
Rudi masih betah bersandar dikursi makan. Sedari tadi ia bahkan nyaris tidak bisa berhenti tersenyum.
Mereka baru saja selesai makan malam dengan menu ayam goreng saos tiram ditambah sayuran yang ditumis seadanya. Sungguh sangat sederhana, namun menjadi begitu istimewa ketika yang membuatnya adalah Laras.
Hanya dalam kurun waktu delapan bulan, dan Laras terlihat lumayan mahir didapurnya sendiri. Tidak seperti diawal.. saat gadis itu bahkan tidak tau cara menggunakan rice cooker untuk memasak nasi.
"Kak, kamu belum menjawabnya sejak tadi, kapan kamu tiba..?" Laras telah duduk dihadapan Rudi usai membereskan meja makan sekaligus mencuci semua peralatan makan yang telah mereka gunakan barusan.
Rudi tersenyum tipis. "Tiba dari London sejak kemarin, tiba dikota ini sejak tadi pagi.."
"Jadi saat menelpon tadi siang..?"
"Hmm.. aku sudah berada disini." kemudiaan berucap lagi sambil menatap Laras. "Aku berdiri diluar sejak dua jam yang lalu.."
"Kenapa tidak masuk saja..?" pungkas Laras sambil membuang pandangannya, menghindari tatapan Rudi yang lekat.
"Aku sudah berusaha masuk, tapi mengetik angka dari tanggal pernikahan kita aksesnya selalu ditolak. Sepertinya kamu telah mengganti paswordnya, yah..?"
Mendengar todongan itu Laras menelan ludahnya.
Yah, tentu saja. Laras memang telah mengganti paswordnya karena merasa terganggu dengan kenangan setiap kali masuk ke apartemen dan kemudian harus menekan angka yang selalu akan mengingatkannya kepada seorang lelaki, yang hanya tau cara menyakiti hatinya saja.
"Laras.. let's try again.." ajakan itu terdengar lirih namun cukup membuat Laras terhenyak ditempat duduknya sendiri.
"Tapi.. bukankah kita sudah bercerai kak.."
"Kata siapa..?"
"Aku telah menandatangani semuanya.."
"Tapi aku tidak."
Laras terhenyak lagi mendengar kalimat Rudi yang terucap tanpa beban itu. "T-tapi.. k-kenapa..?"
"Tentu saja karena aku tidak mau berpisah."
"Tapi kenapa, Kak..?"
"Jangan tanya kenapa, karena aku bahkan tidak tau. Maksudku dulu aku tidak tau.. aku tidak menyadarinya.. tapi sekarang.."
"Sekarang kenapa..?"
Rudi tidak langsung menjawab, ia memilih mendekat, berdiri diujung meja sambil melipat kedua tangannya di dada, bersandar santai disana, tepat disebelah tempat duduk Laras yang terlihat gugup menyadari begitu dekatnya jarak diantara mereka.
"Intinya aku tidak mau. Aku tidak mau menandatangani surat itu. Aku tidak mau bercerai, aku tidak mau berpisah denganmu."
Laras membisu.
"Heiyy.. kenapa sikapmu seperti ini? setiap kali aku bicara, kamu akan langsung diam, dan tidak menanggapinya. Seolah yang aku katakan hanyalah angin lalu..?"
'Karena aku takut kecewa lagi, Kak. Itu sebabnya. Dulu.. kamu bahkan sering memperlakukan aku seolah aku adalah seorang wanita yang sangat dicintai olehmu, kamu juga pernah membuat aku percaya bahwa kamu mencintaiku lewat caramu memuja, namun pada kenyataannya.. lagi-lagi hatimu tidak bisa kumiliki..'
Bathin Laras berbisik pilu.
"Aku tau, bahwa selama ini aku terlalu takut untuk mengakui arti dirimu. Ketakutan yang pada akhirnya justru membuat aku nyaris kehilanganmu.." Rudi menatap Laras dengan tatapan sendu, yang membuat Laras seolah tak bisa mempercayai pandangannya dan pendengarannya sendiri.
