CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Part2 – 025


Ditunggu kunjungannya di :


‘Cinta Eleana dan Panglima Perang’.


Bantu like, coment, dan favoritekan, biar bisa ajukan kontrak juga kayak CTIR. 🤗


.


.


.


Tian mengawasi Laras dengan


seksama, sementara tangannya terlipat didada. Sampai sejauh ini Tian telah menyimak semua planning kedepan Laras terkait dengan kontrak Fashion Milan yang sepertinya akan berdampak besar pada jalan kehidupannya kelak.


Meskipun terdengar diucapkan dengan penuh keyakinan yang bulat namun entah kenapa Tian tetap merasa ada kejanggalan pada keputusan besar Laras tersebut.


Jika Tian ingin mengkilas balik.. ia seperti menemukan episode yang hilang. Menjelang weekend minggu barusan.. dirungannya ini Laras masih bersitegang dengan Tian saat Tian memaksa Laras menangani SWD Fashion secara penuh. Sempat melempar kontrak Fashion Milan keatas mejanya karena tidak setuju dengan keputusan sepihak Tian waktu itu, bahkan sempat mengajukan syarat maha berat bahwa untuk membuat dirinya setuju dengan keputusan Tian, Tian harus terlebih dahulu mengungkap rahasia perjodohan mereka kepada Arini.


Saat itu dengan penuh amarah Tian telah menyanggupi permintaan gila itu. Buntut dari semuanya bahkan masih dirasakan Tian hingga berhari-hari lamanya karena sejak saat itu hubungan rumah tangganya dengan Arini berangsur-angsur mendingin. Arini masih betah mendiamkan Tian bahkan sampai detik ini.


Anehnya.. dihari kepulangan mereka dari Villa, yang Tian dapati adalah hal yang diluar perkiraan. Laras telah berdiri dengan sebuah koper besar, siap beranjak keluar rumahnya saat itu juga tanpa diminta.


Dan selanjutnya Laras terlihat semakin menjauh dan menarik diri.. sampai akhirnya siang ini ia kembali dengan segala konsep dan ide luar biasa tentang masa depan SWD Fashion, terkait dengan kontrak kerja samanya dengan Fashion Milan.


“Bagaimana, kak ? apa kakak setuju dengan semua konsep yang aku berikan..?”


Tian mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ini luar biasa.” kemudian ia menatap Laras yang terlihat tersenyum samar mendengar tanggapan positifnya. “Tapi.. apa kamu yakin akan se-total ini dalam menghandle semuanya ?”


“Kak Tian meragukan aku..?”


“Tidak, bukan begitu.. aku justru mempercayaimu seratus persen untuk menanganinya..”


“Aku juga sangat yakin bahwa aku ingin sekali melakukannya, kak. Aku ingin berhasil.. aku ingin membuat nenek bangga..”


Kalimat itu lagi-lagi terucap dengan yakin disertai optimisme yang besar. Namun.. tetap saja Tian merasakan apa yang sejak awal ia rasakan.. sebuah episode yang hilang..!


Episode tentang Laras yang telah ia lewatkan, yang membuat gadis ini rela menghadapi dunia yang sebenar-benarnya.. tidak lagi bersembunyi dan mengandalkan Tian seperti kemarin-kemarin.


Tapi bukankah ini hal yang baik ?


Tentu saja.


Tapi.. entahlah..


“Baiklah, Laras.. kalau itu benar-benar sudah menjadi keinginanmu, aku pasti akan mendukungmu semaksimal mungkin. Dan kalau ada sesuatu jangan sungkan untuk membicarakannya..”


“Terima kasih kak..” kemudian seperti teringat sesuatu Laras kembali menambahkan. “Oh iya, kak.. saat ini aku mungkin masih bisa menghandle pekerjaan disini, tapi kedepannya..”


“Iya, aku tau. Sepertinya aku harus mencari sekretaris baru lagi..” Tian terlihat memijit kedua alisnya sekilas. “Nanti aku akan membicarakannya dengan divisi SDM.. biar mereka yang mencari orang yang tepat untuk mengantikan posisi kamu nanti.”


“Baiklah, kak.. kalau begitu aku akan kembali bekerja..”


“Sebentar,”


Laras yang hendak bangkit dari duduknya pun urung. Ia kembali menatap Tian yang ada dihadapannya.


“Apa yang terjadi..”


“M-maksudnya..?”


“Sikapmu ini. Apa yang membuatmu berubah ?”


Laras terdiam sejenak sebelum akhirnya menggeleng perlahan. “Tidak ada, kak. Aku hanya merasa.. bahwa seharusnya aku sudah melakukan semua ini sejak lama. Aku sudah menelantarkan SWD Fashion yang merupakan hasil kerja keras nenek selama ini..”


Tian menatap Laras lekat.. seolah tidak bisa percaya begitu saja dengan alasan yang Laras utarakan. Tatapan mata Tian yang tajam menyelidik membuat Laras semakin salah tingkah, untung saja bunyi ponsel Tian menyelamatkan situasi yang sedang dihadapi Laras.


