
Nafas mereka saling memburu saat Rico melepaskan bibir Lila dari jajahannya. Rico menatap lekat sepasang bola mata Lila yang terlihat sedang menyembunyikan rasa salah tingkahnya. Jika tidak dalam temaram Rico berani bertaruh bahwa pipi itu pasti sudah berwarna merah jambu.
‘Wanita ini sungguh menggemaskan..’
Batin Rico sambil menyentuh hidung kecil yang mancung itu dengan jemarinya, kemudian mengusap pipi yang terasa begitu lembut, terus menyusuri wajah itu hingga jemarinya berlabuh pada bibir yang lembab mengusapnya perlahan.. tatapan mereka terkunci satu sama lain.
Pada moment seperti ini Rico selalu bisa menemukan bagaimana gelisahnya sepasang mata Lila setiap kali mereka begitu intim, namun seperti biasa mulut manis itu selalu terkunci, membuat Rico senantiasa penasaran, tentang kenyataan apa yang sebenarnya ada dikedalaman bilik hati Lila, karena tidak seperti wanita-wanita yang selama ini hilir mudik didalam kehidupannya, buat Rico, Lila seperti sebuah lautan yang dalam.. ia sama sekali tidak bisa menebak kedalaman hatinya, dan semua pemikiran itu selalu melahirkan rasa tidak nyaman untuk Rico tapi brengseknya jika kabut gairah sudah menguasainya, Rico langsung lupa segalanya dan mengabaikan semua rasa itu, memilih untuk mengecap manisnya Lila yang tidak pernah puas untuk ia reguk tanpa henti dari hari ke hari.
Mengusap bibir yang ranum itu berkali-kali tentu tidak mungkin cukup bagi Rico untuk menghilangkan dahaganya. Rico ingin mencicipi bibir itu lagi manakala kepala Lila tiba-tiba berpaling ke kanan menghindarinya. Tidak menyerah Rico memutuskan untuk mengejar bibir itu lagi kearah kepala itu berpaling tapi yang ada Lila malah kembali menghindarinya dan berpaling kekiri.
Sesungguhnya aroma memabukkan yang samar itulah yang membuat Lila merasa sedikit pening dan mual.
Rico mengangkat wajahnya kecewa, “Kenapa lagi ?” bisiknya perlahan, berusaha menekan kekesalannya mendapati penolakan Lila.
Lila menegakkan wajahnya, mendapati seraut wajah kesal disana.
Rico sudah ingin mengangkat tubuhnya menjauh karena kesal dengan penolakan Lila yang ia yakini pastilah merasa tidak nyaman dengan aroma alkohol yang melekat dalam rongga mulutnya, padahal Rico sudah menyikat gigi dan berkumur dengan obat kumur antiseptic yang tersedia di kamar mandi, namun sialnya bau alkohol itu belum benar-benar pergi dari nafasnya. Dan Rico tau persis hal itu selalu membuat Lila tidak nyaman saat Rico menciumnya.
Gerakan Rico terhenti karena tertahan dua buah tangan Lila yang menangkup wajahnya.
Kadung keki Rico menepis kedua tangan itu dari kedua pipinya, tapi belum sempat Rico beranjak kedua tangan itu malah sudah terkalung di lehernya, seolah-olah ingin menahan gerak tubuh Rico yang akan berlalu.
Lila yang paham betul bahwa suaminya lagi berada dalam mode bete perlahan namun pasti menarik kedua lengannya yang terkalung erat di leher Rico seolah menuntun lelaki itu agar bisa menemui bibirnya lagi. Lila malah sedikit mengangkat wajahnya agar bisa menemui bibir Rico lebih dulu.
Mendapati tindakan yang sangat menggoda itu seperti biasa Rico tidak bisa berlama-lama menahan dirinya, ia langsung ******* bibir
Lila dengan bersemangat, membuat Lila takluk dengan mudah sehingga yang bisa wanita itu lakukan hanyalah membalas lumatab Rico dengan gairah yang sama.
Tangan Rico bergerilya dengan lincah melepas satu persatu yang melekat ditubuh Lila sebelum akhirnya menurunkan boxernya, membenamkan tubuhnya sepenuhnya kedalam kehangatan istrinya, memacu disana tanpa lelah.
Pagi mulai menyapa saat Rico ambruk disamping Lila, bersimbah peluh dengan nafas yang memburu. Ia menarik tubuh Lila masuk kedalam pelukannya.