"Kamu pasti sudah mengetahuinya kan. Karena masa lalu kita adalah serangkaian peristiwa yang telah membentuk diri kita menjadi seperti ini. Aku dan dirimu memiiki takdir masa lalu yang berkaitan dengan sebuah tragedy dan sejak saat itu hidupku terasa mengerikan. Dulu aku merasa, membuat hatiku menerima kehadiranmu adalah hal yang sungguh teramat sulit. Tapi beberapa bulan terakhir ini aku sadar ternyata ada hal yang lebih sulit dari pada semua itu.. yaitu kehilangan dirimu.."
Rudi berhenti sejenak, hanya untuk mengawasi seraut wajah Laras yang terus terpekur dihadapannya.
Perlahan Rudi memberanikan diri mengambil jemari yang bertaut gelisah diatas meja tersebut, menggenggamnya dengan erat.
"Laras, aku adalah sosok yang tidak sempurna untukmu. Tapi hari ini.. ijinkan aku menjadi orang yang tidak tau malu sehingga berani mengemis semua ini padamu. Tolong jangan berubah.. karena kalau dirimu berubah, maka tidak ada lagi wanita tulus yang bisa menerimaku dan mencintaiku tanpa syarat seperti dirimu.."
"Tidak ada yang berubah." pungkas Laras seraya menatap Rudi dengan pandangan yang buram dipenuhi air mata.
Rudi terpana menyaksikan pemandangan itu, Refleks ia membungkuk sedikit, memaksa Laras berdiri dari duduknya agar bisa berdiri tepat dihadapannya, agar Rudi bisa menyelami kedalaman hati wanita itu lewat sepasang matanya yang dipenuhi air mata.
Jemari Rudi terangkat guna mengusap kedua pipi Laras yang dipenuhi parit kecil.
"Sudah kuduga.. hatimu hanya milikku. Mana mungkin bisa berpaling.." ujar Rudi bermaksud bercanda, agar bisa mengalihkan kesedihan Laras yang selalu dikarenakan dirinya.
"Jahat.." Laras memukul dada Rudi hingga beberapa kali, begitu menyadari wajah yang biasanya selalu serius itu kini bercampur senyum usil. Ia baru berhenti saat Rudi telah menarik kedua bahunya yang mungil kedalam pelukan lelaki itu.
"Maafkan aku.." bisik Rudi ditelinga Laras dipenuhi penyesalan. "Maafkan aku karena terlalu sering menyakiti hatimu, selalu mengabaikanmu.."
Mendengar kalimat itu Laras semakin menenggelamkan wajahnya. Sejujurnya mendengar pengakuan Rudi saja telah membuat hatinya ngilu, mengingatkan dirinya akan semua penolakan yang pernah ia terima bertahun-tahun lamanya dari lelaki yang sedang memeluknya saat ini. Tapi berfikir ia bahkan kesulitan mengambil nafas hanya karena berada jauh dari Rudi membuat Laras bahkan bisa menerima jika pun semua yang diucapkan Rudi hari ini hanya kebohongan belaka. Hatinya terlalu bahagia hanya dengan berada dalam pelukan Rudi Winata.. sepertinya Laras tidak menginginkan apa-apa lagi.
"Apa aku bisa dimaafkan..?" bisik Rudi lagi begitu menyadari Laras belum mengucap sepatah kata pun, hanya memeluknya saja.
Laras mengangkat wajahnya sedikit, mengangguk kecil, lagi-lagi tanpa kata.. hanya senyum yang dipenuhi kebahagiaan, membuat Rudi tak kuasa menahan untuk mencicipi senyum itu, langsung dari sumbernya.. seraya melepaskan kerinduan yang mengendap sekian lama.
Laras tidak menolak saat Rudi menuntun langkahnya mendekati pintu tempat terletaknya peraduan sambil terus mema gut dengan intens seiring dengan lolosnya pakaian mereka satu persatu.
Beberapa saat kemudian sebuah percintaan yang dipenuhi pijar kehangatan pun telah menyatu dengan penuh kerinduan yang meluap-luap, seolah ingin membayar lunas segenap penantian serta malam-malam panjang yang terlewati dengan kesedihan.