“Halo, Co..” ucap Tian saat panggilan itu tersambung.



“Jam lima sore ini kamu sudah disini ?”



“Baguslah.. kalau begitu besok pagi kita bisa langsung planning untuk meeting persiapan tahap akhir. Sudah tertunda seminggu karena kamu keluar kota, jadi waktunya sudah sangat mepet, tidak bisa ditunda-tunda lagi..”


Dengan bahasa tubuhnya, Laras mengisyaratkan kepada Tian bahwa dia akan akan pamit untuk kembali bekerja, yang ditanggapi Tian dengan anggukan kecil seraya kembali fokus pada pembicaraanya ditelpon dengan lawan bicaranya, yang ternyata.. Rico Chandra Wijaya..


XXXXX


Laras kembali membasuh wajahnya di wastafel. Pantulan wajah aslinya didalam cermin terlihat jelas disana. Pucat dan kurang tidur. Laras tersenyum getir sebelum akhirnya mengambil tissue untuk mengeringkan wajahnya kemudian mengeluarkan beberapa peralatan make up untuk semaksimal mungkin menyembunyikan guratan kesedihan yang terpancar di wajah aslinya.


Sungguh menyedihkan.


Laras benar-benar merasa saat ini dirinya benar-benar sangat menyedihkan. Dalam kondisi bathin yang terpukul namun tak ada siapapun yang bisa ia ajak bicara.


Mendadak kerinduannya akan sosok Saraswati membawa ingatan Laras terkenang pada masa yang silam. Saat mendiang Saraswati masih berada disampingnya.. Laras bahkan tidak pernah menemukan persoalan berarti dalam kehidupannya karena pada saat itu rasanya tidak ada seorang pun yang bisa menyakitinya bahkan menyentuhnya. Saraswati selalu berada didepan Laras, berdiri sebagai benteng kuat yang siap membela sekalipun itu adalah kesalahan Laras.


Sejak Laras masih menjadi penghuni panti asuhan yayasan Indotama Group, Laras memang sudah diperlakukan istimewa karena telah berhasil mencuri perhatian Saraswati sejak awal. Tak heran jika saat ia beranjak remaja, Saraswati benar-benar menjemputnya, menjadikan Larasati kecil sebagai teman setia Saraswati.


Memang saat Laras belia, semuanya


terasa begitu menyenangkan. satu-satunya hal yang tidak menyenangkan dalam hidupnya hanyalah satu. Seorang remaja lelaki yang sejak awal telah mencuri hatinya namun tidak pernah suka berdekatan dengan siapapun termasuk dirinya.


Anehnya.. setiap penolakannya selalu menghadirkan semangat yang baru untuk Laras semakin mendekat, tidak peduli seberapa sering kehadirannya ditolak !


Rudi Winata.


oleh Saraswati dan Sebastian Putra Djenar. Tapi entah kenapa begitu terlarang untuk dirinya, meskipun dirinya memohon. Tidak tau hal apa yang selalu membuat Saraswati menilai Rudi sebagai sosok yang selalu saja tidak pernah pantas untuknya.


Laras membuang nafasnya yang berat saat harus mengakhiri lamunan panjangnya. Ditatapnya kembali pantulan wajahnya yang ada didalam cermin.


The power of make up.


Begitulah..


Karena saat ini guratan wajah pucat pasi yang aslinya tergambar dengan jelas diwajahnya saat ini telah tertutup sempurna.


Laras memutuskan keluar dari toilet tersebut.. saat ia melihat sekelabat bayangan Rudi masuk kedalam ruangan Ceo.


Terdiam sejenak, berusaha memikirkan bagaimana caranya ia bisa memberikan ‘hadiah kecil’ untuk lelaki yang akhir-akhir ini begitu sering mengancamnya agar melakukan ini dan itu.


Keputusan besar Laras dengan keluar dari rumah Tian, menyanggupi untuk menghandle kontrak Fashion Milan, termasuk mengambil alih pengelolaan SWD Fashion seutuhnya. Semua yang Laras lakukan pada kenyataanya tidak lepas dari intimidasi seorang Rudi Winata.


Sial ! Rudi benar-benar gila !


Seminggu belakangan ini, Rudi telah berhasil memperalat dirinya sedemikian rupa hanya karena lelaki itu memegang kartu As yang selalu ia pakai untuk menyudutkan Laras.


Apalagi kalau bukan tentang kejadian di Mercy Green Resort waktu itu..?


Padahal sudah jelas-jelas bahwa justru Laras adalah korban kebejatannya.. tapi kenyataannya keadaan seperti berbalik menjadi Laras yang selalu menjadi target pengancaman jika Laras tidak mengikuti kemauan lelaki itu.. maka Rudi selalu meyakinkan bahwa Tian akan tau semua ceritanya tanpa bersisa.


“Dasar licik !”


Laras bergumam sinis seraya mengeluarkan dua buah benda dari dalam laci meja kerjanya.


