CEO Tampan Dan Istri Rahasia

CEO Tampan Dan Istri Rahasia
Heaven


“Tidak usah memikirkan baju, karena malam ini kamu tidak memerlukannya..” bisik Tian tepat ditelinga Arini.. membuat sekujur tubuh Arini sontak meremang..”


.


.


.


“Ihh, apaan sih, dasar mesum..!” ucap Arini dengan wajah memerah, sebuah tinju kecil sudah bersarang dilengan Tian begitu saja.


Tian menatap Arini sambil mengulum senyum, apalagi saat melihat penampakan istrinya saat ini yang terlihat sangat melemahkan iman, mau tidak mau bayangan sensual aktifitas mereka beberapa jam yang lalu kembali berputar-putar diotak Tian yang sudah dipenuhi fantasy liar.


“Yang tadi itu.. apa masih sakit ?”


tanya Tian tanpa mempedulikan aksi protes Arini sebelumnya.


Arini mendengus. “Masih berani


bertanya.. tentu saja masih sakit.”


Tian terkekeh kecil mendengarnya. “Maaf karena tidak melakukkannya dengan lebih perlahan..” gumamnya sedikit menyesal, namun tetap tersenyum nakal. “Karena semua yang ada di dirimu terlalu menggoda, aku tidak bisa mengendalikan diri..”


Arini mencibir. ”Sayang, kamu


benar-benar tidak berperasaan yah.. sudah memperlakukan aku semena-mena, sekarang meminta maaf pun tapi tetap menyalahkan aku..” Arini merenggut, sedangkan tawa Tian malah pecah mendengar kalimat itu.


“Mau bagaimana lagi ? aku tidak terlalu menyadari kalau kamu begitu kesakitan..” ujarnya membela diri disaat tawanya belum benar-benar usai.


'Yang benar saja..’


Arini mencibir lagi sembari melemparkan tatapan galak yang membuat Tian sedikit was-was membayangkan agar jangan sampai karena hal itu bisa membuatnya gagal merayu Arini malam ini. “Maaf yah sayang..” mencoba merayu.


“Huhh..”


“Aku berkata jujur, aku tidak menyangka kalau sesakit itu.. karena mendengarmu mendesah terus, aku tidak bisa lagi membedakan apakah itu karena sakit atau terlalu enak..” berucap seenaknya tanpa dosa.


"APPA..?!!” Arini terpekik mendengar kalimat vulgar yang memalukan dirinya itu, sedetik kemudian Tian sudah meringis karena sebuah cubitan kecil mendarat sempurna diperutnya yang keras.


“Baikah.. aku berjanji, selanjutnya aku akan melakukannya dengan lebih baik. Bagaimana ?” kembali menatap Arini dengan tatapan yang dipenuhi hasrat yang menggebu.


Arini menggeleng berkali-kali. Wajahnya terlihat ngeri saat membayangkan inti tubuhnya saja yang masih lecet dan perih sementara lelaki dihadapannya ini sudah membahas untuk melakukannya lagi..? oh tidak.. tidak..


Tian memastikan saat Arini menggelengkan kepala, nyaris tak percaya dan tidak ingin percaya jika saat ini Arini sedang berusaha menolaknya.


“Rasanya masih sakit.. aku tidak mau..”


Semua rayuan yang ingin Tian lontakan mendadak hilang diudara, seperti menyadari sesuatu saat melihat ekspresi Arini yang terlihat bersungguh-sungguh, dengan berat hati Tian mencoba menyingkirkan keegoisan pribadinya sejenak, kemudian menarik nafas panjang sebelum berucap perlahan. “Baiklah.. kita istirahat saja kalau begitu,” merebahkan tubuhnya yang kecewa disamping Arini, namun tetap memeluk lembut.


Arini terheran mendapati sikap Tian yang berubah dalam waktu singkat. Ia menatap wajah Tian yang mengangkat sebelah alisnya saat menyadari Arini mengawasinya.


“Marah ya ?” Arini mengangkat tangannya, memberanikan diri membelai rahang tegas itu.


Tian menggeleng. “Tidak, kita mengobrol saja..” ujarnya ringan, mencoba mencari topik untuk mengalihkan desakan liar yang terlanjur bangkit dari dalam dirinya. “Oh yah.. Senin besok aku sudah memindahkan posisimu dikantor. Kamu akan jadi sekertarisku, menggantikan Vera..”


Arini melongo. “Kenapa begitu ?”


“Kenapa ? tentu saja karena


aku ingin selalu memiliki kesempatan berdua denganmu. Kalau masih menjadi staf administrasi biasa, aku tidak mungkin sering-sering memanggilmu, kan ?”


“Huh, dasar moduss !”


Tian tertawa mendengar


gerutuan itu. “Modus sama istri sendiri itu pahala..”


“Lalu Vera bagimana ? aku


merasa tidak enak harus menggantikannya begitu saja..”


“Tenang saja, aku sudah


mengaturnya. Demi membuatmu selalu berada dekat denganku aku sudah memberikan Vera promosi jabatan sebagai manager SDM dikantor cabang kota B.”


“’Kenapa memindahkan Vera ke


“Vera justru tidak keberatan karena dia memang berasal dari sana, don’t worry..” ucap Tian santai, memupus kekhawatiran Arini tentang Vera. Bagaimanapun Arini tidak ingin mendapatkan posisi itu dengan melengserkan seseorang. Tapi karena mengetahui Tian sudah mempersiapkan segala kemungkinannya yang tidak merugikan justru sebaliknya menguntungkan posisi Vera, Arini akhirnya bisa bernafas lega.


