CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Bukan Plester


Sebelum kesini, gak lupa kan dukung author di bab sebelumnya ? 🤔


Ok gaiss.. kalau sudah, yuk bab dua torang gass.. hehe.. 😅


.


.


.


“Itu pasti Rudi, biar aku yang buka..”


Seolah  baru saja terlempar ke dunia nyata akhirnya Tian berinisiatif untuk beranjak kearah pintu kamar, meninggalkan Arini yang masih berdiri terpaku dengan dada berdebar kencang, teramat kontras dengan wajah yang masih dipenuhi semburat.


“Langsung dibawa masuk semua, Rud..”


Suara Tian yang memerintahkan Rudi yang sedang berdiri tepat dibingkai pintu kamar mereka dengan dua orang pegawai hotel yang sedang menenteng beberapa buah paper bag, akhirnya cukup ampuh mengembalikan kesadaran Arini yang barusan tercerai berai.


“Baik pak,” Rudi melangkah lebih dahulu kedalam kamar suite tersebut sebelum akhirnya mengisyaratkan kedua orang pegawai hotel, itu untuk menaruh semua paper bag diatas karpet tebal yang ada disisi ranjang.


“Terima kasih, kalian boleh kembali,” Rudi berbicara dengan dua orang pegawai hotel yang baru saja membantunya membawa berbagai barang keperluan pak Tian dan istrinya yang memang sama sekali tidak membawa apa-apa, setelah menjelang sore tadi memutuskan melakukan perjalanan yang mengingkari rencana awal ini.


“Kami permisi dulu, Pak..” Salah satu dari dua orang pegawai hotel tersebut nampak berucap sopan sekaligus mewakili temannya. Mereka berdua menganguk takjim sebelum akhirnya undur diri.


Rudi menanggapinya dengan menganguk, sebelum kemudian dengan sedikit membungkuk ia mengambil tiga diantara sekian banyak paper bag yang tergolek disana, yang kemudian ia taruh sedikit terpisah dari yang lain.


“Saya taruh semuanya disini saja yah, Pak.. dan tiga paper bag yang saya sendirikan ini khusus keperluan Pak Tian,”


“Iya, Rud.. letakkan saja disitu semuanya,”


Arini yang melihat pemandangan itu sontak mendekat dengan alis yang mengerinyit nyata. “Kenapa banyak sekali sih.. ini apa saja isinya ?” ia ikut-ikutan bertanya karena merasa penasaran.


“Semua ini merupakan kebutuhan yang nantinya akan diperlukan Bu Arini selama disini..” ucap Rudi menjelaskan sebelum akhirnya ia menatap Tian lagi, “Kalau sudah tidak ada lagi yang harus saya lakukan, saya permisi dulu sebentar, Pak, nanti saya kembali saat waktunya makan malam.“


Tian menganguk. “Kamarmu di sebelah kan..?”


“Iya, Pak,”


“Baiklah.. nanti kalau ada apa-apa saya hubungi lagi,”


Rudi menganguk kemudian menunduk takjim. ”Baiklah, Pak Tian.. bu Arini.. saya permisi,” Rudi berbalik keluar dari kamar mereka setelah mengatupkan pintu terlebih dahulu sebelum akhirnya beranjak kekamarnya sendiri yang letaknya bersebelahan persis dengan kamar sang bos besar.


Rudi beniat untuk mandi terlebih dahulu sebelum mengecek kesiapan makan malam Pak Tian dan sang istri yang saat ini pasti sedang disiapkan oleh para deretan chef handal yang ada di dapur Red Luxury hotel.


Sementara itu, Arini masih berdiri tegak mengawasi sejumlah paper bag dengan berbagai branded merk terkenal yang terongok begitu saja disisi ranjang. Dalam hati Arini sibuk menebak-nebak, meskipun mereka berangkat kesini tanpa membawa persiapan apapun, tapi melihat semua yang ada dihadapannya ini Arini malah berfikir memangnya kebutuhan apa yang ia butuhkan sehingga memerlukan begitu banyak barang seperti ini ?


“Kenapa bengong ?” tegur Tian keheranan melihat Arini yang hanya diam mengawasi paper bag itu satu persatu tapi belum menyentuhnya sama sekali.


“Ini..”


“Itu semua barang yang kamu butuhkan,”


“Sebanyak ini ?”


Tian tidak langsung menjawab, ia malah membungkuk guna meraih tiga buah paperbag yang sengaja disisihkan Rudi tadi kemudian mengeluarkan salah satu isinya yang ternyata sebuah kaos dan celana bermuda dengan merk sebuah brand pakaian pria, dan melemparkannya begitu saja keatas ranjang. “Apa kamu lupa kalau kita kemari tanpa membawa apa-apa ?”


‘Benar juga.. tapi.. tetap saja ini terlalu banyak..’


