
Yang belum Like bab sebelumnya.. yukk bantu author untuk genapin Like nya dulu biar performa author gak jalan ditempat.. 🤗 Terima kasih.. 😘
Ditunggu kunjungannya di :
‘Cinta Eleana dan Panglima Perang’.
Bantu vote, like, comment, dan favoritekan, biar bisa ajukan kontrak juga kayak CTIR. 🙏
.
.
.
‘Time to say goodbye..’
Meeting terakhir di sore itu berjalan dengan lancar, ditandai dengan semua laporan yang sudah final. Beberapa orang manager yang ikut dalam meeting tersebut pun kini terlihat masih tetap duduk mengelilingi meja.. meskipun suasananya kini telah berubah menjadi santai, sudah tidak lagi se-serius saat meeting masih berjalan.
“Finally.. thanks God..” Pak Tomi yang duduk di sebelah kanan Rudi nampak menghembuskan nafas lega.
“Masih mau stay atau langsung pulang nih, pak ?” goda Rudi kearah pak Tomi yang nampak menyandarkan tubuhnya dengan santai.
“Wah.. jangan becanda pak Rudi.. langsung pulang dong..”
Rudi tertawa mendengar kalimat spontan itu. “Meeting sampai setengah hari apa tidak capek, pak ? siapa tau masih mau istirahat sebentar..?”
Dan tawa Rudi kembali memecah renyah diikuti tawa orang-orang yang ada diruangan itu, begitu melihat Pak Tomi langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat saat mendengar Rudi menggodanya lagi.
Rudi tau persis betapa ngebetnya pak Tomi yang ingin segera pulang kepangkuan sang istri dan kedua anaknya sejak dua hari yang lalu, namun terhalang karena titah sang Ceo indotama group yang dengan sengaja melimpahkan lagi pekerjaan yang seabreg.. tanpa mengetahui bahwa dalang dari keputusan sang bos besar justru dikarenakan partner-nya yang diam-diam meminta agar diberi tambahan beban kerja.
“Pak Tomi, sebelum pulang ngopi dulu sebentar yah..” Vera, mantan sekretaris pak Tian yang sekarang ini menjabat sebagai manager SDM dikantor cabang kota B menawarkan dengan ramah.
“Kalau ngopi sebentar masih bolehlah.. hitung-hitung bekal biar nanti menyetirnya konsen..” seloroh pak Tomi lagi diiring tawa Rudi, Vera dan beberapa orang manager yang baru saja melakukan meeting bersama.
Sementara itu, diluar ruangan meeting room, seorang gadis cantik bertubuh mungil nampak sedang berdebat sengit dengan seorang karyawan wanita yang merupakan sekretaris dikantor cabang, dengan disaksikan oleh karyawan lainnya.
“Maaf, bu.. kalau sikap anda seperti ini.. saya dengan terpaksa akan memanggil pihak keamanan..!” ucap sekretaris itu sedikit mengancam, mengingat betapa ia telah dibuat kesulitan menahan laju pergerakan wanita yang entah siapa gerangan, yang tiba-tiba berniat menerobos jalannya meeting penting para petinggi kantor cabang dengan dua orang yang tak kalah penting dari kantor pusat.
“Apa kamu bilang ? berani-beraninya kamu akan memanggil pihak keamanan ? kamu tidak tau sedang bicara dengan siapa ? tidak sayang dengan pekerjaanmu ? mau di pecat ?!”
Berondong Laras sambil menatap kesal kearah sekretaris itu dengan tatapan mata berapi-api. Ia sungguh jengkel saat langkahnya yang hendak menuju meeting room selalu dihalangi oleh sekretaris dihadapannya ini.
“Minggir !!”
Dengan acuh Laras berjalan, sengaja menabrak lengan kanan sang sekretaris hingga sedikit terhuyung, detik berikutnya tangannya langsung meraih handle pintu meeting room tanpa tercegah lagi oleh beberapa karyawan yang juga ikut membantu sang sekretaris menghentikan pergerakan kasar wanita yang dimata mereka super nekad itu.
Brakk !!
Pintu ruang meeting room telah terpentang keras, suaranya sanggup membuat terhenyak seisi ruangan yang berisi para manager kantor cabang beserta pak Tomi dan Rudi yang berada didalamnya.