Sebuah buku tebal berwarna cokelat tua yang didepannya tertulis kata ‘Agenda’ dan satunya lagi adalah sebuah power bank berwarna biru muda. Dua benda itu sudah sejak awal ia temukan tertinggal dilaci meja kerjanya, dan saat ini Laras berniat menggunakan kedua benda itu untuk membuat sebuah pertunjukan kecil.


Laras melenggang ringan kedalam


ruangan Ceo sambil tak lupa menyambar sebuah map batik berisi laporan yang akan ditanda tangani Tian sebagai alibi untuk menutupi niat utamanya agar tetap rapi terselubung.


Mengetuk pintu sejenak, sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk kedalam. Benar dugaannya.. asisten licik itu tengah duduk dengan wajah serius tepat dihadapan Tian, sedang mendengarkan hal yang tengah dibahas sang Ceo mengenai meeting tahap akhir untuk mega proyek Indotama Times Square.


“Ada apa lagi, Laras ?”


“Dokumen terakhir yang belum sempat ditanda tangani, kak..” Laras menjawab pertanyaan Tian sambil melirik sekilas tampang Rudi yang datar.


Tian melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya. “Sudah rencana mau pulang masih ada juga yang mau ditandatangani ?” menggerutu kecil seraya menatap Rudi. “Rudi.. kamu sebaiknya pulang duluan saja, dan jangan lupa persiapkan materi untuk besok pagi..”


“Memangnya sudah tidak ada lagi yang pak Tian butuhkan saat ini..?”


“Tidak. Pulang saja duluan, karena setelah menandatangani ini aku juga mau langsung pulang ke rumah..” ujar Tian seraya membuka map batik yang baru saja diletakkan Laras diatas mejanya.


“Baiklah, pak.. kalau begitu saya pamit..” Rudi bangkit dari duduknya untuk berlalu.. tapi seolah telah ditetapkan timing-nya dengan benar, tiba-tiba Rudi langsung mematung tepat didepan pintu, tangannya urung menyentuh handle pintu begitu suara Laras menyentuh gendang telinganya.


“Oh iya, kak Rudi.. ini.. sepertinya barang Meta yang tertinggal dilaci. Boleh minta tolong dikembalikan ke


orangnya langsung ?”


Mendengar itu Rudi langsung berbalik menatap Laras yang telah menyusulnya didepan pintu seraya mengacungkan sebuah agenda dan sebuah power bank ditangan kanannya. Rudi menelan ludahnya saat mengenalinya dengan pasti bahwa kedua benda itu memang milik Meta.


“Boleh tidak, kak..?” berucap lagi sambil menyuguhkan senyum palsu.


“Boleh. Tentu saja boleh.” tanpa aba-aba Rudi langsung meraih dua benda itu dari tangan Laras seraya beranjak keluar dari ruangan secepat kilat.


Laras tersenyum penuh kemenangan dalam diamnya, namun saat ia berbalik ia sudah mendapati tatapan Tian yang lekat padanya.


“Aku juga pulang duluan yah, kak..” berucap dengan tampang datar seolah tidak terjadi apa-apa.


“Apa itu tadi, Ras ? kamu sengaja


ya..?” wajah Tian terlihat kesal.


“Sengaja..? maksud kak Tian apa ?”


Tian mendengus kecil mendapati wajah tanpa dosa Laras yang khas. Akhirnya memilih membuang nafasnya.. “Sudahlah.. pergilah pulang..” ucap Tian akhirnya dengan nada pasrah.


Tanpa menunggu lebih lama lagi Laras langsung keluar secepatnya dari dalam ruangan Tian. Senyum usilnya yang akhir-akhir ini sempat menghilang kembali menghiasi sudut bibirnya yang bersiul kecil.


XXXXX


Sepeninggal Laras, Tian langsung menekan nomor ponsel Rico, tapi yang ia dapatkan hanyalah suara seorang wanita operator seluler yang memberitahukan bahwa nomor yang dituju sedang berada diluar jangkauan.


Tidak berhasil mencegah Rico, akhirnya Tian memilih menekan nomor Rudi. Menunggunya sejenak sebelum akhirnya sepasang bola mata Tian nyaris keluar dari cangkangnya saat kembali mendengar suara wanita operator seluler yang memberitahukan informasi yang sama dengan ponsel Rico.


“Sialan.. berani-beraninya dia menonaktifkan ponselnya..!”


Rutuk Tian kesal saat menyadari untuk yang pertama kalinya ia mendapati Rudi begitu nekad dengan sengaja menonaktifkan ponselnya. Rudi pasti sudah bisa menebak bahwa Tian pasti akan menelponnya dan melakukan berbagai cara untuk mencegahnya menemui Meta.


“Yang akan terjadi biar saja terjadi. Persetan..!”


Mengumpat geram saat menyadari Laras telah berhasil membuat kepalanya kembali sakit dengan sebuah persoalan baru.. sedangkan disisi lain persoalan rumah tangganya dengan Arini belum juga selesai..


.


.


.


Bersambung..


Like, Commentt, and Vote, Jangan lupa yah.. 🤗


Thx and Lophyuu all.. 🥰