Bathin Arini masih mengawasi semua itu dengan takjub.


“Aku mau mandi dulu. Dan selama aku mandi sebaiknya kamu periksa dulu semuanya satu per satu, kalau-kalau masih ada keperluanmu yang kurang kamu bisa langsung minta Rudi untuk membelikannya untukmu.” lelaki itu kemudian ngeloyor begitu saja kedalam kamar mandi tanpa mengindahkan tampang bengong Arini yang masih terpesona dengan kehadiran paper bag yang setelah ia hitung dalam hati jumlahnya mencapai sepuluh buah.


XXX 


Arini baru saja selesai mengeluarkan dan menyusun semua isi paper bag-nya yang terdiri dari pakaian, peralatan mandi, bahkan sampai pada satu set peralatan kecantikan merk ternama.


Satu hal yang pasti, keseluruhan isi


paper bag itu semuanya memiliki harga yang tidak murah. Bahkan ada beberapa pasang outfit yang saking harganya sangat fantastik, sempat membuat leher Arini tercekat.


Arini sudah selesai menyusun semuanya dengan rapi di wadrobe yang merupakan salah satu fasilitas pelengkap Suite Room Red Luxury Hotel, manakala Tian keluar dari kamar mandi dengan rambut basah, hanya dengan menggunakan bathrobe.


Pemandangan indah tersebut sontak merayu sepasang mata Arini untuk menikmati salah satu keindahan ciptaan Tuhan yang nyata didepan mata, namun sekuat tenaga Arini menahan kedua matanya yang penasaran agar tidak kembali menoleh.


“Bagaimana ? apakah masih ada kebutuhan kamu yang kurang ?” Tian menatap Arini yang terlihat berdiri dengan bahasa tubuh yang sedikit gelisah.


“Ehmm.. anu.. sebenarnya..”


Tian mengerinyitkan dahinya. “Ada apa ?”


Arini berdiri menimbang-nimbang, disisi lain merasa malu mengatakannya namun disisi lain dirinya sangat butuh. Apakah ia harus mengatakan apa yang sangat ia perlukan dengan kondisi tubuhnya saat ini pada lelaki dihadapannya ?


“Keluar sebentar ? mau kemana ?”


“Aku hanya perlu ke supermarket, atau mini market.. atau warung..”


“Tidak boleh.” Potong Tian secepat kilat. “Memangnya apa sih yang kamu butuhkan sampai hari gini masih mau mencari warung segala ?”


“Anu.. aku hanya mau mencari sesuatu..” bersikeras.


“Aku akan menyuruh Rudi kesini.. biar Rudi saja yang membeli sesuatu yang kamu butuhkan itu..” langsung meraih ponsel yang tergeletak diatas nakas dan menelpon Rudi.


‘Aduhh.. bagaimana ini..?’


Arini membathin dengan kalut.


“Rudi, kesini sebentar,”


“Iya, Pak..?”


“Nanti langsung masuk saja,” hanya  berucap begitu, kemudian langsung melempar ponselnya kembali keatas ranjang.


“Kenapa harus se-repot ini sih ? aku hanya perlu membelinya sebentar dan..”


“Memangnya sepenting apa benda yang mau kamu beli itu ?” Tian sudah menatap Arini dengan tatapan yang mulai bercampur kesal.


Arini membisu.


“cemilan..?”


Menggeleng.


“Pakaian dalam ?”


“Ihh.. apa-apaan sih..!” Arini merenggut kesal.


“Lalu apa ?”


“Anu..”


“Apa'an ?” Tian nampak tak sabar.


“Ehmm.. pembalut,”


Alis Tian bertaut. “Pembalut ? benda apa itu ? plester ?”


Arini menatap Tian kesal. “Aku sedang datang bulan, aku butuh pembalut. Bukan plester !”


“Ohh,” Tian yang terkejut akhirnya hanya ber-oh ria. Tidak tau harus menjawab apa sedangkan Arini sudah membuang wajahnya yang memerah kesamping.


Jadi benda itu namanya..


‘pembalut..?’


Dan itu dipergunakan untuk wanita yang sedang..


'datang bulan ?’


‘Oh, no….. double shit !!’


Tian memaki dalam hati. Setelah bermenit-menit lamanya akhirnya ia baru menyadari situasi seperti apa yang sedang ia hadapi saat ini.


Yah.. situasi blunder yang selalu terjadi seolah ingin menguji sejauh mana kesabarannya. Refleks Tian memijit keningnya. Pasrah saat menyadari bahwa hingga detik ini.. betapa semesta alam pun sepertinya benar-benar belum mau berpihak padanya..


.


.


.


.


.


Bersambung..


(Readers be like : “Huhh.. gagal maning..!!”  😡 ….Hahaha..!! 🤣)


Like, comment, vote, subscribe profil, favorite kan.. ditunggu yah..😃


Lophyuuuu... all... 😘