenuhi seisi rumahnya, hanya dengan dalih karena harga itu pantas, mengingat Meta telah bersedia menikah dan menjadi mommy pura-pura untuk Rei..?
Sial..! harga itu terlalu murah untuk membelinya !!
“Baiklah.. jika semua ada harganya, maka tambahkan aku dua kali lipat.”
“Apa ?!” saat itu sepasang mata pak Rico terlihat membola. Detik berikutnya lelaki itu membisu sekian lama, seraya tetap menatapnya dengan pandangan yang mereka-reka.
“Kenapa ? tidak sanggup ?” dan Meta malah balas menatapanya dengan tatapan mengejek, sengaja menambah keruh persoalan.
Bercanda !
Uang sebesar itu tidak ada artinya, pastinya juga tidak seberapa untuk seorang Rico Chandra Wijaya. Mana mungkin tidak sanggup ? apalagi jika menyangkut kebahagiaan anak semata wayang.. pak Rico bahkan terlihat sanggup menyerahkan nyawanya.
Meta tau bahwa pak Rico terhenyak bukan karena permintaan nominal dua kali lipat yang ia minta. Tapi lebih kepada tidak menyangka mengapa seorang seperti dirinya bisa menjadi begitu culas dan gila uang !
Egonya marah.. tapi sesungguhnya bathin Meta menangis, saat harus membuat dirinya terlihat seburuk itu dihadapan pak Rico.
Tapi mau bagaimana lagi ? karena meskipun Meta menjadi seorang malaikat untuk lelaki itu.. ketulusan hatinya tidak pernah ada artinya, dan kasih sayangnya untuk Rei tetaplah dianggap dusta.
'Damned !'
Kalimat sialan itu sudah merubah keseluruhan Meta dalam sekejap. Hati Meta terasa sakit, jantungnya juga sakit, tulang-tulangnya juga.. harga dirinya apalagi.
Yah tentu saja. Karena pak Rico adalah tipe orang yang selalu bertindak menggunakan logikanya.. sementara dirinya selalu mengedapankan hati yang selalu mengalahkan logika.
Saat merasa telah melakukan hal yang baik namun pada akhirnya ditolak.. mungkin didalam hati pak Rico pasti dengan mudahnya akan berkata.. ‘Ya sudahlah..’
Lalu bagaimana dengan dirinya ? apakah dia tetap bisa bertahan untuk terus merasa baik-baik saja, dan tidak terjadi apa-apa dengan hatinya ?
Entahlah..
Bisa jadi pak Rico telah sangat tersinggung dengan sikap jahatnya yang nekad meminta bayaran dua kali lipat atas segala bentuk ketulusannya yang tidak dianggap. Pak Rico bahkan mengatakan akan menambah uang bulanan sebesar sembilan digit selagi ia masih dibutuhkan.
‘See ?’
‘Selagi seorang Meta masih dibutuhkan.’
Lalu siapa yang lebih kejam ?
Pak Rico bahkan dengan mudah mengatakan kalimat, yang bagi Meta hal itu bahkan tidak kurang dari sebuah ramalan yang pasti, bahwa suatu saat.. akan tiba masanya dirinya tidak dibutuhkan lagi.
Dan setelah insiden itu, semakin hari Meta merasa dirinya semakin tidak berarti. Rei semakin terasa jauh.. pak Rico apalagi.
Pernikahan mereka memang tidak memiliki kontrak apapun, dan dirinya tidak terikat perjanjian apapun. Dengan kata lain, pak Rico bisa membuang Meta kapan saja, jika dirinya sudah dirasa tidak berguna lagi.
Selain perjanjian yang mengatur kontrak pekerjaan Meta dalam rangka penanganan khusus proyek indotama times square, yang bahkan proses pembangunan fisiknya telah selesai seratus persen, Meta tidak akan punya ikatan apa-apa lagi, jika pak Rico mengambil keputusan untuk menendangnya keluar dari rumah besar ini.
Saat ini pekerjaan Meta hampir rampung. Tinggal menghandle launching dan menyelesaikan proses sewa-menyewa dengan para tenant*) mall, yang prospeknya juga nyaris mencapai sembilan puluh persen, alias hampir mendekati finish.
Hal itu sekaligus seperti sebuah signal untuk Meta.. mengingatkan bahwa waktunya pun tinggal sedikit.
“persiapkan semua bahan presentasi-nya dengan baik, karena meeting besok kamu harus ikut. Kamu juga yang akan mempresentasekan langsung managemen pengelolaan mall selanjutnya..”
Itu kalimat pak Rico saat menelponnya tadi siang.
Tanpa ada basa-basi sedikitpun didalamnya. Terdengar singkat, padat, jelas, dan terkesan sangat ingin menutup pembicaraan secepat kilat. Mungkin mendengar suara Meta berlama-lama di ponsel saja bisa membuat lelaki itu muak.
Tidak ada lagi telpon yang menanyakan kabar Rei, karena sekarang pak Rico malah lebih memilih untuk menelpon suster Rei daripada menelpon dirinya.
“Rasanya sudah lama sekali kalian tidak pernah mengunjungi ibu lagi. Weekend ini apa kalian punya waktu ? ibu kangen Rei, nak..”
“Sepertinya tidak bisa, bu.. pekerjaan pak Rico sedang banyak-banyaknya.. pekerjaanku juga..”
Pembicaraan dengan ibu yang menelponnya tadi pagi kembali terngiang.
Entah ini sudah kali ke-berapa ibu selalu menelponnya dan meminta hal yang serupa, dan entah sudah kali ke-berapa juga ia menolak permintaan ibu dengan alasan yang sama.
Ibu terdengar terdiam cukup lama. Sebelum dengan berat hati akhirnya lewat sebuah kalimat yang sama, lagi-lagi Meta harus memilih untuk mematahkan hati dan harapan ibu kembali..
“Tolong jangan menelpon pak Rico untuk sekedar mewujudkan keinginan ibu yah. Ibu pasti tidak mau kan kalau pekerjaan pak Rico ikut terbengkalai hanya karena permintaan ibu..?”
“Iya nak.. ibu mengerti, ibu janji tidak akan menelpon nak Rico lagi..”
.
.
.
Bersambung..
*Tenant*) \= Penyewa*
Favoritekan novel ini, like dan comment setiap bab-nya, dan berikan hadiah serta vote yang banyak.. adalah harapan author selalu.. 🤗
Thx and Lophyuu all.. 😘