“Kamu akan pergi bekerja ?” tanyanya malas penuh kantuk sambil mengusap punggung polos Lila.
Lila hanya menganguk dalam dekapan lelaki itu. “Sebentar lagi aku sudah harus bersiap. Bukannya hari ini Best Electro ada
meeting penting dengan Indotama Group..?”
Rico menganguk malas. “Aku mau tidur sebentar..”
“Eh ? Tapi jangan sampai kebablasan tidurnya, Co..”
“Aku sudah menyetel alarm handphone di jam sembilan,”
“Jangan bangun terlambat,”
“Hemm,”
“Apa kamu ingin aku siapkan sesuatu untuk dimakan sebelum aku berangkat..?”
“Tidak usah, La..” Rico menggeleng sambil memejamkan
matanya, membenamkan wajahnya di puncak kepala Lila yang harum dan mengecupnya.
Tidak berapa lama Rico benar-benar tertidur karena memang ia merasa sangat kelelahan karena nyaris tidak tidur semalaman. Sementara Lila dengan gerak perlahan beringsut dari rengkuhan lelaki itu saat mendengar dengkuran halus Rico.
Sinar mentari sedikit demi sedikit mulai menyeruak dari balik tirai jendela, menandakan hari benar-benar mulai terang.
Lila mematut dirinya yang sudah rapi didepan kaca rias.
Pagi ini Hotel mercy menjadi tempat tujuan Lila yang pertama karena ada pembukaan event Pemerintah yang menggunakan jasa hotelnya untuk kegiatan diklat, sehingga Lila harus mengecek semua persiapannya terlebih
dahulu.
Semenjak Lila lulus kuliah hotel Mercy dan usaha dealer ayahnya memang sudah dipercayakan ayahnya kepada Lila untuk di kelola sepenuhnya.
Siangnya Lila berencana untuk meninjau lokasi pembangunan Mercy Green Resort yang berlokasi di pinggiran kota. Resort super mewah bertaraf internasional yang mengusung konsep pemandangan alam inilah yang tanpa disangka bisa membuat perusahaan raksasa sekelas Indotama Group milik Sebastian Putra Djenar tertarik menanamkan investasinya yang lumayan besar.
Bangga ?
Tentu saja !
Lila menyambar kunci mobil yang tergeletak di meja rias, ia memang terbiasa mengendarai mobil sendiri saat beraktifitas sehari-hari karena merasa lebih praktis dan leluasa.
Tatapan Lila kembali jatuh ketubuh Rico yang masih terlelap tengkurap diatas ranjang. Menatap punggung kekar itu lama membuat jantung Lila berdesir lembut mendapati pemandangan maskulin itu, sebelum akhirnya Lila meninggalkan kamar itu dengan langkah perlahan.
Tian menggeliat malas. Rasanya ia ingin menyembunyikan wajahnya dibalik selimut atau membenamkan wajahnya dibalik bantal saat sinar matahari pagi yang menerobos lewat celah-celah tirai jendela menerobos menerpa wajahnya. Tapi saat mengingat bahwa ia sudah bersepakat dengan Rico untuk meeting hari ini, mau tidak mau demi sahabatnya itu akhirnya Tian harus melawan rasa malas dan rasa kantuknya sendiri dan beranjak bangun dari ranjang king size miliknya.
Mata Tian tertumbuk pada sofa yang sudah kosong yang ada disudut kamar. Ia tidak menemukan sosok yang dicarinya. Tian menajamkan pendengarannya ke arah kamar mandi, mencari tau apakah sosok itu ada di dalam sana, namun hanya hening.
Perlahan Tian bangkit, menyambar kaosnya yang tergolek diatas nakas, dan dengan rambut yang acak-acakan membuka pintu kamar.
Begitu pintu kamar terbuka Tian bisa langsung dengan mudah mendengar aktifitas dari arah dapur yang disertai aroma lezat yang memenuhi rongga penciumannya.
Difikiran Tian rupanya Arini pasti sedang menyiapkan sesuatu disana.
‘Arini tidak mengindahkan apa yang sudah pernah dia ucapkan untuk tidak berusaha mempedulikannya, termasuk dengan berusaha menyiapkan sarapan lagi..?’
Tanpa sadar Tian malah tersenyum licik sambil melangkahkan kakinya kearah dapur dengan langkah lebar. Sebenarnya yang membuat Tian bersemangat pagi ini adalah bahwa sepertinya ia menemukan alasan untuk bisa mengajak Arini berdebat, karena kalau tidak maka Tian selalu merasa kesulitan acap kali mencari cara untuk sekedar berbicara normal dengan istrinya yang keras kepala itu.