Rudi yang baru saja hendak memeriksa ponselnya sekaligus berniat menghubungi Laras juga ikut dikejutkan dengan suara pintu yang terpentang tiba-tiba itu.. dan menjadi semakin terhenyak melihat sosok Laras berdiri tegak disana.. mengabsen setiap wajah yang terpana didalam ruangan itu satu persatu.. sebelum akhirnya matanya terpaku pada sosok yang menjadi tujuannya.
“Laras..?” Vera yang berada paling dekat dengan pintu langsung mengenali Laras.
“Maaf bu Vera, wanita ini memaksa menerobos kemari meskipun sudah saya halangi..”
Tepat disaat yang sama dua orang lelaki dengan seragam sekuriti muncul disana, berniat hendak mengamankan penyusup yang ternyata seorang wanita cantik berwajah angkuh.
“Kalian ini apa-apaan..? apa kalian tidak tau dia adalah adik pak Sebastian Putra Djenar..?!”
Vera berucap tegas kearah para karyawan dan sekuriti yang ada disana, yang langsung terhenyak mendengar penjelasan manager SDM itu.
Tidak hanya itu saja, bahkan jejeran manager selain Vera, yang awalnya juga tidak mengenali dan bertanya-tanya akhirnya ikut terhenyak saat mengetahui siapa gerangan wanita cantik sumber keributan di sore itu. Karena meskipun mereka sering mendengar perihal bahwa Ceo indotama group memiliki seorang adik angkat, tapi baru kali ini mereka melihatnya secara langsung.
Detik berikutnya, Vera telah menatap Laras yang masih berdiri tegak terpaku ditempatnya. “Laras, ada apa kamu kesini ? apakah ada yang bisa saya bantu..?” tanya Vera dengan teramat sangat berhati-hati. Vera tau dengan pasti seperti apa temperamen seorang Larasati Djenar, adik angkat Ceo indotama group, anak emas seorang Saraswati Djenar, yang terkenal angkuh dan manja itu.
Mendadak suasana menjadi hening, sebelum akhirnya Rudi memutuskan untuk mendekat dengan langkah perlahan.
Sejujurnya Rudi merasa sangat malu berada dalam situasi seperti drama ini.. dibawah tatapan pak Tomi, para petinggi di kantor cabang, bahkan begitu banyak karyawan yang telah berada ditempat itu dengan sukarela karena mendengar adanya keributan.
Tapi mau bagaimana lagi..? Rudi juga tidak bisa lagi menghindar dari sepasang mata yang menatapnya lekat.. yang kini telah berkaca-kaca saat melihatnya semakin mendekat, memukau setiap pasang mata yang berada disana.
“Laras.. kamu.. kenapa kesini..?” tanya Rudi nyaris berbisik begitu ia berdiri tepat dihadapan Laras, sedikit salah tingkah saat menyadari mereka berdua kini sedang berada dalam pengawasan puluhan pasang mata yang penasaran.
“S-siapa suruh tidak membalas pesan ? aku.. aku.. bahkan sudah menelpon puluhan kali..”
“Ponselnya aku silent, karena aku sedang meeting.. lagian kalau aku kembali, aku pasti akan memberitahumu terlebih dahulu..” bisik Rudi semakin salah tingkah.
“Aku pikir.. aku pikir.. kamu sudah pergi, kak..” tiba-tiba wajah itu telah bertelaga, dihadapan puluhan pasang mata yang semakin terpukau seolah tengah menyaksikan sebuah mahakarya drama yang teramat mahal dan eksklusif secara live.
“Egh.. kenapa menangis sih..? aduh Laras.. tolong jangan seperti ini..” Rudi masih tetap berbisik meskipun saat ini ia mendadak panik seketika.
“Pak Rudi, pinjam ruanganku saja sebentar.. biar tenang dulu..” Vera yang tanggap dengan situasi yang ada sontak mengambil inisiatif dengan cepat.
Rudi mengangguk mengiyakan, detik berikutnya ia memilih merengkuh bahu yang telah berguncang hebat itu. Masih dalam pelukannya ia menuntun Laras perlahan untuk keluar dari sana, dan masuk kedalam ruangan Vera yang untung saja berada tepat disebelah ruangan meeting room.
.
.
.
Bersambung..
DOUBLE – UP !!! 🔥
Favoritekan novel ini, like dan comment setiap bab-nya, dan berikan hadiah serta vote yang banyak.. adalah harapan author selalu..🙏
Thx and Lophyuu all.. 😘