“Bagaimana ? kamu senang kan ? Dengan begitu kita bisa bermesraan setiap waktu..”


“Ish, apa hanya bermesraan saja yang ada diotakmu ?” pungkas Arini gemas, memupus semua kalimat Tian yang sejak tadi tidak pernah jauh-jauh dari ke-omes-annya.


‘Dasar casanova !’


Rutuk Arini dalam hati.


Tian tertawa melihat ekspresi Arini yang menggemaskan, akhirnya didalam otaknya saat ini kembali mencari cara bagaimana menipu wanita itu agar mau melakukannya lagi, karena sesuatu yang dibawah sana terasa sudah mau meledak, benar-benar tidak mau diajak berdamai dengan penolakan Arini yang sudah diterimanya.


“Sedang memikirkan apa ?” Arini bertanya saat menyadari Tian terdiam cukup lama.


“Sedang memikirkan betapa malam ini aku sangat menginginkan istriku yang cantik..” desis Tian lembut sambil mengecup ujung hidung Arini, membuat wajah Arini merona menahan tersipu.


“Gombal..” desis Arini tercetus begitu saja, membuat tawa Tian berderai.


“Mau ya..” rayu Tian lagi sambil


berbisik lembut, namun tangannya sudah begerilya terlebih dahulu sebelum mendapat persetujuan. “Aku minta maaf kalau tadi membuatmu kesakitan, aku janji kali ini rasanya berbeda..” masih mencoba bernegosiasi untuk mendapatkan keinginannya atas hasrat yang sudah meronta meminta dibebaskan.


Arini masih terlihat menimbang-nimbang saat telapak tangan besar milik Tian mengusap perut datarnya dengan lembut.


“Karena aku ingin secepatnya memiliki buah dari cintaku disini..” berucap sungguh-sungguh sekaligus sebagai bagian dari usaha merayu.


Mendengar kalimat seperti itu dari


seorang lelaki, bagaimana mungkin seorang wanita tidak luluh..? begitu pun


dengan Arini, jiwa dan raganya langsung meleleh mendengar Tian mengucapkannya dengan khidmat.


Meskipun awalnya ragu dan takut pada akhirnya Arini menganguk juga. Ia semakin tak kuasa menatap wajah permohonan Tian yang menatapnya penuh kesungguhan, berbeda halnya dengan Tian yang didalam hati rasanya sudah ingin salto dan roll kedepan saking senangnya begitu mendapatkan signal berupa angukan.


Seolah begitu takut jangan sampai Arini berubah pikiran, dengan sigap Tian bergerak cepat menyatukan kelembutan yang selalu bisa membuat Arini melayang melupakan dunia, terus membuainya dengan sabar dan professional, hingga mereka sampai pada detik dimana Arini merasakan keindahan yang sedang ia rasakan tiba-tiba kembali berubah rasanya dalam sekejap, seperti dihantam sebuah gada besar.


Berbekal pengalaman pertama yang membuatnya sedikit paranoid, kali ini pun tetap sama.. seketika Arini panik dan ingin meronta, namun Tian yang sedang menguasainya, mampu mengendalikannya dengan mudah seperti sudah menduga bahwa hal itu akan kembali terjadi.


“Sayang kamu berbohong lagi..” Arini berucap lirih sambil meringis, menatap wajah mengeras Tian yang sangat terlihat, bahwa kali ini lelaki itu bahkan tidak lagi berniat untuk mengalah padanya.


Tian hanya membungkuk untuk mencium sudut mata Arini yang berkaca.. dan bisikan singkat lelaki itu seperti sebuah mantera..


“Hold on..” tanpa mengurangi kekuatannya, dengan sedikit tega ia terus menekan, menahan gerak pemberontakan Arini dengan kedua tangannya yang kuat untuk beberapa saat, menunggu sampai keajaiban alam akan terjadi dengan sendirinya.. mengambil alih semua rasa sehingga yang tadinya menyakitkan kini sirna tak berbekas seperti hanya sebuah kebohongan besar.


Seiring dengan kabut yang tersibak, gumpalan awan yang lembut kembali menjemput.. memainkan symphony yang mengalun seirama.


Tian membawa mereka menyatu berkali-kali, karena rasa yang Arini takuti telah berlari pergi.


Arini harus mengakui bahwa tidak seperti dirinya yang begitu memalukan karena kurangnya pengetahuan.. Tian justru begitu profesional dan berpengalaman.


Lelaki itu bahkan tau persis semua titik dari dirinya yang bahkan sebagai pemilik tidak Arini ketahui. Tian juga tau persis apa yang harus ia lakukan dan apa yang akan Arini rasakan pada menit ini juga pada menit selanjutnya.


Benar-benar pengetahuan luar biasa sekaligus keahlian tingkat dewa, pada aktifitas mereka yang tanpa sadar telah berjam-jam lamanya.


“Welcome to the real heaven..” bisik Tian tersenyum menang, setiap kali berhasil membawa Arini melihat surga.. berkali-kali.. entah untuk yang keberapa kali.. disela nafas Tian yang selalu bertenaga, seolah tak kunjung padam…


.


.


.


.


.


Bersambung…


Like and Comment jangan lupa ya


Lophyuu.. ALL.. 😘