Tatapan penuh ungkapan cinta dan kasih sayang dari Rudi dan Laras terus terkunci satu sama lain, seolah tak rela berpaling, tak jarang mereka melempar senyum dan saling mengecup, sambil terus berlayar mengarungi samudera cinta yang menggebu.. hingga nyaris berlabuh disebuah dermaga yang dituju..
"I love you.."
Bisik Rudi ditelinga Laras, seiring dengan gerakannya yang memacu kencang dan kemudian rebah bersimbah peluh ditubuh Laras yang menyambutnya dalam pelukan yang terasa kaku, seolah tidak siap mendapati pernyataan Rudi yang terucap seiring dengan sesuatu yang dititipkan lelaki itu kerahimnya. Sesuatu yang selama ini tidak pernah sekalipun dipercayakan Rudi untuk Laras.
"Terharu..?"
Saat Laras menoleh ia malah mendapati wajah penuh peluh itu tersenyum, nyaris tertawa.
"Cihh.." Laras membuang pandangannya jengah, mengelak dari tudingan Rudi yang benar adanya bahwa dirinya memang sungguh terharu dengan pernyataan cinta.. sekaligus sesuatu yang dititipkan Rudi ditubuhnya..
Melihat wajah judes itu kali ini Rudi tidak lagi bisa menahan tawanya.
"Ini memang benar-benar istriku.." desisnya sambil menarik tubuh mungil Laras untuk masuk kedalam pelukannya.
"Benarkah..?" tanya Laras berpura-pura heran.
"Tentu saja. Karena hanya aku lelaki beruntung yang mempunyai istri Ceo yang begitu belia, cantik, judes.."
Bukk..!
"Aduhh.." mata Rudi sontak melotot mendapati perutnya yang telah disikut dengan keras.
"Rasakan.." ujar Laras cuek, membuat Rudi semakin melotot.
"Dasar bar-bar.. begini sikapmu kepada suami yang baru saja melepas kerinduan.."
"Canda suami.." pungkas Laras lagi sambil tertawa mengejek. "Aku adalah istrimu yang bar-bar. Bagaimana..? menyesal tidak..? atau mau aku berubah menjadi istri yang kalem yang.."
"Tidak.. tidak.. jangan berubah.." Rudi menggeleng cepat. "Jangan berubah. Tetaplah seperti ini, jangan berubah.. okeh..?"
Kali ini Laras benar-benar tertawa meihat sikap Rudi yang panik seperti itu.
"Aku tidak mau, karena aku takut hatimu ikut berubah.." kali ini Rudi terlihat menatap Laras dengan bersungguh-sungguh, membuat tawa Laras mau tak mau terhenti begitu saja. "Beberapa bulan ini tidurku sungguh tidak nyenyak. Terus memikirkan ucapanku sendiri yang menyuruhmu berubah, akhirnya aku malah takut kamu benar-benar mengikuti perkataanku waktu itu. Apalagi kamu tidak seperti biasanya. Selama ini kamu bahkan tidak pernah berusaha menghubungiku.."
"Kenapa tidak kamu saja yang menghubungi lebih dahulu..?"
"Tadi siang aku menghubungimu lebih dahulu. Hari ini aku bahkan sengaja datang dan bertekat untuk merayumu sampai luluh.."
"Iya.. tapi setelah delapan bulan.."
Mendengar itu Rudi terlihat meringis.
"Dasar kulkas.." desis Laras.
"Maaf.." ucap Rudi seraya mengetatkan lagi rengkuhannya. "Laras, kamu harus percaya bahwa kali ini aku bersungguh-sungguh. Aku bahkan telah menitipkan bagian dari diriku ditubuhmu.. apa kamu tidak bisa menyadarinya..?"
Laras membalikkan tubuhnya agar bisa menghadap penuh kearah Rudi yang juga tengah menatapnya lekat. Mereka saling bertatapan tanpa kata untuk beberapa saat, hingga bunyi detak jantung keduanya bahkan sepertinya bisa terdengar oleh masing-masing.
