CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Ironi


Busyeett dahh..!! baru niat mau ngilang udah pada ribut aja kalian..!!


Hahahahaha....!!!! 🤣🤣🤣


.


.


.


“Bik.. tolong bersihkan semuanya yah.. jangan ada bau-bau makanan yang tertinggal karena aku tidak mau istriku merasa mual hanya karena mencium bau makanan..” Rico memberi titah pada bik surti yang hendak membereskan meja makan dengan dibantu dua orang maid.


“Iya, pak Rico tenang saja.. bibik akan bersihkan semuanya..”


“Oh ya.. Tian, kita jadi membahas rencana kerja yang baru itu kan ?”


Tian menganguk. “Mumpung ada waktu ini, boleh saja..”


“Baiklah, tapi aku akan panggil Lila dulu untuk turun..”


Tian hanya mengangkat jempolnya sebagai jawaban. “Co, kami akan menunggu diteras samping yah,” ujar Tian sambil beranjak dari duduknya, sementara Rico menganguk dan langsung menaiki anak tangga.


“Ayo kita keteras,” Tian menatap Arini yang sejak tadi hanya menatapnya dengan pandangan bingung, terlebih saat mendengar Rico menyebut nama ‘Lila’ barusan. Tian langsung tersenyum. “Iya.. aku tau apa yang ada difikiranmu, tapi nanti tanyakan sambil kita jalan menuju teras.. ayo, kita tunggu Rico dan Lila disana..” Tian langsung mengamit bahu Arini dengan lembut, menuntunnya ke teras samping rumah Rico yang menghadap penuh kearah taman yang begitu indah dihiasi lampu yang syahdu.


Begitu mereka menghempaskan tubuh masing-masing di single sofa Arini sepertinya memang sudah tidak sabar untuk bertanya. “Sayang.. apa Lila itu.. Lila yang..”


Tian menganguk sambil terus tersenyum menatap mata Arini yang bergerak-gerak bingung. “Iya, Lila yang itu. Ariella Hasyim, Ceo PT. Mercy, yang dulunya sering menjadi target utama kecemburuanmu yang akut..”


“Sayang !!” Arini memekik tertahan, langsung memasang wajah cemberutnya.


Tian terkekeh.


“Pantas saja sejak diperjalanan tadi kamu selalu membuatku penasaran. Kamu sengaja yah ingin membuatku terkejut..?” sengitnya tidak terima dengan ulah Tian yang tidak memberitahu terlebih dahulu hal yang sangat mengejutkan ini.


Tian sudah tergelak. “Tentu saja. Tapi sayang sekali, Rico sudah merusak kesenanganku dengan menyebut nama Lila.. padahal aku sangat suka melihat wajahmu saat sedang terkejut. Benar-benar menggemaskan..”


“Jahat !”


Kali ini tinju Arini terhenti diudara, karena Tian sudah lebih dahulu menangkapnya.


“Lepas !” matanya melotot.


“Ssst..“ Tian memberi isyarat saat menyadari akan adanya kehadiran sang tuan rumah. Perlahan ia melepaskan tinju kecil Arini yang ada dalam genggamannya itu sambil tetap tersenyum usil membuat Arini semakin tidak sabar untuk mencoba meninju lengan itu lagi, namun akhirnya ia memang harus menahan keinginannya itu dulu.


Buru-buru mereka bersikap normal seolah sedang duduk dengan santai sebelum akhirnya..


“Ayo sayangku.. duduk disini. Ini adalah kali pertama kita akan memperkenalkan diri secara resmi sebagai sepasang suami istri dihadapan bos besar kita, Ceo Indotama Group..” Rico berucap lebay, sambil menuntun posesif tubuh istrinya Lila pada sebuah sofa panjang yang berseberangan dengan Tian dan Arini.


Sikap Rico yang sok over protektif itu tidak hanya membuat Arini dan Tian yang melihatnya merasa salah tingkah, Lila saja sampai harus menyikut kecil perut Rico menerima perlakuan lelaki itu yang terang-terangan ingin pamer kemesraan.


“Diantara kami ber-empat tidak ada satupun yang tidak saling mengenal.. jadi kamu tidak usah lebay begitu, Co..”


Ucapan Tian membuat Lila merasa sangat malu, namun berbeda dengan suaminya yang tidak tau malu yang masih bisa cengengesan kesana kemari. Sementara Arini.. ‘lagi-lagi wanita itu..’ Lila berucap dalam hati, saat melihat Arini yang hanya diam dengan ekspresi bingung dan sedikit tidak nyaman.


“Maafkan saya Pak Tian, saya tidak bisa menemani makan malam tadi karena kondisi saya yang..”


“Eh.. eh.. eh.. sebentar.. sebentar.. kalimat apa itu ? Saya ? Pak Tian ? Tidak.. tidak.. mulai sekarang jangan bicara formal begitu.. panggil saja dia Tian..” protes Rico terang-terangan, membuat Lila sontak menatap Rico dengan tatapan galak.


“Iya, Lila.. Rico benar. Panggil saja aku Tian seperti waktu kita kuliah dulu. Aku juga sejak awal merasa risih saat harus berbicara fomal denganmu, tapi karena saat ini sudah tidak ada lagi yang kalian tutup-tutupi dari hubungan kalian, maka aku juga merasa seperti tidak terbebani lagi..” ucap Tian sambil tersenyum tulus.