Jadi meskipun tidak pernah bisa untuk memulai pembicaraan dengan baik selain berdebat.. sepertinya Tian cukup menikmatinya.
Hal ini memang terdengar cukup aneh, bahkan Tian selalu merasa saat ini sudah ada yang salah dari otaknya.
Langkah Tian terhenti saat menemukan sosok yang di incarnya sedang berdiri membelakangi posisi Tian. Memakai celana panjang berbahan katun dengan atasan hem biru tua, sepertinya Arini sudah bersiap untuk berangkat ke kantor. Penampilannya selama ini memang selalu sederhana, namun entah kenapa sekarang terlihat begitu menarik, sehingga dengan gilanya bisa membuat Tian mampu mengingat inchi demi inchi sosoknya.
“Sedang apa kamu ?”
Arini terlonjak. Dengan gerakan terkejut ia membalikkan tubuh secepat kilat dan mendapati seraut wajah kusut khas orang baru bangun tidur namun tentu saja tetap terlihat tampan berdiri mengawasinya lekat dari ujung kaki terus sampai keatas, baru berhenti saat tatapannya lurus menatap intens wajah Arini, yang membuat Arini salah tingkah karena tatapan lelaki itu tidak lagi berpindah sejak menatap wajahnya.
‘Apa ada yang salah dengan wajahku..? apa lipstikku belepotan..? kenapa dia memandangku terus seperti itu..?’
Arini membatin dengan fikiran berkecamuk sedikit frustasi. Membayangkan kalau-kalau memang benar lipstiknya ada yang belepotan sehingga Tian menatapnya dengan tatapan aneh yang sulit dijelaskan.
Mengingat hal itu membuat Arini refleks menggigit bibirnya sedikit, semakin jengah. Sementara Tian yang melihat gerakan bibir dengan lipstick warna peach itu sedikit digigit oleh tuannya sontak menahan nafas..
‘Sial.. pagi-pagi sudah melihat pemandangan begini.. bisa-bisa juniornya yang pemarah dibawah sana bakal meronta-ronta minta diguyur air dingin lagi..’
“Ehh.. Pak Tian rupanya. Sudah bangun, Pak ?” kalimat basa-basi yang benar-benar basi. Usai berucap begitu Arini malah mungutuk dirinya sendiri.
“Sudah tau, masih bertanya.”
‘Nah kan..’
Arini menelan ludahnya jengah, kembali menyesali pertanyaan bodohnya yang diakibatkan kegugupannya tiap kali berhadapan dengan Ceo Indotama Group yang menawan namun luar biasa galak ini.
"Apa-apaan ini ??” Tian menuding kearah meja makan, sengaja memulai aksinya yang ingin menabuh genderang perang dipagi hari. “Kan sudah saya bilang sejak kemarin jangan menyiapkan makanan lagi. Saya tidak ingin sarapan..!”
“Tidak Pak Tian.. saya.. saya tidak sedang menyiapkan makanan. Sungguh !” elak Arini.
Tian menatap galak Arini yang bersikukuh tetap menggeleng. “Kalau namanya bukan makanan, lalu apa semua ini..? kotoran ??!” tunjuk Tian lagi kearah sepiring nasi goreng dengan telur ceplok setengah matang diatasnya yang sejujurnya dari penampilannya saja sudah sangat menggugah selera. Tian malah harus menelan ludahnya berkali-kali saat melihat sepiring nasi goreng yang mengepul dengan nikmat itu, belum lagi aroma rempahnya yang seperti menari-nari di dalam indera penciuman Tian dan semua itu memicu perutnya yang tiba-tiba saja langsung dililit rasa lapar. Tian sampai lupa entah kapan terakhir kali ia makan nasi goreng.
“Ini.. ini bukan untuk Pak Tian.”
“Apa ?!”
“Ini punya saya sendiri Pak Tian, sungguh,” Arini mengangkat dua jari, menatap Tian dengan mimik bersungguh-sungguh.
Sontak Tian terhenyak mendengarnya. Kesal bercampur malu ia membuang pandangannya kesamping, tapi malah tertumbuk pada tupperware yang ada disudut meja. Matanya menyipit melihat pemandangan itu namun dengan gerakan secepat kilat Arini sudah meraih benda plastik itu, memegangnya erat, bahkan medekapnya.
.
.
.
Bersambung…
Doakan author yang lagi bad mood.. 😪😪😪