"Aku akan terus menitipkan bagian dari diriku, sampai kita berdua bisa memiliki bukti dari setiap kesungguhanku, yaitu kehidupan yang lain, yang datangnya dari dirimu dan diriku.."
Mata Laras terasa berembun, menyadari betapa manisnya arti dan makna dari semua perkataan Rudi itu, yang merupakan kerinduan lelaki itu akan kehadiran buah hati, sebagai bukti dari buah cinta mereka berdua.
"Apa..?" tanya Laras dengan suara yang serak.
"Aku telah mengatakannya tadi.."
"Mengatakan apa..?"
"I love you.."
Ucap Rudi lagi tanpa ragu, penuh keyakinan, seraya mengusap sebelah pipi Laras yang merona. Detik berikutnya Laras beringsut semakin rapat, seolah tidak ingin menyisakan jarak.
"I love you too, Kak.." lirih Laras, sepenuh hati, yang disambut rengkuhan lembut Rudi, seolah ingin membawa masuk tubuh mungil Laras hingga kedalam sanubarinya.. yang terdalam..
. . .
(It's you - by. Sezairi)
Here we are under the moonlight,
I'm the one without a dry eye
'Cause you look amazing
I'm sorry for whatever I've caused
Before today I knew I felt lost
But now you're my lady
So take my hands up, seen me
'Cause you've made me Into this man
I promise I'll treasure you girl
You're all that I've needed
Completing my world
You, you're my love, my life, my beginning
And I'm just so stumped I got you
Girl, you are the piece of me missing
Remember it now
All the times I've been alone, shown me the way
Let me hear, let me hold mine
Through that door straight to you
You're my love, my life, my beginning, It's you..
. . .
Di sinilah kita, berada di bawah sinar rembulan
Mataku selalu berkaca-kaca
Karena kau terlihat luar biasa
Aku minta maaf atas segala yang aku perbuat
Sebelum hari ini kau bukan milik siapa-siapa
Namun kini kau adalah milikku
Genggamlah tanganku, Tatap aku
Karena kau lah yang membuatku menjadi seperti ini
Aku berjanji akan menghargaimu sayang
Hanya kau yang aku butuhkan
Tuk melengkapi duniaku
Kau, kau adalah cintaku, hidupku, permulaanku
Dan aku masih bingung kenapa bisa mendapatkanmu
Sayang, kaulah bagian diriku yang hilang
Sekarang aku teringat
Setiap kali aku merasa sendiri
Tunjukkan aku jalannya
Aku akan mendengar dan menggenggammu
Menuju pintu yang ada di depanmu
Kau adalah cintaku, hidupku, permulaanku, itu kamu..
.
.
.
T A M A T
BENAR-BENAR BERAKHIR π
Hai.. kesayangan author semuanya. Sebelumya author ingin memohon maaf karena rencana untuk membuat novel terpisah Rudi dan Laras, akhirnya pending, dan diringkas ke Bonus Chapter.
Semua itu karena author takut jika nanti up-nya bakal keteteran karena kesibukan dunia nyata, terlebih dengan adanya novel terbaru berjudul : TERJERAT CINTA PRIA DEWASA.
Novel diatas itu merupakan panghargaan dari editor NovelToon karena bisa lulus kontrak tanpa proses review, dengan harapan bisa diminati oleh semua pembaca.
Mohon para kesayangan untuk tetap support author dan mohon maaf jika author sering keteteran untuk up.
Karena CTIR benar-benar telah selesai (π), semoga author bisa fokus dengan dua novel yang tersisa, yakni : TERJERAT CINTA PRIA DEWASA dan PASUTRI.
Big Huge untuk kalian, yang meskipun jumlahnya tidak banyak tapi terus setia hingga akhir. Doakan juga agar akan ada lebih banyak lagi penikmat novel diluar sana, yang mau membaca CTIR dan 'adik-adiknya', seperti kalian.
Banyak cinta dari :
Tianβ€οΈArini,
Ricoβ€οΈMeta,
Rudiβ€οΈLaras,
untuk kalian semua.
Thx and Lophyuu more my kesayangan.. π