Lila menarik nafas lega. “Baiklah.. T-Tian..” ucapnya sedikit terasa kaku dilidah saat mengucapkannya.


“So, bagaimana Mercy Green Resort ?” tanya Tian lagi berbasa-basi.


“Sejauh ini semuanya berjalan dengan baik, tapi sayangnya.. saat ini aku sudah tidak bisa menghandle semuanya secara langung..”


“Tuh kan, apa aku bilang. Kesehatanmu dan calon anak Rico Chandra Wijaya ini lebih penting dari segalanya.. kamu malah tidak mendengarkan aku sejak awal..” lagi-lagi Rico kembali berucap dengan begitu percaya diri, membuat telinga Lila memanas karena risih, dan akhirnya dia hanya bisa kembali memelototi suaminya yang super lebay itu.


Bertepatan dengan itu bik surti kembali muncul membawa nampan berisi sepiring besar potongan beberapa macam buah dan setoples kue kering, sementara di belakangnya seorang maid nampak membawa nampan berisi dua gelas jus dan dua gelas kopi sekaligus.


“Tian, apa sebaiknya kita minum kopi diruang kerjaku saja ? kita bicarakan perencanaan kerjasama yang kemarin sempat tertunda itu sekarang.. bagaimana ?” usul Rico lagi sambil menatap Tian sekaligus mengingatkan, kali ini raut wajahnya sudah berbeda. Begitulah Rico.. sepertinya lelaki itu hanya bisa serius jika berhadapan dengan pekerjaannya saja..


“Boleh saja, ayo..” Tian bangkit dari duduknya.


“Arini, kamu bisa ngobrol dengan Lila sebentar kan.. aku harus membicarakan hal yang penting dengan Rico.”


“Baik, p-pak.. aku akan menunggu disini, dengan bu Lila..” Arini mnganguk cepat meski kalimatnya tergeragap.


“Lila, aku tinggal sebentar yah..”


“Iya, Co. Bicarakan saja apa yang ingin kalian bahas, biar aku menunggu disini saja dengan Arini. Iyakan Arini..?” sambil tersenyum ramah pada Arini yang menganguk kikuk karena tidak menyangka akan ditodong dengan pertanyaan yang tiba-tiba meminta pendapatnya seperti itu. “Bik, tinggalkan saja jus yang untuk aku dan Arini disini, kemudian nanti kopi nya ditaruh diruang kerja Rico saja yah..”


“Oh iya, bu..” bik surti menganguk paham, kemudian memberi isyarat kepada maid dibelakangnya untuk menaruh dulu dua gelas jus keatas meja dan membawa kembali dua gelas kopi untuk dibawa keruang kerja Rico.


Sementara dua Ceo tampan itu sudah berjalan beriringan kedalam, menuju ruang kerja Rico yang letaknya tidak seberapa jauh dari teras samping itu, meninggalkan Lila dan Arini yang masih dilingkupi keheningan.


“Tumben tidak kaget..” Lila membuka suaranya lebih dahulu.


Arini sedikit terhenyak mendengar kalimat pembuka itu, namun sontak ia menjawab perlahan, mencoba tersenyum. “Sebenarnya awalnya kaget.. tapi tadi pak Tian sudah memberitahukan aku terlebih dahulu..”


“Oohh..” Lila mengangguk-angguk kecil, kemudian melirik sekilas wanita didepannya yang sedang menunduk sambil memilin-milin jemarinya satu sama lain, terkadang menyentuh cincin yang melingkar manis dijarinya itu beberapa kali. “Sepertinya Tian terlihat sangat bahagia sekarang..”


Arini tersentak mendengar kalimat yang seperti sebuah ironi itu, namun saat ia menatap wajah Lila, wanita itu malah sedang tersenyum padanya sambil menyodorkakan sebuah garpu kecil yang disambutnya dengan sedikit ragu.


“Ayo coba ini,” Lila sudah mencomot potongan mangga yang ada diantara beberapa potongan buah yang tertata rapi dipiring besar. “Kalau tidak suka yang asem, kamu bisa pilih buah yang manis..” Lila menunjuk potongan semangka, melon, dan pepaya yang semuanya berbentuk dadu.


“Iya bu Lila..”


“Sstt.. panggil Lila saja,”


Arini menatap Lila lagi. “B-baik.. Lila..” mencoba membalas senyum yang tidak pernah surut itu.


“Arini, kamu tau tidak.. aku punya firasat bahwa kedepannya kita pasti akan menjadi teman yang baik, seperti suamiku dan..”


Mengambang sejenak, melihat dengan jelas ekspresi Arini yang juga seperti sedang menahan nafas saat menunggu lanjutan kalimatnya.


‘You have got the answer, Lila..’


Dan karena semua pemandangan dihadapannya itu.. membuat Lila bersorak gembira dalam hati.


 “Tian..”


Arini menelan ludahnya kelu, menggigit bibirnya dalam diam, sebelum akhirnya memilih untuk menusuk pelan sepotong semangka dengan garpu yang diberikan Lila padanya, berharap semua kegugupannya teralihkan..


.


.


.


.


Bersambung…


Menunggu Like, Comment, dan VOTE. Hehehe.. 🤗🤗🤗


Terima kasih yah.. 😊😊😊


Lophyuu.. ALL.. 😘😘😘